Wednesday, May 30, 2012

KISAH IKAN KUTUK DAN ANAK WADER: KUTUK API LAMUR

Ada paribasan Jawa “Kutuk api lamur”.  Dalam peribahasa ini maksudnya adalah  orang yang pura-pura rabun, dalam pengertian pura-pura tidak peduli sehingga mudah dalam kegiatan “momor sambu” nya. “Momor atau amor sambu” juga peribahasa dalam bahasa Jawa yang artinya menyamar. (Sambu: menyamar; momor: menyatu; pengertian momor dapat dibaca pada momor, momot dan momong)
 
Alkisah kata yang empunya cerita, sekumpulan anak ikan wader yang masih kecil-kecil seukuran jarum pentul sedang berkumpul di tepian sungai yang teduh, dibawah kerindangan pepohonan yang sebagian daun-daunnya  menjorok ke air.
 
Salah seekor anak wader membuka pembicaraan: “Ayo kita pindah ke tempat lain”
 
Temannya menjawab: “Kenapa mesti pindah, bukankah disini sehat dan nyaman. Teduh, airnya tenang, tidak menghanyutkan dan makanan pun banyak
 
“Nyaman sih nyaman tetapi tempat seperti ini juga kerajaan ikan kutuk. Emak kita kan sudah bilang supaya jangan bergaul dengan kutuk predator itu. Manusia malah tidak apa-apa, karena kita masih terlalu kecil untuk dimakan. Kalau kita tertangkap, paling-paling dilepaskan. Sebaliknya dengan ikan kutuk, sekali telan bisa sepuluh dari kita masuk mulutnya”.
 
“Ah, kutuk kan rabun, mana bisa dia melihat kita. Apalagi tubuh kita kecil begini”.
 
“Kutuk bukannya rabun, matanya awas. Dia hanya pura-pura rabun, sehingga orang Jawa mengatakan bahwa penjahat yang berpura-pura baik paribasan kutuk api lamur. Kalau tidak waspada, celakalah kita dibuatnya. Demikianlah perilaku ikan kutuk sampai digunakan manusia sebagai peribahasa. Bisa saja dia melintas di dekat kita seolah-olah tidak melihat. Begitu kita terlena, .... hap! Masuklah kita ke mulutnya tanpa sempat menyelamatkan diri.”
 
Masih asyik-asyiknya ngobrol, seekor kutuk pelan-pelan keluar dari liang. Berenang mendekat, acuh-acuh saja tanpa menunjukkan tanda-tanda akan menyerang. Si wader pertama langsung terbirit-birit melarikan diri. Wader-wader lainnya pun termasuk yang tadinya membantah, tidak berani ambil risiko, ikut ngacir
 
LIDING DONGENG
 
Ada banyak modus kejahatan, salah satunya diungkapkan melalui peribahasa “kutuk api lamur” dan “amor sambu”. Hal seperti ini perlu disosialisasikan kepada masyarakat. Dengan demikian timbul semacam sikap waspada di kalangan masyarakat apalagi yang masih lugu. (catatan: amor sambu tidak harus jahat. Polisi juga melakukan “amor sambu” ke sarang penjahat untuk membekuk gembongnya).

Jaman sekarang modus kejahatan makin beraneka-ragam, tetapi jangan lupa  bahwa modus kuno seperti kutuk api lamur dan gedheg lan anthuk, dududan lan anculan juga masih banyak dilakukan untuk menipu sesama manusia dan kita masih selalu tertipu.(IwMM)

Disadur dari Serat Maduwasita, Ki Padmasusastra, Surakarta, 1918

Tuesday, May 29, 2012

SERAT WEDHATAMA: ANAK MUDA JANGAN "LUMUH ALA" MERASA BENAR SENDIRI


Melanjutkan nasihat Sri Mangkunegara IV pada  SeratWedhatama: Anak muda jangan suka “mudhar angkara” dan “karem anguwus-uwus” yang“uwosnya tan ana” maka dalam pupuh Pocung bait ke 14 beliau mengingatkan kepada anak muda yang kalau salah tidak mau mengakui, malah ditutup-tutupi  (sakeh luput ing angga tansah linimput), bahkan berdalih dengan berbagai macam alasan (linimpeting sabda). Dia mengira orang lain tidak ada yang tahu (narka tan ana udani). Artinya dia "lumuh ala" (tidak mau dibilang jelek/salah) bahkan nafsu angkaranya yang dikedepankan sebagai andalan (ardane ginawe gada). Lengkapnya bait ke 14 sebagai berikut:

 
Selanjutnya dalam pupuh Pocung bait ke 15 Sri Mangkunegara IV menjelaskan bahwa sebenarnya sifat suka berdalih dan tidak mau disalahkan ini disebabkan karena ilmu yang belum cukup tetapi sudah merasa pandai (durung punjul ing kawruh kaselak jujul), ditumpangi hawa nafsu (kaseselan hawa) dan berpikiran sempit (cupet) karena tertutup pamrih (kapepetan pamrih). Mustahil bisa manunggal dengan Allah Yang Maha Kuasa (tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa). Lengkapnya sebagai berikut:
 

Kata-kata yang punya makna sama dengan “durung punjul ing kawruh kaselak jujul” juga terdapat pada pupuh Pocung bait ke 6 baris pertama, yaitu “durung becus kesusu selak besus”.
 
SEHARUSNYA BAGAIMANA?

Kita rujuk pada bait ke 9 pupuh Pucung pada gambar di samping, yang mengatakan asal bisa bertingkah laku sewajarnya, prasaja, seperti apa adanya (uger lugu) maka kebaikan akan merasuk ke dalam sanubari (den ta mrih pralebdeng kalbu). Kalau dikabulkan (yen kabul) akan dibukakan pintu (kabuka) untuk memperoleh derajat kemuliaan hidup (ing drajat kajating urip).

Pada baris terakhir disebutkan "Kaya kang wus winahya sekar srinata". Terjemahannya harfiahnya adalah: Seperti tersirat dalam tembang srinata.

Keterangan: Sekar Srinata = Sekar Sinom. Jadi kita perlu merujuk ke pupuh (2) Sinom dalam Serat Wedhatama ini. Akan kita dapatkan pada pupuh Sinom bait ke 14 kata-kata " .... Mungguh ugering ngaurip; Uripe lan TRI PRAKARA; WIRYA, ARTA, TRI WINASIS ..." dapat dibaca  pada Serat Wedhatama: Wirya, Arta, Winasis (IwMM)

Sunday, May 27, 2012

SERAT WEDHATAMA: ANAK MUDA JANGAN "MUDHAR ANGKARA" DAN "KAREM ANGUWUS-UWUS" YANG "UWOSNYA TAN ANA"


Tulisan ini adalah lanjutan dari Serat Wedhatama: “Triprakara” pegangan ksatria Jawa. Pada pupuh Pocung bait ke 10 dan 11 dapat disimpulkan bahwa Triprakara tersebut adalah “LILA, TRIMA DAN LEGAWA”. Anak muda sebagai generasi penerus tentu diharapkan dapat menjadikan tiga hal tersebut sebagai pegangan.

Terkait dengan TRIPRAKARA yang menjadi pegangan "Ksatria Jawa ini, maka para ksatria yang sudah memiliki mental "Lila, Trima dan Legawa benar-benar merupakan orang-orang yang selalu  mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Agung seperti disebutkan pada bait ke 12 "Bathara gung inguger graning jejantung". Ia menyatu dengan Allah dan taat rajin beribadah (jenek Hyang Wisesa; Sana pasenetan suci). Tidak seperti si orang muda yang mengumbar nafsu angkara (Nora kaya si mudha mudhar angkara). Lengkapnya bait ke 12 sebagai berikut:

 
Kepada anak muda Sri Mangkunegara IV mengingatkan untuk tidak mengumbar nafsu angkara. Salah satu nafsu angkara yang dimaksud adalah jangan banyak omong kosong (karem anguwus-uwus, uwose tan ana) seperti disebutkan dalam bait berikutnya (bait 13) sebagai berikut:

 
Janganlah menjadi orang yang suka sekali bicara (karem anguwus-uwus) tetapi isinya tidak ada (uwose tan ana). Hari-hari marah-marah (mung jangjine muring-muring), seperti raksasa pemarah (buta buteng) yang suka menganiaya (betah nganiaya)

Kalau kita lihat TV sekarang ini banyak anak muda tawuran. Bisa antar sekolah, antar kampung atau antar kelompok. Mungkin benar juga, anak muda dalam darah mudanya yang masih panas, suka omong yang tidak ada isinya. Kemudian berperilaku seperti raksasa yang suka marah dan menganiaya.

Kiranya anak muda perlu introspeksi dua hal: (1) Apakah karem anguwus-uwus yang tidak ada uwosnya dan (2) berperilaku seperti buta buteng yang suka berkelahi.

Mengenai omong besar plus kemaki ini juga disebut Sri Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama pupuh Pangkur bait ke 6: “Pindha padhane si mudha; Prandene paksa kumaki”, dapat dibaca pada Serat Wedhatama: Menasihati para muda , sedangkan pengertian "kumaki" dapat dibaca pada tulisan "kumenthus dan kumaki" (IwMM)

Saturday, May 26, 2012

THENGUK-THENGUK NEMU KETHUK

Thenguk-thenguk atau thethenguk menurut Poerwadarminta, 1939 adalah orang yang sedang duduk-duduk menganggur. Jadi orang ini sedang santai-santai tidak melakukan apa-apa. Orang yang “nemu” sesuatu artinya memperoleh sesuatu tanpa disengaja atau tanpa upaya. Sifatnya kejutan atau surprise. Dalam peribahasa ini orang yang sedang tidak melakukan apa-apa tahu-tahu mendapatkan “kethuk”, alias rejeki.


“Kethuk” adalah salah satu perangkat gamelan Seperti kenong tetapi lebih kecil, posisinya di dekat kenong. Ada banyak perangkat gamelan Jawa. Perangkat yang berongga antara lain Kethuk, kenong, kempul dan gong. Kethuk yang paling kecil dan gong yang paling besar dan paling mantap bunyinya Pertanyaan teman saya: “Mengapa tidak thenguk-thenguk nemu gong sekalian, mas”. Tentu ini terkait dengan purwakanthi. Ungkapan-ungkapan Jawa pada umumnya menggunakan purwakanthi sehingga manis didengar (Baca: penggunaan purwakanthi dalam penyampaian pitutur). Menjadi tanpa purwakanthi kalau ungkapannya berbunyi “thenguk-thenguk nemu gong”. Kan lebih pas kalau “thenguk-thenguk nemu kethuk”.

Kalau diuangkan, kethuk juga tidak murah lho. Uang satu juta masih kurang kalau untuk beli kethuk. Tapi ingat kethuk juga berongga, jadi kalau dibalik, bisa untuk wadhah sesuatu. Kalau yang diwadhahi “mas picis rajabrana”, sak kethuk sudah cukup untuk bekal hidup.

Ungkapan yang usianya lebih tua sebenarnya bukan “thenguk-thenguk” melainkan “ngantuk”. Hal ini dapat dibaca pada Serat Jaka Lodhang, anggitan R Ngabehi Ranggawarsita pada pupuh Megatruh bait ke tiga sebagai berikut:

Tinemune wong ngantuk anemu kethuk; Malenuk samargi-margi; marmane bungah kang nemu; Marga jroning kethuk isi; Kencana sesotya abyor

Terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:

Adanya orang mengantuk menemukan kethuk; Malenuk (saya tidak tahu terjemahannya, bentuk kethuk dalam bahasa Jawa memang “mlenuk”) disepanjang jalan; Yang menemukan gembira hatinya; Karena didalam kethuk berisi; emas berlian yang berkilau. (catatan: Tetapi kondisi ini terjadi pasca jaman kalabendu)

Jadi makna “thenguk-thenguk nemu kethuk” adalah orang sedang nganggur tidak ada kerjaan tahu-tahu ada kejutan memperoleh sesuatu. Ada juga teman yang tanya: “Boss-boss yang tanpa gerak tapi banyak dapat hadiah apa termasuk “thenguk-thenguk nemu kethuk?” tafsirannya memang macam-macam. Saya sendiri berpendapat “tidak termasuk”. Alasan saya, dia ngantuk-ngantuk tetapi menyandang predikat boss. Pemberian yang terkait dengan jabatan namanya “gratifikasi” dan dilarang KPK. Kalau sampai diterima harus dilaporkan ke KPK, apakah boleh dimiliki atau harus diserahkan kepada negara.

Thenguk-thenguk nemu kethuk” adalah berbau kejutan. Orang yang sedang thenguk-thenguk samasekali tidak memikirkan bahwa ia akan memperoleh kethuk. Dengan demikian “thenguk-thenguk nemu kethuk” juga tidak sama dengan njagakake endhoge si blorok”. Yang terakhir ini,  orangnya boleh saja sedang thenguk-thenguk tetapi otaknya punya “harapan” ada sesuatu yang ia peroleh, padahal belum pasti.

... Wah ada yang mengetuk pintu. Tetangga sebelah bawa oleh-oleh banyak dan macam-macam dari Yogya. Dhuh, dhuh ... maturnuwun sanget, paribasan thenguk-thenguk nemu kethuk, ora nucuk nanging pikantuk. Mangga-mangga lenggah dulu ... (IwMM)

Thursday, May 24, 2012

KEBO (7): KEBO ILANG TOMBOK KANDHANG

Ada lagi teman yang tanya: “Mas, dulu posting paribasan tentang kerbau berturut-turut sampai enam kali kalau tidak salah. Saya tunggiu-tunggu kok tidak diterusin?”

“Lha kan suka-suka saya?” jawab saya sambil lalu.

“Itu lho mas, kebo ilang tombok kandhang, penjelasannya bagaimana?”


“Wong sudah jelas sekali gitu lho. Kamu kehilangan barang, kamu upaya menemukan tetapi barang tidak atau belum ketemu malah kamu keluar uang lumayan”.

“Iya, kalau itu sih ngerti, tapi reasoningnya itu lho. Kenapa tombok, kenapa kerbau, kok bukan sapi misalnya”

“Gini deh, kamu pernah kehilangan barang yang cukup berharga? Jaman dulu yang namanya kerbau kan amat berharga?”

Teman saya mikir-mikir sejenak: “Pernah mas, sepeda motor. Hampir lima tahun yang lalu”.

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Lapor polisi, mas. Tapi tidak keluar uang, Hanya waktu saja yang terbuang ditanya ini itu untuk proses verbal”

“Apa lagi?”

Dia terdiam sejenak. “Minta bantuan radio swasta, untuk menyiarkan. Tapi mereka malah senang dapat berita, gak keluar duit juga.”

Saya mulai tidak sabar. “Ada uang yang kamu keluarkan untuk mencarinya?”

Teman saya memukul meja. “Wah iya mas, ada orang yang katanya kenal sama maling-maling. Dia mau bantu, kalau ketemu nanti bisa ditebus dengan sekedar uang. Saya biayai dia kesana kemari, tapi akhirnya saya hentikan, karena malingnya tidak pernah ketemu.

“Kamu tanya dukun juga?”

“Ada yang menyarankan, mas. Apa salahnya dicoba?”

“Keluar uang juga?”

Teman saya tertawa. “Oke mas, aku dah ngerti. Tapi kenapa yang dipilih untuk paribasan kok kerbau?
Ganti saya yang terdiam. “Yah, jaman dulu sapinya mungkin masih di Australia, yang ada di Jawa baru kerbau. Kalau ayam, rasanya kurang berharga untuk dicari sampai tombok tombok. Kemudian satu lagi .......” Tidak saya teruskan.
“Apa mas, yang satu lagi?” Dia mendesak
“Kerbau kan dianggap binatang bodoh. Jadi kalau kehilangan sampai tombok kandang, yang empunya kerbau pasti lebih bodoh dari kerbau itu sendiri” Saya jawab sambil tertawa, padahal belum tentu ucapan saya lucu (IwMM).

Catatan: Kebo (1) sd Kebo (6) dapat dibaca pada arsip bulan Oktober 2011

Wednesday, May 23, 2012

BEKERJA DALAM TIM: TULADHA DARI "KINANG"

“Nginang” merupakan salah satu hal yang dilakukan orang Jawa pada jaman dulu. Perlengkapan untuk nginang selalu ada di rumah. Mulai dari tempat untuk menaruh kinangan sampai paidon (tempat meludah).

Kinangan yang lengkap terdiri dari lima unsur: Sirih, Pinang (jambe), Gambir, Kapur sirih (enjet) dan terakhir tembakau. Sudah wajar jika ada orang yang bekerjasama suatu saat timbul perdebatan karena masing-masing merasa kontribusinya paling besar. Terjadilah perdebatan sebagai berikut:

Sirih: Akulah bumbu utama kinang. Tidak ada aku, tidak ada orang nginang

Pinang: Ah masa iya, sebelum ada kamu, aku sudah duluan dikinang para bidadari

Gambir: Pakai sirih, pakai pinang kalau tanpa aku (gambir) apa mungkin jadi merah?

Kapur: Tanpa bantuanku, merahnya seberapa sih? Demikian pula rasanya tidak enak, manusia tidak akan doyan

Tembakau: Sudah, sudah jangan merasa menang sendiri. Yang paling hebat ya aku ini. Orang nginang tanpa tembakau rasanya tidak enak, hambar.

Konon karena kisah ini terjadi pada jaman dewa-dewa, maka Batara Guru pun turun dari kahyangan dan meredakan situasi. Bagaimanapun kalau salah satu anggota "Kinang Group" kemudian walk out maka kinang akan kehilangan makna.

“Wahai sirih, pinang, gambir, kapur dan tembakau, jangan kalian bertengkar berebut benar. Kamu dengar dulu sejarah nginang itu bagaimana. Yang pertama dikinang memang betul kamu, wahai pinang. Adalah tujuh bidadari yang dipimpin dewi Supraba menginang jambe (pinang). Tapi namanya bukan nginang melainkan "mucang" (pucang adalah nama pohon pinang). Tujuannya hanya untuk menghilangkan bau mulut. Selanjutnya Batara Kamajaya dan Batari Kamaratih nginang dengan menggunakan tiga unsur. Pinang (jambe), gambir dan kapur (enjet). Karena ada tiga unsur maka disebut "nigan" (tigan: telur, unsurnya tiga yaitu kuning telur, putih telur dan kulit telur). Tujuannya untuk memerahkan bibir. Barulah terakhir Batara Wisnu melengkapi yang tiga dengan menambah dua unsur lagi yaitu sirih dan tembakau. Jadilah kinang seperti yang sekarang ini.


LIDING DONGENG

Jangan merasa paling benar dan berjasa. Semua kisah sukses adalah hasil kerja orang banyak secara bersama-sama dalam keterpaduan. Tidak ada sukses dari hasil kerja sendiri, secara sendirian. Tidak ada keberhasilan tanpa kolaborasi, kemitraan dan networking (IwMM)

Disadur dari Serat Maduwasita, Ki Padmasusastra, Surakarta, 1918

Monday, May 21, 2012

CINDHIL NGADU GAJAH

Kalau pada Kisah anjing dan kucing: Contoh emban cindhe emban siladan diceriterakan tentang orang yang suka mengadukan  teman kerjanya kepada tuannya, padahal belum tentu berbuat salah, maka dalam “cindhil ngadu gajah” orang ini tidak sekedar mengadukan sesama teman bahkan orang yang lebih tinggi pun diadu domba.

Gajah sebagai binatang besar mengibaratkan orang besar. Cindhil adalah anak tikus, dalam perumpamaan ini mewakili pegawai rendahan. Tetapi biar dia orang rendahan amat disayangi atasannya. Mungkin karena kerjanya bagus sekaligus pandai ngathok. Ia amat dipercaya oleh pimpinan tertinggi disitu. Apa yang dia sampaikan selalu dipercaya.

Sayang orang ini mempunyai sifat tidak baik. Karena merasa dipercaya pimpinan timbullah sikap sombongnya. Kepada sesama teman ia amat sewenang-wenang tetapi tidak ada teman yang berani (seperti kisah anjing dan kucing). Tugas pokoknya sendiri terbengkalai. pada suatu saat atasannya (kita anggap saja orang ke dua di tempat kerjanya) memanggil dia dan memberikan teguran keras.

Hatinya menjadi amat susah. Ia bisa dipecat, tetapi ia tidak kurang akal. Kepada atasannya ia mengeluh banyaknya tugas-tugas non teknis yang dia kerjakan atas perintah pimpinan tertinggi. Pimpinan ke dua ini rupanya kurang hati-hati, ia pun mengatakan bahwa boss seharusnya tidak demikian. Kata-kata ini ditambah bumbu merica dan lombok dilaporkan si cindhil kepada pimpinan tertinggi. Pimpinan tertinggi pun marah dan akhirnya bertengkar dengan pimpinan ke dua yang merasa tidak salah.

Suasana kerja menjadi tidak kondusif, pimpinan ke dua pun mengalah, ia mengajukan permohonan pindah.


LIDING DONGENG

Kita harus hati-hati, orang seperti si cindhil ini selalu ada. Bila posisi kita di atas, sebaiknya dalam melaksanakan tugas dan memberi tugas  tetap berpedoman pada tugas pokok dan fungsi sesuai  struktur organisasi. Demikian pula jangan cepat percaya kepada orang apalagi kelasnya cuma "cindhil". Check dan recheck selalu penting. caranya bergantung seni masing-masing. Bila kita menjadi staf yang dipercaya pimpinan, jangan menjadi takabur dan sewenang-wenang. Dipercaya itu memegang amanah, dan memegang amanah itu berat (IwMM)

Sunday, May 20, 2012

KISAH ANJING DAN KUCING: CONTOH EMBAN CINDHE EMBAN SILADAN

Adalah seekor anjing dan seekor kucing: Keduanya menjadi piaraan manusia. Pada suatu hari si anjing berpapasan dengan kucing di halaman, lalu bertengkar

Anjing: “Kucing, apakah sih maksudmu? Setiap aku lewat didekatmu, kau tunjukkan taringmu dengan desisan yang mengerikan. Punggungmu melengkung, bulu-bulumu berdiri. Apa supaya aku takut? Aku takut kepadamu hanya kalau di hadapan tuan kita, karena aku selalu dikalahkan, bahkan diusir dengan lemparan sandal, tanpa diteliti duduk perkaranya. Sekarang ini kita di halaman, tuan kita tidak ada, kalau mau aku bisa hancurkan kepalamu. Mbok jangan seperti itu, walau kamu tidur di kasur bersama tuanmu dan aku cuma di atas keset di teras rumah, bagaimanapun kita ini sama-sama binatang piaraan, sama-sama mengabdi pada tuan yang sama. Hanya kebetulan kamu lebih disayangi.

Kucing menjawab sambil tersenyum sinis: Baik anjing, sekarang aku takut sama kamu. Tapi tunggulah sampai tuan kita datang. Kamu jangan berani-berani mendekat. Aku pasti akan mendesis seperti biasa, pura-pura ketakutan seperti biasa. Demikian pula kamu pasti akan dipukul atau dilempar sandal seperti biasanya pula.


LIDING DONGENG

Dua orang yang mengabdi atau punya pimpinan, karena satu dan lain hal bisa saja salah satu lebih disayangi. Sudah nasib yang kurang disayang, walau ia mendapat perlakuan tidak baik dari temannya yang disayang, ia tidak berani apa-apa selain menyabarkan diri. Sebab kalau yang disayangi pimpinan melaporkan, maka dia yang tidak disayangi walau  tidak ada salah atau justru benar, malah akan semakin celaka. Kecil dimarahi, besar kalau apes, bisa dipecat. Pesan moral disini adalah:

(1) Hati-hati kalau punya teman yang suka ngathok dan tumbak cucukan.
(2) Kalau menjadi pemimpin jangan suka pilih kasih,  emban cindhe emban siladan
(3) Kalau disayangi pimpinan jangan aji mumpung untuk hal tidak baik. (IwMM)
 
 
Disadur dari Serat Maduwasita, Ki Padmasusastra, Surakarta, 1918

Friday, May 18, 2012

KISAH ORONG-ORONG DAN MANUSIA "KAYA ORONG-ORONG KEPIDHAK"

Dalam bahasa Indonesia orong-orong disebut anjing tanah, binatang sebesar jengkerik, yang getaran bulunya juga menimbulkan bunyi. Jangkrik bunyinya krik krik krik sementara orong-orong seperti namanya berbunyi seperti “rong” yang panjang dan monoton. Terlalu lama mendengar bunyi orong-orong, rasanya menjadi tidak nyaman juga di telinga.

Di kota nyaris kita tidak pernah menemui lagi binatang yang dinamakan orong-orong ini. Mudah-mudahan di desa masih banyak. Kisah ini tentunya kalau memang terjadi, “konon” pada saat manusia dan binatang masih bisa berkominikasi verbal.

Manusia: “Hai orong-orong, apa kau tidak bisa diam sejenak. Suaramu yang terus menerus dalam nada tunggal, lama-lama membuat telingaku sakit. Hatiku pun tidak senang. Apa sih untungnya? Apa kamu tidak punya toleransi terhadap privacy manusia?”

Orong-orong: “Manusia, kau benar-benar tidak tahu diri. Kau sendiri tidak menghargai kebebasan berbicara. Aku mau bicara ya sesukaku. Hatiku memang saat ini panas dan aku sedang mencerca kamu, karena mengamati hidupmu yang berlebih-lebihan dan boros, sepertinya kamu berkubang uang, darimana kamu dapat uang itu kalau bukan dari mencuri”.

Manusia: “Kamu memang kurang ajar, hai orong-orong. Jangan asal memfitnah bahwa aku mandi uang. Aku punya uang, uangku sendiri, aku cari sendiri dengan kerja keras. Aku gunakan sendiri sesuai mauku. Kalau kamu masih saja menebar nyanyian, aku injak rumahmu, besok pagi aku gali, aku tangkap kamu, kujadikan makanan ayam.”

Si manusia menghentakkan kaki di tempat orong-orong berbunyi. Seketika suaranya yang bising pun berhenti.


LIDING DONGENG

(1) Orong-orong: mengibaratkan orang yang suka mengkritisi; suaranya tentusaja keras dan sudah pasti bernada sumbang bagi yang diteriaki si orong-orong. menghentikan nyanyian orong-orong memang harus diinjak. pasti "cep klakep, mandheg". Oleh sebab itu lah ada peribahasa "kaya orong-orong kepidak" yang mengibaratkan pembicaraan atau ribut-ribut yang mendadak berhenti. Misalnya karena boss kebetulan lewat.

(2) Manusia: Manusia memang tidak senang "diteriaki". Tetapi karena kita ini manusia, tentunya kalau mau menghentikan bunyi si tukang teriak ya jangan dipijak. Ajak omong baik-baik, nasihati, dan jalan terakhir ya diselesaikan melalui proses hukum. Tetapi kalau yang diteriakkan si orong-orong sebenarnya "benar". Hendaknya manusia tidak enggan untuk mawas diri. Jangan-jangan, siapa tahu lho, orong-orong memang ditugasi untuk "ngelingake manungsa". (IwMM)


Disadur dari Serat Maduwasita, Ki Padmasusastra, Surakarta, 1918

Thursday, May 17, 2012

NJAGAKAKE ENDHOGE SI BLOROK

Si blorok adalah gambaran ayam betina kampung yang warnanya campur-campur karena bukan ayam ras. Biasanya tidak kita kandangkan. Kita lepas begitu saja, cari makan sendiri. Andaikan kita beri makan, ya seadanya. Mungkin sisa-sisa makanan, bahkan tinja manusia, bagi yang berak tidak di kakus tetapi di kebun, si blorok tidak menolak. Tanpa ditawari langsung ia serbu. Yang jelas si Blorok pasti bertelur (ngendhog) tapi tidak bisa kita pastikan seperti ayam ras. Lha wong dia cari makan sendiri, kalau majikan kasih makan ya tidak tentu, maka dia bertelur juga suka-suka dia sendiri. Kalau ada orang yang “njagakake” (mengharapkan) telurnya si blorok, risikonya tentu besar. Ya kalau hari ini bertelur. Kalau tidak?

Jaman judi buntut belum dilarang, banyak sekali orang yang njagakake endhoge si blorok ini. Dia begitu jakin nomor yang ditebaknya akan keluar. Bila dari ramalan-ramalan yang dia kotak-katik, dari jawaban jalangkung dan dukun yang ia datangi, semua mengarah pada nomor yang ia pilih. Maka ia berani utang dalam jumlah yang cukup besar supaya uang yang dia peroleh kalau tembus juga besar. Bahkan ia berani mengambil barang di toko, katakanlah televisi, karena yakin minggu depan semua beres. Ternyata waktu nomor diumumkan, tebakannya salah. Sekarang ia punya utang dan harus mengembalikan televisi yang telah dia ambil.

Contoh lain, ada rumor bahwa gaji pegawai akan naik 20% mulai tahun lalu. Dibayarkan bulan depan. Wah berarti akan ada rapelan 13 bulan. Langsung kita berhitung sekian kali sekian ketemu sekian. Wah cukup untuk beli sepeda motor. Bergegaslah kita ke dealer motor, Pinjam uang teman untuk DP. Langsung bisa dinaiki, di kampung jadi pembicaraan, gaji naik bisa beli sepeda motor. Ternyata bulan depan gaji tidak naik. Dia hanya korban April mop.

Pitutur dalam peribahasa ini adalah:  Manusia harus dalam menjalani hidup. Jangan kita mengandalkan hal-hal yang belum pasti, atau andaikan hal itu pasti, belum jelas kapan datangnya. Korban sudah cukup banyak. Sepeda motor dan televisi hanyalah contoh kecil. Ada yang lebih ambisius lagi, misalnya "jabatan". Ada juga yang menjadi gila.

Masih beruntung bahwa dalam hal ini banyak juga yang bisa mentertawakan diri sendiri dengan berparikan sambil garuk-garuk kepala: "Luwak mangan tales, dhasar awak lagi apes." Kemudian teman-temannya menasihati: "Sing uwis ya uwis, sing durung diati-ati." (IwMM)

Tuesday, May 15, 2012

ANGGENTHONG UMOS: MULUT YANG REMBES

Genthong adalah tempayan air yang dibuat dari gerabah dan umos artinya rembes. Karena terbuat dari gerabah tentusaja tidak ada genthong yang tidak rembes. Pastilah ada air yang merembes keluar dari sela pori-pori dalam genthong. Ada cara untuk menghilangkan rembes adalah dengan melapisi semen luar dalam. Genthong menjadi warna semen, rembesnya minimal sampai tidak rembes samasekali, tapi wajah genthong menjadi jelek.


BOCOR MULUT

Genthong rembes menggambarkan orang yang tidak bisa simpan rahasia. Alias bocor mulut. Dia bisa curi dengar atau tidak usah curi-curi dengar, karena ia memang ada di situ, katakan dalam pertemuan arisan, ia tinggal kulak warta adol prungon saja. Di dunia moderen orang  anggenthong umos ini adalah narasumber yang baik walaupun beritanya berita gosip. Terbalik dengan orang yang ana catur mungkur, yang bila dengan orang nggosip dia pilih menyingkir, maka orang ini kalau ada yang ceritera tidak baik malah tidak menyingkir tetapi ikut nimbrung.

Ceritera baik atau tidak baik untuk orang seperti ini ditampung semua karena ia harus kulak warta. Karena mulutnya rembes maka warta (berita) yang ia peroleh akan dijual di tempat lain (adol prungon). Tentu ceriteranya bisa didramatisasi sesuai mental model yang bersangkutan. Bisa sekedar gosip berantai atau menjadi adudomba sengaja maupun tidak sengaja.

Ada teman yang tanya, apa anggenthong umos ini sama dengan tumbak cucukan? (baca wani silit wedi rai dan tumbak cucukan). Jawaban paling gampang adalah serupa tapi tak sama. Tumbak cucukan sama dengan “wadul” atau mengadu. Seperti anak kecil yang dinakali kakaknya lalu mengadu pada ibunya. Mengadu satu kali tidak apa-apa, tapi kalau sedikit-sedikit mengadu, maka ia disebut tumbak cucukan. Sedangkan nggenthong umos hanya sekedar orang yang mulutnya bocor. Eksesnya memang bisa seperti orang mengadu (wadul).

Anggenthong umos sama dengan NYUMUR GUMULING. Sumur andaikan bisa terguling pasti airnya tumpah kemana-mana. yang ini lebih parah dari "nggenthong umos" karena bukan sekedar rembes melainkan tumpah. Nyumur gumuling ini disebut dalam Serat Wulangreh, dapat dirujuk pada posting Enam watak yang tidak pantas dalam Serat Wulangreh.

Bila kita ketemu orang yang punya watak nggenthong umos ini, hati-hatilah. Apa yang disampaikan belum tentu benar, kalau toh benar kita tidak tahu kadar kebenarannya.


BOROS

Pengertian lain dari anggenthong umos adalah rembes dalam memelihara harta. Nama lain dalam bahasa Jawa adalah “ngebreh” atau boros. Ia tidak bisa memanage hartanya, tahu-tahu habis dan tidak tahu lagi tempo hari dipakai untuk apa.


TIDAK BAIK: BAGI DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN

Pitutur dalam peribahasa ini: Anggenthong umos dengan kata kunci “rembes” baik untuk mulut maupun untuk harta sama-sama tidak baiknya. Yang pertama (rembes mulut) lebih banyak tidak baiknya untuk orang lain, sedangkan yang kedua (rembes harta) tidak baik untuk diri sendiri dan keluarga. Sepanjang kita sudah tahu bahwa sifat seperti ini ada, maka kita bisa menghindarkan diri dari berbuat seperti itu atau menasihati bila ada orang punya kelakuan demikian (IwMM)

Monday, May 14, 2012

LEBAK ILINING BANYU: YANG LEBIH LEMAH JADI TUMPUAN KESALAHAN

Lebak adalah dataran rata dan lebar di tempat yang rendah. Sedangkan ilining banyu adalah aliran air. Tentusaja air akan mengalir ke lebak, atau tempat yang lebih rendah. Ada juga yang menyebut dengan "ledhok ilining banyu". sama saja, ledhok adalah cekungan yang tempatnya lebih rendah. Pengertian dari peribahasa ini adalah orang kecil, orang yang lebih lemah atau orang yang kedudukannya lebih rendah selalu menjadi tumpuan kesalahan.


Contoh sederhana yang terkait dengan aliran air adalah ketika seorang petinggi berjalan-jalan ke suatu desa, melihat air sungai yang jernih. Barangkali ingat masa kecil dulu, ia ingin mandi di sungai. Ia berjalan lebih ke hulu mencari tempat yang lebih sepi. Setelah menemukan tempat yang cocok, membuka pakaian kemudian berendam, bahkan bermain air, nostalgia jaman dulu. Tak lama kemudian ia merasa air sungai menjadi keruh (mungkin karena ulahnya sendiri bermain air). Ia pun keluar dari sungai. Di hilir ia temukan anak-anak kecil berenang-renang di sungai.

Sontak keluar marahnya. Hai anak-anak kurang ajar. Gara-gara kamu ngobok-obok air tempatku mandi jadi keruh. Bocah-bocah itu cuma saling pandang, mungkin heran. Bagaimana mereka bisa bikin keruh air yang letaknya di hulu? Tapi dasar bocah, mereka hanya tertegun sesaat, habis itu mereka teruskan lagi bermain.

Bagaimana kalau bukan sekedar bocah yang mandi-mandi di sungai. Desa itu terletak didekat sebuah hutan yang mulai gundul. Hutan gundul karena kayunya diambil rakyat untuk bahan bakar. Mencari kayu di hutan masih menjadi budaya masyarakat. Apakah mutlak kesalahan rakyat? atau mereka kemudian menjadi sekedar “lebak ilining banyu?” karena lemah maka menjadi tumpuan kesalahan? Tentunya harus dicari akar masalahnya. Saya ingat-ingat lupa tentang sebuah ceritera entah betul atau tidak kejadiannya. Katanya rakyat nebang pohon karena disuruh Gus Dur, presiden RI waktu itu. Mereka tanya: “Gus hutan ini milik siapa?” Tentusaja dijawab “Negoro” Maksud negoro adalah negara Republik Indonesia. Tapi dalam bahasa Jawa “negor” adalah menebang. Jadi “negoro” adalah tebanglah.

Dalam perjalanan pulang mobil sang petinggi mogok. Pak sopir pun mendapat makian hebat. “Dasar sopir tolol kan sudah saya bilang ribuan kali, mobil tidak boleh telat servis dan tiap pagi harus dicek semuanya sebelum berangkat. Makanya kamu saya ingatkan untuk datang satu jam sebelum berangkat, maksudnya supaya bisa cek ini itu”. Si sopir tidak berani ngomong apa-apa walaupun ia sebenarnya baru hari ini melayani sang petinggi. Sopir aslinya tergeletak di rumah sakit sejak kemarin karena sakit typhus.

Karena harus memperbaiki mobil, jam 20 malam pak petinggi baru sampai rumah, disambut makian isterinya: “Dasar laki-laki tidak pernah menepati janji. Katanya jam tujuh mau ngajak makan malam di warteg. Kalau mobil mogok ya kamu sewa mobil. Kan punya handphone, punya uang.” Pak petinggi tidak berani menjawab. Berani menjawab, omelan akan lebih keras.

Oh ya, ngomong-omong, yang terakhir ini termasuk “lebak ilining banyu atau bukan?” (IwMM)

Saturday, May 12, 2012

NGUTHIK-UTHIK MACAN DHEDHE

 


 

Macan sebagai raja hutan tentunya personifikasi dari pemimpin. “Dhedhe” adalah berjemur, sehingga pengertian “macan dhedhe” secara harfiah adalah harimau yang sedang bermalas-malasan. Dalam penerapan "macan" sebagai sosok pemimpin, pengertian dhedhe disini adalah pimpinan yang sedang bersantai. Tidak harus santai berjemur di pantai. Bisa saja di ruang kerjanya saat tidak ada masalah, bisa saat minum kopi sehabis memberi pengarahan, pokoknya situasi relaks tanpa masalah. Adapun “nguthik-uthik” bisa diartikan mengganggu, atau memberi masalah.

Pernah saya tulis dalam Kutuk marani sunduk, ula marani gitik dan asu marani gebug bahwa hati-hati menghadap pimpinan. Kalau dipanggil pimpinan memang ceritera lain lagi. Kita harus siap menghadapi 3D: (1) diDangu artinya ditanya, (2) diDukani artinya dimarahi dan (3) diDhawuhi artinya diberi tugas.

Dalam kaitan dengan “nguthik-uthik macan dede” kita tidak harus dipanggil atau menghadap. Yang penting kita sedang bersama pimpinan yang sedang santai atau sedang tidak membahas suatu masalah. Karena kita yang nguthik-uthik berarti kita yang mulai.

Ini ceritera jaman dulu. Suatu saat saya mendampingi pimpinan ke daerah. Selesai sholat lohor, makan siang, beliau duduk santai sambil menikmati pemandangan di luar. Saya membuka pembicaraan: “Bapak, laporan yang kemarin sudah saya kirim ke pusat”. Maksud saya sih pamer kalau saya rajin.

Laporan yang mana?” Beliau terbangun dari kesantaiannya. Saya terlambat menyadari bahwa beliau justru menjadi terusik karena omongan saya.

Yang kemarin sudah Bapak periksa, kemudian ada sedikit perbaikan. Sudah diperbaiki dan karena Bapak sudah tandatangan pengantarnya maka pagi tadi sebelum berangkat, saya kirim”

Wah kalau begitu saya yang salah, tandatangan duluan. Kan sudah saya katakan, tunjukkan hasil perbaikan, baru kirim. Saya tandatangan dulu supaya proses penomoran surat lebih cepat”. Beliau kelihatan bersungut-sungut. “Bawa copy laporannya apa tidak?”

Untung saya bawa. Jaman itu walau sudah ada laptop tetapi belum banyak yang punya. Serta-merta saya tunjukkan beliau. Menyesal hati saya bahwa kemudian beliau menjadi serius mencermati kata demi kata. “Untung sudah bagus,” kata beliau, kemudian dilanjutkan: “Lain kali kamu jangan keminter. Bagaimana kalau saya belum pas dengan perbaikan yang dibuat?”

Saya hanya bisa mengatakan “Mohon maaf Bapak, tidak akan saya ulang”. Dalam hati saya berpikir, kalau saya tidak bicara hal ini, beliau juga tidak akan menanyakan. Saya telah Nguthik-uthik macan dhedhe. (IwMM)

Friday, May 11, 2012

MIMI LAN MINTUNA

Sejenis ketam, yang dalam bahasa Inggris,  mungkin karena bentuknya seperti ladam kuda (walaupun punya ekor) disebut “Horseshoe Crab”. Termasuk hewan beruas (arthropoda) yang huniannya di paya-paya. Dalam bahasa Indonesia disebut kepiting ladam atau belangkas. Dalam bahasa Jawa jenis jantan binatang ini disebut “mimi” sedang betinanya “mintuna”. Termasuk satu dari dua binatang yang dalam bahasa Jawa betul-betul mempunyai nama khusus (baca Nama binatang jantan dan betina: Bahasa Jawa dan Inggris).

Mimi dan mintuna menarik bagi orang Jawa karena perilakunya yang kemana-mana senantiasa berpasangan. Sehingga suami isteri yang hidup rukun, kemana-mana selalu bersama, sebagai dua sejoli yang sehidup semati dikatakan seperti “mimi lan mintuna”. Oleh sebab itu dalam “panyandra” upacara pengantin adat Jawa, pembawa acara hampir dipastikan selaku menyebutkan kata “mimi lan mintuna” ini, misalnya:

... rinten dalu enjing sonten, amung tansah runtung-runtung, bebasane keket raket renggang gula kumepyur pulut, runtung-runtung rerentengan pindha mimi lan mintuna ...

... bagya mulya hayem tentrem runtang-runtung rerentengan kadya mimi lan mintuna ....

... kadya mimi lan mintuna gandheng renteng pindha Kamajaya lan Kamaratih dewa-dewining asmara, bebarengan sesandhingan mecaki dina-dina swarga donya ...



Dalam dunia moderen sekarang ini “mimi lan mintuna” tidak hanya muncul sebagai kata-kata panata adicara pengantin adat Jawa. Remy Sylado pun menulis sebuah novel dengan judul “Mimi Lan Mintuna” setebal 292 halaman, diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2007. Ceritanya cukup seru, intinya tetap kesetiaan yang dikemas dalam situasi jaman sekarang. Bagaimana Petruk sang preman kampung menyelamatkan Indayati, isterinya, yang menjadi korban trafiking (perdagangan wanita) di luar negeri. Silakan baca sendiri.

Yang menyedihkan “mimi lan mintuna” ternyata juga menjadi santapan manusia. Bisa sekedar dibakar saja, konon di Malaysia dimasak menjadi asam pedas dan sambal tumis belangkas. Hati-hati dalam belangkas ini ada racun yang memabokkan. Jadi harus ahli dalam memasaknya.

Ada cerita entah betul entah tidak, kalau hanya memasak satu jenis kelamin akan beracun. Tetapi kalau keduanya, racun akan tawar. Kalau ceritera ini betul, laki-laki dan perempuan yang hidup sendiri sepertinya berbahaya. Manusia hidup ditakdirkan berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Dalam berpasangan sudah diberi contoh, seperti “mimi lan mintuna” yang runtang-runtung rerentengan bebarengan sesandhingan rinten dalu enjing sonten. (IwMM)

Wednesday, May 9, 2012

NAMA BINATANG JANTAN DAN BETINA: BAHASA JAWA DAN INGGRIS

Ada teman yang baca posting tentang nama anak binatang, bertanya: Kalau binatang jantan dan betina selain “jago” dan babon” (untuk ayam jantan dan ayam betina) apa saja ya mas?” Saya pikir benar juga pertanyaan teman ini. Tidak seperti anak binatang yang hampir semuanya punya nama khusus, orang Jawa sepertinya tidak begitu memperhatikan “gender” pada binatang. Demikian pula dalam bahasa Indonesia, tidak ada sebutan khusus. Semuanya secara general tinggal menambahkan kata “jantan” atau “betina” di belakang jenis binatangnya. Misal: Ayam jantan, Sapi betina.

Saya coba inventarisir, ternyata hanya mendapatkan lima binatang sebagai berikut:


Jago dan babon
Nama ini digunakan untuk menyebut ayam jantan (jago) dan ayam betina (babon). Jago dan babon sebenarnya bisa digunakan secara general untuk semua jenis burung, tetapi menjadi tidak umum. Yang umum ya ditambah kata “lanang” atau “wedok” setelah jenis binatangnya, misal: Dara lanang, bebek wedok.

Ranggah
Nama ini digunakan untuk menyebut binatang jenis rusa (menjangan) berkelamin jantan. Sebenarnya salah kaprah. Ranggah adalah sebutan untuk tanduk menjangan, sementara yang punya tanduk katanya hanya jenis kelamin jantan.

Jawi
Ada yang menyebut “jawi” adalah banteng betina. Dalam pengertian saya “jawi” adalah nama lain (dasanama) untuk banteng. Sementara di ranah Minang yang disebut “jawi” adalah sapi
Nah dua yang terakhir ini benar-benar binatang yang dalam bahasa Jawa mempunyai nama khusus untuk jenis kelamin jantan dan betina:

Kolik dan tuhu
Dalam dunia burung maka adalah manuk “tuhu” sebagai jenis jantan dan “kolik” betinanya. Memang yang jantan bunyinya tuhu, tuhu, tuhu .... dan sedangkan si betina bunyinya kolik, kolik, kolik .... Ada wangsalan yang cukup terkenal dan usianya sudah tua: “Kolik priya, priyagung Anjani Putra” Yang dimaksud dengan kolik priya adalah “tuhu” sedangkan Anjani putra, anaknya dewi Anjani adalah kera putih bernama “Anoman”. Sehingga kalimat ke dua dari wangsalan tersebut adalah “Tuhu eman wong anom wedi kangelan”. (Baca: menyampaikan pitutur melalui wangsalan)

Mimi dan mintuna.
Ini sejenis ketam (horseshoe crab), yang amat rukun antara jantan dan betinanya. Kemana-mana si jantan selalu mengikuti betinanya sehingga dipakai sebagai perumpamaan pasutri yang rukun. Sering dipakai sebagai “panyandra” pengantin oleh pembawa acara. Yang intinya supaya rukun seperti “mimi dan mintuna” sampai “kaken-kaken ninen-ninen”

Bagaimana dalam bahasa Inggris?

Mungkin lebih kaya dalam memberi nama untuk jenis betina dan jantan. Seperti halnya dalam pemberian nama anak binatang, maka kaidah penamaan lebih jelas daripada dalam bahasa Jawa. Perlu diperhatikan bahwa kaidah untuk anak binatang tidak selalu sama polanya dengan kaidah untuk gender.

Male (jantan) dan female (betina)
Male (jantan) dan female (betina) adalah nama paling umum untuk menyebut jenis kelamin. Dari rujukan bacaan (lihat di bawah) disebutkan dalam penggunaannya adalah: Semua jenis kera, koala, cheetah, hyena, otter, pinguin, ikan hiu (betina), ular, kura-kura, katak, kelelawar, kupu-kupu, belalang, lebah, kutu, nyamuk, labah-labah

Cock (jantan) dan hen (betina)
Merupakan nama generik untuk semua jenis burung besar maupun kecil, terbang maupun tidak terbang, hidup di air maupun di darat. Komodo juga disebut cock dan hen, mungkin karena bertelur. Ada juga jenis burung yang mempunyai nama khusus, sepertinya burung yang akrab dalam keseharian manusia

Bull (jantan) dan cow (betina)
Merupakan nama generik untuk jenis “bovine” (sapi) dan binatang ternak maupun binatang lain yang menurut saya bukan kelompok sapi, tetapi mungkin pemakan tumbuh-tumbuhan. Dalam kelompok ini dapat kita jumpai sapi, bison, onta, semua jenis rusa, jerapah (jantan), kuda nil, gajah, badak, buaya, komodo, ikan lumba-lumba, singa laut, anjing laut, ikan paus, sedangkan ikan hiu jantan dsebut bull tetapi yang betina tidak ada sebutan khusus. Cukup female saja. Tikus juga bisa masuk ke bull dan cow

Dog (jantan) dan bitch (betina)
Digunakan untuk kelompok “canine” (anjing). Jadi ada pisuhan (umpatan) bahasa Inggris: “Son of a bitch”. Kalau kita dikata-katain itu, berarti kita dibilang anak anjing betina, alias “kirik”.Termasuk disini: Anjing, serigala, hyena dan coyote,

Boar dan sow
Digunakan untuk binatang-binatang babi, beruang, panda, raccoon, otter, marmot dan juga salamander.

Buck (jantan) dan doe (betina)
Digunakan untuk kelompok kambing, domba, rusa, antelope, jerapah (betina), kanguru, tupai, kelinci, hamster, koala, tikus,

Nama-nama yang lebih khusus
  1. Stallion (jantan) dan mare (betina): Kuda dan zebra
  2. Drone (jantan) dan queen (betina):Lebah dan semut
  3. Akhiran “ess” untuk betina: Digunakan untuk kelompok raja hutan. Singa (lion), macan (tiger), leopard (macan tutul) dan panther, masing-masing betinanya disebut lioness, tigress, leopardess dan pantheress
  4. Rusa jantan juga disebut “stag”
  5. Ayam jantan: Rooster
  6. Itik jantan: Drake
  7. Angsa jantan: Gander; Angsa betina: Goose
  8. Merak jantan: Peacock; merak betina: Peahen
Nama khusus mirip nama manusia
  1. Kucing jantan: Tom, tomcat; Kucing betina: Queen, molly, pussy
  2. Keledai jantan: Jack, jackass; Keledai betina: jenny, jennet
  3. Kambing jantan: Billy; kambing betina: Nanny
  4. Kalkun jantan: Tom; Kalkun betina: Hen
  5. Jack (jantan) dan Jill (betina): kanguru dan binatang berkantong pada umumnya, kelinci
  6. Kera lemur jantan: Dictator; Betina: Princess
Kesimpulan

Bahasa Jawa tidak terlalu memperhatikan penamaan binatang sesuai gender. Yang betul-betul khusus ada dua, yaitu Kolik dan tuhu serta mimi dan mintuna. Justru binatang yang kurang akrab dalam keseharian, tetapi cukup dikenal karena digunakan dalam wangsalan dan perumpamaan yang dipakai untuk memberi nasihat kepada pengantin. Dalam bahasa Inggris umumnya memperhatikan konteks, dan binatang yang kira-kira lucu diberi julukan seperti nama manusia: Tom, Billy, Nanny, Jack dan Jill (IwMM)

 
Rujukan bacaan

Tuesday, May 8, 2012

SYARAT PUNYA “KAREP” HARUS: “ULAT MADHEP ATI MANTEP”

Karep” adalah “tujuan”. Dalam bahasa sekarang boleh disamakan dengan “visi”, yaitu keadaan masa depan yang diinginkan dan harus bisa dicapai pada kurun waktu tertentu. Jadi “karep” bukan sekedar angan-angan orang yang menggantang asap, karena akhirnya  kita akan dikatakan “kaya cecak nguntal empyak”. (Baca: Keinginan yang terlalu tinggi).

Sebelum “karep” atau “visi” dijabarkan menjadi: misi, strategi, langkah-langkah dan seterusnya harus ada “nilai-nilai” atau “values” sebagai landasan bertindak kita. “Ulat madhep ati mantep” adalah nilai-nilai yang dimaksud.

Ulat madhep” adalah sikap wajah kita. Kalau kita mau berjalan ke barat tentunya muka menghadap ke barat dan tidak “tolah-toleh” lagi. Sedangkan “Ati mantep” adalah tak ada keraguan di hati. Didukung rasa percaya diri sehingga punya keyakinan akan berhasil. Ia tahu pasti banyak hambatan dan tantangan untuk mencapainya, tetapi ia tahu pula bahwa ia tidak boleh ragu-ragu. Kalau hati dibelit ragu ingat kata-kata: Yen wania ing gampang wedia ing ewuh samubarang nora tumeka.

Kalau dikatakan “loro-loroning atunggal” maka maksudnya antara fisik dan rohani berada dalam satu derap langkah: Ulat madhep ati mantep. Dalam hal ini saya pernah diberi nasihat: Kalau kamu punya “karep” kebahagiaan di akhirat, maka beribadahlah dengan “ulat madhep ati mantep”. Sebagai contoh dalam menjalankan sholat, hadapkan tubuh dan wajahmu ke arah kiblat (ulat madhep). Demikian pula kalbumu jangan lari kekanan dan kekiri. Harus mantap bahwa kamu sedang sholat (ati mantep).

Sementara teman yang suka berseloroh mengatakan: Ulat madhep ati mantep mangan melu maratuwa. Wah kalau seperti ini ya lama-lama bisa menjadi Kemladheyan ngajak sempal (IwMM).

Sunday, May 6, 2012

KEMLADHEYAN NGAJAK SEMPAL


Kemladheyan: Benalu; Sempal: Patah. Benalu, pohon yang numpang sebagai parasit, banyak kita lihat di pohon-pohon besar. Akar-akar benalu mencengkeram batang pohon yang menjadi induk semangnya, mengambil sari makanan dari pohon yang ditumpanginya. Kalau benalunya sedikit mungkin tidak masalah. Tetapi kalau kemudian menjadi besar dan banyak maka pohon induknya menjadi meranggas. Batang tempat benalu menempel bisa kering dan mati. Lama-lama patah (sempal). Tentusaja benalunya ikut jatuh dan ikut mati.

Dalam kehidupan manusia, ungkapan “kemladheyan ngajak sempal” adalah orang yang hidupnya nunut kita. Mungkin kita terima karena kasihan atau rasa persaudaraan. Lama-lama kita yang hidupnya sudah pas-pasan menjadi tidak kuat juga. Contoh paling sederhana adalah orang yang numpang di rumah kita dan kehidupannya menjadi beban kita. Ternyata dia numpang terus dan malah kita yang habis-habisan menyediakan kebutuhannya.

Tidak harus orang lain yang numpang. Anak yang tidak bekerja dan sampai dewasa masih ikut orang tua kemudian berkeluarga, mempunyai anak, sementara orang tua semakin tua, penghasilan juga semakin turun, hal ini lama-lama juga bisa menjadi “kemladheyan ngajak sempal”. Bagaimanapun orang tua pasti tidak akan tega kepada anaknya. Tetapi orang tua harus bijaksana juga dalam memandirikan anak. Anak harus dilepas, diupayakan bisa mempunyai matapencaharian sendiri, kalau perlu diberi modal. Orang tua tinggal “tut wuri handayani”. Jangan sampai terjadi orang tua mati dan anak menjadi lebih sengsara karena belum siap berdikari.

Perlu dibedakan dengan “satru mungging cangklakan”. Yang ini samasekali bukan musuh. Dia orang yang kita kenal baik, hanya dia nunut kita 100 persen sehingga kita menjadi susah karenanya. Sedangkan “musuh mungging cangklakan” adalah orang yang mau mencelakai kita dan samasekali di luar dugaan karena dia orang yang dekat dengan kita. Bisa teman dekat, bisa saudara. (IwMM)

Most Recent Post


POPULAR POST