Tuesday, February 14, 2012

KULAK WARTA ADOL PRUNGON

Kulak: Membeli sesuatu untuk di jual lagi, sedangkan Prungon: Hasil dari kita mendengar. Pengertian “Kulak warta adol prungon” adalah kita mencari berita, bisa melalui ngrumpi atau nggosip atau curi-curi dengar pembicaraan orang, untuk kita ceriterakan lagi di tempat lain. 


Orang yang hobi “kulak warta” ini tidak sedikit dan dari dulu sudah ada. Dulu teman yang begini kita sebut “RRI” karena pada masa itu siaran berita hanya ada di RRI saja. Radio swasta belum ada apalagi TV swasta wong TVRI saja belum ada.

Lha kalau TVRI belum ada lalu saya umur berapa saat itu. Memang masih SD dan teman saya itu juga masih SD, tapi sudah bisa “kulak warta” tentusaja warta tingkat SD.  Biasanya dia datang langsung cerita: “Sudah tahu ......” atau malah ditanggap: “Ada ceritera apa ...... “. Dia dengan senang hati akan bercerita, dan diantara kita, walau anak-anak,  akan ada pula yang memperkuat-teruskan di tempat lain.

Kalau beritanya betul, memang tidak ada masalah. Tapi berita dari mulut ke mulut ini tentunya hambar kalau tidak pakai bumbu. Lebih-lebih kalau berita yang dibawa asalnya dari “Tembang rawat-rawat” (tembang lamat-lamat yang tidak terdengar jelas kata-katanya). Kemudian tembang tersebut dibawa “bakul sinambi wara” (orang jualan sambil berceritera kemana-mana). Kalau dikaitkan dengan “ora ana kukus tanpa geni” (tidak ada asap tanpa api), memang betul disana ada api, tapi asapnya sudah bercampur-aduk.

Kalau sudah begini, dalam sehari kita bisa mendengar sampai sepuluh kali, berita yang intinya sama tetapi ceriteranya beda. Kita jadi “karoban pawarta” alias kebanjiran berita. Kalau itu tak ada kaitan dengan diri kita, masabodoh lah, bukan urusanku. Tetapi seandainya terkait, kita bisa bereaksi dalam dua kutub ekstrim. Pertama kebakaran jenggot, kalau beritanya buruk, misalnya dikatakan selingkuh. Yang kedua, bisa GR kalau beritanya bagus. Katakan saja mau dipromosikan. Lupa kalau ada rumus “Undhaking pawarta sudaning kiriman”,  yaitu “banyaknya berita berbanding terbalik dengan kenyataan” Makin banyak beritanya makin kecil tingkat kebenarannya.

Kita rujuk kembali ke Serat Kalatidha anggitan R. Ngabehi Ranggawarsita , bait ke empat dalam Sekar Sinom: “Dasar karoban pawarta; Bebaratun ujar lamis; Pinudya dadya pangarsa; Wekasan malah kawuri ......... “ (Karena kebanjiran berita; yang tidak benar; mau dijadikan pemuka; akhirnya malah tidak dipakai .......). sepertinya R Ngabehi Ranggawarsita juga pernah jadi korban orang yang suka “kulak warta adol prungon” ini

Pada jaman sekarang dimana orang cenderung cepat terprovokasi, betapa bahayanya apabila kita terpengaruh oleh pemberitaan yang berasal dari “tembang rawat-rawat” yang dibawa oleh orang  “kulak warta adol prungon”. Bisa terjadi keresahan sampai kerusakan. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST