Monday, March 4, 2013

PANYANDRA: PEPINDHAN UNTUK SESUATU YANG KHUSUS (1): KEPALA DAN LEHER


Memahami cara orang Jawa membandingkan “sesuatu dengan sesuatu” memang bisa membuat bingung termasuk untuk orang Jawa sendiri yang hidup pada abad ke 21. Orang yang amat gemuk bisa kita sebut “lemu ginuk-ginuk” (kata majemuk yang menyangatkan), bisa kita katakan “lemune kaya gunung anakan” (pepindhan), atau kalau kita mau gunakan “sanepa” maka boleh kita sebut dengan “kuru semangka” (masih lebih kurusan semangka). Ada teman yang sambil guyon mengatakan “Wis, Mas. Omong nganggo bahasa Inggris luwih penak”. Ia memberi contoh “pepindhan” dengan kalimat: “As big as ..... "
 
 
PEPINDHAN, SANEPA DAN PANYANDRA
 
Bila diringkas, inti dari pepindhan adalah membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, tetapi tidak menyangatkan. Pembandingnya bisa sesuatu yang nyata, abstrak, tokoh fiksi, pokoknya apa saja yang bisa dibuat perbandingan. Misal:  Mlayune banter kaya angin (larinya secepat angin).
 
Sementara sanepa, boleh kita katakan sama dengan pepindhan yang ada unsur menyangatkan tetapi penyampaiannya dibalik. Mungkin ini yang khas Jawa. Contoh: Playune rindhik asu digitik (anjing yang dipukul pun masih kalah cepat).
 
Adapun panyandra (candra: salah satu pengertian “candra” menurut Poerwadarminta adalah menceriterakan ujud sesuatu dengan “pepindhan”). Secara umum dapat kita katakan bahwa “panyandra” adalah “pepindhan” khusus. Misalnya bagian tubuh manusia (khususnya wanita, dan lebih khusus lagi yang dinilai “indah). Disamping itu “Panyandra” juga diberikan untuk menggambarkan suatu keadaan. Misalnya “panyandra untuk musim” dalam “pranatamangsa” Jawa, dan panyandra gambaran orang minum (minuman keras) mulai satu sloki sampai sepuluh sloki.
 
 
PERLU DAYA IMAJINASI

Seorang wanita yang amat cantik bisa kita katakan “ayune pindha Bathari Kamaratih”, ini pepindhan. Tetapi ketika kita mulai mengurai bagian tubuhnya, maka kita sampai pada “panyandra”, misalnya: “Rambute ngembang bakung”. Ibarat bunga bakung yang mengombak.
 
Berbeda dengan "pepindhan" maka  dalam "panyandra"  kita tidak selalu menggunakan kata seperti: Kaya, kadya dan lir”. Banyak yang langsung saja: “Alise nanggal sepisan” (alis yang seperti bulan tanggal satu).
 
Perlu daya imajinasi yang kuat untuk membayangkan sesuatu yang kita “candra” dengan pembandingnya. Kita ambil contoh dalam bahasa Indonesia: “Rambutnya mayang mengurai”. Kalau digambar di atas kertas maka wanita dengan rambut terurai seperti mayang ya tidak ada indahnya.
 
Dibawah dapat dipirsani beberapa contoh panyandra untuk bagian tubuh manusia, mohon maaf agak sulit menjelaskan dengan bahasa tulisan.
 
 
BAGIAN KEPALA DAN LEHER
 
ALIS
Alise nanggal sepisan: Alis seperti bulan tanggal satu (bulan Jawa)
 
BIBIR
Lambene manggis karengat: Merahnya bibir seperti kulit buah manggis yang retak (rengat)
Lambene nggula satemlik: Bibir yang mungil
Catatan: Dalam bahasa Indonesia panyandra tentang bibir ini menggunakan buah delima: Bibirnya bak delima merekah. Baca juga: Lambe (bibir) dalam ungkapan Jawa
 
BULU MATA
Idepe tumenga ing tawang: Bulu matanya lentik. Tumenga: mendongak; Tawang: langit. Bulu mata yang melengkung ke atas. Ada juga yang mengatakan bulu mata seperti ini dengan idepe ngetonggeng, maksudnya seperti (bagian ekor) kalajengking yang lengkung ke atas
 
DAGU
Wange (uwange) nyangkal putung: (Wang, uwang: dagu; Sangkal: Hulu/pegangan kampak; Putung: patah). Maksudnya dagu yang membentuk sudut bagus.
 
DAHI
Bathuke nyela cendhani: Dahi yang halus dan bersinar seperti marmer (sela cendhani).
Bathuke ngungkal gerang: Wungkal: batu asah; Gerang: dalam hal ini berarti sudah lama dipakai. Sehingga dahi yang diibaratkan “ngungkal gerang” adalah yang bagian kiri dan kanan seperti ada lekukannya.
 
GIGI:
Untune miji timun: Putih, kecil, seperti biji mentimun
Untune ngelar kombang ada mengatakan waja menges-menges manglar kombang: Jaman dulu ada yang suka menghitamkan gigi dengan “sisig”. Sehingga dikatakan gigi yang kehitaman seperti sayap kumbang.
 
GODEG (laki-laki)
Godhege simbar rumembun: Godeg seperti tanaman simbar menjangan yang sedang tumbuh
 
HIDUNG
Irunge kencana pinatar: Hidung yang bersinar seperti emas yang habis dihaluskan dengan “patar”
Irunge ngudhup melathi: Hidung seperti kuncup bunga melati (bunga melati yang belum mekar).
Catatan: Irunge mbangir (mancung) bukan panyandra. Hidung mancung adalah bentuk umum hidung bersama-sama dengan “pesek”.
 
KUMIS (laki-laki)
Brengose Nguler keket: Kumis tebal seperti “ulat keket”;
Brengose nglaler menclok: Kumis seperti lalat hinggap (kumis Hitler)


 LEHER
Gulune ngelung gadhung: Seperti ular gadhung yang bergantung di pohon, lehernya agak condong ke depan
Gulune ngolan-olan: Seperti ular (pada umumnya). Maksudnya adalah leher yang jenjang.
 
MATA
Mripate ndamar kanginan: Gerakan mata seperti lampu minyak yang kena angin. Mata yang kocak.
Mripate liyep lindri: Liyep, lindri: agak sipit atau terpejam;
Catatan: Ndamar kanginan adalah gerakan bola mata dan Liyep lindri adalah bukaan kelopak mata
 
PIPI
Pipine nduren sajuring: Seperti belahan buah durian (satu belahan). Dalam bahasa jawa yang umum dikatakan sebagai pipi yang “lancap”, bukan pipi yang bulat.
 
RAMBUT
Rambute ngembang bakung: Rambut yang berombak-ombak seperti bunga bakung
 
RAMBUT DI DAHI (SINOM)
Sinome mbibis mabur: Bibis adalah serangga kecil seperti kecoak yang hidup di air.
Sinome micis wutah: Jaman dulu ada uang logam dengan nilai satu ketip yang disebut uang picis. Seperti picis tumpah berarti rambut di dahi yang lebat dan melingkar-lingkar di bagian atas dahi.
 
RAMBUT DI PELIPIS (ATHI-ATHI)
Athi-athine ngudhup turi: Athi-athi adalah rambut halus yang ada di pelipis wanita (sepeti godheg). Disini dikatakan seperti kuncup bunga turi, melengkung ke belakang
 
 
PENUTUP
 
Demikianlah panyandra untuk bagian atas tubuh manusia, yang pada umumnya memang panyandra ini adalah alunan lamunan laki-laki untuk membayangkan kecantikan wanita. Kurang satu barangkali, yaitu panyandra untuk “telinga”. Terus terang saya tidak dapat menemukannya. Kita lanjutkan ke panyandra untuk tubuh dan anggota badan pada
 
 
 

1 comment:

Wega Maulana said...

matursuwun pakdhe iwan

Most Recent Post

POPULAR POST