Showing posts with label Para Muda. Show all posts
Showing posts with label Para Muda. Show all posts

Wednesday, December 5, 2012

SERAT WULANGREH: DEN KEREP TETAKON AJA ISIN NGATOKKEN BODHONE

“Malu bertanya sesat di jalan” adalah peribahasa Indonesia yang sudah amat kita kenal. Banyak orang enggan bertanya karena takut dikira bodoh. Padahal di dunia ini tidak ada orang yang sempurna. Pasti ada kekurangan dan ketidak-tahuan. Itulah gunanya ada orang lain, untuk tempat bertanya. Ada teman yang memplesetkan peribahasa ini menjadi “lebih baik malu bertanya, daripada sesat di jalan”. Alasannya ia pernah menanyakan “jalan” tetapi orang yang ditanya sengaja menunjukkan arah yang berbeda.

Dalam Serat Wulangreh, Pupuh Mijil bait ke 22, Sri Pakubuwana IV menyebutkan yang intinya kurang lebih: “Oleh sebab itu pesan saya; seringlah bertanya; jangan malu menunjukkan kebodohan; karena dari bodohlah asal mula kepandaian; hanya Nabi saja; yang pandai tanpa diajari.
Lengkapnya bait ke 22 sebagai berikut:

Kata kuncinya adalah: Banyaklah bertanya, jangan malu dianggap bodoh, karena sebelum menjadi pandai kita ini bodoh. Bertanya disini maksudnya “berguru” dan kalau ada yang tidak tahu jangan diam saja, tetapi tanyakan.
Dalam kehidupan sehari-hari pun kalau ada yang tidak tahu, ya harus bertanya. Hal ini dijelaskan pada bait ke 23 bahwa lumrah dalam hidup ini bahwa manusia harus pandai bertanya.
Sasaran pesan ini adalah kawula muda. Jadi Sri Pakubuwana IV melanjutkan: Oleh sebab itu wahai anak muda, rajinlah; menuntut ilmu supaya menyadi penguat lahir dan batin(pikukuh).
Lengkapnya bait ke 23 sebagai berikut:

Kata kunci disini adalah: Orang pandai akan kokoh dan asal mula pandai adalah dari banyak bertanya. Kalau kita kembali ke bait 22 maka syarat orang mau banyak tanya adalah tidak malu dikatakan bodoh.
 
LIDING DONGENG
Banyak diantara kita punya sifat “malu bertanya” karena merasa “mahatahu”. Justru sifat “mahatahu” inilah kita menjadi suka “ngendhak gunaning janma” atau meremehkan kemampuan orang lain. Akibatnya yang rugi diri sendiri: Tanpa sadar tersesat dalam kebodohan.
Dalam bahasa yang sederhana, merujuk ke bait 22 di atas: Kita ini bukan Nabi. Nabi pun merasa “tidak” maha tahu. Hanya Allah SWT yang maha tahu. Kembali kita diingatkan untuk “Mulat sarira”, mawas diri, atau introspeksi diri. (IwMM)

Saturday, September 29, 2012

SERAT WULANGREH: KUMENTHUS DAN KUMAKI


Kata “kumenthus” dan “kumaki” sering diucapkan “kementhus” dan “kemaki” masih sering kita dengar dalam percakapan bahasa Jawa. Arti umumnya adalah “sombong”. Masih banyak orang yang berbahasa ibu “Jawa” mengerti hal ini. Yang bukan Jawa pun tahu mengatakan "kemaki".

Sri Pakubuwana IV memasukkan "kumenthus lawan kumaki" sebagai perilaku anak muda yang kurang bergaul dengan orang baik (Serat Wulangreh: Kelakuan “nom-noman” yang “adoh wong becik”) bersama perilaku-perilaku kuranjg baik lainnya dalam pupuh Kinanthi bait ke 8 seperti pada gambar di bawah:


Apakah  kumênthus sama dengan kumaki? Menurut saya jawabannya adalah “serupa tetapi tak sama”. Serupa karena pengertian umumnya adalah gambaran orang “sombong”, serupa pula karena menggunakan tatabahasa yang sama, yaitu sisipan “um” atau “em” yang artinya kurang lebih “berperilaku seperti .......”. Contoh sederhana misalnya: “Keminter” yang artinya bergaya seperti orang pintar, padahal jauh dari pintar.
 

KUMENTHUS


Kumenthus
Berasal dari kata “Kenthus”, yaitu sejenis katak yang bisa menggembungkan perutnya. Kataknya kecil-kecil saja, tetapi kalau pas menggelembung dia akan menjadi besar. Tidak hanya besar badannya tetapi suaranya pun menjadi besar. Kita tidak akan menyangka kalau bunyi yang keras itu dikeluarkan oleh makhluk sekecil itu.

Orang “kumenthus” adalah orang yang berlagak sok berani sepertinya dia yang paling jagoan.




KUMAKI

Kumaki

Berasal dari kata “Kaki”. Kaki dalam bahasa Jawa artinya adalah sebutan untuk orang yang sudah tua. Kalau dalam dunia pewayangan seorang pendeta sepuh menyebut “kaki prabu” kepada raja yang lebih muda usia, berarti pendeta tersebut menghormati sang raja. Walaupun muda, tetapi dituakan). Orang disebut “Kaki” tidak sekedar sebagai sebutan untuk orang yang jauh lebih tua atau dituakan, tetapi juga dianggap jauh lebih pandai.
 
Orang “kumaki” adalah orang yang berlagak sok pandai, sama dengan kuminter. Gayanya seperti orang tua bijak yang memberi pitutur luhur (padahal perilakunya tidak mendukung).


KUMENTHUS DAN KUMAKI VS ADIGANG ADIGUNG ADIGUNA

Ada teman yang bertanya tentang hal ini: Apa bedanya? Penjelasannya sederhana saja. Orang "kumenthus" dan "kumaki" tidak punya kelebihan tetapi berlagak hebat. Sedangkan "adigang adigung adiguna" orangnya memang hebat sayangnya suka menonjol-nonjolkan kebolehannya. Yang pertama adalah penyakit orang muda sedangkan yang kedua bisa muda bisa tua.
 
 
EPILOG
 
"Jadi kalau gitu orang seperti mas Iwan ini sudah jauh dari kemaki ..." Komentar Toni yang dari tadi mendengar wedharan saya dengan saksama.
 
"Jangan nggunggung Ton, nalarnya gimana?" Jawab saya dengan reflek dada membusung karena dapat pujian
 
"Kumaki kan sifat anak muda yang berlagak pintar seperti kaki-kaki. Lha mas Iwan kan sudah kaki-kaki". Penjelasan Toni dengan senyum lebar.
 
"Sialan kamu, Ton. Kamu itu bar njunjung (mengangkat) terus ngantebake (menjatuhkan)". (IwMM)
 
 
CATATAN
 
Pengertian “Kumenthus” dan “Kumaki” menurut Poerwadarminta, 1939, dapat dipirsani sebagai berikut:

1.    kumênthus: kn. ak. umuk, gumêdhe, kumêndêl lsp); kc. kênthus.
2.    kênthus: kn 1 ar. kewan bngs. kintêl;
3.    kintêl: I kn. bngs. kodhok kang bisa mlêmbung.
4.    kaki: I kn. eyang ki 1 êmbah lanang; 2 br. anak anggèr (panyêbut marang wong nom kang kinasih ut. kinurmatan); wis [x]-[x] pc. wis tuwa bangêt.
5.    kumaki: kn. anbêk pintêr, kaya wong tuwa; kc. kaki.

Friday, September 28, 2012

SERAT WULANGREH: ANAK MUDA BERBAKTILAH KEPADA ORANG TUA



Pada bait ke 16 (bait terakhir) pupuh Kinanthi dalam Serat Wulangreh, Sri Pakubuwana IV mewanti-wanti supaya anak muda berbakti lahir bathin kepada orang tua, sebagai berikut:

Adapun terjemahannya: Wanti-wanti pesan saya; kepada yang membaca serat ini; lahir batin patuhilah; isi serat ini; dan berbaktilah kepada orang tua; dari lahir sampai batin
 
 
APA HANYA PESAN UNTUK ANAK MUDA SAJA?
 
Pemahaman “poma-poma wekas ingsun; mring kang maca layang iki” bisa berlaku umum untuk semua golongan umur. Walau demikian penekanannya kepada anak muda. Mengapa demikian?

1.    Pitutur di atas disekarkan dalam Kinanthi. Jiwa tembang Kinanthi sendiri adalah untuk anak muda yang masih perlu di “kanthi” (dibimbing) kedua orang tuanya. (Tembang Macapat “All in One”)

2.    Tembang Kinanthi dalam Serat Wulangreh terdiri dari 16 bait. Bait pertama dan ke dua mengandung pesan supaya kita “nggegulang kalbu” supaya “lantip” dan ”laku mesu sarira” melalui mengurangi makan dan tidur, tidak foya-foya dan berpakaian sederhana. Ini adalah modal anak muda sebelum dia menjadi orang. (Serat Wulangreh: “Laku” supaya “ing sasmita amrih lantip”)

3.    Adapun bait ke 5 dan 6 berisi pesan untuk anak muda agar tidak bergaul dengan orang jahat (Serat Wulangreh: Anak muda jangan bergaul dengan orang jahat)

4.    Selanjutnya bait ke 8 dan 9 memberikan ciri-ciri watak anak muda yang adoh wong becik (Serat Wulangreh: Kelakuan “nom-noman” yang “adoh wong becik”)

5.    Sedangkan bait ke 11 sd 13 mengingatkan kaum muda supaya banyak bergaul dengan orang tua (Serat Wulangreh: Diharapkan “Wong anom taberi jejagongan lan wong tuwa”)

6.    Selanjutnya dua bait terakhir (bait ke 16) dari pupuh Kinanthi di atas mewanti-wanti kita supaya berbakti lahir batin kepada orang tua. (lan dèn bêkti mring wong tuwa; ing lair prapta ing batin)

Kalau dilihat, sekuensnya memang pas. Tembang Kinanthi  melambangkan orang tua “nganthi” anaknya menapaki kehidupan dunia yang hiruk pikuk. Dimulai dengan mengisi moral dan intelektual anak dengan “laku” yang benar. Selanjutnya memberi pitutur antara lain siapa yang harus dijauhi dan siapa yang harus didekati. Terakhir diingatkan bahwa kita semua tidak boleh melupakan bakti kepada orang tua.
 
 
JANGAN MENJADI ANAK DURHAKA
 
Anak yang tidak mau mendengarkan pitutur orang tua adalah anak durhaka dan tidak akan selamat dunia akhirat. Oleh sebab itu Sri Pakubuwana IV mengingatkan anak cucu supaya taat kepada kedua orang tua. Disebutkan dalam pupuh Maskumambang bait ke 5 dan 6 sebagai berikut:
 
5. wong tan manut pitutur wong tuwa ugi | pan nêmu duraka | ing dunya tumêkèng akir | tan wurung kasurang-surang ||
 
6. maratani ing anak putu ing wuri | dèn padha prayitna | aja na kang kumawani | ing bapa tanapi biyang ||
 
Adapun terjemahannya:
 
5. Orang yang tidak mituhu pitutur orang tua; menjadi durhaka; di dunia sampai akhir; tak urung terlunta-lunta
 
6. Kepada anak cucu di kemudian hari; supaya semua waspada; jangan ada yang berani; kepada bapak dan ibu.
 
 
BILA ORANG TUA MEMBERI PELAJARAN TIDAK BAIK, JANGAN DIANUT
 
Pada pupuh Maskumambang bait ke 1 sd 4 disebutkan:
 
1. nadyan silih bapa biyung kaki nini | sadulur myang sanak | kalamun muruk tan bêcik | nora pantês yèn dèn nuta ||
 
2. apan kaya mangkono watêkan iki | sanadyan wong tuwa | yèn duwe watêk tan bêcik | miwah tindak tan prayoga ||
 
3. aja sira niru tindak kang tan bêcik | nadyan ta wong liya | lamun pamuruke bêcik | miwah tindake prayoga ||
 
4. iku pantês sira tirua ta kaki | miwah bapa biyang | amuruk watêkan bêcik | iku kaki èstokêna ||
 
Pengertian secara keseluruhan sebagai berikut: Piwulang yang tidak baik, yang disampaikan oleh orang yang watak dan perilakunya tidak baik, tidak perlu dituruti, walaupun mereka adalah ayah ibu kita atau sanak saudara sendiri. Sebaliknya piwulang yang baik dan disampaikan oleh orang yang watak dan perilakunya baik, walaupun disampaikan orang lain, hendaknya diikuti.
 
 
KESIMPULAN
 
Orang tua yang tidak mendidik anaknya dengan baik, sebenarnya hanyalah kasuistik. Umumnya orang tua akan mengorbankan apa saja untuk anaknya. Itulah sebabnya dalam Serat Wulangreh: Lelima Sinembah, Sembah Lelima  maka salah satunya sembah  ditujukan kepada kedua orang tua kita (IwMM)
 

Wednesday, September 26, 2012

SERAT WULANGREH: DIHARAPKAN “WONG ANOM TABERI JEJAGONGAN LAN WONG TUWA”


Pada tulisan Serat Wulangreh: Kelakuan “Nom-noman” yang “Adoh Wong Becik disebutkan bahwa anak muda jaman sekarang jauh dari orang baik dan enggan mendengarkan pitutur:  “Lan wong anom iku; kang kanggo ing mangsa iki ....... “ kemudian “ .... nom-noman adoh wong becik; emoh angrungu carita; carita ala lan becik”.  

Oleh sebab itu diharapkan anak muda rajin “duduk bersama” orang tua. Mendengarkan pitutur sekaligus berdialog. Pada pupuh Kinanthi bait ke 11 dan 12 di bawah disebutkan:
 

Terjemahan bait ke 11:

Oleh sebab itu orang muda; sebaiknya yang rajin; duduk bersama orang tua; yang mempunyai banyak ceritera; ceritera itu macam-macam; ada yang baik ada pula yang buruk.
 
Karena ada ceritera yang baik maupun buruk maka pada bait ke 12 dikatakan: Selanjutnya pada bait ke 12 dingatkan supaya ceritera yang baik dapatnya diteladani dan yang buruk disingkiri, sebagai berikut:

Yang baik ceriteranya; pastikan untuk diteladani; yang tidak baik jauhilah; jangan kalian ikuti; dan waspadalah terhadap orang yang berceritera; pada masa sekarang ini.
 

Mengapa harus waspada? Karena banyak orang yang punya ceritera banyak tetapi tidak ada manfaatnya. Hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, seperti ditulis pada bait ke 13 dengan terjemahan sebagai berikut:

Ada orang yang punya banyak ceritera; tetapi manfaatnya tidak ada; hanya dirinya sendiri; yang mendapat manfaat, demikian pula; sifat suka memanas-manasinya yang diumbar; tanpa kira-kira.
 
KESIMPULAN:
 
Anak muda dianjurkan banyak bergaul dengan orang tua karena orang tua punya pengalaman hidup yang lebih panjang dan pasti punya ceritera baik maupun buruk yang layak dijadikan contoh. Walaupun demikian dalam pergaulan dengan orang tua tetap harus hati-hati memilih orang, karena banyak juga yang punya banyak ceritera tetapi manfaatnya samasekali tidak ada (IwMM)
 

Tuesday, September 25, 2012

SERAT WULANGREH: KELAKUAN “NOM-NOMAN” YANG “ADOH WONG BECIK”


Melalui Serat Wulangreh, Sri Pakubuwana IV banyak memberikan pitutur kepada anak muda. Pada posting Serat Wulangreh: Anak muda jangan bergaul dengan orang jahat dijelaskan pentingnya memilih teman, melalui pupuh Kinanthi bait ke 5 sebagai berikut:
 
(5) yèn wong anom pan wis tamtu | manut marang kang ngadhêpi | yèn kang ngadhêp akèh bangsat | datan wurung bisa juti | yèn kang ngadhêp kèh durjana | nora wurung bisa maling ||
 
Artinya kurang lebih: Anak muda sudah pasti mengikuti siapa yang didekatnya. Kalau dekat bangsat mereka akan ikut jadi jahat. Selanjutnya sifat-sifat buruk kaum muda yang salah dalam memilih teman dijelaskan pada pupuh Kinanthi bait ke 8 dan 9, sebagai berikut:

8. lan wong anom-anom iku | kang kanggo ing môngsa iki | andhap asor dipun simpar | umbag gumunggunging dhiri | obrol umuk kang dèn gulang | kumênthus lawan kumaki ||

9. sapa sira sapa ingsun | angalunyat sarta êdir | iku lêlabête uga | nom-noman adoh wong bêcik | êmoh angrungu carita | carita ala lan bêcik ||

Dari bait ke 8 dan 9 tersebut dapat kita rinci sifat-sifat buruk tersebut adalah sebagai berikut:


Pada dua baris pertama bait ke 8 di atas, disebutkan: “Lan wong anom-anom iku; kang kanggo ing môngsa iki”. Maksudnya adalah anak muda pada jaman sekarang. Kita boleh berkelit bahwa mereka kan anak muda pada era Sri Pakubuwana IV pada abad ke 18-19. Kita kan hidup pada abad ke 21. Bagi kita yang sudah tua, marilah introspeksi apakah saat muda kita punya sifat seperti itu? Demikian pula bagi yang sekarang ini masih muda, dapatnya melakukan self assessment terhadap sifat masing-masing. Kalau ada yang seperti itu, hilangkanlah.

KESIMPULAN
 
Anak muda yang imunitasnya belum tinggi sebaiknya jangan dekat-dekat dengan orang jahat. Ada 7 butir perilaku dalam pupuh Kinanthi bait ke 8 dan 9 di atas yang intinya adalah: Kehilangan tatakrama, suka omong besar dan merasa dirinya paling hebat. Hal ini karena “nom-noman adoh wong becik; emoh angrungu carita; carita ala lan becik” (jauh dari orang baik-baik, tidak mau dengar ceritera, yang buruk maupun yang baik). Oleh sebab itu anak muda dianjurkan berteman dengan orang baik-baik dan mau mendengarkan pitutur orang tua. Dengan kata lain: Diharapkan wong anom taberi jejagongan lan wongtuwa (IwMM)

Tulisan terkait: Kumenthus dan kumaki

Saturday, September 22, 2012

MEMAHAMI “SEMU” DALAM PITUTUR SUBASITA JAWA

Tatakrama atau subasita Jawa pada umumnya kita terima dari orang tua atau yang dituakan secara verbal. Bisa disampaikan oleh bapak ibu kita, Kakek dan nenek, Pak Dhe dan Budhe, Pak Lik dan Bu Lik, dan juga guru setelah kita masuk sekolah. Yang sering kita terima adalah: Apa yang harus dilakukan supaya kita tidak dianggap “murang tata”, tetapi tidak dijelaskan “mengapa harus demikian”
 
Bagi anak yang “mbangun turut” sama orang tua karena wajibnya orang muda adalah mematuhi apa dhawuhnya orang tua, tidak ada kata lain kecuali “ngestokaken dhawuh”. Bagi anak yang berpikiran kritis, mereka akan merasa bahwa tindak tanduknya serba tidak benar tanpa alasan yang jelas. Untuk pola pikir jaman sekarang memang sulit  dimengerti. Mengapa pitutur saja disamarkan seperti “cangkriman” (teka-teki) yang ujung-ujungnya malah bikin bingung.


PITUTUR PARA SEPUH BERDASAR PENGALAMAN TURUN-TEMURUN

Orang tua memberi pitutur karena ia pernah mengalami, seperti ditulis Ki Padmasusastra dalam Serat Madubasa (1912). Disebutkan pula, kalau orang tua dalam memberi pitutur hanya sekedar menggerakkan bibir saja sementara kelakuannya pada masa muda justru kebalikannya, lebih baik tidak usah memberi pitutur. Anak muda yang mau mengikuti petunjuk orang tua dijamin tidak akan kecewa. Lengkapnya sebagai berikut:

Pituturing wong tuwa marang wong ênom, sayogya dilakoni, amarga si tuwa wis tau ngalami yèn lakune si ênom mangkana iku nyimpang saka garising bênêr, bakal tumiba marang luput, balik si tuwa ênggone awèh pitutur aja mung saka gampange ngobahake lambe bae, yèn kalakuane dhèk ênom, mangan, nginum, madon, madat sarta main durung dimarèni, sayoga ora pitutur bae, dene wong ênom kang anduwèni watêk kaya watêke wong tuwa, iku musthikaning budi, amêsthi bakal ora kêduwung uripe.


CONTOH SEDERHANA: TULADHA DARI “BERJALAN DAN BERBICARA"
 
Ada pitutur sebagai berikut: “Yen mlaku aja rikat-rikat” (kalau berjalan jangan cepat-cepat). Disisi lain juga ada pitutur: “Yen lumaku aja rindhik-rindhik” (kalau berjalan jangan pelan-pelan). Jadi jangan terlalu cepat, sekaligus jangan terlalu pelan. Kesimpulannya langkah sedang. Lalu ukuran sedang itu seperti apa? Ya dirasakan sendiri.
 
Apa sih salahnya berjalan terlalu cepat? Kalau dipikir ada benarnya juga pitutur tersebut. Bisa-bisa orang yang melihat kita jalan terlalu cepat akan mengira bahwa kita buru-buru karena ada masalah. Dalam hal ini kita telah membuat orang lain kaget. Saya sendiri terbiasa jalan cepat. Saat saya mengikuti Diklatpim, ada teman yang memberi pitutur (bukan orang Jawa): “Mas, anda akan kelihatan lebih anggun kalau kecepatan jalannya dikurangi”. Saya pelankan langkah: “Lha kenapa Bang?” Alasan teman saya enteng saja: “Supaya nggak dikira kebelet berak”. Sejak saat itu kalau saya merasa jalan terlalu cepat, saya ingat teman saya yang satu ini.
 
Lalu apa jeleknya berjalan terlalu lambat? Ada teman wanita yang gregeten melihat laki-laki yang jalannya lambat-lambat: “Rasanya ingin nendang pantatnya”. Alasannya masuk akal juga. Kalau jalan terlalu lambat seperti tidak kelihatan greget, atau semangatnya. Bagaimana dia bisa memotivasi bawahannya kalau klelar-kleler klelat-klelet gitu. Benar juga pikir saya.
 
Demikian pula dengan berbicara. “Yen omong aja seru-seru” dan “yen omong aja lirih-lirih”. Banyak orang Jawa yang kalau ngomong lirih, barangkali maunya seperti Raden Harjuna. Saya dulu juga biasa bicara lirih. Volume bicara saya keraskan sejak saya mengawali tugas sebagai dokter puskesmas di Maluku Utara. Umur saya belum 27 tahun waktu itu. Pada hari pertama bekerja Pak mantri puskesmas yang usianya dua kali umur saya memberi nasihat:  “Pak dokter di sini jangan bicara seperti orang Jawa. Nanti dikira penakut”. Saya jawab: “Nanti kalau terlalu keras jangan-jangan dikira tidak sopan”. Pak mantri melanjutkan: “Maksud saya, pak dokter bicaranya yang keras, bukan berteriak”. Setelah saya pertimbangkan, betul juga ucapan pak mantri tua tadi. Terlalu lirih menunjukkan kelemahan.  Berteriak menunjukkan kemarahan. Jadi yang sedang-sedang saja. Kembali ke ukuran sedang itu seperti apa? Jawabnya supaya dirasakan sendiri.


NGGUTUK LOR KENA KIDUL dan KROSAK ING KENE GEDEBUG ING KANA

Ada orang yang sebenarnya mau menasihati atau nyindir (nyemoni) si A tetapi ngomongnya ditujukan kepada si B. Mungkin ia sungkan ngomong langsung ke si A. Dengan bicara ke si B ia berharap si A bisa menangkap apa yang ia maksud. Dalam paribasan Jawa hal seperti ini disebut NGGUTUK LOR KENA KIDUL (memukul ke utara kena yang di selatan) atau KROSAK ING KENE GEDEBUG ING KANA (suara di sini jatuhnya di sana).

Cara seperti ini agak susah untuk sampai ke alamat sebenarnya. Sudah ngomongnya semu, masih tidak langsung ke orangnya. Bisa saja si alamat tahu tetapi pura-pura tidak tahu, bisa juga ia termasuk orang yang tidak tanggap ing sasmita.


LIDING DONGENG
 
Mengapa orang tua Jawa memberi pitutur sering tidak langsung tanpa penjelasan, kemungkinan karena sudah terbawa watak Jawa yang memang demikian. “Jawa panggonane semu”. Apa ya orang Jawa harus kehilangan “semu”. Jaman memang sudah berubah. “Semu” tidak harus berubah. Penerapannya saja yang perlu “empan papan” (IwMM)

Friday, July 13, 2012

SERAT KANDHA BUMI: PITUTUR UNTUK NGAWULA KEPADA RAJA


Serat Kandha Bumi adalah karya Ki Padmasusastra, 1924. Mengisahkan seorang pemuda yatim piatu, Raden Sapartitala, murid Resi Rasatala di padepokan Lebu Pasir. Orang tuanya sebelum meninggal telah menitipkan kepada Resi Sapartitala yang kemudian mengasuh dan mendidik Raden Sapartitala bersama adiknya, Endang Siti Pasir.

Menyadari bahwa kalau ia tetap tinggal bersama Resi Rasatala di desa, maka ilmu yang diperolehnya akan membusuk di situ dan akan terkubur dibawa mati tanpa pengamalan, Oleh sebab itu Raden Sapartitala pada akhirnya menghadap sang resi, menyampaikan maksudnya untuk mengabdi pada raja supaya ilmunya bermanfaat.

Resi Rasatala memang menganggap Raden Sapartitala sudah cukup ilmunya, tetapi pada saat Raden Sapartitala berpamitan, masih menambahkan 12 butir pesan sebagai bekal dalam pengabdiannya kepada raja, seperti di bawah ini (termasuk terjemahannya):

1.    Setya tuhu ing pangawulan, tegese tresna ing gusti trus lahir batin, sirik gedhe nyatur cacading gusti, senadya mung ngethuki bae iya aran ala (Terjemahan: Setia dan menurut dalam pengabdian, artinya mencintai raja lahir batin, pantang mencela kejelekan raja, bahkan membuat perumpamaan pun tidak baik)

2.    Sregep marang pagawean kang wus winajibake, nanging ora susah dikatonake ing akeh, becik ora katon rampung tinimbang katon ora rampung (Terjemahan: Rajin dalam melaksanakan tugas yang menjadi kewajibannya, tetapi tidak usah ditun juk-tunjukkan kepada orang banyak. Lebih baik tidak kelihatan selesai daripada kelihatan tidak selesai)

3.    Aja meri marang sihing gusti kang tumiba ing wong liya senadyan wong liya mau ora nyambutgawe kaya kowe, kowe mangsa weruha karsaning gusti kang winadi (Terjemahan: Jangan iri dengan kasih sayang raja kepada orang lain walaupun orang lain tadi tidak bekerja seperti engkau. Engkau kan tidak tahu apa rencana raja yang dirahasiakan)

4.    Rumeksa lan ngowel marang barang kagunganing gusti, dikaya pangreksa lan pangowelmu marang barangmu dhewe (Terjemahan: Menjaga dan menyayangi barang milik raja seperti menjaga dan menyayangi barang milikmu sendiri)

5.    Bisa simpen wadining gusti, ora keprojol marang ing liyan, senadyan marang anak bojo iya ora, supaya kowe diandel marang gusti bisa simpen wadi (Terjemahan: Mampu menyimpan rahasia raja, tidak kelepasan ke orang lain, walaupun kepada anak istri juga tidak, supaya engkau dipercaya raja bahwa mampu menyimpan rahasia)

6.    Sumurup marang unggah-ungguhing tata krama, aja kongsi kurang luwih, tegese ngajeni marang sapadha-padha, angluhurake marang wong gedhe, nanging aja kongsi ora pratitis, yen kurang aran digsura, yen luwih aran wong lamis, iya iku sing diarani golek pendhok (pakandelan) (Terjemahan: Mengetahui sikap dan perilaku tatakrama, jangan kurang dan jangan lebih. Artinya hormat pada sesama, meluhurkan yang kedudukan lebih tinggi. Tetapi jangan sampai tidak pas. Kalau kurang akan dikatakan kurang ajar. Kalau berlebihan dikatakan lamis, yaitu yang dinamakan cari muka)

7.    Andhap asor nanging aja asoring budi, tegese budimu kang ngumala, gelem kalah marang bandha baumu, nanging ora gelem diremehake (Terjemahan: Rendah hati tetapi tidak rendah budi; artinya budimu yang bercahaya, boleh kalah harta dan kekuatanmu tetapi tidak mau diremehkan)

8.    Ngalah basa sakecap laku satindak, nanging aja dadi tukang kalahan (Terjemahan: mengalah kata satu patah langkah satu tindak tetapi jangan menjadi orang yang selalu kalah)

9.    Yen kowe dierang-erang ana ing pajagongan, aja kolawani catur, mung ewanana bae, iku prasasat wis kotapuk raine (Terjemahan: kalau engkau diejek dalam suatu pertemuan, tidak perlu ditanggapi dengan ucapan. Cukup dengan ekspresi tidak senang, itu sudah sama dengan engkau memukul wajahnya)

10.  Yen kowe dikurangajari ing wong aja kok saru., unenana kewan ingkang tanpa budi gadhah tatakrama, cumbu dateng bandaranipun, manungsa boten makaten, dheweke wis ribut atine (Terjemahan: Kalau kamu dikurangajari orang tidak usah ditanggapi. Katakan binatang saja yang tidak punya budi masih punya tatakrama, setia kepada tuannya. Manusia tidak demikian. Hatinya sudah ribut) 

11.  Yen diwaoni gaweanmu kang wis korasa bener, aja kopadoni, wangsulana: leres karsa sampeyan, menggahing sampeyan, boten menggahing gusti (Terjemahan: Kalau dicela  pekerjaanmu yang sudah engkau anggap baik, tidak usah dibawa dalam pertengkaran.  Jawab saja benar kata anda, menurut anda, tetapi tidak untuk raja) 

12.  Tutuping pituturku disregep marang pasuwitan, senadyan pintera bisa anjara langit yen kesed, iya ora dadi dandanan. (Terjemahan: Pituturku yang penutup, rajinlah dalam pengabdianmu; walaupun pandai setinggi langit kalau pemalas ya tidak akan jadi orang yang baik)

Raden Sapartitala berangkat ke Kotaraja sendirian. Adiknya tidak diberitahu. Duabelas butir pitutur gurunya benar-benar ditaati dan akhir ceritera, Raden Sapartitala dalam pengabdiannya meningkat kariernya menjadi Patih di kerajaan Bantala Rengka tempatnya mengabdi. Adiknya, Endang Siti Pasir dalam perjalanan sulit dan panjang bertemu sang raja dan diperistri. Kisah purna dengan happy ending.

Pertanyaannya adalah: Pada jaman sekarang apakah nilai-nilai ini masih relevan? Kalau masih, apakan masih mewarnai kehidupan kita sehari-hari? (IwMM)

Tuesday, May 29, 2012

SERAT WEDHATAMA: ANAK MUDA JANGAN "LUMUH ALA" MERASA BENAR SENDIRI


Melanjutkan nasihat Sri Mangkunegara IV pada  SeratWedhatama: Anak muda jangan suka “mudhar angkara” dan “karem anguwus-uwus” yang“uwosnya tan ana” maka dalam pupuh Pocung bait ke 14 beliau mengingatkan kepada anak muda yang kalau salah tidak mau mengakui, malah ditutup-tutupi  (sakeh luput ing angga tansah linimput), bahkan berdalih dengan berbagai macam alasan (linimpeting sabda). Dia mengira orang lain tidak ada yang tahu (narka tan ana udani). Artinya dia "lumuh ala" (tidak mau dibilang jelek/salah) bahkan nafsu angkaranya yang dikedepankan sebagai andalan (ardane ginawe gada). Lengkapnya bait ke 14 sebagai berikut:

 
Selanjutnya dalam pupuh Pocung bait ke 15 Sri Mangkunegara IV menjelaskan bahwa sebenarnya sifat suka berdalih dan tidak mau disalahkan ini disebabkan karena ilmu yang belum cukup tetapi sudah merasa pandai (durung punjul ing kawruh kaselak jujul), ditumpangi hawa nafsu (kaseselan hawa) dan berpikiran sempit (cupet) karena tertutup pamrih (kapepetan pamrih). Mustahil bisa manunggal dengan Allah Yang Maha Kuasa (tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa). Lengkapnya sebagai berikut:
 

Kata-kata yang punya makna sama dengan “durung punjul ing kawruh kaselak jujul” juga terdapat pada pupuh Pocung bait ke 6 baris pertama, yaitu “durung becus kesusu selak besus”.
 
SEHARUSNYA BAGAIMANA?

Kita rujuk pada bait ke 9 pupuh Pucung pada gambar di samping, yang mengatakan asal bisa bertingkah laku sewajarnya, prasaja, seperti apa adanya (uger lugu) maka kebaikan akan merasuk ke dalam sanubari (den ta mrih pralebdeng kalbu). Kalau dikabulkan (yen kabul) akan dibukakan pintu (kabuka) untuk memperoleh derajat kemuliaan hidup (ing drajat kajating urip).

Pada baris terakhir disebutkan "Kaya kang wus winahya sekar srinata". Terjemahannya harfiahnya adalah: Seperti tersirat dalam tembang srinata.

Keterangan: Sekar Srinata = Sekar Sinom. Jadi kita perlu merujuk ke pupuh (2) Sinom dalam Serat Wedhatama ini. Akan kita dapatkan pada pupuh Sinom bait ke 14 kata-kata " .... Mungguh ugering ngaurip; Uripe lan TRI PRAKARA; WIRYA, ARTA, TRI WINASIS ..." dapat dibaca  pada Serat Wedhatama: Wirya, Arta, Winasis (IwMM)

Sunday, May 27, 2012

SERAT WEDHATAMA: ANAK MUDA JANGAN "MUDHAR ANGKARA" DAN "KAREM ANGUWUS-UWUS" YANG "UWOSNYA TAN ANA"


Tulisan ini adalah lanjutan dari Serat Wedhatama: “Triprakara” pegangan ksatria Jawa. Pada pupuh Pocung bait ke 10 dan 11 dapat disimpulkan bahwa Triprakara tersebut adalah “LILA, TRIMA DAN LEGAWA”. Anak muda sebagai generasi penerus tentu diharapkan dapat menjadikan tiga hal tersebut sebagai pegangan.

Terkait dengan TRIPRAKARA yang menjadi pegangan "Ksatria Jawa ini, maka para ksatria yang sudah memiliki mental "Lila, Trima dan Legawa benar-benar merupakan orang-orang yang selalu  mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Agung seperti disebutkan pada bait ke 12 "Bathara gung inguger graning jejantung". Ia menyatu dengan Allah dan taat rajin beribadah (jenek Hyang Wisesa; Sana pasenetan suci). Tidak seperti si orang muda yang mengumbar nafsu angkara (Nora kaya si mudha mudhar angkara). Lengkapnya bait ke 12 sebagai berikut:

 
Kepada anak muda Sri Mangkunegara IV mengingatkan untuk tidak mengumbar nafsu angkara. Salah satu nafsu angkara yang dimaksud adalah jangan banyak omong kosong (karem anguwus-uwus, uwose tan ana) seperti disebutkan dalam bait berikutnya (bait 13) sebagai berikut:

 
Janganlah menjadi orang yang suka sekali bicara (karem anguwus-uwus) tetapi isinya tidak ada (uwose tan ana). Hari-hari marah-marah (mung jangjine muring-muring), seperti raksasa pemarah (buta buteng) yang suka menganiaya (betah nganiaya)

Kalau kita lihat TV sekarang ini banyak anak muda tawuran. Bisa antar sekolah, antar kampung atau antar kelompok. Mungkin benar juga, anak muda dalam darah mudanya yang masih panas, suka omong yang tidak ada isinya. Kemudian berperilaku seperti raksasa yang suka marah dan menganiaya.

Kiranya anak muda perlu introspeksi dua hal: (1) Apakah karem anguwus-uwus yang tidak ada uwosnya dan (2) berperilaku seperti buta buteng yang suka berkelahi.

Mengenai omong besar plus kemaki ini juga disebut Sri Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama pupuh Pangkur bait ke 6: “Pindha padhane si mudha; Prandene paksa kumaki”, dapat dibaca pada Serat Wedhatama: Menasihati para muda , sedangkan pengertian "kumaki" dapat dibaca pada tulisan "kumenthus dan kumaki" (IwMM)

Monday, April 30, 2012

SERAT WEDHATAMA: MEMOTIVASI PARA MUDA


Sri Mangkunegara tidak hanya menegur dan menasihati (Serat Wedhatama: Menasihati para muda) tetapi juga menyemangati mereka.

Generasi muda yang memang masih gelisah, meraba dan mencari jati diri, tidak hanya cukup diberi pitutur, tetapi juga dimotivasi. Antara lain dengan memberi kesadaran bahwa orang berilmu tidak harus tua.

Sri Mangkunegara IV juga memberi rujukan untuk panutan, seorang tokoh yang memang pantas jadi panutan. Beliau  yang wawasan dan bacaannya luas, tidak mencarikan tokoh panutan dari luar negeri, misalnya Napoleon atau Julius Caesar. Mengapa mesti mencari di luar kalau yang di negeri sendiri ada.


KAWAWA NAHEN HAWA

Kawawa nahen hawa (mampu menahan hawa napsu) merupakan kata kunci penguasaan ilmu. Tidak harus orang tua. Anak muda pun bisa menguasai. Itulah motivasi yang diberikan Sri Mangkunegara IV kepada orang muda. Jangan kalah sama yang tua, kamu pasti bisa. (berbeda dengan yang disampaikan kepada orang tua: Mbok jangan seperti anak-anak (Serat Wedhatama: Pesan kepada orang tua)

Motivasi supaya "kawawa nahen hawa" dapat dibaca pada pupuh Pangkur bait ke 11:

 
Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut: Coba nak, tanyakan; Kepada para sarjana yang menguasai ilmu; Kepada jejak hidup yang menjadi suri tauladan; Mampu menahan hawa napsu; Ketahuilah bahwa senyatanya ilmu; Tidak harus dikuasai orang tua; Bisa juga dikuasai orang muda atau orang kebanyakan, nak.

Syaratnya adalah "mampu menahan hawa nafsu". Motivasi pun dilanjutkan dengan menjelaskan makna  “kawawa nahan hawa” dalam bait ke duabelas pupuh pangkur di bawah, yang intinya bila sudah mengendap jasmani dan rohaninya itulah “sepuh” sepi ing hawa. Anak muda pun kalau sudah manunggal jiwa dan raganya, mampu mengendalikan hawa napsu sudah bisa disebut “sepuh”.



TOKOH PANUTAN

Tidak cukup dengan motivasi, Sri Mangkunegara IV pun merujuk seorang tokoh besar yang pantas dijadikan panutan oleh generasi muda saat itu. Dalam baris terakhir bait ke empatbelas \pupuh Pangkur disebutkan: ....... Mulane wong anom sami. (Oleh karena itu para muda supaya: .......


Pupuh Pangkur berhenti disini, dengan kalimat penutup” “Oleh karena itu para muda .... dilanjutkan pupuh Sinom (gambar sebelah) disitulah pada bait pertama disebutkan tokoh panutan tersebut, yaitu:  Panembahan Senopati, Wong agung ing Ngeksiganda.

Terjemahannya kurang lebih: Contohlah perilaku utama; bagi orang tanah Jawa; Orang besar dari Ngeksiganda (Mataram); Panembahan Senopati;Yang tekun; Mengurangi hawa nafsu; dengan jalan prihatin; Serta siang malam; Selalu berkarya membangun ketenteraman hati bagi sesama.

Selanjutnya pada pupuh Sinom bait ke dua di bawah dijelaskan:

 
Dalam setiap pergaulan; Membangun sikap sabar; Setiap ada kesempatan; Di saat waktu longgar; mengembara untuk menyepi; dalam mencapai cita-cita jiwa; hanyut dalam keheningan kalbu; Senantiasa menjaga hati untuk prihatin (menahan hawa nafsu); dengan tekad kuat, membatasi makan dan tidur.

Jadi: Amemangun karyenak tyasing sesami (menyenangkan sekaligus menenteramkan hati semua orang), amemangun marta martani (selalu sabar, lembah manah), besar tirakatnya dengan Sudane hawa lan nepsu dan pungguh panggah cegah dhahar lan nendra. Itulah priyagung Ing Ngeksiganda.


KESIMPULAN

Bila jaman sekarang ada yang membuat semacam Serat Wedhatama abad ke 21, atau menasihati kawula muda, tentunya terlalu terpaut jauh waktunya kalau mengambil contoh Panembahan Senopati. Tetapi langkah-langkah Sri Mangkunegara IV dapat dicontoh: Menegur, Memberi pitutur seharusnya bagaimana, memotivasi atau menyemangati dan memberi contoh panutan(IwMM)

Most Recent Post


POPULAR POST