Friday, January 20, 2012

TANGGAP DAN TANGGAP ING SASMITA

TANGGAP: Mampu menangkap (pembicaraan, arah pembicaraan); SASMITA: Informasi simbolis. Jadi TANGGAP ING SASMITA berarti kemampuan menangkap informasi simbolik”.

Orang kalau diajak bicara tidak menangkap maksudnya, adalah orang yang tidak tanggap atau tidak ngamper. Tapi awas ada juga orang yang mengambil sikap pura-pura tidak “dhong”, karena kalau dia “dhong” akan menyusahkan dia sendiri. Contoh sederhana adalah kalau kita kedatangan orang mau pinjam uang. Yang datang juga malu mau ngomong langsung, maka dia bicara berputar-putar. Sikap kita juga pura-pura tidak tahu. Sebaliknya kalau yang datang orang mau nagih utang, Dia ngomongnya pasti langsung, tetapi kita yang berputar-putar.

“Tanggap ing sasmita” akan lebih rumit lagi. Sasmita simbolis bisa verbal, misalnya kita bertamu, sudah duduk lama kemudian tuan rumah mengatakan “Kok sudah waktunya sholat Dhuhur, ya”. Mestinya kita tanggap, lalu mohon diri. Walaupun ada juga yang mengatakan, “Kalau begitu saya sekalian nunut sholat sekalian”.


Pemahaman bahasa tubuh juga merupakan sifat “Tanggap ing sasmita”. Misalnya wajah lawan bicara kita tiba-tiba berubah berona merah, atau pucat. Mungkin juga duduknya menjadi gelisah. Pasti ada sesuatu yang terjadi.

Pada waktu kita menghadap pimpinan, katakan mau menyampaikan atau memohon sesuatu, kemudian beliau tersenyum, ini juga  bahasa tubuh. Hanya saja yang satu ini sulit. Senyum orang Jawa yang sudah mengendap ilmunya, susah dipahami. Maknanya bisa macam-macam.

Beberapa hari yang lalu ada teman yang tanya: “Mas, jaman dulu kalau kita menyampaikan suatu masalah kepada pimpinan, kan sering dapat jawaban, kamu atur saja bagaimana baiknya. Kemudian kita melaksanakan perintah mengatur tersebut sesuai penangkapan kita. Apa dalam hal ini pimpinan memberi sasmita dan kita tanggap ing sasmita?”

Jawabnya menjadi sulit kalau dibuat sulit. Memang bener yang satu memberi sasmita dan satunya tanggap ing sasmita. Tetapi tidak seharusnya dilakukan karena menimbulkan multitafsir. Yang memberi sasmita yang tidak benar. Perintah harus jelas. Yang menerima perintah juga seharusnya bertanya: “Maksudnya diatur itu apa, Pak?”


Lalu apa perilaku “Tanggap ing sasmita” dalam budaya Jawa itu salah? Atau sudah bukan jamannya lagi?. Jawabnya “Samasekali tidak salah. Kalau ada yang salah, maka yang salah adalah manusianya. Supaya orang bisa “Tanggap ing sasmita” syaratnya berat. Syarat tersebut terdapat dalam Serat Wulangreh, Anggitan Sri Pakubuwana IV, pada Pupuh Kinanti bait pertama: Padha gulangen ing kalbu; Ing sasmita amrih lantip; Aja pijer mangan nendra; Kaprawiran den kaesti; Pesunen sariranira sudanen dhahar lan guling”

Supaya “Lantip” (menguasai) dalam “Sasmita” maka kalbu harus di”gulang” (dilatih). Kita harus konsentrasi pada keperwiraan dan jangan hanya “Mangan” (makan) dan “nendra” (tidur). Apakah pada jaman ini masih banyak orang yang seperti ini? (IwMM).

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST