Tuesday, October 25, 2011

SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

“Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti" adalah ungkapan bahasa Jawa yang paling saya sukai. Maknanya kurang lebih: Keberanian, kedigdayaan dan kekuasaan dapat dikalahkan dengan panembah. Segala sifat angkara, lebur dengan kesabaran dan kelembutan. Kata-kata bijak ini bisa kita baca dimana-mana, bahkan ditempel dimana saja, mungkin juga yang menulis atau menempel tidak terlalu paham artinya.

"Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti" adalah bagian dari salah satu bait "Pupuh Kinanthi" dalam "Serat Witaradya" buah karya R Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) pujangga besar Kasunanan Surakarta, yang mengisahkan R Citrasoma, putra Sang Prabu Aji Pamasa di negara Witaradya.

PEMAHAMAN MAKNA TEMBANG
Selengkapnya "Pupuh Kinanthi" tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Jagra angkara winangun; (2) Sudira marjayeng westhi; (3) Puwara kasub kawasa; (4) Sastraning jro Wedha muni*); (5) Sura dira jayaningrat; (6) Lebur dening pangastuti
*) ada yang menulis (4) “Wasita jro wedha muni”
Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:
(1) Jagra: Bangun (dalam pengertian “melek”); Angkara: Angkara; Winangun: Diwujudkan (Wangun: Wujud);  (2) Sudira: Amat berani; Marjayeng: Jaya ing, menang dalam ... ; Westhi: Marabahaya; (3) Puwara: Akhirnya; Kasub: terkenal, kondang; Kawasa: Kuasa;  (4) Sastra: Tulisan, surat-surat, buku-buku; Jro: Jero, Di dalam; Wedha: Ilmu pengetahuan, Kitab-kitab ilmu; Muni: berbicara;  (5) Sura: Berani; Dira: Berani, kokoh; Jaya: menang; Ningrat: Bangsawan, tetapi Ning: Di; Rat: Jagad (6) Lebur: Hancur; Dening: Oleh; Pangastuti: pamuji, pangalem, pangabekti, panembah.
Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:
Baris ke 1 sd 3 menunjukkan orang yang karena keberanian dan kesaktiannya ia tidak pernah terkalahkan, akhirnya tidak kuat memegang kekuasaan dan tumbuh sifat angkara. Sedangkan baris ke 4 sd 6 menjelaskan bahwa menurut kitab-kitab ilmu pengetahuan, sifat angkara tersebut dapat dikalahkan dengan kelembutan.
Di bawah adalah kisah pendukung “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang dapat dibaca pada Serat Witaradya, tentang kesetiaan seorang istri yangt dapat mencegah niat buruk laki-laki dengan “pangastuti”

KISAH NYAI PAMEKAS
Alkisah sang putra mahkota jatuh cinta kepada istri Tumenggung Suralathi yang bernama Nyai Pamekas, seorang wanita yang sepantaran dengan dirinya. Wanita yang tidak hanya cantik lahiriyah tetapi juga suci hatinya. Begitu gandrungnya sang pangeran, sampai pada suatu saat Ki Tumenggung sedang dinas luar, beliau mendatangi Nyai Pamekas yang kebetulan sedang sendirian, untuk menyatakan maksud hatinya yang mabuk kepayang
Dengan tutur kata lembut dan "ulat sumeh" Nyai Pamekas berupaya menyadarkan R Citrasoma dari niat tidak baiknya, karena jelas menyeleweng dari sifat seorang ksatria dan melanggar norma-norma kesusilaan, tetapi sang Pangeran tetap ngotot. Nyai Pamekas mencoba ulur waktu, dengan mengingatkan bahwa ada banyak orang disitu yang berpeluang melihat perbuatan R Citrasoma, kecuali di"sirep" (dibuat tidur dengan ilmu sirep)
Bagi seorang yang sakti mandraguna seperti R Citrasoma, tentu saja me"nyirep" orang bukan hal besar. Ketika semua orang tertidur, kembali Nyai Pamekas mengingatkan bahwa masih ada dua orang yang belum tidur yaitu Nyai Pamekas dan R Citrasoma sendiri. Lebih dari pada itu, masih ada satu lagi yang tidak pernah tidur dan melihat perbuatan R Citrasoma, yaitu Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
R Citrasoma terhenyak dan sadar. Minta maaf kemudian kembali ke kediamannya. Nyai Pamekas berhasil mengatasi nafsu angkara tidak dengan kekerasan. Mungkin juga kalau keras dilawan keras justru akan terjadi hal yang tidak baik. Kelembutan dan kesabaran ternyata berhasil meluluhkan kekerasan.

YUDISTIRA DAN CANDRABIRAWA
Menjelang akhir perang Bharayuda, Yudistira dipasang untuk melawan Prabu Salya yang sakti mandraguna dan memiliki aji-aji Candrabirawa. Berupa raksasa yang kalau dibunuh akan hidup lagi bahkan jumlahnya menjadi berlipat ganda. Bima dan Harjuna sudah kewalahan. Dipukul gada atau dipanah, tidak mati malah bertambah banyak. Akhirnya Candrabirawa berhadapan dengan Yudistira, raja yang dikenal berdarah putih, tidak pernah marah apalagi perang. Raksasa raksasa Candrabirawa tidak dilawan.Bahkan didiamkan saja. Raksasa-raksasa Candrabirawa pun kembali ke tuannya

KELEMBUTAN MAMPU MENGUASAI JAGAD
Orang lemah lembut sering dianggap lemah. Ini masalahnya. Sehingga lebih banyak orang yang berupaya menunjukkan kekuasaan dengan pamer kekuatan yang bermanifestasi sebagai tindak angkara. Ia lupa bahwa sikap memberikan “pangastuti” mampu melebur tingkah yang “sura dira jaya ning rat  Masih dalam Serat Witaradya, pupuh Kinanti R Ng Ranggawarsita menjelaskan seperti apa manusia yang sudah mampu mengendalikan menata hawa nafsunya sebagai berikut:
(1) Ring janma di kang winangun; (2) Kumenyar wimbaning rawi; (3) Prabangkara dumipeng rat; (4) Menang kang sarwa dumadi; (5) Ambek santa paramarta; (6) Puwara anyakrawati
Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:
(1) Ring (Maring: Kepada); Janma: Manusia; Di (Adi: baik); Kang: Yang; Winangun: Ditata; (2) Kumenyar: Bercahaya; Wimba:Seperti; Rawi: matahari (3) Prabangkara: Matahari; Dumipeng: Sampai ke; Rat: Jagad (4) Menang: Mengalahkan; Kang: Yang; sarwa: serba; Dumadi: Semua makhluk (5) Ambek: Sifat; Santa: sabar; Paramarta: Adil bijaksana (6): Puwara: Akhirnya; Anyakrawati: Memerintah
Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:
Pada  orang utama yang sudah mampu menata hawa nafsunya (tidak bersifat angkara murka); Bercahaya seperti sinar matahari; Sinarnya menerangi jagad; menguasa seluruh isi jagad; wataknya sabar, adil dan bijaksana; Akhirnya bisa menguasai jagad (maksudnya pemerintahan).

Pangastuti (panembah) disini dapat diartikan dengan penerapan laku-linggih dan solah muna-muni (perilaku dan ucapan) dalam penerapan Basa Basuki.
Itulah "Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti", yang mampu mengalahkan sifat yang mengarah ke “Adigang Adigung Adiguna”. Sebuah ajaran yang patut kita renungkan pada abad ke 21 ini. (IwMM)

5 comments:

kopitubruk91 said...

Makasih , postingnya sangat berguna buat saya dan semoga bermanfaat pula untuk yg lain :)

parasina dewandari said...

Ngaturaken nuwun kagem kang tuhu kinurmatan, Bapak Iwan M Muljono ingkang taksih agawe lestari budaya Jawa langkung medharaken pitutur Jawa kanthi telaten. :) Mugi-mugi tansah saget dados tuladha kagem lare anom kadhos kula :D

trotoar icebar said...

Maturnuwun pak iwan sampun nambah ilmu kulo, menawi kulo pikir mbok menawi sedehananipun sami kalih ukoro"di pangku mati". Matur sembah nuwun

Rajawali Sportindo said...


Leres pak...luar biasa falsafaf Jawa...Jual Senapan Angin Gejluk Dual Power

Jual Senapan Angin said...

Berburu adalah hobby bagi sebagian orang, bahkan sampai ada yang menjadikannya sebagai mata pencaharian. Ketika berburu, orang pasti membutuhkan senapan sebagai alat. Terlebih lagi di zaman yang serba modern ini. Alat berburu menjadi sesuatu yang penting dalam rangka untuk menghemat waktu dan mempermudah kegiatan berburu. Untuk melayani kebutuhan para pecinta berburu, pabrik senapan memproduksi bermacam-macam senapan. Mulai dari yang kualitas lokal hingga kualitas import. Sedang untuk memperlancar proses distribusi senapan sekaligus aksesorisnya, dibangunlah toko-toko senapan di berbagai daerah.
Jika anda hendak mencari toko yang menjual senapan angin , pastikan anda mengetahui toko senapan terdekat. Hal ini bertujuan agar anda tidak menghabiskan banyak uang dan tenaga ketika harus membeli di tempat yang cukup jauh. Toko-toko senapan yang dimaksud menyediakan berbagai produk senapan yang anda butuhkan. Jika stok habis pun anda bisa memesan di toko tersebut. Karena salah satu tujuan dibangunnya toko senapan di berbagai daerah adalah untuk memudahkan konsumen dalam mencari produk senapan yang diinginkan.


Jual Senapan Angin Murah
Senapan Angin Mini

Senapan jenis ini adalah senapan yang ukurannya relatif kecil. Senapan ini memiliki berat 3 kg sehingga tidak begitu berat dan mudah dibawa. Panjang senapan 40 cm dengan bahan slombong yang terbuat dari kuningan asli. Popornya terbuat dari kayu Mahoni. Senapan jenis ini dapat dipompa dengan maksimal pompa kurang lebih 20 kali untuk penggunaan sekali tembak. Jarak tembak yang bisa ditempuh adalah 10 meter. Untuk mendapatkan senapan jenis ini, anda hanya cukup mengeluarkan uang sebanyak kurang lebih Rp. 400.000 rupiah.


Senapan Angin River Mini

Senapan jenis ini juga merupakan senapan yang ukurannya relatif kecil. Panjang senapan ini adalah 40 cm. larasnya terbuat dari bahan kuningan dengan od 22. Senapan jenis ini dapat dipompa maksimal hingga 10 kali. Jarak tempuh tembakan antara 15 hingga 30 meter. Senapan ini memiliki alur 12 dan kaliber 4,5 mm. kelebihan dari senapan jenis ini adalah dilengkapi pula dengan dudukan teleskop, drat peredam dan pelindung picu. Harganya cukup murah, berkisar Rp. 450.000 rupiah.
Demikian beberapa senapan murah yang bisa anda beli. Walaupun ukurannya relatif kecil dan harganya murah dibandingkan senapan yang lain, namun senapan di atas juga memiliki kelebihan tersendiri dan peminatnya pun juga banyak.
Jika Anda Tertarik ingin membeli Produk salah satu produk diatas atau ingin melihat lihat koleksi senapan angin Anda bisa menghubungi kami melalu kontak dibawah ini
Website : https://www.senapanangin.co.id/
PINBBM : 2BE5DE50
Telp : 0852-3010-2223

Most Recent Post

POPULAR POST