Friday, January 11, 2013

BASA BASUKI: PENGERTIAN DALAM SERAT WULANGREH


Disebutkan dalam Serat Wulangreh, pupuh Pangkur bait ke 9 bahwa pada jaman sekarang ini jarang kita temukan lagi yang disebut “BASA BASUKI”. Pada umumnya orang sekarang ini drengki, droi, dora, iren, meren, panasten, kumingsun, openan, nora prasaja, jail, muthakil dan besiwit. Pengertian kata-kata tersebut mulai drengki sampai besiwit dapat dibaca pada Serat Wulangreh: Watak manusia ditengeri dari laku, linggih dan solah muna-muninya.
 
Lengkapnya bait ke 9 dapat dibaca pada gambar di sebelah.
 
Dapat kita lihat bahwa BASA BASUKI adalah pitutur kepada orang-orang yang perilaku dan ucapannya tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat agar menjadi baik.
 
 
PENGERTIAN “BASA” DAN “BASUKI”

Merujuk ke Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, kata “basa” membawa kita kepada pengertian: Ucapan, kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama manusia dan tatakrama khususnya dalam berbicara.

Adapun pengertian “basuki” adalah “selamat”. Dengan demikian “BASA BASUKI dapat diartikan sebagai “kalimat yang membawa keselamatan”.

Bila dikaitkan dengan Sekar Pangkur bait ke 9 di atas, maka BASA BASUKI dapat diartikan sebagai ucapan dan perilaku yang membawa keselamatan.



ADAKAH BASA YANG TIDAK BASUKI?

Pertanyaan yang akan timbul adalah apakah ada BASA yang TIDAK membawa BASUKI? Jawabannya adalah: Ada, bahkan banyak sekali. Sebagai contoh: Memaki, mengejek dan mencela adalah BUKAN BASA BASUKI. Orang yang kita maki, ejek dan cela, banyak pastinya menjadi sakit hati. Ucapan yang kita anggap sepele, bisa membawa bencana. Paling ringan terjadi percek-cokan, bisa sampai ke perkelahian dan bahkan pembunuhan.
Dalam Pitutur Kumpulan 1: Bicara antara lain disebutkan:

a. Ilat iku sawijining pedhang kang landhep kang bisa mateni senadyan tanpa ngetokake getih 

TERJEMAHAN: Lidah merupakan pedang yang amat tajam. Bisa membunuh tanpa menumpahkan darah

b. Satru kang gedhe dhewe kuwasane: sirnakna, iya iku ilatmu

TERJEMAHAN: Musuh yang paling besar kuasanya: perhatikan, tak lain adalah lidahmu sendiri


LIDING DONGENG

Bicara bisa melukai dan menewaskan. Leluhur kita dulu sering mengatakan: Kata yang sudah terlanjur diucapkan ibarat anak panah yang sudah kita lepas, tidak bisa kita minta pulang, kembali ke gandewa. Berlakulah hukum “mulutmu harimau kamu”. Oleh sebab itu para sesepuh kita melanjutkan pituturnya dengan kata-kata: Kalau bicara adalah perak, maka diam adalah emas.

Dilanjutkan ke Serat Wulangreh dan Ungkapan-ungkapan yang mendukung “BasaBasuki” itu perlu

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST