Wednesday, September 19, 2012

SERAT WULANGREH: WATAK MANUSIA “DITENGERI” DARI “LAKU, LINGGIH” DAN “SOLAH MUNA-MUNI” NYA


Manusia harus menjaga perilaku dan mulutnya. Manusia, siapapun dia: Yang pandai maupun yang bodoh, yang luhur dan yang rendah, yang miskin dan yang kaya, ulama maupun orang yang berlaku maksiat, penjahat dan penjudi, laki-laki maupun perempuan, tidak terkecuali.

Semua dilihat dari perilaku mulai duduk sampai berdiri  dan mulutnya. Dalam bahasa moderen mungkin hal tersebut merupakan "body language" yang menunjukkan kepribadian seseorang.

Sikap Jawa amat memperhatikan "solah muna-muni dan laku-linggih ini". Diharapkan solah dan laku ini mencerminkan sikap yang "anteng, meneng, jatmika".

Hal ini disebutkan dalam Serat Wulangreh, karya Sri Pakubuwana IV, pupuh Pangkur, bait ke 5 dan 6, lengkapnya sebagai berikut:
 
 
Oleh sebab itu sepanjang hari setiap saat manusia harus tahu apa yang harus diabdikan dalam hidup ini. Tahu yang baik dan yang buruk (ala lan becik), memperhatikan adat istiadat (adat waton) dan tatakrama. Siang maupun malam (siyang ratri) harus selalu diingat. Hal ini disebut pada bait pertama pupuh Pangkur sebagai berikut:


 
ORANG SEKARANG KURANG MEMAHAMI “BASA BASUKI”
 
Disebutkan pada bait ke 9  masih dalam pupuh Pangkur bahwa sekarang ini jarang dijumpai orang yang masih memiliki "basa basuki" (mohon ijin saya terjemahkan sebagai "etika" terkait dengan tiga hal yang disebutkan pada bait pertama, yaitu:  (a) Ala lan becik (b) adat waton dan (c) tatakrama. Umumnya orang sekarang kelakuannya: Drengki, droi, dora, iren-meren, panasten, kumingsun, openan, nora prasaja, jail, muthakil dan besiwit. Lengkapnya bait ke 9 sebagai berikut:

 
 
Lalu seperti apakan sifat-sifat yang jumlahnya sebelas tersebut? Pengertiannya sebagai berikut:

a)    Drengki: Tidak senang melihat orang lain senang dan ingin mencelakakan
b)    Droi: (Drohi) Tidak setia
c)    Dora: Suka berkata dusta
d)    Iren-meren: Iri pada kelebihan orang lain sehingga timbul perasaan kalah, lalu timbul keinginan harus melebihi. Misal kalah kalah pangkat, kalah cantik
e)    Panasten: Hati yang panas karena perasaan iri
f)     Kumingsun: Sifat “sok”
g)    Openan: Suka ikut campur urusan orang lain
h)    Nora prasaja: Tidak prasaja, tidak bersifat “apa adanya”
i)      Jail: Suka mengerjai orang. Sering dijadikan kata majemuk: Jail-methakil
j)      Methakil: Banyak akal busuk
k)    Besiwit: Urik, nakal. Curang dalam permainan.
Masih kurang dengan kelakuan yang "sebelas" pada bait ke 9 di atas, maka dalam pupuh Pangkur bait ke 10 ditambahkan sebagai berikut:


Adapun pengertiannya sebagai berikut:
a)    Alaning liyan den andhar (kejelekan orang disebar-luaskan)
b)    Beciking liyan dipun simpen (kebaikan orang disembunyikan
c)    Becike dhewe ginunggung kinarya pasamuwan (kebaikan sendiri dipamer-pamerkan)
d)    Nora ngrasa alane dhewe (tidak merasakan kejelekan sendiri)
e)    Ngedhukur (sombong, tinggi hati)
pada baris terakhir disebutkan bahwa orang seperti itu tidak pantas untuk didekati (nora pantes den pedhaki)


MEREKA ORANG-ORANG DUR BALA MURKA

Pada bait ke 11 di bawah disebutkan “Iku wong dur bala murka”. (Dur: jelek/jahat; Bala: kekuatan; Murka: nafsu ingin memiliki sebanyak-banyaknya) dengan sifat-sifat (merupakan rangkuman A dan B:

1.    Walau apa yang diinginkan sudah diperoleh, hati tetap tidak puas dan ingin memperoleh lebih banyak lagi. Hanya menuruti kehendak nafsu luamah dan amarah (Bait ke 11)

2.    Tidak mau kalah, tidak mau ada yang melebihi, merasa tidak ada yang menyamai dan merasa dirinya paling luhur (bait ke 12)
Lengkapnya bait ke 11 dan 12 sebagai berikut:

 
 KESIMPULAN
Dari laku, linggih dan solah muna-muni kita, dapat ketenger apakah kita ini tahu hal-hal baik dan buruk, adat istiadat dan tatakrama. Kenyataannya orang sekarang banyak yang tidak lagi tahu “basa basuki” dan cenderung menjadi orang yang “dur bala murka”. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST