Saturday, January 7, 2012

GUNA, KAYA dan PURUN

 “Guna, Kaya dan Purun” terdapat pada Serat Tripama, pupuh Dhandhanggula bait pertama dan ke dua tentang pengabdian patih Suwanda dari kerajaan Maespati sebagai berikut:

Yogyanira kang para prajurit; Lamun bisa sira anulada; Duk ing nguni caritane; Andelira Sang Prabu; Sasrabahu ing Maespati; Aran patih Suwanda; Lalabuhanipun; Kang ginelung triprakara; Guna kaya purun ingkang den antepi; Nuhoni trah utama

Lire lalabuhan triprakawis; Guna bisa saniskareng karya; Binudi dadya unggule; Kaya sayektinipun; Duk bantu prang Manggada nagri; Amboyong putri dhomas; Katur ratunipun; Purune sampun tetela; aprang tanding lan ditya Ngalengka nagri; Suwanda mati ngrana.

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Seyogyanya para prajurit; Semua bisa meniru; Seperti ceritera pada jaman dulu; Andalan sang raja; Sasrabahu di negara Maespati; Namanya Patih Suwanda; Jasa-jasanya; Dikemas dalam tiga hal; Pandai, mampu dan berani, itulah yang dipegang teguh; Menetapi keturunan orang utama.

Artinya dharmabakti yang tiga hal itu; Guna: bisa menyelesaikan masalah; Berupaya untuk memperoleh kemenangan; Kaya: ketika peperangan di negara Manggada; Bisa memboyong putri dhomas; Diserahkan kepada sang raja; Purun: Keberaniannya sudah nyata ketika perang tanding (dengan Dasamuka) raja Ngalengka; Patih Suwanda gugur di medan perang.

Adapun “jlentreh”nya tentang “guna, kaya dan purun” adalah sebagai berikut:

GUNA

Guna: Nuhoni trah utami dalam hal ini adalah menetapi keturunan orang utama, yaitu ksatria dengan sifat-sifat ksatrianya yang mampu menyelesaikan masalah. Unggul dalam segala hal. Dalam hal ini “guna” mempunyai makna “pandai dan bermanfaat” yang saling kait-mengait. Supaya bermanfaat orang harus pandai. Kepandaian patih Suwanda yang nama kecilnya adalah Bambang Sumantri tidak diragukan lagi. Ia digembleng sendiri oleh ayahandanya, Resi Suwandagni, dari Pertapaan Arga Sekar. Berbagai ilmu pengetahuan termasuk ilmu pemerintahan dan tentusaja ilmu jaya kawijayan supaya menjadi prajurit yang handal.

Ilmu kalau tidak dimanfaatkan pasti berkarat dimakan jaman. Oleh sebab itu Bambang Sumantri meminta ijin pada ayahandanya untuk “ngenger” (mengabdi) pada negara. Karena dirasa bekalnya sudah cukup maka Resi Suwandagni pun merestui putranya berangkat ke Maespati untuk mengabdi pada Raja Arjunasasrabahu, supaya bisa menjadi orang yang berguna, bagi nusa dan bangsa. Dan betul-betul dalam masa pengabdiannya Bambang Sumantri menunjukkan “guna”nya dengan menyelesaikan semua tugas yang diembannya.


KAYA

Kaya: Bisa diartikan harta atau penghasilan. Pertanyaannya adalah apakah Bambang Sumantri berangkat ke Istana Maespati sebagai orang kaya? Jelas tidak mungkin karena ia hanyalah anak pendeta dan pergi ke istana karena mau mengabdi. Atau kaya setelah menjadi Patih Suwanda? Sepertinya juga tidak. Patih Suwanda tidak sempat menjadi kaya atau memperkaya diri.Tentang “Kaya” disebutkan dalam bait ke dua Serat Tripama sebagai berikut: Kaya sayektinipun; Duk bantu prang Manggada nagri; Amboyong putri dhomas; Katur ratunipun;

Disini disebutkan dalam peperangan berhasil memboyong putri Dhomas. Memboyong putri Dhomas (Dhomas: 800) Tentunya jumlah yang bukan main-main. Perang di negara Magada terjadi waktu Bambang Sumantri melaksanakan tugas mengikuti sayembara tanding melamar Dewi Citrawati atas nama Raja Arjunasasrabahu. Pelamarnya ada seribu raja dari seribu negara yang berhasil ia taklukkan semuanya. Bambang Sumantri kembali ke Maespati memboyong dewi Citrawati dan diikuti para raja dari seribu negara sebagai taklukan. Sedemikian banyak taklukannya tentunya menambah “kaya” yang tidak sedikit. Jadi Bambang Sumantri atau Patih Suwanda tidak mencari “kaya” untuk dirinya sendiri tetapi untuk kerajaan.


PURUN

Purun: Adalah tekad, semangat yang dilandasi kehendak yang kuat dalam melaksanakan suatu tugas. Tugas yang diemban Patih Suwanda amat berat. Kalau ia ragu-ragu pasti gagal. Apalagi kalau bermental “cepek dulu” seperti Pak Ogah. Tugas berat yang berhasil diselesaikan sesuai kisah dalam pedalangan adalah:
  1. Memboyong Dewi Citrawati dengan mengalahkan “Ratu sewu nagara”
  2. Memboyong Putri Dhomas yang jumlahnya 800 sebagai pengiring pengantin
  3. Memindahkan Taman Sriwedari dari kahyangan Untarasegara ke Maespati
  4. Dalam Serat Tripama bait ke dua disebutkan adalah: Purune sampun tetela; aprang tanding lan ditya Ngalengka nagri; Suwanda mati ngrana. Patih Suwanda berperang sampai titik darah penghasilan dan gugur di palagan.
Keterangan untuk butir 4: Kejadiannya saat Raja Arjunasasrabahu mandi-mandi bersama isteri-isterinya di Telaga Minangkalbu dengan membendung Sungai Minangsaya. Yang menjadi tanggul adalah sang raja sendiri dengan bertiwikrama (berubah jadi raksasa yang amat besar) lalu membaringkan diri sebagai bendungan. Saat itu datanglah Rahwana raja Alengka yang dihadapi Patih Suwanda dengan gagah berani sampai titik darah penghabisan


PENUTUP

Guna, Kaya dan Purun” disebut sebagai “lelabuhan triprakawis” merupakan pengabdian Patih Suwanda, adalah satu dari tiga “tuladhaning satriya utama (Dua yang lain adalah Kumbakarna dan Adipati Karna). Ketiganya bukanlah Raja. Semua pesan secara umum memang pasti untuk Raja, untuk pemimpin. Tetapi “Guna, Kaya dan Purun” lebih dikuhususkan untuk para ksatria abdi negara (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST