Sunday, January 8, 2012

BIMA: CEKAK AOS BLAKA SUTA

Bima, kita kenal juga dengan nama Werkudara, Sena, dan masih banyak lagi adalah anak ke dua dari keluarga Pandawa. Adik dari Yudistira dan kakak dari Harjuna, Nakula dan Sadewa.

Tubuhnya yang tinggi besar, tegap, dengan kumis melintang dan kuku panjang yang disebut “kuku pancanaka” memberi kesan garang. Dalam dunia pewayangan Bima dikenal dengan ksatria yang tidak bisa duduk dan tidak bisa “basa krama”. Bima selalu menggunakan basa “ngoko” sekalipun kepada para dewa, kecuali satu saja, dengan “Dewa Ruci”.

Bima bicara tidak pernah berputar-putar atau “mbulet”. Selalu “to the point” yang sering disebut dalam bahasa Jawa “Cekak aos blaka suta”. (Cekak: Pendek; Aos: Penuh isi, sarat makna; Blaka: Terus terang, blak-blakan; Suta: Anak; Cekak aos: Ringkas tetapi padat; Blaka suta: Blak-blakan seperti anak-anak). Bisa juga dikatakan ora tedheng aling-aling, bares kores. Dalam paribasan Jawa yang lain dikatakan ibarat orang menyapu disaponana rek (Rek: bunyi sapu lidi yang sedang digunakan menyapu) dibendhenana mung (mung: suara bendhe atau gong kecil yang ditabuh).

Bicara pendek, padat, blak-blakan bisa dianggap agresif dan kasar. Dalam budaya Jawa yang lebih banyak berbicara tidak langsung atau “sinamun ing samudana” orang seperti Bima ini bisa merepotkan. Tetapi Bima sebenarnya bukan orang yang kasar atau agresif. Hatinya sebenarnya lembut. Ia hanya tidak mau bertele-tele.

Dalam bahasa Inggris kita kenal sifat “assertive” dan “assertive” bukan “aggressive”. Orang “assertive” (bisa dilihat pada “wikipedia” adalah orang yang:
  1. Bebas menyampaikan pikiran, perasaan dan keinginannya
  2. Bisa membina hubungan baik dengan orang lain dengan prinsip kesamaan kedudukan dan kesamaan hak.
  3. Mampu mengendalikan kemarahan, dalam pengertian bicaranya tetap rasional
  4. Mempunyai kepercayaan diri yang besar
Empat hal di atas dimiliki oleh Bima. Dibandingkan dengan tokoh-tokoh kasar dalam dunia pewayangan, Bima walaupun bicara “ngoko” tetapi tidak pernah memaki atau mengumpat. Rasa percaya dirinya besar. Ketika Pandawa dalam pembuangan, adalah sebuah desa yang harus selalu memberikan persembahan manusia untuk menjadi makanan raksasa. Ketika Dewi Kunti (ibunya) memberitahukan hal ini kepada Bima, maka ia langsung menyediakan diri sebagai kurban, sekaligus membunuh raksasa itu. Jangan lupa pula bahwa istri Bima, Dewi Arimbi (Hidimbi) adalah raksasa. Jadi Bima tidak membeda-bedakan manusia. Walaupun kemudian Dewi Arimbi berubah jadi wanita biasa yang bukan raksasa, tetapi ipar-ipar Bima tetap raksasa.

Orang Jawa memang dilarang keras bersifat “aggressive” tetapi juga tidak dididik untuk “assertive”. Jadi bukan “aggressive” bukan pula “assertive” lalu apa “passive?”. Ya bukan juga. Dulu waktu saya masih mahasiswa kedokteran, ada diplomat Inggris yang tinggal selama tiga bulan di rumah orang tua saya. Tujuannya belajar bahasa Indonesia sekaligus mengenal budaya dan adat istiadat setempat. Ia menyebut saya “diplomat”. Barangkali karena cara bicara saya yang “samudana”.

Adanya Bima sebagai tokoh ksatria yang melawan angkara murka dengan gaya bicaranya yang “cekak aos blaka suta”, lugas, tanpa tedeng aling-aling, memberi petunjuk bahwa orang seperti Bima juga diperlukan dalam kehidupan kita. (IwMM).

1 comment:

Iwan Setiawan said...

nama saya iwan setiawan umur saya 22 thn , saya penasaran dengan kisah ini karna ada kesamaan dengan kelahiran saya yang masih ter bungkus

Most Recent Post

POPULAR POST