Tuesday, March 6, 2012

CANGKRIMAN: KUMPULAN

Kebetulan ketemu teman lama dan saya tunjukkan lima posting saya terdahulu tentang cangkriman.
 

“Lumayan”, katanya. “Mbok kamu posting satu lagi yang isinya kumpulan cangkriman, jangan sekedar beberapa contoh”. Betul juga pendapat teman ini. Masalahnya ingatan di otak ternyata sudah luntur, sementara yang ditulis para blogger juga nyaris sama dengan apa yang saya tahu. Lalu dimana “cangkriman” yang rasanya dulu begitu banyak itu? Jaman SD di Jogja, dulu ada buku kecil berisi cangkriman, saya baca  di Gunung Agung yang waktu itu lokasinya masih di perempatan Tugu. Lumayan kalau untuk bedhek-bedhekan sama teman, saya selalu unggul. Kala itu buku belum dibungkus plastik, jadi semua orang bisa membaca, dan yang jaga juga cukup ramah untuk membiarkan kami bersila di depan rak buku.
Daripada nanti hilang lagi, saya tulis saja sekarang di PAGES.  Kalau nanti ada tambahan gampang diedit lagi. Di bawah adalah “Kumpulan cangkriman” termasuk contoh-contoh yang telah saya tulis terdahulu.  Penjelasab masing-masing jenis apat dibaca lagi dapat dibaca pada Cangkriman 1, 2a dan 2b di atas.
 
A. CANGKRIMAN PEPINDHAN
1.    Abang-abang dudu kidang, pesegi dudu pipisan (merah bukan kijang, pesegi bukan alat penggiling jamu). Jawaban: batu bata

2.    Ana titah duwe gulu tanpa sirah, suwe silit nanging ora tau bebuwang (Ada makhluk punya leher tanpa kepala, punya anus tetapi tidak pernah buang air besar): Jawab: botol

3.    Bapak Demang klambi abang yen disuduk manthuk-manthuk (Bapak Demang berbaju merah kalau ditusuk mengangguk-angguk): Jawab: Bunga (jantung) pisang

4.    Bocah cilik blusak blusuk nang kebon (Anak kecil menyelinap di kebun). Jawab: Jarum

5.    Bocah cilik nggendong omah (Anak kecil menggendong rumah): Jawaban: Siput

6.    Dicakot bongkote sing kalong pucuke (Digigit pangkalnya yang berkurang ujungnya). Jawab: rokok

7.    Dijupuki malah dadi mundhak gedhe (Diambil terus malah jadi semakin besar). Jawab: Orang menggali lubang.

8.    Duwe rambut ora duwe endhas (Punya rambut tidak punya kepala) Jawab: Jagung

9.    Dikethok malah tambah dhuwur (Dipotong malah bertambah tinggi). Jawab: Celana panjang

10.  Emboke diidak idak anake dielus-elus (Ibunya diinjak-injak anaknya dibelai-belai): jawab tangga bambu

11.  Emboke wuda anake tapihan (Ibunya telanjang anaknya pakai kain). Jawab: Pohon bambu dan anaknya (rebung) 

12.  Ing ngisor kedhung ing ndhuwur payung (di bawah danau di atas payung): Jawab: Orang menanak nasi pakai dandang. Ini ceritera jaman dandang belum digeser rice cooker. Anak sekarang mungkin sulit membayangkan.

13.  Kayu mati ginubed ula mati (Kayu mati dililit ular mati). Jawab: Gangsingan, gasing, yang dililit tali dulu kemudian dilempar.

14.  Kebo bule dicancang merang (Kerbau putih diikat merang). Merang = Batang padi. Jawab: Buntil (Makanan daerah Jawa. Terbungkus daun talas, didalamnya berisi parutan kelapa, ikan teri dan lain-lain. Paling luar supaya tidak lepas, diikat merang). Mengapa perumpamaannya mengambil binatang kerbau? Mungkin karena buntil itu gemuk seperti kerbau

15.  Ora mudhun-mudhun yen ora nggawa mrica sak kanthong (Tidak turun kalau tidak membawa mrica sekantung). Jawab: Buah papaya (Biji papaya diibaratkan mrica sekantung)

16.  Rasane padha karo jenenge (Rasanya sama dengan namanya). Jawab: Sepet (sabut kelapa).

17.  Sawah rong kedhok galengane mung sitok (Sawah dua petak galengannya hanya satu). Jawab: daun pisang (tulang daunnya adalah galengan)

18.  Tibane ngisor digoleki ndhuwur (Jatuhnya ke bawah dicari ke atas): Jawab: genteng bocor. Bisa juga dijawab dengan orang kentut

19.  Wit Adhikih woh adhakah; Wit adhakah woh adhikih (Pohonnya kecil buahnya besar; Pohonnya besar buahnya kecil). Jawab: Buah semangka dan buah beringin

20.  Wujude kaya kebo, ulese kaya kebo, lakune kaya kebo, nanging dudu kebo (Bentuknya seperti kerbau, warnanya seperti kerbau, jalannya seperti kerbau tetapi bukan kerbau). Jawab: Gudel (anak kerbau).

21.  Yen mlaku sikile lore, yen mandheg sikile sepuluh (bila berjalan kakinya dua bila berhenti kakinya sepuluh). Jawab: Orang jualan sate atau lainnya yang dipikul dengan wadah jualan muka dan belakang kakinya masing-masing empat. Bisa dimodifikasi menjadi “yen mandheg sikile patbelas” (empatbelas). Kalau penjualnya bawa dingklik kaki empat. Kalau kaki tiga ya tigabelas.

 
B. CANGKRIMAN WANCAHAN

Mohon diperhatikan bahwa akronim Jawa selalu menggunakan satu atau dua suku kata terakhir. Hal ini sekaligus “clue” petunjuk cangkriman wancahan Jawa. Untuk menjawabnya, kita berpegang hanya dengan suku kata terakhir saja. Apa yang disingkat adalah keadaan sehari-hari yang akrab dengan lingkungan kita (pada masa itu, tentunya)
1.    Burnas kopen: Bubur panas kokopen (Dikokop: makan dengan mulut langsung menempel di  bibir mangkuk)
 
2.    Buta buri: Tebu ditata mlebu lori (Tebu ditata masuk lori)

3.    Gerbong tulis: Pager kobong watune mendhelis (Pagar terbakar batunya timbul)

4.    Gowang pelot: Jagone ana lawang cempene mencolot (Ayan jagonya ada di pintu, anak kambingnya melompat

5.    Itik pertis ibu perbeng ijah perlong: Tai pitik memper petis, tai kebo memper ambeng, tai gajah memper golong. (Tai ayam seperti petis, tai kerbau seperti ambeng dan tai gajah seperti golong). Ambeng: nampan besar; Golong: bongkahan besar. Cangkriman yang ini memang agak jorok.

6.    Kablak ketan: (membacanya “koblok ketan). Nangka tiba ning suketan (Nangka jatuh di rerumputan)

7.    Kicak ketan: Kaki macak iket-iketan (kakek-kakek berhias pakai destar)

8.    Langdikum ditasbir: Lulang dikum dientas njebibir (Kulit direndam, setelah basah, diangkat akan mengembang)

9.    Ling cik tu tu ling ling yu: maling mancik watu, watu nggoling maling mlayu (Maling naik batu, batu terguling maling lari)

10.  Manuk biru: Pamane punuk bibine kuru (Pamannya gemuk bibinya kurus)

11.  Nituk lersure: Nini ngantuk diseler susure (nenek-nenek ngantuk dicuri susurnya). Susur: Gumpalan tembakau yang dulu banyak diisap wanita, kebanyakan sudah setengah umur.

12.  Pak boletus: Tapak kebo ana lelene satus (Telapak kerbau ada lelenya seratus)

13.  Pak bomba pak lawa pak piut: Tapak kebo amba, tapak ula dawa, tapak sapi ciut (Jejak kerbau lebar, jejak ular panjang dan jejak sapi sempit)

14.  Pindhang kileng: sapi ning kandhang kaki mentheleng: sapi di kandhang kakek mendelik matanya

15.  Pindhang kutut: sapi mblandhang lukune katut (Sapi ngabur walukunya terbawa)

16.  Pothel kidi: Tompo cemanthel kaki wedi (Kukusan tergantung kaki takut). Catatan: Yang dimaksud dengan "kaki" adalah kakek (kaki-kaki: orang tua)

17.  Rangsinyu muksitu: Jurang isi banyu gumuk isi watu (Jurang berisi air bukit berisi batu)

18.  Segara beldhes: Segane pera sambele pedhes (Nasinya kering sambalnya pedas)

19.  Suru bregitu: Asu turu dibregi watu (Anjing tidur ditimpa batu). NB. Adegan ini jangan ditiru

20.  Surles penen: Susur teles pepenen (Susur basah jemurlah). Susur: gumpalan tembakau yang diisap wanita. Termasuk bisa diisap ulang. Kalau sudah basah, dijemur, nanti kering diisap ulang

21.  Tuwan sinyo: Untu kedawan gusi menyonyo (Gigi terlalu panjang gusi menonjol)

22.  Tuwok rawan: Untune krowok larane ora karuwan (Giginya berlubang sakitnya tidak karuan)

23.  Wit tho yung: Yen dijiwit athi biyung (Bila dicubit aduh emak)

24. Wiwawite lesbadhonge: Uwi dawa wite tales amba godhonge (Uwi panjang pohonnya, talas lebar daunnya). Uwi: sejenis tanaman ubi yang menjalar.

25.  Wiwawite lesbadhonge jatos lempuk: Sama di atas ditambah jati atos (keras) dan pelem (Imangga) empuk

26.  Wiwawite lesbadhonge karwapake: Sama di atas ditambah Cikar dawa tipake (Gerobak panjang jejaknya)

27.  Yu mahe rong, lut mahe ndhut: Yuyu omahe ngerong, welut omahe lendhut (Ketam rumahnya di lubang, belut rumahnya di lumpur)


C. CANGKRIMAN TEMBANG

Umumnya adalah tembang Pucung. Beberapa tembang yang sempat saya kumpulkan adalah:

1.    Tembang Asmaradhana: Wonten ta dhapur sawiji; Tanpa sirah tanpa tenggak; Mung gatraning weteng bae; Miwah suku kalihira; Nging tanpa dlamakan; Kanthaning bokong kadulu; Rumaket ing para priya (Adalah suatu wujud; Tanpa kepala tanpa leher; Hanya berbentuk perut saja; Dan kaki keduanya; Tetapi tanpa telapak kaki; Bentuknya bokong dapat dilihat; Akrab pada para pria). Jawabnya: Celana. Catatan: Pada masa itu belum banyak wanita yang memakai celana luar. Sehingga keterangan terakhirnya “ Rumaket ing para priya”

2.    Tembang Kinanthi: Wonten putri luwih ayu; Tan ana ingkang tumandhing; Sariranira sang retna; Owah-owah saben ari; Yen rina kucem kang cahya; mung ratri mancur nelahi (Ada putri amat cantik; tidak ada yang menandingi; badan sang dewi; Berubah setiap hari; Kalau siang suram cahayanya; Hanya pada malam hari bersinar cahayanya). Jawaban: Rembulan

3.    Tembang Pangkur: (Yang ini cangkriman blenderan berbentuk tembang) Badhenen cangkriman ingwang; Tulung-tulung ana gedhang awoh gori; Ana pitik ndhase telu; Gandhenana endhase; Kyai Dhalang yen mati sapa sing mikul; Ana buta nunggang grobag; Selawe sunguting gangsir. Jawaban: a. Gedhang awoh gori maksudnya gedhang awoh ditegori, pisang berbuah ditebangi; b. Pitik ndhase telu maksudnya pitik ndhase dibuntel wulu, ayam kepalanya dibungkus bulu; c. Ki Dhalang maksudnya kadhal dan walang, atau belalang. Jadi kalau mati ya tidak ada yang memikul; d. Ana buta nunggang grobag, maksudnya tebu ditata, tebu setelah ditata dimasukkan gerobak, kalau sekarang masuk truk; Selawe sunguting gangsir, maksudnya selawe adalah sak lawe, sebesar lawe atau benang tenun.

4.    Tembang Pucung: Bapak pucung cangkemu marep mandhuwur; Sabane ing sendhang; pencokane lambung kering; Prapteng wisma si pucung mutah kuwaya (Bapak pucung mulutmu menghadap ke atas; Perginya ke mata air; Hinggapnya di pinggang kiri; Sampai rumah si pucung memuntahkan air). Jawab: Klenthing tempat air

5.    Tembang Pucung: Bapak pucung dudu watu dudu gunung; Sangkamu ing sabrang; Ngon ingone sang Bupati; Yen lumampah si pucung lembehan grana (Bapak pucung bukan batu bukan gunung; Asalmu dari tanah seberang; Piaraan sang Bupati; Kalau berjalan si pucung berlenggang hidung). Jawab: gajah

6.    Tembang Pucung: Bapak pucung renten-renteng kaya kalung; Dawa kaya ula; Pencokanmu wesi miring; Sing disaba si pucung mung turut kutha (Bapak pucung berangkai seperti kalung; Panjang laksana ular; Tempat bertenggermu besi miring; Yang didatangi si pucung dari kota ke kota). Jawab: kereta api

7.    Tembang Pucung: Namung tutuk; Lan netra kalih kadulu; Yen pinet kang karya; Sinuduk netrane kalih; Yeku saratira bangkit ngemah-ngemah (Hanya mulut; Dan mata dua terlihat; Bila diminta kinerjanya; ditusukkan matanya yang dua; Itulah syarat dia mengunyah). Jawabannya: Gunting

 
D. CANGKRIMAN BLENDERAN

1.    Biru bisane dadi wungu dikapakake? (Biru supaya bisa menjadi ungu diapakan). Jawab: Digebuk (Campuran cangkriman wancahan dan blenderan. Biru: Babi turu/tidur dan wungu: dalam bahasa Jawa berarti warna ungu atau bangun dari tidur)

2.    Enak endi daging kucing karo daging pitik? (Enak mana daging kucing dan daging ayam? Jawab: Kalau menjawab enak daging ayam berarti pernah makan daging kucing. Modifikasi cangkriman ini banyak. Misal daging sapi, daging tikus dan lain lain).

3.    Gajah ngidak endhog ora pecah (Gajah menginjak telur tidak pecah). Jawab: Yang tidak pecah gajahnya.

4.    Gajah numpak becak ketok apane? (Gajah naik becak kelihatan apanya?) Jawab Ketok ndobose (kelihatan membualnya)

5.    Suru supaya bisa mlayu dikapakake? (Suru: daun pisang yang dilipat dua kemudian dijadikan semacam  sendok untuk makan nasi atau bubur. Suru disini adalah akronim dari asu turu atau anjing tidur. Mlayu adalah lari. Jadi merupakan campuran cangkriman wancahan dan blenderan. Jawab: Digebuk

6.    Wong dodol tempe ditaleni (Orang jual tempe diikat). Jawab: Yang diikat bukan orangnya tetapi tempenya (Orang jual tempe di pasar tradisional. Tempe dibungkus daun jati atau daun pisang kemudian diikat pakai tali bambu atau lainnya)

7.    Wong dodol klapa dikepruki (Orang jual kelapa dipukuli kepalanya). Jawab: Yang dikepruk bukan orangnya tetapi kelapanya (Orang jual kelapa di pasar tradisional).

8.    Wong mati ditunggoni wong mesam-mesem (Orang mati ditungguin orang tersenyum-senyum). Jawab: Yang senyum bukan yang meninggal tetapi yang menunggui)


E. LAIN-LAIN (CANGKRIMAN YANG MEMANG HARUS DITEBAK)

1.    Ana kewan mapane ing alas. Saben wong mesthi wedi. Bareng digendhong dening manungsa, kewan iku ora medeni maneh, lan ora nyakot manungsa. Apa arane kewan iku? (Ada binatang bertempat tinggal di hutan. Setiap orang pasti takut. Kalau digendong manusia, binatang itu menjadi tidak menakutkan lagi dan tidak menggigit manusia. Binatang apa itu?). Jawabnya: Celeng; yang digendong manusia: celengan.

2.    Ana piranti sabane ing pawon. Bareng ketiban cecak bisa mabur. Apa iku? (kalo). Ini cangkriman menggunakan huruf Jawa. Peralatan dapur tersebut adalah “kalo” yang biasa dipakai untuk mencuci sayuran yang sudah dipotong-potong. Kalo terdiri dari huruf “ka” dan “la” yang diberi “taling tarung” sehingga berbunyi “lo” Kalo kalau kejatuhan “ceceg”, artinya ditambah “ceceg” yaitu tanda baca yang mengubah “lo” menjadi “long” maka dari kalo akan menjadi kalong. Ya pasti bisa terbang.

3.    Bosok malah enak (Busuk malah enak). Jawab: tape; bisa dijawab juga dengan “Tempe”

4.    Dideleng gampang, dicekel angel (dilihat mudah, dipegang susah). Jawab: Matahari.

5.    Dipedhanga, dimriyema, dibedhila ora mati nanging yen dicegati mati (Biarpun dipedang, dimeriam, ditembak tidak mati. Tetapi jika dihalangi mati). Jawab: Air. Air kalau dibendung akan berhenti.

6.    Ing sadhuwuring lawang ana cecak. Yen cecak iku lunga, lawang iku dadi kewan kang bisa mabur. Apa arane kewan iku? Ini juga cangkriman menggunakan huruf Jawa. Lawang, terdiri dari huruf la dan wa, kemudian diberi ceceg di atas huruf wa sehingga berbunyi “wang”. Jadi kalau “lawang” cecegnya di ambil maka bunyinya menjadi “lawa”. Lawa adalah kelelawar, jadi bisa terbang. Cangkriman ke dua ini kebalikan yang pertama. Kalau yang pertama kejatuhan ceceg maka yang ke dua cecegnya lari

7.    Lawa telu kalong loro ana pira? (Kelelawar tiga kalong dua jumlahnya berapa? Jawab: Kalau dijawab “satu” pasti salah. Yang benar jawabnya “lima”. Keterangan: Kalong dalam bahasa Jawa berarti “berkurang. Jadi kalau kita tidak jeli maka akan spontan menjawab “satu”. Kemudian ditertawakan semua orang. Cangkriman memang kadang-kadang jawabannya terlalu sepele.


PENUTUP
 
Inilah 70 cangkriman yang dapat saya kumpulkan, barangkali ada yang mau bernostalgia, jaman lapangan Sekip di Jogja masih dipakai pacuan kuda, dan kita rame-rame “ngepit” (naik sepeda) nonton balapan jaran. Sinambi jagongan atau cangkrukan di ngebuk pada terang bulan atau di bawah lampu aniem kemudian bercangkriman ria: “Apa bedane balapan pit karo balapan jaran?”.
 
Tentunya jangan bawa iPad atau pad pad lainnya. Nanti jadi cangkriman “dhewe-dhewe. Menurut para ahli, cangkriman adalah sarana hiburan yang mendidik. Dan tentusaja murah meriah. (IwMM)
Catatan:
Perbedaan balapan kuda dan balapan sepeda: Yang satu ada tempat penitipan sepeda dan satunya tidak ada tempat penitipan kuda.
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST