Thursday, January 12, 2012

SERAT WEDHATAMA: WIRYA, ARTA, WINASIS


“Wirya, Arta dan Winasis” dapat kita baca pada Serat Wedhatama, Pupuh Sinom, bait ke 15 pada gambar sebelah. Terdapat dua pilar yaitu (1) Wirya, Arta, Winasis dan (2) Aji godhong jati aking.

Dikatakan pada bait tersebut: Salah sendiri bagi yang merasa tidak membutuhkan (bonggan kang tan merlokena), mengenai pegangan orang hidup (mungguh ugering ngaurip). Hidup dari tiga perkara (urupe lan tri prakara) yaitu "wirya", "arta" dan yang ketiga "winasis" (wirya arta tri winasis). ini adalah pilar yang pertama. Pengertian ketiga hal tersebut dapat dibaca pada pembahasan di bawah.

Adapun pilar yang ke dua: Kalau sampai kosong (kalamun kongsi sepi) dari tiga hal tersebut (saka wilangan tetelu) maka habislah jejak-jejaknya sebagai manusia (telas tilasing janma). ibarat masih lebih berharga daun jati kering (aji godhong jati aking), akhirnya menderita (papa), menjadi pengemis (papriman) dan terlunta-lunta tak tentu arah tujuan (ngulandara).  Mengenai pilar ke dua ini dibahas lebih lanjut pada SeratWedhatama: Aji godhong jati aking


WIRYA

Wirya adalah “keluhuran, kekuasaan”. Mata kita langsung terbelalak membaca tulisan “kekuasaan”.Orang yang luhur memang orang yang dihormati orang banyak. Orang dihormati karena keutamaannya, bukan kekuasaannya. Demikian pula orang “Kuasa”. Kuasa bukan berarti boleh melakukan apa saja, kehendaknya dituruti semua orang, dimana saja dan kapan saja ada yang melayani. Yang ini namanya sewenang-wenang.

Kekuasaan atau “power” harus digunakan sebaik-baiknya, dan “power” bukan berarti harus jadi “Kepala”. Kalau kita memegang “legitimate power” memang kita memegang kekuasaan yang sah menurut peraturan perundang-undangan. Itu amanah yang harus dijalankan sebaik-baiknya. Kalau yang kita punyai adalah “expert power” maka kita punya kompetensi di bidang ilmu pengetahuan, jangan diselewengkan ilmu kita seperti yang banyak kita lihat di filem-filem. Masih banyak lagi sumber power lain. Misalnya "Charismatic power". Yang jelas orang kalau tidak punya power, mau jadi apa. Tukang tambal ban pun punya kewiryaan di bidang tambal-menambal ban.


ARTA

"Arta" mempunyai arti sempit “uang”. Kalau orang Jawa mengatakan “boten gadhah arta” berarti tidak punya duwit. Demikian pula banyak Bank menggunakan kata “arta” mungkin maksudnya supaya masyarakat awam mengerti kalau butuh “uang” disitulah tempatnya. Arta adalah “harta” yang berasal dari bahasa Sansekerta berarti alat. Apapun bentuknya harta kita, baik berupa benda bergerak maupun tidak bergerak, yang bisa berbunyi maupun yang tidak bisa berbunyi.

Dalam memahami Serat Wedhatama ini jangan sekali-kali mengartikan “harta” sebagai tujuan. Disini “harta” adalah “alat” untuk mencapai tujuan. Keluarga harus punya harta supaya roda kehidupan rumahtangga lancar, anak-anak gizinya baik, sekolah sampai selesai dan menjadi orang berguna di kemudian hari. Negara sudah pasti harus punya harta. Bagaimana pembangunan bisa berjalan kalau tidak ada alat yang bernama “arta” atau “harta”.


WINASIS

Berasal dari kata “Wasis” yang berarti pandai. “Winasis” berarti orang pandai. Kita harus menjadi orang pandai. Tidak mungkin kita “wirya” kalau tidak “wasis”.Untuk menjadi “wasis” kita harus punya ilmu, dan menuntut “ilmu” itu tidak gampang.


Dalam pupuh Pucung bait pertama masih dalam Serat Wedhatama, disebutkan bahwa Ilmu itu dapat kita peroleh melalui “laku” (Laku yang kita lakukan misalnya belajar, latihan, roleplay dan lain-lain. Cara belajar dan latihan kita tentusaja berbeda-beda sesuai ilmu apa yang kita pelajari); Dimulai dengan “kas” (Kas: akas, melaksanakan dengan giat, sungguh-sungguh, tidak nguler kambang). Maksudnya kas adalah “memberi kekuatan, kekokohan (nyantosani); Selanjutnya harus didukung dengan keteguhan dalam melawan angkara murka (setya budya pangekese dur angkara)

KESIMPULAN WIRYA, ARTA, WINASIS

“Wirya, Arta dan Winasis” sebuah pesan luhur dari leluhur. Menjadi orang “winasis” adalah bekal untuk memperoleh “kawiryan”. Jangan sampai kita mau “wirya tanpa wasis” atau “mengejar wirya dengan arta” yang mungkin kita peroleh dari utang yang pada akhirnya harus mengembalikan. Kalau “kawiryan” gagal diperoleh padahal sudah keluar “arta” akhirnya malah gila. Dengan memiliki “kawiryan” kita bisa memperoleh “arta” karena kompetensi kita diakui. “Arta” yang kita peroleh haruslah kita gunakan untuk kepentingan umat manusia. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST