Thursday, August 14, 2014

SEJE KUNCIT SEJE ANGGIT vs NGADU SIYUNGE BATHARA KALA

Adalah paribasan Jawa “Seje kuncit seje anggit”. Pengertian “kuncit” adalah kuncir atau kucir, merupakan rambut panjang di kepala; sedangkan “anggit” adalah gagasan, pikiran atau pendapat. Dengan demikian secara umum “SEJE KUNCIT SEJE ANGGIT” dapat diartikan “LAIN ORANG LAIN PENDAPAT”. Sesuatu yang wajar-wajar saja bahwa memang tidak semua orang punya pendapat sama: mulai dari sesuatu yang amat sepele sampai yang paling serius.

Suatu saat saya bertemu dengan dr. Bambang Sardjono, MPH yang pada waktu tulisan ini di-posting menjabat Staf Ahli Menkes. Komentar beliau atas pendapat saya tentang sesuatu, saya jawab dengan: “Wajar kemawon adhimas, seje kuncit seje anggit”.

Rupanya beliau tertarik dengan paribasan-paribasan Jawa: “Punapa werdinipun seje kuncit seje anggit, kangmas?” Demikian pertanyaannya, selalu dengan Krama Inggil, walau beliau sudah amat lama menetap di Ibukota.

Saya jawab yang intinya seperti penjelasan pada alinea pertama tulisan ini di atas.


CONTOH DARI SEBUAH FOTO

Kebetulan sekali, saat berhenti di traffic-light di Sragen dalam perjalanan dari Surabaya ke Yogyakarta, saya mendapat obyek foto yang menurut saya, menarik. Langsung saya jepret dari jendela mobil. Fotonya dapat dipirsani pada gambar di bawah:



Saya tulis untuk foto tersebut sesuatu yang tidak serius, saya upload di FB, dengan harapan mendapat komentar yang tidak serius juga. Tahun ini (2014) kita sudah terlalu banyak pendapat serius yang berbeda, walau dengan sesama teman sekalipun. Saya tulis sebagai berikut:

ANTARA PRIA DAN WANITA: Kekuasaan, lebih pada wanita: Buktinya dia yang mengemudi. Kekerasan kepala, lebih pada laki-laki: Buktinya ia tidak pakai helm.

Ada enam pendapat terhadap foto dan tulisan yang saya upload, (saya copy paste seperti aslinya) di bawah (Semua yang berkomentar adalah laki-laki):

1. Iku helmnya cuma satu, jadi diagem yang putri. Lha yang kakung ngalah (masa gentenan). Yen ana apa-apa sing penting yang putri selamet. Yang kakung rela berkorban. Iki eyang-eyangan dudu hyang-hyangan .

2. Menawi wonten panggenan kula, paribasan niku kok dados (nuwun sewu) “Sejen silit sejen anggit” nggih? ... dilanjutkan ... Mbokmenawi sanesipun panganggit migunakaken kucir nanging ugi dipun raosaken ugi ngangge utawi dumugi ing si......

3. Lha nek sing nyetir pak Kaji ya nganggo donga-donga disik.Nek ibune ya langsung mak wesss ...

4. Wanita bukan sekedar konco wingking

5. Topong putihnya itu lebih kuat daripada helm lho. Kalau nggak percaya .... coba dibanting. Helmnya pecah, topongnya enggak

6. Alasan masuk akal tapi tidak relevan

Dari enam pendapat atau komentar di atas dapat disimpulkan bahwa pendapat ada yang tidak fokus pada topik, ada yang melebar, ada yang agak provokatif, untung tidak ada yang antagonis, dan semuanya bernada “guyonan”.

Bagaimanapun enam komentar di atas dapat menterjemahkan jiwa “seje kuncit seje anggit”. Bahwa "beda pendapat"  adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu diperpanjang masalahnya. Ekstrimnya, tidak perlu berakhir dengan “NGADU SIYUNGE BATHARA KALA”


NGADU SIYUNGE BATHARA KALA

Tentang “Ngadu siyunge Bathara Kala” teman saya dr. Bambang Sardjono juga menanyakan: Nuwun sewu kangmas, siyung-siyungipun piyambak kok dipun aben. Punapa punika kalebet konflik pribadi?

“Dhimas, katuran maos seratan kula Bathara Kala yang Ditakuti salajengipun”, jawab saya.

Disitu disebutkan bahwa sebelum diaku anak oleh Bathara Guru, kedua siyung (taring) Bathara Kala dipotong. Taring sebelah kiri dicipta menjadi keris yang diberi nama Kaladithe, selanjutnya diberikan kepada Adipati Karna. Demikian pula taring sebelah kanan dicipta menjadi keris dengan nama Kalanadah, diberikan kepada Harjuna. Pada saatnya nanti di perang besar Bharatayuda, Karna perang tanding melawan Harjuna.

Ngadu siyunge Bathara Kala adalah duel dengan Keris antara dua ksatria, guna mempertahankan kebenaran masing-masing. Analog dengan para Hero di negara barat beberapa abad yang lalu: Duel dengan pestol atau pedang.


LIDING DONGENG

“Rak boten wonten ginanipun to, dhimas; wiwitanipun namung seje kuncit seje anggit, dipun pungkasi ngadu siyunge Bathara Kala?”

“Menawi punika mathuk sanget kangmas, ngugemi ungel-ungel RUKUN AGAWE SANTOSA, CRAH MARAHI BUBRAH. Kanthi pangesti, kawula alit gesangipun saged ayom, ayem lan tentrem”.

Sampai disini kita berpisah, dr. Bambang lewat tengah malam nanti berangkat menjalankan tugas ke Papua. Bon Voyage. (IwMM)

Most Recent Post

POPULAR POST