Saturday, March 8, 2014

BATHARA KALA YANG DITAKUTI

Ada masanya Bathara Kala begitu ditakuti, karena Bathara Kala adalah pemakan manusia, walaupun tidak semua manusia menjadi makanan Bathara Kala. Ada syarat-syarat tertentu sehingga manusia bisa dimakan Bathara Kala.

Tulisan ini adalah awal dari beberapa posting tentang Bathara Kala yang pernah begitu ditakuti (bahkan bapaknya sendiri takut). Ada masanya Bathara Kala digunakan untuk memberi penekanan supaya orang (khususnya anak) tidak melakukan perbuatan tertentu: Jangan begitu, nanti jadi makanan Bathara Kala. 

Ketika seorang ibu menakut-nakuti anaknya yang sedang asyik bermain air hujan: “Ayo masuk nak, nanti disuntik Pak Dokter”. Saya jadi ingat Bathara Kala. 



PENGERTIAN “KALA”

Merujuk Kawi Jarwa, Poerwadarmnta, 1931 dan Bausastra Kawi, R Dirjasupraba, 1931, KALA mempunyai dua pengertian:

Pertama: Kala adalah Raksasa. Banyak nama Raksasa (dalam dunia pedhalangan) diawali dengan nama KALA. Misalnya Kala Bendhana, Kala Srenggi, Kala Marica dan tentusaja Bathara Kala. 

Kedua: Kala berarti waktu (saat) atau masa (jaman). 


KELAHIRAN BATHARA KALA

Bathara Kala adalah anak Bathara Guru (Rajanya Dewa-dewa) dengan Dewi Uma. Konon saat itu Bathara Guru melakukan perjalanan tamasya di udara (ada yang mengatakan sedang jalan-jalan di pantai) bersama Dewi Uma dengan menunggang kendaraan khususnya, yaitu Lembu Andini. 

Dalam perjalanan tersebut hasrat seksual Bathara Guru meningkat, tetapi Dewi Uma tidak mau melayani karena merupakan perbuatan tidak pantas. Kama (mani) Bathara Guru pun tan terbendung, tumpah, jatuh ke samodera. Kelanjutan mani yang jatuh ke lautan ini ada dua versi:

Versi pertama: Mani berkembang menjadi api yang berkobar-kobar, tidak ada satu pun Dewa mampu memadamkannya. Selanjutnya api berubah jadi raksasa yang amat besar dan tidak terkalahkan. Tidak ada pilihan lain bagi para Dewa kecuali  ngabur kembali ke Kahyangan. Si Raksasa pun mengejar, sampai di Kahyangan ketemu Bathara Guru dan  menanyakan siapa bapaknya.

Versi kedua: Mani ditemukan Bathara Brahma dan Bathara Wisnu, dimantrai, lalu tumbuh menjadi raksasa yang amat besar dan menanyakan siapa orang tuanya. Kedua dewa tersebut  mengarahkan Raksasa muda nggegirisi itu untuk menghadap Bathara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka.

Ada kisah lain bahwa mani Bathara Guru tidak jatuh ke samodera, karena hubungan badan memang dilakukan di udara di atas kendaraan Lembu Andini. Sekembalinya di kahyangan Bathara Guru menyesal dan menyumpah-nyumpah, bahwa perbuatan seperti itu hanya pantas dilakukan oleh raksasa. Dewi Uma pun kena tuah perkataan Bathara Guru dan berubah jadi Raksesi (raksasa wanita), yang kemudian diusir dari Kahyangan Jongring Salaka dan bermukim di hutan Krendhawahana, istananya dinamakan Setra Gandamayit. Dewi Uma selanjutnya terkenal dengan nama Bathari Durga, melahirkan bayi Raksasa yang diberi nama Kala.


BATHARA KALA MENGHADAP BATHARA GURU DAN DIAKUI SEBAGAI ANAK

Mau tidak mau, suka tidak suka, Bathara Guru pada akhirnya mengakui raksasa muda dihadapannya sebagai anak. Pertama karena memang benar-benar anaknya, dan kedua, guna mencegah huru-hara yang lebih mengerikan. 

Raksasa muda itu selanjutnya diberi nama KALA, diangkat sebagai Dewa, oleh sebab itu berhak menyandang gelar Bathara: Maka nama lengkapnya adalah Bathara Kala.


SEBELUM DIAKU ANAK: POTONG TARING DAN POTONG LIDAH DULU

Taring Bathara Kala terlalu besar dan panjang, sehingga menghalangi pandangan untuk melihat ayahandanya. Demikian pula lidahnya juga kepanjangan. Jadilah: Taring dan lidah Bathara Kala dipendekkan. 

Versi lain adalah: Karena Bathara Guru khawatir akan kesaktian anaknya, maka sebagai orang tua Bathara Guru minta agar Bathara Kala sungkem ayahandanya, kemudian waktu sungkem, guna mengurangi kesaktian sang anak,  lidah dan taring Bathara Kala dipotong. 


POTONGAN LIDAH DAN TARING BATHARA KALA DIJADIKAN SENJATA AMPUH

Potongan lidah dan taring Bathara Kala kemudian dicipta menjadi senjata. Lidah dijadikan panah Pasopati yang kemudian diberikan kepada Harjuna, sedangkan kedua taring dijadikan keris. Taring sebelah kiri menjadi keris Kaladithe yang selanjutnya diberikan kepada Adipati Karna, adapun taring sebelah kanan menjadi keris Kalanadah yang dianugerahkan kepada Harjuna. Di kemudian hari Harjuna memberikan keris Kalanadah ini kepada Gatotkaca sebagai kancing gelung, menjelang pernikahan Gatotkaca dengan Dewi Pregiwa, putri Harjuna.


NGADU SIYUNGE BATHARA KALA

Terkait dengan taring (Jawa: Siyung) Bathara Kala yang oleh Bathara Guru diciptakan menjadi keris, maka kita kenal Paribasan Jawa: Ngadu siyunge Bathara Kala. Pengertiannya adalah: Duel antara dua laki-laki dengan menggunakan senjata keris. (Bandingkan dengan duel dalam filem western dengan menggunakan pistol, atau duel pada era “The Three Musketeers” nya Alexandre Dumas dengan menggunakan pedang).


ISTERI BATHARA KALA

Agak tidak masuk akal, bahwa dikatakan Bathara Kala adalah suami Bathari Durga yang sebenarnya adalah ibu kandungnya sendiri (sebagai Dewi Uma). Tetapi konon norma-norma raksasa memang berbeda dengan norma-norma manusia pada umumnya.

Perkawinannya dengan Bathari Durga membuahkan dua anak: Anak pertama berbentuk Raksasa diberi nama Kala Gotana sedangkan anak kedua berupa ksatria tampan diberi nama Dewasrani.


MENGAPA BATHARA KALA BEGITU DITAKUTI

Pada awal tulisan telah disebutkan bahwa Bathara Kala adalah pemangsa manusia. Memang tidak semua manusia menjadi makanan Bathara Kala. Hanya orang-orang tertentu saja. Hanya saja orang yang masuk katagori “tertentu” itu cukup banyak. Guna mencegah supaya sang predator manusia mengurungkan niatnya, orang mengadakan upacara ruwatan melalui pagelaran wayang kulit “Murwakala”.


BAGAIMANA SUPAYA TIDAK DIMAKAN BATHARA KALA

Makanan Bathara Kala (yang diperbolehkan oleh Bathara Guru) ternyata banyak sekali. Tetapi Sabda Pandhita Ratu apalagi sabda Dewa tidak boleh mencla-mencle. Menyadari hal tersebut Bathara Guru kemudian memberikan petunjuk tentang langkah preventif guna mencegah seseorang menjadi makanan Bathara Kala dengan melakukan upacara RUWATAN.

Upacara ruwatan dilakukan dengan melakukan pagelaran wayang kulit MURWAKALA semalam suntuk, yaitu pagelaran wayang guna menolak musibah yang akan terjadi. Dalam pagelaran Murwakala ini pada penghujung ceritera akan dikisahkan tentang anak atau seseorang yang dikejar-kejar Bathara Kala. Untunglah Bathara Kala bisa dikibuli dengan makanan. Dia pun menyantap makanan tersebut sebagai ganti anak yang akan dimangsanya. Selesailah sudah masalah dengan Bathara Kala.

Pada masa sekarang ruwatan masih dilakukan. Bahkan ada Event Organizer yang mengatur pelaksanaan ruwatan secara masal.



LIDING DONGENG

Pada jaman dulu eksistensi Bathara Kala benar-benar menjadi Gugon Tuhon (Gugu: diikuti; Tuhu: Taat; Jadi: Diikuti dengan taat) di kalangan masyarakat. Mengapa demikian, karena ada ancaman menjadi mangsa (makanan) Bathara Kala. Reasoning secara logis belum ada karena pada masa itu iptek belum berkembang. (Baca: Seri tulisan tentang Gugon Tuhon). Solusinya saat itu adalah ruwatan. 

Dewasa ini sebagian dari mangsa Bathara Kala sudah dapat dipahami logikanya, sehingga jalan keluarnya pun logis: Melakukan tindakan preventif atau menghindari perilaku-perilaku tertentu.

Melalui Bathara Kala kita belajar memahami bahwa dunia ini penuh ancaman. Jadi wajar-wajar saja kalau hidup di dunia juga penuh larangan dan pantangan. Oleh sebab itu dalam mengarungi samodera kehidupan kita harus hati-hati dan senantiasa waspada.


TULISAN TENTANG BATHARA KALA SELENGKAPNYA

1 Bathara Kala yang ditakuti   

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST