Tuesday, July 1, 2014

PERBUATAN DAN PERILAKU YANG MENJADI MAKANAN BATHARA KALA

Pada tiga tulisan sebelum yang ini, MAKANAN (MANGSA) BATHARA KALA: SUKERTA DAN JULUNG (3) dan dua tulisan sebelumnya, telah dibahas mengenai A. Janma Sukerta berdasarkan jumlsh saudara kandung kita; B. Janma Sukerta berdasarkan kondisi waktu kehamilan dan persalinan; C. Janma Sukerta berdasarkan kelainan tubuh dan D.  Janma Sukerta berdasarkan saat-saat yang tidak baik. 

Semua di atas adalah daftar menu Janma Sukerta dari Bathara Guru yang boleh disantap oleh Bathara Kala. Perlu diingat kembali bahwa pengertian umum Sukerta adalah orang-orang yang karena sesuatu hal sering mengalami kesialan.

Disamping keempat hal tersebut di atas,  Ki Padmasusastra, Ngabehi Wirapustaka ing Surakarta dalam Serat Bauwarna, 1898, menyebutkan juga tentang perbuatan dan perilaku manusia yang juga menjadi makanan Bathara Kala. Contoh populer yang masih banyak dikenal masyarakat antara lain:

a. Orang yang merobohkan dandang waktu menanak nasi
b. Mematahkan batu pipisan
c. Memecahkan landasan pipisan

Konon ketiga hal di atas adalah tambahan menu diet Bathara Kala dari ibundanya, Dewi Uma. Logikanya ada: Kalau dandang roboh sekeluarga bisa tidak makan atau terlambat makan. Pipisan jaman dulu menjadi peralatan dapur yang kerja nonstop: Mulai dari melumatkan bumbu masak sampai menggiling jamu. Semuanya menunjukkan orang kerja yang serampangan, tidak hati-hati.



Satu contoh lagi: Orang yang membuat pagar sebelum rumah didirikan. Sampai sekarang pun masih kita jumpai kapling mangkrak yang berpagar. Apa pemiliknya sudah dimakan Bathara Kala ya? 

Masih banyak lagi perbuatan dan perilaku yang berisiko menjadi santapan Bathara Kala. Dapat Bapak Ibu baca juga di rangkaian tulisan tentang GUGON TUHON. Tidak saya sebut sebagai makanan Bathara Kala tetapi sebagai tindakan ORA ILOK yang di GUGU (diikuti) dengan TUHU (taat). 

Di bawah adalah beberapa contoh, saya hanya ambil yang terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, karena reasoningnya jelas. Tidak sekedar ORA ILOK, atau lebih seram lagi: DADI PANGANE BATHARA KALA. Selebihnya dapat dicari sendiri. Banyak yang nulis kok.


1. SAMPAH

a. Tempat sampah di dekat rumah
Sampah (basah) kalau dibiarkan terlalu lama akan membusuk, menjadi sumber penyakit dan didatangi hewan pembawa penyakit, misalnya: Lalat dan Kecoak.

b. Membuang sampah di kolong
Jaman dulu masih banyak tempat tidur berkolong, yang menjadi tempat serbaguna untuk menyimpan barang-barang termasuk membuang sampah. Artinya kita akan tidur di atas sampah (walaupun esok hari sampah kita sapu dan dikeluarkan).

c. Melempar sampah dari cendela
Jaman sekarang pun masih banyak dilakukan orang. Halaman di bawah cendela akan menjadi kotor sekali. Bahkan tidak mungkin kulit pisang hingap di kepala orang yang lewat di dekat cendela tempat kita melempar sampah.


2. MENYAPU

a. Menyapu, sampahnya dibakar
Membakar sampah akan menimbulkan polusi. Baiknya dikubur, bisa jadi pupuk. Jaman sekarang dalam kehidupan yang makin padat, membakar sampah benar-benar ora ilok dan pantas dimakan Bathara Kala

b. Menyapu, sampahnya diparkir di satu tempat
Percuma menyapu seperti ini. Tidak lama sampah akan tercerai berai lagi. 

c. Orang tidak pernah menyapu
Tentunya rumah menjadi penuh debu dan halaman amat kotor. Menjadi sarang penyakit.

d. Menyapu pada malam hari.
Sebenarnya tidak ada salahnya. Yang jadi masalah jaman dulu lampu belum seterang sekarang. Risikonya masih banyak sampah atau debu yang terlewatkan. Kerja kita sia-sia.

e. Sapu diberdirikan di rumah
Mestinya taruh di belakang rumah. Sapu kan untuk membersihkan barang kotor. Sebersih-bersih sapu, tetap kotor juga


3. MAKAN

a. Makan di tempat tidur
Tempat tidur tidak untuk makan, kecuali orang sakit yang tidak boleh turun dari tempat tidur. Itu pun diberi alas. Remah-remah makanan bisa jatuh ke tempat tidur dan mengotori seprei.

b. Makan sambil tiduran
Mestinya duduk. Orang sakit yang harus berada di tempat tidur pun waktu makan posisinya diupayakan duduk.

c. Makan sambil berjalan
Jaman sekarang banyak orang tergesa-gesa sehingga sambil berjalan dia makan. Kelihatannya hal ini hanya masalah kepantasan. 

d. Makan malam tanpa penerangan
Hati-hati, duri ikan dan benda-benda kecil lainnya bisa tertelan. Lauk pun bisa salah ambil.


4. CUCI TANGAN

a. Selesai makan tidak cuci tangan
Kecuali kita makan pakai sendok, masih boleh dimaafkan. Tetapi mestinya cuci tangan. Bagaimanapun pasti ada sida makanan yang masih melekat di tangan. 

b. Habis makan, belum cuci tangan, tangan diusap-usapkan ke pakaian
Biasanya diusapkan ke ujung baju atau ujung kain. Kalau yang satu ini mestinya tidak bisa dimaafkan. Tangan tetap kotor plus baju jadi kotor pula.

Catatan: Dalam kaitan dengan cuci tangan ini, saya tidak menemukan pesan untuk cuci tangan sebelum makan. 


5. MEMBERSIHKAN MUKA

a. Melap wajah dengan kain atau pakaian 
Biasanya ujung baju atau ujung kain panjang. Wajah tidak akan bersih, apalagi kalau berminyak dan berkeringat. Sementara pakaian atau kain kita jadi kotor

b. Melap bibir dengan kain atau pakaian
Keterangan sama di atas. Bibir adalah tepi rongga mulut tempat makanan dan minuman masuk. Alih-alih bibir bersih, malah bibit penyakit masuk mulut


6. KUKU

a. Memotong kuku di waktu malam
Ujung jari bisa terluka, apalagi kalau lampu tidak terang

b. Mengigit-gigit kuku
Terkait dengan kesehatan. Barang kotor masuk mulut

c. Menggunakan kuku untuk membersihkan gigi
Kuku bukan tusuk gigi. Tidak etis di hadapan orang banyak, juga dapat memasukkan penyakit’


LIDING DONGENG

Demikianlah beberapa contoh perilaku yang jadi makanan Bathara Kala khususnya yang terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Reasoningnya ada dan jelas tetapi orang dulu mungkin belum tahu, atau merasa sudah cukup dengan mengatakan: “Aja ...... mengko dadi pangane Bathara Kala”

Seperti telah disebut di atas, contoh perilaku lain utamanya yang tidak terkait dengan masalah kesehatan masih banyak. Tetapi ada satu hal yang ingin saya tambahkan, yaitu tentang ternak unggas. Yaitu pesan untuk mengandangkan “sato-iwen” (unggas) jauh dari rumah, yang ternyata hustru menyadi pesan utama pada abad ke 21 dalam kaitan dengan pencegahan penularan Flu Burung ke Manusia. Dapat dibaca di lanjutan tulisan ini, ABAD KE 21: MANGSA BATHARA KALA DAN FLU BURUNG (AVIAN INFLUENZA)


TULISAN TENTANG BATHARA KALA SELENGKAPNYA

5 Perbuatan dan perilaku yang menjadi makanan Bathara Kala   

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST