Sunday, June 8, 2014

MAKANAN (MANGSA) BATHARA KALA: SUKERTA DAN JULUNG (3)

Pada tulisan sebelumnya, MAKANAN (MANGSA) BATHARA KALA: SUKERTA DAN JULUNG (2) telah dibahas mengenai B. Janma Sukerta berdasarkan kondisi waktu kehamilan dan persalinan dan C. Janma Sukerta berdasarkan kelainan tubuh. 

Perlu diingat kembali bahwa pengertian Sukerta adalah orang-orang yang karena sesuatu hal sering mengalami kesialan. 

Pada tulisan ini kita lanjutkan ke D. Janma Sukerta berdasarkan saat-saat yang tidak baik

Merujuk ke Serat Bauwarna, Ki Padmasusastra, 1898, mengenai hal ini dapat saya sampaikan sebagai berikut:




D. JANMA SUKERTA BERDASARKAN SAAT-SAAT YANG TIDAK BAIK


JULUNG

Dari sisi “keapesannya”  tanpa terkait dengan saat kelahiran, maka JULUNG dapat dimasukkan dalam wadhah besar JANMA SUKERTA. 

Secara khusus, pengertian JULUNG menurut Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 adalah: Pinasti bakal nandang kacilakan marga lahire mbeneri wektu sing dianggep ora becik (orang yang dipastikan akan sering celaka karena lahirnya bertepatan dengan saat yang tidak baik). 

Ada tiga waktu yang dikatakan tidak baik untuk lahirnya bayi, yaitu saat Matahari terbit, Matahari di atas kepala dan Matahari terbenam.


1. MATAHARI TERBIT

a. Julung Kembang
Bayi yang lahir bersamaan dengan terbitnya Matahari

b. Julung Wangi
Bayi yang lahir bersamaan dengan terbitnya Matahari (atau menjelang sampai terbitnya Matahari). Dalam horoskop Jawa (pawukon) Julung Wangi adalah wuku yang ke sembilan.


2. MATAHARI DI ATAS KEPALA

Julung Sungsang
Bayi lahir waktu bedug siang. Dalam Bahasa Jawa dikatakan juga: Bayi lahir wektu tengange. Catatan: Tengange: Tengah + Ing + We (We = srengenge, matahari)


3. MATAHARI TENGGELAM

a. Julung Pujud
Bayi lahir menjelang dan  terbenamnya Matahari. Dalam horoskop Jawa (pawukon) Julung Wangi adalah wuku yang ke limabelas.

b. Julung Sarab
Bayi lahir menjelang terbenamnya Matahari

c. Julung Lumarap
Bayi lahir bersamaan dengan terbenamnya Matahari

d. Julung Caplok
Bayi lahir menjelang dan saat Matahari terbenam. 


LIDING DONGENG

Saya agak kesulitan mencari reasoning yang pas. Tetapi ada tiga hal yang dapat saya sampaikan, sebagai berikut:

Pertama: Ketiga waktu tersebut terkait dengan saat sholat Subuh, Lohor dan Maghrib. Ibu, beserta keluarga dan penolong persalinan akan terganggu waktu sholatnya.

Kedua: Pada jaman dulu, hutan masih banyak, jarak antar desa masih berjauhan, penolong persalinan juga belum banyak. Mungkin masih banyak binatang buas berkeliaran saat menjelang matahari terbit atau keluar mencari mangsa saat matahari terbenam. Dikatakan untuk bayi Julung Kembang akan ketemu binatang buas dan bayi Julung Caplok akan dicaplok macan.

Ketiga: Saat bedug siang adalah waktu untuk istirahat. Saya ingat tukang kebun eyang dulu. Begitu bedug siang, ia berhenti kerja, mengambil “banyu wulu” (air wudhu), berganti pakaian, sholat Lohor, makan siang, minum kopi sambil merokok, lalu kerja jagi. Istilah sekarang: Ishoma.

Kesimpulan (menurut pendapat saya pribadi), bukannya bayi lahir pada waktu yang tidak baik, tetapi lahir pada waktu yang tidak pas. Tetapi siapa yang dapat mengatur saat kelahiran bayi kecuali melakukan bedah Caesar (Sectio Caesaria).



TULISAN TENTANG BATHARA KALA SELENGKAPNYA

4 Makanan (Mangsa) Bathara Kala: Sukerta dan Julung (3)   
6 Abad ke 21: Makanan Bathara Kala dan Flu Burung  

1 comment:

Arif Rahmanto said...

Sedikit cerita dari beberapa kerabat bahwa di suatu daerah Desa Tepus, Gunung Kidul ada seseorang yang akrab dengan harimau. Menurut cerita dan kesaksian masyarakat sekitar pernah melihat orang tersebut menemui harimau dan harimau tersebut mengikuti. bisa saja harimau tersebut ke tempat/rumah kediamanya, namun mungkin agar tak jadi kehebohan di desa tersebut.
Ketika orang tersebut meninggal, warga sekitar melihat harimau tersebut mencari-cari sampai ke rumahnya.
Menurut warga sekitar kelahiran orang tersebut saat waktu julung kembang.

Namun, Benar tidaknya saya belum bisa memastikan.

Most Recent Post

POPULAR POST