Wednesday, March 7, 2012

SERAT WULANGREH: JANGAN LIHAT ORANGNYA TAPI MAKNA UCAPANNYA


Kita tidak boleh "ngendhak gunaning janma". manusia adalah manusia, tidak boleh disepelekan keberadaannya, siapapun dia.

Ada tiga tulisan senada yang sudah saya buat yaitu: Giri lusi, janma tan kena ingina; Bathok bolu isi madu dan Ajining raga dumunung ada busana dan ajining diri dumunung ing lathi.

Hal yang sama telah ditekankan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh, pupuh Kinanthi bait ke empat, bahwa  manusia walau pada lahirnya hina  dina (nadyan asor wijilipun) kalau kelakuannya baik, punya banyak ceritera yang baik  nasihatnya bermanfaat, (Catatan: Kang dadi misil; Misil: manfaat, keuntungan), layak kita dekati supaya "budi kita meningkat. Lengkapnya bait ke empat sebagai berikut:


Demikian pula pada Pupuh Gambuh bait ke tiga disebutkan bahwa petuah baik itu, sebetulnya yang itu yang ditiru, walaupun berasal dari orang sudra dan papa. Kalau ajarannya baik, itu pantas dipakai. Lengkapnya sebagai berikut:

 

KISAH TUKANG PATRI

Saya lupa persisnya kapan, mungkin saya masih SMP karena masih mau disuruh ibu memanggil tukang patri yang kebetulan lewat (dengan kode bunyi kecrek-kecrek dari lempeng-lempeng besi yang senantiasa dia goyang-goyangkan sambil jalan).

Sementara Pak Tukang Patri mencari posisi di bawah pohon kersen saya lari ke dalam mengambil panci-panci bocor yang telah disiapkan ibu. Maunya habis memberikan panci-panci ke pak patri saya masuk ke rumah lagi. Tapi tetanggaku Tafkir yang tadinya bertengger di pohon kersen justru turun dan jongkok di dekat pak patri.

Namanya siapa Pak?” Tafkir memang komunikatif

Pak tua itu tersenyum, “Singgih. Ngerti tegese le?”

Ya ora ngerti Pak, tapi namanya bagus lho Pak”

Pak patri pun berceritera sambil kerja. Dia bisa berceritera dalam bahasa yang dipahami anak belasan tahun. Bahwa bapaknya menjelaskan makna “Singgih” setelah dia dewasa. “Singgih” artinya “inggih” dan maknanya bersedia melakukan apa saja yang baik dengan sungguh-sungguh. “Apapun lakukan dengan sungguh-sungguh, jangan setengah hati walau hanya menambal panci bocor”. Ia menyelesaikan penjelasannya lalu bertanya kepada Tafkir “Kalau besar mau jadi apa le?”

Hakim, Pak”. Jawab Tafkir. Ia memang ingin jadi hakim

Jadilah hakim yang singgih, seperti kanjeng sultan yang di Bagedad itu (maksudnya Sultan Harun Al Rasyid)”

Ibu saya keluar membawa segelas teh panas dan sepiring pisang goreng. “Sembah nuwun ndoro putri”.

Walapun masih anak-anak saya tersadar. Orang ini menghormati ibu saya dengan sebutan “ndoro” sementara saya cuma dipanggil “Le, atau Thole”. Saya memperoleh jawabannya setelah ibu masuk ke rumah lagi. “Le, ibumu itu orang yang bisa ngajeni (menghargai) wong cilik. Besuk kalau jadi orang kamu bisa begitu?”

Recall” ingatan tentang pak patri ini muncul beberapa hari yang lalu, selesai Sholat Jum’at saya berpapasan dengan tukang patri, tua, jalan dengan kecreknya. Di Jakarta, 2012. Potongannya nyaris mirip dengan di Jogja hampir 50 tahun yang lalu. Saya belum pernah baca Wulangreh waktu itu, tapi maknanya yang dalam telah disampaikan oleh aktornya sendiri, Pak Singgih ..... Pitutur bener iku; Sayektine kang iku tiniru; Nadyan metu saking wong sudra papeki;.......... (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST