Friday, December 16, 2011

BATHOK BOLU ISI MADU



Bathok: Tempurung kelapa; Bolu tidak ada kaitan dengan kue bolu. Bolu disini adalah akronim dari bolong telu atau lubang tiga. Ada tiga lobang di tempurung kelapa. Lobangnya kecil saja, letaknya berdekatan. Ada yang tanya, mengapa pakai tambahan kata “bolu” kok tidak bathok isi madu saja? Yang jelas padanan katanya (guru lagu) menjadi tidak pas. Kemudian ada orang lain lagi yang tanya, mengapa tidak langsung saja “bathok bolong telu isi madu”. Ya itulah jiwa seni orang Jawa. Kan lebih pas “bathok bolu” (empat suku kata dan “isi madu” (empat suku kata juga).

Bicara tentang bathok dikaitkan dengan isi, maka bathok kelapa yang dimaksud disini adalah yang masih bisa dipakai untuk ditempati sesuatu. Jadi minimum setengah kelapa. Bathok yang seperti itu amat multiguna sebagai wadah. Bisa dipakai pengemis untuk minta sedekah (jaman sekarang sudah digantikan oleh kaleng atau wadah plastik), bisa untuk piring makan, bisa pula untuk tempat minum atau alat mengambil air. Kita kenal siwur, untuk mengambil air di genthong. Kembali ke bathok, bathok kita yang sederhana ini isinya “madu” sesuatu yang bukan sembarangan. Maknanya sudah jelas bukan? “Bathok bolu” melambangkan orang yang biasa-biasa saja. Sedangkan “isi madu” menunjukkan suatu kelebihan. Dalam diri orang yang tampak lahirnya seperti itu, terdapat kelebihan yang kita tidak punya.

Jaman dulu waktu saya masih mahasiswa, ada laki-laki tua yang kalau datang ke rumah diminta ibu bantu-bantu bersihkan halaman. Laki-laki ini memanggil ibu dengan sebutan “ndoro putri” walau demikian ibu cukup hormat kepadanya. Sederhana reasoningnya. Pertama bahwa “Jalma tan kena ingina” (manusia tidak boleh dihina atau direndahkan). Kedua, laki-laki ini sudah jelas “bathok bolu isi madu”. Dibalik penampilannya yang sederhana tersimpan kelebihan yang mengagumkan.Apa kelebihan orang tua ini, salahsatunya saya ketahui waktu ikut ke desanya di pesisir selatan. Di perjalanan selalu saja ia berjumpa dengan orang lain dan selalu dapat keluhan tentang beratnya hidup, dan selalu dia membagi hasil perolehannya di kota yang tidak seberapa itu (Ibu saya selalu membekali dengan sembako, selain honornya yang tentusaja tidak banyak). Ketika saya tanya: Kalau dibagi-bagi begitu kan habis, mbah. Yang di rumah dapat apa?. Jawabnya pendek saja: “Gusti Allah mboten sare” (Tuhan tidak tidur) dengan tatapan dalam.

Wah kalau seperti ini rasanya saya tidak mampu. Kalau milik saya tidak banyak, jelas tidak akan saya bagi. Kalau punya banyak apa ya akan saya bagi? Belum tentu juga. Di dompet saya ada uang beberapa ratus ribu, tapi kalau mengisi kotak amal waktu sholat jumat hanya satu lembar dengan nilai nominal terkecil. Itupun dilipat dan memasukkan dilindungi telapak tangan supaya tidak kelihatan orang yang duduk di sebelah saya.

Seorang teman mengatakan, diantara rukun Islam yang lima mana yang paling sulit dilaksanakan? Saya jawab: “Sholat”. Duh, saya di tolol-tololkan sama dia. “Hatimu merasa lebih berat mana, antara sholat dan zakat?” Baru saya tersadar. Betul, membayar zakat itu rasanya berat. Bukan zakat fitrah yang biasa kita bayar menjelang Idul Fitri. Zakat dalam pengertian luas termasuk shodaqoh.

Lalu saya ceriterakan kisah laki-laki tua itu pada teman saya. “Nyolong pethek, ya”, (diluar dugaan) kata teman saya. Ganti saya punya kesempatan menggoblok-goblokkan dia. “Nyolong pethek itu bisa berkonotasi baik maupun buruk. Seperti kamu itu nyolong pethek, kelihatannya alim tetapi mbeling. Kalau yang satu ini namanya bathok bolu isi madu” (IwMM)

1 comment:

Supri Yadi said...

Bathok Bolu isi madu.
Bathok kulit klapa yg keras sekeras kehidupan sekarang ini. Bolu adalah Iman . Islam dan Ihsan. Yg artinya hanya dengan tiga kunci itu kita dapat melubangi menembus kerasnya hidup ini sehingga kita dapat manisnya madu d dalam kehidupan baik di dunia dan akhirat.

Most Recent Post

POPULAR POST