Friday, January 6, 2012

MOMOR, MOMOT dan MOMONG

Merupakan tiga pesan singkat untuk pemimpin yang menggunakan purwakanthi sekaligus guru swara (o), Guru wanda (mo) dan guru sastra (m,o,m, o), Indikator keberhasilan dari seorang yang berhasil “momong, momor dan momot” sederhana saja, yaitu setelah lengser keprabon pemimpin tersebut tetap dikenang, sesuai peribahasa “gajah mati meninggalkan gading”.
 
MOMOR
 

Momor” dalam dasanama Jawa lainnya disebut “amor” artinya menyatu, bersama dan bergaul dengan lingkungan sekitar kita (baca “manjing ajur ajer”). Pemimpin tidak bisa menyendiri dan melaksanakan tugasnya hanya melalui telepon, SMS, email dan jejaring sosial lainnya.
 
Dengan “momor” bersama masyarakat yang beranekaragam, kelas sosialnya, budayanya, wataknya, kepentingannya dan keanekaragaman lain yang masih banyak lagi, pemimpin akan tahu kehendak rakyat sekaligus tahu bagaimana cara “momongnya”. Cara melakukan pendekatan baik pendekatan umum maupun pendekatan khusus.
 
 
MOMOT


Pemimpin memang  harus bisa “momot” yang artinya “memuat” atau mengakomodasi berbagai macam aspirasi masyarakat, sehingga tidak ada yang tercecer. (Baca Serat Wedhatama: Den awas, den emut,den memet yen arsa momot).
 
Menjadi pemimpin memang “ribed”. Bila kita bertatap-muka dengan rakyat, permintaannya memang beraneka-ragam. Ada yang ingin desanya memiliki tenaga kesehatan, ada yang ingin jalan masuk ke desanya di aspal, ada yang ingin masjid desa di rehabilitasi. Pokoknya pasti banyak dan semuanya tidak neko-neko. Seorang pemimpin yang berjiwa “momot” pasti akan menampung semua aspirasi ini. Dia akan mengupayakan supaya apa yang dikehendaki rakyatnya dapat terpenuhi dalam tempo yang tidak terlalu lama.

 
Dalam “momot” ini sifat “bawa laksana” (kesatuan ucapan dan tindakan) diuji. Tigapuluh tahun lalu kalau kita dengar kata “usulan anda kami tampung” senangnya bukan main. Sekarang ini kita sudah alergi dengan kata “tampung” dalam pengertian sekedar diwadahi. Pengertian “tampung” harus sama dengan “momot”, seperti momotnya gerobag pengangkut hasil bumi ke kota. Saat pulang ada hasilnya.
 
 
MOMONG
 

Momong” adalah menjaga, membimbing dan mengasuh anak. Hasil dari “momong” adalah gizi anak baik, anak sehat, sehingga tumbuh kembang sesuai harapan. Anak menganggap pemimpin adalah bapak atau ibunya. Saat kita “ngrasani” pemimpin kita, pada umumnya kita menyebut “Bapak saya” atau “Ibu saya”. Pada saat bersama atasan, kita akan sebut “Bapak dan Ibu” bukan “Tuan atau Boss”. Jelas pemimpin tidak boleh “selak” (ingkar) bahwa rakyat adalah anaknya. Analognya adalah “pemimpin yang harus momong rakyat bukan dibalik, rakyat yang harus momong pemimpinnya”. Sedih kalau saat ini sering terdengar kata-kata yang intinya “Bapakku (atau ibuku) open-openane angel”.
 
Momong” itu tidak gampang. Anak yang dilahirkan dari bapak dan ibu yang sama saja sifatnya berbeda-beda. Ada yang pendiam, ada yang ribut, ada yang nakal, ada yang manis, ada yang pandai ada yang bodoh dan masih banyak lagi. Apalagi rakyat yang jauh lebih beranekaragam latarbelakangnya.
 
Momong” tidak sekedar ilmu tetapi juga seni. Yang jelas, dalam “momong” anak setiap anak tidak bisa diperlakukan sama untuk masalah yang sama. Lebih-lebih lagi “momong” rakyat. Contoh sederhana saja anak kita biasanya sulit makan. Ada anak yang suka makan sambil diajak jalan-jalan di kebun tetapi ada yang mau makan sambil diceriterakan sebuah dongeng. Ada juga yang baru mau makan setelah diancam. Kalau tidak mau makan disuntik pak dokter. (Hanya mohon digarisbawahi, cara terakhir ini amat tidak baik. Untuk anak maupun untuk rakyat).
 
Momong” ibarat menanam. Hasil dari tanaman “momong” kita adalah yang kita emong (asuh) akan merasa berhutang budi. Ketika anak dewasa dan menjadi orang, atau ketika rakyat hidup sejahtera maka mereka tidak akan lupa pada orang tua dan pemimpinnya. Sampai sang pemimpin lengser, sampai sang pemimpin wafat. mereka akan menjadi orang-orang yang mikul dhuwur mendhem jero.
 
 
KESIMPULAN
 
Momong, momor dan momot” adalah “Tri Tunggal”, ketiganya merupakan satu kesatuan. Ketiganya harus ada. Dengan “momor” kita tahu aspirasi rakyat. Aspirasi tersebut harus bisa kita “momot” dan kita gunakan untuk “momong” rakyat. Dimana kelemahan kita? Menurut pendapat saya, kita terlalu mengedepankan “wacana” momong tetapi kurang menaiki “wahana” momor sehingga momotnya tidak sampai-sampai. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST