Monday, January 14, 2013

SERAT WULANGREH DAN UNGKAPAN-UNGKAPAN YANG MENDUKUNG “BASA BASUKI” ITU PERLU


Orang mau bicara ternyata tidak gampang. Walaupun hanya satu patah kata kalau tidak empan papan, tidak sesuai dengan waktu, orang dan tempat (Time, person, Place), bisa fatal. Bicara harus hati-hati. Oleh sebab itu banyak ungkapan-ungkapan maupun pitutur dalam berbagai bahasa dan budaya yang mengingatkan kita mengenai kehati-hatian dalam bicara ini. Tulisan ini adalah lanjutan dari Basa Basuki: Pengertian dalam Serat Wulangreh.
 
Ucapan-ucapan yang terlontar tanpa dipikir terlebih dahulu tanpa melihat waktu, ruang dan orang bukanlah basa basuki. Sri Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh, Pupuh Wirangrong bait pertama mennjelaskan bahwa dalam bicara kita perlu awas dan waspada. “Aja dumeh” kita pandai bicara (muwus), walau hanya sepatah kata (sakecap), kalau tidak pantas maka tidak akan baik
 
Lengkapnya bait pertama dapat dibaca pada gambar di atas.
 
Dampak dari ucapan amat jauh dan menimbulkan kerusakan sepanjang waktu laksana peluru yang ditembakkan (A word carries far -- very far -- deals destruction through time as the bullets go flying through space). Demikian dikatakan Joseph Conrad seorang novelis Inggris abad ke 20. Bila kita merujuk ke pepatah Spanyol “palabra de boca, piedra de honda” maka satu kata yang keluar dari mulut ibarat batu yang ditembakkan dari katapel. Pengertiannya: Bisa jauh dan melukai. Sama dengan yang diucapkan Conrad di atas.
 
AJA AGE SIRA MUWUS
 
Tidak hanya “aja dumeh bisa muwus” seperti disebutkan pada bait pertama, pada bait ke 2 dan 3 pupuh Wirangrong, kembali mengingatkan kalau mau bicara harus “golek mangsa” dulu, cari waktu yang pas. Jangan cepat bicara (aja age sira muwus, aja age kawedal) sebelum dipikirkan terlebih dahulu (dununge den kesthi) dan lihat-lihat kepada siapa kita bicara (yen durung pantes rowangnya, kang pantes ngajak calathon).
 
Lengkapnya bait ke2 dan 3 sebagai berikut:
 
 

YEN SAMPUN KAWIJIL TAN KENA TINUTUTAN
Selanjutnya pada bait ke 4 pupuh Wirangrong dikatakan bahwa kita harus mampu mengendalikan diri supaya tidak terlanjur. Kita harus waspada (prayitna) karena sekali terucap (kawijil) tidak bisa dikejar lagi (tan kena tinututan)
Lengkapnya bait ke 4 sebagai berikut:
 
LIDING DONGENG

Bicara harus hati-hati. Kehati-hatian bisa hilang saat kita marah. Thomas Jefferson menasihati kita, bila sedang marah hitunglah  satu sampai sepuluh sebelum mulai bicara, dan bila amat marah, maka hitunglah sampai seratus (When angry, count ten before you speak; if very angry, a hundred).
Sementara Benjamin Franklin memberi pitutur, kalau kita ingin hidup nyaman dan damai, tidak usah bicara tentang semua yang kita tahu dari semua yang kita lihat (He that would live in peace and at ease must not speak all he knows or all he sees)
Kita semua tahu arti peribahasa Indonesia: “Berkata peliharalah lidah, berjalan peliharalah kaki”. Lidah dan kaki masing-masing menggambarkan ucapan dan perilaku kita.

Dua hal yang amat perlu kita kendalikan: Lidah dan kaki. Klop dengan pupuh Pangkur bait ke 5 di atas, bahwa Sri Sri Pakubuwana IV mengingatkan kita semua: Watak manusia ditengeri dari laku, linggih dan solah muna-muninya.

“Beranda” dari blog yang Bapak dan Ibu baca ini diawali dengan kalimat Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti dan diakhiri dengan kalimat “Wong urip puniku aja nganggo ambeg kang tetelu: Adigang Adigung Adiguna”. Kalimat pertama adalah “patrap (penerapan) basa basuki” dan kalimat kedua adalah “nerak (melanggar) basa basuki”.

Dilanjutkan ke Serat Wulangreh: "Laku linggih" dan "solah muna-muni" yang tidak sesuai "basa basuki (1)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST