Friday, April 27, 2012

SERAT WEDHATAMA: PESAN KEPADA ORANG TUA


Bila kita membaca secara keseluruhan pupuh pertama dalam Serat Wedhatama yang terdiri dari 14 bait pupuh Pangkur dapat kita lihat bahwa Serat Wedhatama dimaksudkan untuk mendidik putera-puteri yang berarti anak muda. Kita lihat bait pertama:

(1) mingkar-mingkuring angkara | akarana karênan mardi siwi | sinawung rêsmining kidung | sinuba sinukarta | mrih krêtarta pakartining ngèlmu luhung | kang tumrap nèng tanah Jawa | agama agêming aji ||

Artinya kurang lebih: (1) Dalam menghadapi nafsu angkara; Karena ingin mendidik putera-puteri; Dalam sebuah tembang; Yang disambut gembira dan dihormati; Supaya bisa mncapai hakekat ilmu luhur; Yang ada di tanah Jawa; Agama busana yang amat berharga.

Dapat disimpulkan bahwa bait pertama sekar Pangkur ini adalah tujuan utama Serat Wulangreh. Mendidik anak, sesuai budaya Jawa, berlandaskan nilai-nilai keagamaan.


ORANG TUA DIPERINGATKAN LEBIH DAHULU

Sebelum sampai kepada anak muda, Sri Mangkunegara IV mengingatkan orang tua lebih dahulu. Bahkan cukup keras. Kita lihat bait ke dua sampai dengan ke enam sebagai berikut:


Adapun terjemahan bait ke dua sampai dengan ke enam kurang lebih:

(2) Disajikan dalam Wedhatama; Agar tidak kendor dalam muatan nalar kita; walaupun sudah tua dan pikun; jika tidak memahami ilmu; Pasti sepi, hambar seperti ampas kosong; Bila menghadiri pertemuan; Perilakunya memalukan.

(3) Menuruti kemauan sendiri; Bila berbicara tanpa dipertimbangkan; Tetapi tidak mau dianggap bodoh; Maunya dipuji-puji; Tetapi manusia yang sudah waspada terhadap situasi; Tetap bermuka manis; Dan bertutur-kata baik.

(4) Si dungu tidak menyadari; Bahwa bualannya semakin menjadi-jadi; Bicara makin ngelantur; Bicaranya tidak masuk akal; Makin aneh dan tidak ada putusnya; Yang pandai waspada dan mengalah; Menutupi aib si tolol

(5) Demikianlah ilmu yang nyata; Senyatanya memberikan kesejukan hati; Hati senang dikatakan bodoh; Tetap gembira biarpun dihina; Tidak seperti si dungu yang selalu sombong Ingin dipuji setiap hari; Janganlah begitu orang hidup.

(6) Hidup sekali saja rusak; Nalarnya tidak berkembang dan tercabik-cabik; Ibarat goa yang gelap dan menyeramkan; Ditiup angin; Suaranya gemuruh dan berdengung; Seperti halnya watak anak muda; Walau demikian tetap congkak

Penjelasannya sebagai berikut:

Kita lihat bahwa Sri Mangkunegara IV  keras dalam mengingatkian orang tua: Pada bait ke dua dijelaskan,walau sudah tua kalau tidak menguasai ilmu ibaratnya ampas kosong. Bila bertemu dengan orang banyak maka perilakunya memalukan. (yekti sepi asepa lir sepah dan gonyak-ganyuk anglilingsemi). Jaman sekarang mungkin yang sering kita dengar adalah  kata “pepesan kosong”.

Selanjutnya yang dimaksud dengan seperti “sepah” dan “gonyak-ganyuk tadi seperti apa dapat dilihat pada bait ke tiga, yaitu: “Menuruti kemauan sendiri” yang terdiri dari tiga hal: Bicara tanpa pertimbangan, tidak mau dianggap bodoh dan ingin dipuji-puji. Dalam hal ini manusia yang sudah waspada terhadap situasi akan tetap bermuka manis dengan tutur kata yang baik pula (Sinamun ing samudana dan sesadon ingadu manis). Apapun perilaku orang, kita tetap berprasangka baik dengan bahasa tubuh yang baik pula.

Tetapi apa yang terjadi? Pada bait ke empat dijelaskan bahwa yang bersangkutan tidak ngrumangsani. Justru gonyak-ganyuk nglilingsemi-nya semakin menjadi-jadi. Barangkali karena sudah merasa tua, merasa pandai dan berpengalaman, maka dia sulit dikasih-tahu, dan yang lain dianggap bocah wingi sore. Maka Sri Mangkunegara IV berpesan yang masih punya akal sehat ngalah saja lah. Biar hati sebal tetapi tetaplah Ngalingi marang si pingging (menutupi aib si dungu) tentusaja dengan sinamun ing samudana, sesadon ingadu manis.

Mungkin ada juga yang dalam hati kurang rela. Kenapa tidak kita labrak saja orang yang gunggungan seperti itu? Maka dalam bait ke lima Sri Mangkunegara IV menjelaskan: Orang yang sudah mengendap seharusnya selalu memberi kesejukan hati; walau dihina atau dibodoh-bodohkan tak usah dimasalahkan, tetaplah gembira. Jangan seperti si tolol yang sombong dan maunya dipuji-puji setiap hari.

Omong besarnya si tolol pada bait ke enam diibaratkan oleh Sri Mangkunegara IV sebagai gemuruh suara sebuah goa yang ditiup angin kencang. Mohon diperhatikan pada bait ke enam ini lah entry nasihat untuk anak muda. Pada dua baris terakhir disebutkan “Pindha padhane si mudha; Prandene paksa kumaki”

Saya sendiri sudah mulai tua. Apa kira-kira orang tua memang banyak ngomong? Minteri? Dan ngomongnya pun tidak betul? Dibantah juga tidak mau? Apakah pengertian tua menurut Sri Mangkunegara IV?


UKURAN DISEBUT “SEPUH”

Ternyata usia bukanlah ukuran seperti yang disebutkan dalam bait ke duabelas pupuh Pangkur sebagai berikut:


Terjemahannya kurang lebih: Siapapun yang menerima wahyu Allah; Dengan cemerlang mampu melaksanakan ilmu; Menguasai ilmu kesempurnaan; Sempurna jiwa raga; Itulah yang pantas disebut orang tua” (sepuh); Arti “orang tua” (sepuh) adalah tidak dikuasai hawa nafsu (sepi hawa) ; Paham akan dwi tunggal (loroning atunggal).

Dengan demikian, siapapun yang sudah mengendap jasmani dan rohaninya tanpa melihat umur, itulah “sepuh” sepi ing hawa. Anak muda pun kalau sudah manunggal jiwa dan raganya, mampu mengendalikan hawa napsu sudah bisa disebut “sepuh”. Jadi ada orang yang “tua tetapi tidak sepuh” yang diibaratkan seperti anak muda yang masih suka omong besar. “Pindha padhane si mudha; Prandene paksa kumaki,”  

Lalu apa pesan Sri Mangkunegara IV kepada Kawula muda saya lanjutkan di Serat Wedhatama: Menasihati para muda.(IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST