Friday, September 28, 2012

SERAT WULANGREH: ANAK MUDA BERBAKTILAH KEPADA ORANG TUA



Pada bait ke 16 (bait terakhir) pupuh Kinanthi dalam Serat Wulangreh, Sri Pakubuwana IV mewanti-wanti supaya anak muda berbakti lahir bathin kepada orang tua, sebagai berikut:

Adapun terjemahannya: Wanti-wanti pesan saya; kepada yang membaca serat ini; lahir batin patuhilah; isi serat ini; dan berbaktilah kepada orang tua; dari lahir sampai batin
 
 
APA HANYA PESAN UNTUK ANAK MUDA SAJA?
 
Pemahaman “poma-poma wekas ingsun; mring kang maca layang iki” bisa berlaku umum untuk semua golongan umur. Walau demikian penekanannya kepada anak muda. Mengapa demikian?

1.    Pitutur di atas disekarkan dalam Kinanthi. Jiwa tembang Kinanthi sendiri adalah untuk anak muda yang masih perlu di “kanthi” (dibimbing) kedua orang tuanya. (Tembang Macapat “All in One”)

2.    Tembang Kinanthi dalam Serat Wulangreh terdiri dari 16 bait. Bait pertama dan ke dua mengandung pesan supaya kita “nggegulang kalbu” supaya “lantip” dan ”laku mesu sarira” melalui mengurangi makan dan tidur, tidak foya-foya dan berpakaian sederhana. Ini adalah modal anak muda sebelum dia menjadi orang. (Serat Wulangreh: “Laku” supaya “ing sasmita amrih lantip”)

3.    Adapun bait ke 5 dan 6 berisi pesan untuk anak muda agar tidak bergaul dengan orang jahat (Serat Wulangreh: Anak muda jangan bergaul dengan orang jahat)

4.    Selanjutnya bait ke 8 dan 9 memberikan ciri-ciri watak anak muda yang adoh wong becik (Serat Wulangreh: Kelakuan “nom-noman” yang “adoh wong becik”)

5.    Sedangkan bait ke 11 sd 13 mengingatkan kaum muda supaya banyak bergaul dengan orang tua (Serat Wulangreh: Diharapkan “Wong anom taberi jejagongan lan wong tuwa”)

6.    Selanjutnya dua bait terakhir (bait ke 16) dari pupuh Kinanthi di atas mewanti-wanti kita supaya berbakti lahir batin kepada orang tua. (lan dèn bêkti mring wong tuwa; ing lair prapta ing batin)

Kalau dilihat, sekuensnya memang pas. Tembang Kinanthi  melambangkan orang tua “nganthi” anaknya menapaki kehidupan dunia yang hiruk pikuk. Dimulai dengan mengisi moral dan intelektual anak dengan “laku” yang benar. Selanjutnya memberi pitutur antara lain siapa yang harus dijauhi dan siapa yang harus didekati. Terakhir diingatkan bahwa kita semua tidak boleh melupakan bakti kepada orang tua.
 
 
JANGAN MENJADI ANAK DURHAKA
 
Anak yang tidak mau mendengarkan pitutur orang tua adalah anak durhaka dan tidak akan selamat dunia akhirat. Oleh sebab itu Sri Pakubuwana IV mengingatkan anak cucu supaya taat kepada kedua orang tua. Disebutkan dalam pupuh Maskumambang bait ke 5 dan 6 sebagai berikut:
 
5. wong tan manut pitutur wong tuwa ugi | pan nêmu duraka | ing dunya tumêkèng akir | tan wurung kasurang-surang ||
 
6. maratani ing anak putu ing wuri | dèn padha prayitna | aja na kang kumawani | ing bapa tanapi biyang ||
 
Adapun terjemahannya:
 
5. Orang yang tidak mituhu pitutur orang tua; menjadi durhaka; di dunia sampai akhir; tak urung terlunta-lunta
 
6. Kepada anak cucu di kemudian hari; supaya semua waspada; jangan ada yang berani; kepada bapak dan ibu.
 
 
BILA ORANG TUA MEMBERI PELAJARAN TIDAK BAIK, JANGAN DIANUT
 
Pada pupuh Maskumambang bait ke 1 sd 4 disebutkan:
 
1. nadyan silih bapa biyung kaki nini | sadulur myang sanak | kalamun muruk tan bêcik | nora pantês yèn dèn nuta ||
 
2. apan kaya mangkono watêkan iki | sanadyan wong tuwa | yèn duwe watêk tan bêcik | miwah tindak tan prayoga ||
 
3. aja sira niru tindak kang tan bêcik | nadyan ta wong liya | lamun pamuruke bêcik | miwah tindake prayoga ||
 
4. iku pantês sira tirua ta kaki | miwah bapa biyang | amuruk watêkan bêcik | iku kaki èstokêna ||
 
Pengertian secara keseluruhan sebagai berikut: Piwulang yang tidak baik, yang disampaikan oleh orang yang watak dan perilakunya tidak baik, tidak perlu dituruti, walaupun mereka adalah ayah ibu kita atau sanak saudara sendiri. Sebaliknya piwulang yang baik dan disampaikan oleh orang yang watak dan perilakunya baik, walaupun disampaikan orang lain, hendaknya diikuti.
 
 
KESIMPULAN
 
Orang tua yang tidak mendidik anaknya dengan baik, sebenarnya hanyalah kasuistik. Umumnya orang tua akan mengorbankan apa saja untuk anaknya. Itulah sebabnya dalam Serat Wulangreh: Lelima Sinembah, Sembah Lelima  maka salah satunya sembah  ditujukan kepada kedua orang tua kita (IwMM)
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST