Monday, September 10, 2012

“BATHUK” (DAHI) DALAM UNGKAPAN JAWA

Terkait dengan posting berjudul “Sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi pati” maka “bathuk” (dahi; jidat) bagi orang Jawa memang merupakan bagian tubuh yang istimewa. Posisinya yang strategis, berada di depan atas dan permukaan yang cukup luas menjadikan “bathuk” cepat terlihat. Bagian kepala yang sering terbentur dan benjol juga “bathuk”. Dalam sholat pun sujud kita tidak sempurna kalau “bathuk” tidak rata menyentuh bumi. Teman-teman yang saya sebut “ahli sujud” dapat kita tandai dengan adanya bagian “bathuk”nya yang hitam kebiruan.
 
Ungkapan Jawa selain “Sadumuk bathuk sanyari bumi” yang menggunakan kata “bathuk” antara lain dapat dipirsani di bawah ini:
 
1. Dalam “krama inggil” bathuk disebut “palarapan”
 
“Larap” adalah hiasan emas yang pipih dan lebar, tempatnya di dahi. Pada jaman dulu banyak orang menggunakan “larap” di dahi mereka. “Bathuk” disebut “palarapan” pengertiannya: “bathuk” adalah lokasi penempatan “larap”.
 
2. Bathuk sebagai “panyandra” kecantikan wanita
 
Dalam ungkapan Jawa kita kenal kata “Bathuke nyela cendhani” (Sela: Batu; Cendhani: Marmer). Maksudnya adalah dahi yang halus dan memancarkan cahaya seperti batu marmer. Pernah saya baca kamus Inggris-Jawa, “bathuk nyela cendhani” adalah “Classic ideal forehead” (tentusaja untuk wanita Jawa), dengan penjelasan “Marble like forehead”
 
3. Thukmis dan laki-laki thukmis
 
“Thukmis” adalah akronim Jawa, bukan "kerata basa" dengan rumus Jawa (menggunakan suku kata terakhir masing-masing kata) yang kepanjangannya adalah: “Bathuk klimis” (Klimis: amat bersih dan bercahaya). Artinya sama dengan “Nyela cendhani” yang "marble like forehead" di atas. Dahi  indah yang tentusaja dimiliki wanita  cantik. Perlu digaris-bawahi bahwa kata “thukmis” tidak digunakan untuk memuji kecantikan wanita seperti “nyela cendhani” di atas, melainkan untuk mencela kelakuan laki-laki.
 
Seorang laki-laki dikatakan “Thukmis” kalau ia tidak tidak tahan melihat wanita cantik alias gampang jatuh hati setiap melihat wanita yang “bathuknya klimis” atau cantik. Setiap melihat wanita cantik, ada saja caranya untuk mendekati, berkenalan dan seterusnya.
 
4. Tipe Bathuk
 
Selain “nyela cendhani” sebagai ungkapan “bathuk ayu” ada juga ungkapan lain tentang tipe “bathuk”. Konotasinya tidak indah, tetapi belum tentu juga pemilik “bathuk” di bawah ini tidak cantik atau tampan. Bila “nyela cendhani” terbatas pada gender wanita, maka yang ini berlaku untuk laki-laki maupun perempuan.
 
§  Bathuk nonong: Bathuk (dahi) yang menonjol
§  Bathuk banyak: (banyak: angsa) Bathuk yang amat nonong
§  Bathuk lengar: (lengar: lebar, digunakan khusus untuk dahi). Teman yang punya “bathuk lengar” ini sering diguyoni” bahwa bathuknya bisa untuk mendarat helikopter, alias bathuk “helipad” apalagi kalau plus botak.
 
Demikianlah beberapa ungkapan Jawa yang menggunakan kata “bathuk”. Bila masih ada satu lagi, maka “bathuk” bisa digunakan sebagai  "pisuhan" atau makian. Bagian kepala memang sering digunakan untuk memaki: Endhasmu, gundhulmu, matamu, cangkemu, demikian pula ada “pisuhan” (makian) bathukmu. Makian ini rasanya lebih bernuansa “canda”. Misalnya saja kita omong seronok lalu teman menimpali dengan kata “bathukmu”. Jadi tidak usah terlalu dipikirkan apalagi dilanjutkan dengan adu mulut atau adu jotos. (IwMM)
 
 

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST