Saturday, September 8, 2012

SADUMUK BATHUK SANYARI BUMI DITOHI PATI

Inilah ungkapan yang amat gagah. Ada saatnya kita bertempur habis-habisan. Biarpun cuma “sadumuk bathuk dan sanyari bumi”, kita bela dengan “pecahing dada wutahing ludira" (pecahnya dada dan tumpahnya darah), kalau perlu, nyawa kita pertaruhkan “ditohi pati”. Tetapi bukan berarti langsung tawuran untuk semua masalah. Nanti kembali ke “kalah wirang menang ora kondang”.
 
 
SADUMUK BATHUK
 
Kata “dumuk” berarti menyentuh dengan jari, biasanya jari telunjuk. Adapun “bathuk” adalah jidat. Bagi orang Jawa, kepala adalah bagian yang paling terhormat. Tidak sebarang orang bisa menyentuh kepala orang lain (tentusaja kecuali “tukang potong rambut”, itupun biasanya pakai “nuwun sewu" dulu). Bahkan duduk di atas bantal dikatakan “ora ilok”. Bantal adalah alas kepala. Menduduki bantal sama dianggap sama dengan menduduki kepala.
 
Bayangkan saja kalau “bathuk” kita ditonjok pakai “ujung jari telunjuk”, wah rasa hati pasti sakit. Di belahan dunia yang lain mungkin memegang kepala teman adalah hal biasa. Tapi tetap tidak pakai ujung jari. Jadi “sadumuk bathuk” berarti kehormatan. Kalau diinjak-injak, kita pantas ngamuk.
 
 
SANYARI BUMI
 
“Sak nyari” berarti sejengkal. “Bumi” sudah jelas, artinya tanah. Jadi “sanyari bumi” maksudnya sejengkal tanah. Biarpun hanya sejengkal, kalau itu milik kita dan mau direbut orang lain ya harus dibela mati-matian. Banyak contoh pertikaian hidup dan mati dalam hal “sanyari bumi” ini.
 
 
KONFLIK AKIBAT “SADUMUK BATHUK DAN SANYARI BUMI”
 
Beberapa contoh perselisihan yang berakibat peperangan akibat urusan “sadumuk bathuk sanyari bumi” yang “dibela dengan “pecahing dada wutahing ludira” yang sampai “ditohi pati” ini. Yang masalah perorangan misalnya, seorang laki-laki  isterinya diganggu laki-laki lain, atau perebutan tanah, yang satu mau merebut sedangkan yang lain merasa tanah itu miliknya. Contoh yang lebih besar misalnya:

1.    RAMAYANA: Sri Rama dengan balatentara keranya, menyerbu Ngalengkadiraja untuk merebut kembali Dewi Sinta yang diculik Rahwana. Awalnya memang bukan urusan “sanyari bumi” melainkan “sadumuk bathuk”. Rahwana telah menginjak-injak kehormatan Sri Rama dengan melarikan isterinya. Kumbakarna yang tidak setuju dengan tindakan kakaknya yang angkara, maka ia terjun dalam peperangan bukan karena membela keangkaraan Rahwana, melainkan karena niat “bela negara” demi "sanyari bumi" yang diserbu balatentara kera. Kumbakarna adalah satu contoh dari tiga ksatria utama yang dapat dibaca dalam Serat Tripama, anggitan KGPAA Mangkunegara IV.

2.    MAHABHARATA: Pandawa yang secara sportif taat pada komitmen waktu main dadu, yaitu siapa kalah dibuang ke hutan 12 tahun, ketika selesai masa pembuangan ternyata kerajaan tidak dikembalikan oleh Kurawa. Setelah usaha damai melalui Sri Kresna ternyata gagal, maka tidak ada pilihan lain, ini tidak hanya “sanyari bumi” tetapi sebuah kerajaan. Terjadilah perang Bharatayuda dengan korban besar di kedua belah pihak.

3.   1O NOPEMBER: Indonesia yang sudah merdeka dan berdaulat, ternyata Kota Surabaya diserbu balatentara Inggris yang diboncengi NICA. Bung Tomo dan arek-arek Surabaya, walau kalah dalam segala hal dengan semangat “rawe-rawe rantas malang-malang putung” tidak tinggal diam. Terjadilah pertempuran yang heroik. Kedaulatan tidak dihormati dan tanah air telah diinjak-injak. Tanggal 10 Nopember setiap tahun diperingati Bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan

 
KESIMPULAN
 
Walau hanya “sedumuk” tetapi kalau itu adalah “bathuk” dan walau hanya “senyari” kalau “bumi” milik kita maka harus dibela mati-matian. Skalanya bisa kecil di tingkat perorangan dan rumah tangga, bisa menjadi besar kalau sampai pada martabat dan kedaulatan suatu bangsa. (IwMM)
 
 

2 comments:

Early Gardina said...

Terima Kasih,artinya dalam banget di kehidupan :3

sonidobelnpakey™ said...

Nice share gan...

Most Recent Post

POPULAR POST