Friday, September 7, 2012

TEPA SELIRA (2): ALAT UKUR BATIN YANG MULAI DITINGGALKAN


Manusia sudah dibiasakan mengukur. Untuk mengukur dibutuhkan alat ukur. Yang diukur pun macam-macam. Bisa berat, volume, kadar, panjang dan lain-lain. Sehingga kita kenal satuan ukuran kilogram, meter, liter, karat, sendok makan, sendok teh, dan masih banyak lagi.
Ukuran panjang juga bisa macam-macam. Yang paling umum kita kenal “meter”. Tapi ditempat lain ada “inci”. Bahkan dulu kita kenal “elo” dan “hasta”. Anak kecil yang bermain-main di halaman pun juga sekali-sekali mengukur. Misalnya dengan “jengkal” atau “langkah”. Masalah mulai timbul karena ukuran “jengkal” dan “langkah” tiap anak tidak sama. Yang lebih gede pasti “jengkal” dan “langkah”nya akan lebih panjang.
Semakin maju manusia, yang diukur pun semakin rumit. Dengan semakin berkembangnya Iptek, manusia sekarang mampu mengukur jarak bumi ke bulan, planet, matahari, bahkan bintang-bintang di galaksi lain. Pendek kata hampir semua yang terhampar di alam raya ini sudah bisa diukur. Sayangnya ada satu hal amat penting yang kemudian seolah-olah terabaikan, yaitu perasaan hati. Repotnya perasaan hati ini alat ukurnya tidak dijual di toko dan tidak mungkin diproduksi di pabrik manapun.
 
TEPA SELIRA
Sebenarnya Tuhan sudah menganugerahi kita semua dengan alat ukur batin yang canggih, yang kita kenal dengan sebutan “tepa selira”. “Tepa” adalah ukuran atau timbangan dan “selira” adalah badan. Jadi pengertian harfiah “tepa selira” adalah mengukur badan manusia dan yang digunakan sebagai alat ukur juga badan manusia sendiri. Adapun definisi operasionalnya adalah “Seandainya kita ingin melakukan sesuatu kepada sesama manusia, untuk tahu enak atau tidak enaknya, ya harus diukur (di”tepa”) dengan alat ukur satu-satunya yang ada, yaitu diri kira sendiri. Pelaksanaan operasional yang paling sederhana adalah: Kalau kita tidak suka diperlakukan seperti itu, ya jangan begitu.
Tepa selira adalah alat ukur yang amat halus, sehingga hanya dimiliki oleh orang yang punya perasaan halus. Orang yang punya rasa kasih sayang dengan sesamanya. Orang yang suka menolong dan tidak tega membuat susah orang lain.
 
MANUSIA YANG TIDAK TAHU UKURAN
Tepa selira bisa punya dua arti: (1) Tepa selira untuk orang lain, yaitu menerapkan perlakuan untuk orang lain sesuai ukuran diri kita, dan (2) Tepa selira untuk diri sendiri, yaitu melakukan sesuatu untuk diri kita sesuai kapasitas fisik dan mental kita.
Orang yang tidak mampu menerapkan ukuran untuk diri pribadi (2) sudah barang tentu akan memperoleh kesulitan untuk menerapkan sesuatu kepada orang lain (1). Beberapa contoh tepa selira untuk diri sendiri dapat dipirsani di bawah ini:
1.    Bekerja keras itu baik. Tetapi bekerja melampaui batas pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.

2.    Demikian pula makan, tidur dan bersenang-senang yang melampaui batas tidak akan baik bagi diri kita.

3.    Hobi itu baik. Tetapi kalau kemudian terlalu kecanduan juga menjadi tidak baik

Orang yang tidak mampu “tepa selira” untuk orang lain akan menjadi sewenang-wenang, lebih-lebih kalau ia seorang pimpinan. Oleh sebab itu Sri Mangkunegara III memberikan wasiyat: Yen parentah wong, sarat kudu nglakoni dhisik. Maksudnya supaya bisa tepa selira, tahu empan papan.
 
MANUSIA YANG TAHU UKURAN
Panas  badan dapat diukur dengan termometer, tetapi termometer tidak bisa digunakan untuk mengukur panasnya hati. Alat ukur panas hati adalah “tepa selira”. Alat ukur meningkatnya tekanan gas adalah manometer. Tetapi apakah alat ukur untuk meningkatnya tekanan hawa nafsu? Kembali “tepa selira” adalah jawabnya.
Orang yang memiliki rasa tepa selira, sekalipun hatinya panas dan nafsu amarahnya meningkat, pasti mampu menempatkan perasaannya, sehingga ia tidak tega berbuat kasar sekalipun ia benar.
 
TEPA SELIRA DAN KEMAJUAN JAMAN
Abad ke 21 sekarang ini disebud juga era perubahan, era globalisasi, era persaingan dan masih banyak lagi era era yang lain. Yang jelas manusia semakin maju, semakin berubah dan banyak semakin semakin yang lain pula. Yang semakin baik dan yang semakin buruk dua-duanya maju sama cepatnya.
Menggaris bawahi “kemajuan hal-hal buruk” dalam diri manusia, hal ini antara lain karena hilangnya “tepa selira” dalam kompetisi yang tidak sehat. Misalnya dalam mengejar keunggulan dan keluhuran. Keunggulan maupun keluhuran dimaksud hendaknya dicari dan kalau perlu dikejar dengan cara yang baik, bukan direbut dari orang lain dengan cara yang tidak betul.
Hanya orang yang sudah memiliki sifat “waspada” yang dikerata-basakan menjadi “awas” ing “pada” (“Pada” adalah tempat berhenti) yang mengerti kapan dan bagaimana ia harus bersikap dengan menggunakan alat ukur batinnya yang peka, yaitu “tepa selira”. Mudah-mudahan kemampuan mengukur batin ini masih belum tertinggal dan ditinggalkan. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST