Monday, June 4, 2012

TEPA SELIRA (1): PEGANGAN HIDUP BERMASYARAKAT

Ungkapan “Tepa Selira” sudah diadopsi Bahasa Indonesia. Semua orang tahu kalimat “Orang kok tidak tahu tepa selira”. “Tepa” dalam bahasa Jawa adalah ukuran, atau lebih lengkap adalah hal-hal yang dipakai sebagai ukuran. “Selira” adalah badan”. Jadi “Tepa Selira” adalah mengukur segala sesuatu disesuaikan dengan ukuran diri kita. Dalam bahasa Jawa ada juga ungkapan “tepa-tepa” yang artinya sama dengan “tepa selira”, pakai ukuran seumpamanya hal tersebut diterapkan pada diri kita sendiri. Sedangkan ungkapan “tanpa tepa” maksudnya adalah orang yang tidak punya “tepa selira”

Beberapa contoh mengenai “tepa selira” ini saya baca di “Gagasan Prakara Tindaking Ngaurip, bab Karya R Kartawibawa, Bab XVII, Dibisa tepa sarira, Balai Pustaka, 1921. Sederhana saja contohnya tetapi dapat menjadi rujukan. Isinya kurang-lebih sebagai berikut:

Hidup di dunia ini timbal-balik, balas membalas. Alangkah baiknya kalau dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak melakukan hal-hal yang kita sendiri ingin diperlakukan. Bila kita ingin melakukan sesuatu kepada seseorang, apakah berbicara atau bertindak sesuatu, tanyakan lebih dahulu pada diri kita sendiri. Suka apa tidak diperlakukan seperti itu. Bila tidak suka, lebih baik dihentikan saja, omongan atau tindakan yang akan kita lakukan. Bahkan pikiran dalam hati pun sebaiknya tidak kita lakukan. Walaupun tidak terlahir, tetapi getar hati dapat diterima oleh orang yang peka.

“Tepa Selira” adalah langkah baku dalam hidup bermasyarakat. Orang yang punya “tepa selira” dipandang sebagai orang baik, hidupnya akan selamat dan insyaallah tidak mendapat hal-hal tidak baik dari orang lain. Laku “Tepa Selira” luas penjabarannya. Contoh umum yang dapat kita lihat antara lain:

Bila kita berjalan membawa bawaan banyak dan berat, kemudian ada orang membantu dengan membawakan sebagian beban kita, hati kita pasti senang. Kenapa kita tidak memperlakukan yang sama kalau ada orang lain yang kelebihan beban. Mungkin kita gopoh-gopoh merebut tas yang dibawa boss kita. Tapi hati-hati apakah tulus niat kita, atau jangan-jangan kita mau ngathok?

Senang sekali saat bertamu disambut tuan rumah dengan ramah disertai suguhan makanan minuman yang enak. Mengapa kalau kita menerima tamu kita diamkan saja tanpa keramahan dan hidangan? Sementara kalau kita sendiri yang bertamu, aji mumpung kita gunakan. Sudah makannya banyak, masih nucuk ngiberake (membawa pulang makanan) tanpa permisi.

Kalau telinga kita merasa nikmat mendengar ucapan terimakasih, dan menjadi tidak nyaman kalau ada orang mengucapkan terimakasih hanya dalam bahasa yang ringkas tanpa bunga, mengapa mulut kita amat pelit untuk mengucapkan terimakasih atas hal-hal baik yang dilakukan orang kepada kita?

Ada orang bertanya, kita diamkan saja. Kalau kita memang suka dibegitukan ya tidak apa-apa. Tetapi kalau saat kita bertanya sesuatu kemudian diacuhkan sama yang kita tanya, lalu hati kita sakit dan menganggap orang itu tidak tahu adat, ya jangan begitu. Sesibuk-sibuknya kita, apa sih susahnya menjawab, kan hanya menggerakkan bibir dan lidah saja.

Kalau kita menyapa pimpinan kemudian didiamkan saja, di belakang kita akan mengumpat mengatakan pimpinan sombong, tidak menghargai orang kecil dan lain-lain umpatan yang tidak pantas didengar. Apakah kita juga berlaku sama kalau disapa orang yang kedudukannya lebih rendah dari kita?. Dalam soal sapa-menyapa ini mestinya tidak usah memandang pangkat dan kedudukan. Siapa melihat lebih dahulu, ya sebaiknya menyapa lebih dahulu.

Jadi: Menggunakan ukuran diri sendiri adalah indikator yang paling pas untuk mengukur tingkat tenggang-rasa kita. Belajar “tepa selira” mulailah dari hal-hal yang kelihatannya remeh, menyapa, mengucapkan terimakasih, berbagi, dan lain-lain. Kalau melakukan yang sederhana saja tidak bisa dan tidak biasa, bagaimana melakukan yang lebih besar? (IwMM)

Dilanjutkan ke Tepa selira (2): Alat ukur batin yang mulai ditinggalkan

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST