Tuesday, September 11, 2012

“LAMBE” (BIBIR) DAN UNGKAPAN JAWA

Sama-sama bagian tubuh manusia, “lambe” (bibir) yang dalam krama inggil disebut “lathi” mempunyai kedudukan istimewa karena lebih “sensitif gender” khususnya untuk bentuk bibir dan keindahan bibir kaum perempuan. Bagi yang laki-laki harap maklum. Dalam bahasa Indonesia pun demikian. Kita mengenal kata “bibirnya seperti delima merekah” maka ini adalah ungkapan pujian untuk bibir wanita. Belum lama ini saya ketemu teman yang orang Minang, dia mengatakan: “Kalau di tempat saya ada kata-kata bibirnya bak limau seulas”. Ini juga bibir indah untuk wanita, walau saya timpali juga: "Kalau seulas kan cuma satu, padahal bibir ada dua, atas dan bawah.
 
“Lambe” indah bukan monopoli orang Jawa. Semua bangsa di dunia memuja keindahan “lambe” dengan kriteria yang berbeda-beda. Ada suku bangsa di Afrika yang barangkali menurut pendapat kita merusak bentuk “lambe” karena bibir bisa dibuat sampai lebar seperti piring; tetapi bagi mereka di sana, mungkin itulah yang namanya “indah”.
 
Dalam urusan “lambe” ini barangkali ungkapan dalam bahasa Jawa yang paling kaya. Banyak kalimat yang menggunakan kata “lambe”. Mulai dari bentuk “lambe”, gerakan “lambe”, peribahasa, tembung entar dan sebagainya.
 
 
BENTUK BIBIR
 
Di bawah dapat dibaca 9 bentuk bibir menurut orang Jawa. Nomor 1, 2 dan 3 digunakan untuk “panyandra” wanita”, sedangkan no 4 sd 9 berlaku untuk pria dan wanita, sebagai berikut:

  1. DHAMIS: Bibir atas dan bawah ukuran sedang; pertemuan kedua bibir rapat dan pas, tidak ada yang menonjol
  2. NGGULA SATEMLIK:  Tipis + Dhamis
  3. NYIGAR JAMBE:  Ukuran bibir sedang, bibir atas dan bawah sama tebal-tipisnya
  4. GUGUT:  Bibir atas “cupet” (semacam kurang panjang atau lebar)
  5. DONGOS:  Bibir atas dan bawah “cupet”
  6. NGGANDHUL:  Bibir bawah agak besar
  7. NDOMBLE:   Bibir bawah Nggandhul + tebal + gusi bawah kelihatan
  8. NYONGOR:  Bibir lancip + tebal (ada yang menyebut NYUCUK)
  9. KOKOP:  Sudut bibir yang ada bekas penyakit patek (sekarang sudah amat jarang karena tidak banyak lagi orang yang kena penyakit patek atau frambusia)

WARNA BIBIR

Warna bibir yang umum adalah merah. Ada banyak cara untuk memerahkan bibir mulai yang tradisional sampai modern. Sekarang ini pewarna bibir tidak dimonopoli warna merah. Ada banyak warna pilihan. Walau demikian, merah tetap menjadi kriteria utama warna bibir yang indah. Dalam bahasa Jawa kita kenal ungkapan “lambene kaya MANGGIS KARENGAT”. Ini adalah bahasa “pepindhan”, membandingkan dengan barang lain. Dalam hal ini pembandingnya adalah manggis yang “rengat”. Rengat = retak. Kulit buah manggis yang retak (atau diretakkan) akan kelihat bagian dalam (dalam penampang lintang) kulit buah tersebut. Seperti itulah warna merahnya “manggis karengat”
 
 
PERILAKU BIBIR
 
Walaupun bibir ukurannya amat kecil dibandingkan tubuh manusia secara keseluruhan, tetapi gerakannya amat bervariasi. Gerak bibir terkait dengan bahasa tubuh, membawa getaran pesan yang mampu menimbulkan berbagai reaksi emosi. Beberapa contoh perilaku bibir adalah sebagai berikut:

1.   MESEM:  Tersenyum. Senyum menurut pengertian Jawa hanya gerakan mulut tanpa membuka mulut. Bila gerakan mulut hanya sedikit disebut “mesem pendhem”. Secara umum “mesem” adalah ungkapan hati yang sedang senang. "Mesem kecut" tentunya bukan senyum melainkan cemberut.

2.    MENCEP:  Menjep. Bibir bawah ditekuk sebelah. Menunjukkan kekecewaan. Dalam hal ini "suasana" perlu diperhatikan karena “mencep” juga bisa bermakna lain.

3.    NGEPRETI:  Menggerakkan bibir atas dan bawah sedemikian sehingga terdengar suara “pret”. Maknanya menunjukkan ketidak-percayaan (maido).

4.    MLECU:  Atau MECUCU. Bibir atas dan bawah dilancipkan ke depan. Menunjukkan kekecewaan atau kemarahan.

5.    NYAWETI:  Ngawet. Kebalikan dari “mlecu”. Disini bibir dilipat ke dalam, menyentuh gigi. Biasanya mata melotot. Menunjukkan orang yang sedang menahan emosi.

 

LAMBE (BIBIR) DALAM KIASAN DAN PERIBAHASA
 
Kiasan (tembung entar) yang menggunakan kata “lambe” cukup banyak. Karena menggunakan kata “lambe” tentunya maknanya terkait dengan pembicaraan. Sebagian besar sudah jarang kita dengar dalam pembicaraan sehari-hari.

1.    KURANG LAMBE: Artinya kurang bicara. Misalnya dalam rapat membahas sesuatu yang penting kita tidak banyak urun rembug.

2.   KEMBANG LAMBE: Jadi pembicaraan. Bisa karena kebaikannya maupun kejelekannya.

3.   ABANG-ABANG LAMBE: Bicara pulasan, tidak tulus dari lubuk hati yang sebenarnya.

4.   ENTHENG (TIPIS) LAMBENE: Suka membicarakan orang lain (ngrasani)

5.   KELAMBEN: orang yang banyak bicara tidak baik

6.   LAMBE SATUMANG KARI SAMERANG: Orang yang sudah terlalu banyak memberi nasihat, tetapi yang diberi nasihat tetap cuek. Digambarkan dengan “lambe” yang sebesar “tumang” (semacam ganjal atau tumpukan barang, tinggal “samerang”; merang: batang padi).

7.    AJINING DHIRI DUMUNUNG ANA ING LATHI: Dapat dibaca pada posting Ajining Raga Dumunung Ana Ing Busanadan Ajining Diri Dumunung Ana Ing Lati

 

PENUTUP
 
Demikianlah “lambe”. Dalam perjalanan hidup manusia akhirnya ia akan sampai pada pemahaman bahwa bukan bentuk bibir yang indah laksana ini atau bak itu yang menyejukkan hati, tetapi apa yang diucapkan bibir tersebut. Bibir terindah adalah bibir yang mampu amemangun karyenak tyasing sesama. (IwMM)
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST