Thursday, May 17, 2012

NJAGAKAKE ENDHOGE SI BLOROK

Si blorok adalah gambaran ayam betina kampung yang warnanya campur-campur karena bukan ayam ras. Biasanya tidak kita kandangkan. Kita lepas begitu saja, cari makan sendiri. Andaikan kita beri makan, ya seadanya. Mungkin sisa-sisa makanan, bahkan tinja manusia, bagi yang berak tidak di kakus tetapi di kebun, si blorok tidak menolak. Tanpa ditawari langsung ia serbu. Yang jelas si Blorok pasti bertelur (ngendhog) tapi tidak bisa kita pastikan seperti ayam ras. Lha wong dia cari makan sendiri, kalau majikan kasih makan ya tidak tentu, maka dia bertelur juga suka-suka dia sendiri. Kalau ada orang yang “njagakake” (mengharapkan) telurnya si blorok, risikonya tentu besar. Ya kalau hari ini bertelur. Kalau tidak?

Jaman judi buntut belum dilarang, banyak sekali orang yang njagakake endhoge si blorok ini. Dia begitu jakin nomor yang ditebaknya akan keluar. Bila dari ramalan-ramalan yang dia kotak-katik, dari jawaban jalangkung dan dukun yang ia datangi, semua mengarah pada nomor yang ia pilih. Maka ia berani utang dalam jumlah yang cukup besar supaya uang yang dia peroleh kalau tembus juga besar. Bahkan ia berani mengambil barang di toko, katakanlah televisi, karena yakin minggu depan semua beres. Ternyata waktu nomor diumumkan, tebakannya salah. Sekarang ia punya utang dan harus mengembalikan televisi yang telah dia ambil.

Contoh lain, ada rumor bahwa gaji pegawai akan naik 20% mulai tahun lalu. Dibayarkan bulan depan. Wah berarti akan ada rapelan 13 bulan. Langsung kita berhitung sekian kali sekian ketemu sekian. Wah cukup untuk beli sepeda motor. Bergegaslah kita ke dealer motor, Pinjam uang teman untuk DP. Langsung bisa dinaiki, di kampung jadi pembicaraan, gaji naik bisa beli sepeda motor. Ternyata bulan depan gaji tidak naik. Dia hanya korban April mop.

Pitutur dalam peribahasa ini adalah:  Manusia harus dalam menjalani hidup. Jangan kita mengandalkan hal-hal yang belum pasti, atau andaikan hal itu pasti, belum jelas kapan datangnya. Korban sudah cukup banyak. Sepeda motor dan televisi hanyalah contoh kecil. Ada yang lebih ambisius lagi, misalnya "jabatan". Ada juga yang menjadi gila.

Masih beruntung bahwa dalam hal ini banyak juga yang bisa mentertawakan diri sendiri dengan berparikan sambil garuk-garuk kepala: "Luwak mangan tales, dhasar awak lagi apes." Kemudian teman-temannya menasihati: "Sing uwis ya uwis, sing durung diati-ati." (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST