Saturday, May 12, 2012

NGUTHIK-UTHIK MACAN DHEDHE

 


 

Macan sebagai raja hutan tentunya personifikasi dari pemimpin. “Dhedhe” adalah berjemur, sehingga pengertian “macan dhedhe” secara harfiah adalah harimau yang sedang bermalas-malasan. Dalam penerapan "macan" sebagai sosok pemimpin, pengertian dhedhe disini adalah pimpinan yang sedang bersantai. Tidak harus santai berjemur di pantai. Bisa saja di ruang kerjanya saat tidak ada masalah, bisa saat minum kopi sehabis memberi pengarahan, pokoknya situasi relaks tanpa masalah. Adapun “nguthik-uthik” bisa diartikan mengganggu, atau memberi masalah.

Pernah saya tulis dalam Kutuk marani sunduk, ula marani gitik dan asu marani gebug bahwa hati-hati menghadap pimpinan. Kalau dipanggil pimpinan memang ceritera lain lagi. Kita harus siap menghadapi 3D: (1) diDangu artinya ditanya, (2) diDukani artinya dimarahi dan (3) diDhawuhi artinya diberi tugas.

Dalam kaitan dengan “nguthik-uthik macan dede” kita tidak harus dipanggil atau menghadap. Yang penting kita sedang bersama pimpinan yang sedang santai atau sedang tidak membahas suatu masalah. Karena kita yang nguthik-uthik berarti kita yang mulai.

Ini ceritera jaman dulu. Suatu saat saya mendampingi pimpinan ke daerah. Selesai sholat lohor, makan siang, beliau duduk santai sambil menikmati pemandangan di luar. Saya membuka pembicaraan: “Bapak, laporan yang kemarin sudah saya kirim ke pusat”. Maksud saya sih pamer kalau saya rajin.

Laporan yang mana?” Beliau terbangun dari kesantaiannya. Saya terlambat menyadari bahwa beliau justru menjadi terusik karena omongan saya.

Yang kemarin sudah Bapak periksa, kemudian ada sedikit perbaikan. Sudah diperbaiki dan karena Bapak sudah tandatangan pengantarnya maka pagi tadi sebelum berangkat, saya kirim”

Wah kalau begitu saya yang salah, tandatangan duluan. Kan sudah saya katakan, tunjukkan hasil perbaikan, baru kirim. Saya tandatangan dulu supaya proses penomoran surat lebih cepat”. Beliau kelihatan bersungut-sungut. “Bawa copy laporannya apa tidak?”

Untung saya bawa. Jaman itu walau sudah ada laptop tetapi belum banyak yang punya. Serta-merta saya tunjukkan beliau. Menyesal hati saya bahwa kemudian beliau menjadi serius mencermati kata demi kata. “Untung sudah bagus,” kata beliau, kemudian dilanjutkan: “Lain kali kamu jangan keminter. Bagaimana kalau saya belum pas dengan perbaikan yang dibuat?”

Saya hanya bisa mengatakan “Mohon maaf Bapak, tidak akan saya ulang”. Dalam hati saya berpikir, kalau saya tidak bicara hal ini, beliau juga tidak akan menanyakan. Saya telah Nguthik-uthik macan dhedhe. (IwMM)

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST