Monday, April 23, 2012

KEINGINAN YANG TERLALU TINGGI DALAM PARIBASAN JAWA

Dalam pitutur kumpulan 8 dapat dibaca bahwa “Mencapai cita-cita harus melangkah disertai nalar” sebagai berikut:

Sapa sing duwe panjangka kudu wani jumangkah, jer katekaning sedya iku mung bisa maujud menawa dilakoni lan ora nyimpang saka katekadane. Karep lan sedya, jangka lan panuwun, iku saumpama wong lelungan mono tumuju papan kang arep diparani utawa dijujug. Dene kekarepan iku kudu ana kanthine, yaiku nalar. Jalaran kekarepan tanpa nalar ora beda karo karepe bocah cilik. Kejaba tanpa teges, uga sok tanpa wasana, satemah ora ana dadine

TERJEMAHAN: Orang yang mempunyai cita-cita harus berani melangkah, karena tercapainya keinginan kita hanya bisa terwujud kalau dijalani dan tidak menyimpang dari tekad kita. Keinginan dan niat, waktu dan doa, semisal orang bepergian harus ditujukan kepada tempat yang akan kita datangi. Keinginan harus punya pengawal. Adapun pengawalnya adalah “nalar”, atau otak. Karena keinginan tanpa “nalar” ibarat keinginan anak kecil. Selain tanpa makna juga tanpa tujuan, hasilnya tidak tercapai

Masalahnya banyak orang mengejar sesuatu tanpa menggunakan nalar yang dapat diartikan akal sehat. Drajat, semat dan kramat dikejar tanpa deduga, prayoga, watara dan reringa maupun dengan perancanaan yang mengikuti pola Tata, titi, tatas, titis.

Banyak pitutur Jawa mengingatkan supaya manusia hidup nrima ing pandum  “sakmadya” saja atau secukupnya saja. Dalam peribahasa Jawa ada lebih dari 10 ungkapan yang mengkritisi perilaku manusia yang laksana “Punguk merindukan bulan” dengan hasil “besar pasak daripada tiang”.


CONTOH PARIBASAN

Peribahasa-peribahasa dengan mengunakan binatang, manusia dan tindakannya sebagai perumpamaan adalah:
  1. CECAK NGUNTAL CAGAK: Cagak adalah tiang. Cecak biasa nempel ditiang apalagi kalau dekat dengan penerangan untuk berburu serangga yang beterbangan di sekitarnya. Tetapi kalau si cicak mulai ingin menelan (nguntal) tiangnya, maka hal ini sudah berlebihan
  1. COCAK NGUNTAL ELO: Cocak adalah sejenis burung, termasuk kecil dengan paruh yang tentusaja kecil. Sementara Elo adalah sejenis pohon besar. Cocak bisa istirahat di pohon Elo, tetapi seperti si Cicak di atas, maka Cocak juga ingin nguntal (menelan) tempatnya bertengger jelas perilaku yang menertawakan'
  1. KODHOK NGUNTAL GAJAH: Kodhok atau katak adalah binatang kecil yang mulutnya terbilang lebar. Tapi selebar-lebar mulut kodok apa mungkin dia menelan (nguntal) gajah
  1. CEBOL NGGAYUH LINTANG, atau CEBOL NGGAYUH LANGIT: Tentusaja tidak mungkin. Yang tidak cebol saja tidak mampu. Oleh sebab itu dalam paribasan yang lain cukup dikatakan NGGAYUH TAWANG (Tawang: langit). Sebagai contoh ketika saya bercanda dengan teman: "Setelah pensiun aku mau nyaleg". Teman saya mengatakan: "Rak paribasan nggayuh tawang to mas. Ora duwe massa kok nyaleg".
  1. NJARING ANGIN, atau NJARING LANGIT: Jelas merupakan perbuatan yang tidak mungkin dilakukan oleh siapapun
  1. KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK: Sesuatu yang juga tidak mungkin bila atapnya kegedean tetapi tiangnya kurang. Dalam paribasan lain yang mirip, dikatakan KEGEDHEN ENDHAS KURANG UTEK. Kepalanya gede tetapi otaknya kecil
  1. KEROT ORA DUWE UNTU: Kerot adalah bunyi gesekan gigi waktu kita tidur. Supaya ada suara kerot membutuhkan gigi (untu). Ini juga sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.
  1. LUMPUH NGIDERI JAGAD: Orang lumpuh mengelilingi dunia. Perlu dicatat bahwa pada jaman dulu manusia kalau lumpuh maka benar-benar tidak bisa apa-apa kecuali di rumah saja. Untuk diterapkan pada masa sekarang peribahasa ini sudah kurang pas.

LIDING DONGENG

Intinya adalah jangan melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan atau di luar kemampuan manusia yang wajar. Orang lain pun akan tertawa dan mengatakan : Kok seperti KETEPANG NGGRANGSANG GUNUNG, ORONG-ORONG NGGOTONG GENTHONG, atau  GUREM THETHEL-THETEL. Bila modal memang cupet, buat apa mikir macam-macam yang terlalu tinggi.  NGENTENI TIMBULE WATU ITEM, NGENTENI KEREME PRAU GABUS hasilnya hanya frustrasi. Akibatnya kalau tidak kena serangan jantung ya sakit gila.

Pitutur Jawa melalui pupuh Dhandanggula mengingatkan” “Eling eling pra kadang den eling; Uripira ing donya tan lama; Bebasan mung mampir ngombe; Cinecep nulya wangsul; Mring asale sangkane nguni; Begja yang wus pana; Sangkan paranipun; Dedalan kang den ambah; Mrih rahayu lumampah margi utami; Sejatining kasidan”.

Kurang lebih terjemahannya: Ingatlah sahabat ingatlah selalu; Hidupmu di dunia tidaklah lama; Ibarat hanya mampir untuk minum; Selesai minum langsung pulang; Ketempat asal-usulmu; Beruntunglah yang sudah paham; Asal usul kita; Jalan yang harus ditempuh; Supaya selamat menapaki jalan yang utama; Menuju kehidupan abadi. (IwMM)

No comments:

Recent Posts

POPULAR POST