Thursday, February 2, 2012

SATRU MUNGGING CANGKLAKAN

 

Satru: musuh; Munggging: berada di, bertempat di; Cangklakan: ketiak.

Terkait dengan posting sebelum ini: Yitna Yuwanan Lena Kena maka salah satu yang kita harus “prayitna” adalah menghadapi “satru” atau musuh.

Ada dua pengertian tentang “Satru mungging cangklakan” ini atau kalau kita terjemahan kata-perkata artinya adalah “musuh berada di ketiak kita”.

PERTAMA:  ketiak kalau digeser sedikit ke tengah adalah dada kita. Dengan demikian “Satru mungging cangklakan” diartikan sebagai: Musuh utama kita adalah diri kita sendiri, hawa napsu kita sendiri. Banyak sekali pitutur Jawa yang memberikan pituduh “laku” untuk melawan diri-sendiri ini, karena memang amat sulit dan paling sulit dari semua musuh. Ada pitutur yang mengatakan:

Sapa kang bisa nelukake musuh-musuhe, dheweke diarani kuwat. Ananging sapa kang bisa nelukake awake dhewe, dheweke iku kang luwih kuwat maneh

TERJEMAHAN: Siapa yang bisa mengalahkan musuh-musuhnya dia disebut kuat. Tetapi siapa yang bisa mengalahkan dirinya sendiri dialah yang lebih kuat

KEDUA: Posisi “Cangklakan” atau ketiak dekat sekali dengan badan. Kalimat “mungsuh mungging cangklakan” berarti musuh itu adalah orang yang dekat sekali dengan kita. Kalau kita ikuti sejarah, baik sejarah dunia maupun sejarah nasional, bila terjadi perang saudara, kebanyakan yang berperang adalah orang-orang yang sebenarnya dekat, bahkan saudara kandung pun bisa bermusuhan. Dalam jabatan “kepala” dan “wakil” ada komentar-komentar yang kalau diterjemahkan maka “wakil” seolah-olah dipojokkan menjadi saingan “kepala” kemudian dianggap “satru mungging cangklakan”. Kasihan sang ‘wakil” kalau begini.

Dalam kasus yang  jauh lebih sederhana dibandingkan perang saudara, bila terjadi pencurian sampai pembunuhan, yang pertama dilakukan polisi adalah menanyai orang-orang yang dianggap dekat. Biasanya pula setelah ketemu, ternyata maling atau pembunuhnya kebanyakan bukanlah orang-orang jauh.

Kembali kita diminta untuk “prayitna”. Jadi kepada teman pun harus prayitna? Jawabnya “Ya” sepanjang “tidak mengartikan” prayitna sebagai curiga. Di bawah ini kutipan “quotes” dalam bahasa Inggris sebagai pembanding:
  1. Friends may come and go, but enemies accumulate. Thomas Jones (1892 - 1969). Menunjukkan bahwa teman bisa datang dan pergi tetapi musuh terakumulasi.
  2. Reveal not every secret you have to a friend, for how can you tell but that friend may hereafter become an enemy. And bring not all mischief you are able to upon an enemy, for he may one day become your friend. Saadi (1184 - 1291). Disini rahasia jangan diberitahukan walau kepada teman. Suatu saat ia menjadi musuh, akan menyusahkan kita. Jadi yang namanya “curhat” ya harus hati-hati, walau kepada teman dekat.

“Satru mungging cangklakan” hanyalah sekedar peringatan bahwa musuh yang seperti itu ADA. Tetapi sikap “prayitna” yang bergeser menjadi curiga kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja adalah salah satu gejala penyakit jiwa yang disebut “Waham Curiga”. Hidup memang susah” (IwMM)

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST