Saturday, March 31, 2012

SERAT WULANG REH: ORANG “NGGUNGGUNG” TENTU ADA MAUNYA


Pada tulisan Serat Wulangreh: Jangan jadi orang gunggungan telah dijelaskan bahwa “ngunggung” adalah perilaku suka memuji yang berlebihan. Dasanama lain masih dalam bahasa Jawa juga adalah “Ngumpak” atau "mbombong". 

Sri Susuhunan Pakubuwana IV kelihatannya amat gemas dengan orang “gunggungan” sehingga dikatakan kalau sudah dipuji-puji badannya membengkak seperti bisul mau pecah .... yen den gunggung muncu-muncu, kaya wudun meh mecothot (Pupuh Gambuh, bait ke 12)

Terhadap orang yang suka “nggunggung” Sri Susuhunan semakin menjadi-jadi geregetennya. Dalam Pupuh Gambuh bait ke 15 di bawah disebutkan:


Terjemahan bebasnya:

Orang seperti itu tidak pantas dekat dengan orang besar, tak urung akan menuntun ke perbuatan tidak baik, tetapi ada yang pantas, orang seperti tu selayaknya digiling. (dheplok: menumbuk atau menggiling dengan alu atau “pipisan” sampai halus)
 
Mengapa orang yang suka "nggunggung" layak didheplok?  Pada Pupuh Gambuh bait ke 13 disebutkan:


 

Terjemahan bebasnya:

Orang yang selalu nggunggung, pamrihnya hanya sepele, hanya untuk kenyangnya perut, mengkilatnya bibir dan basahnya kerongkongan. Memberi (pujian) dengan pamrih adalah perbuatan manusia yang jelek.

Catatan: (Ruba - Reruba: adalah memberi dengan pamrih pribadi. Termasuk memberi pujian dengan pamrih)
Perilaku “nggunggung” pada umumnya ditujukan pada orang yang lebih tinggi kedudukannya, minimal setingkat. “Nggunggung” kepada orang yang berkedudukan lebih tinggi termasuk perbuatan ngathok. Bila kita pejabat, hati-hati. Jangan sampai menjadi pejabat yang gunggungan. Nggunggung sesama teman dengan tujuan mengerjai adalah permainan sehari-hari. Jangan lupa pula bila kita adalah “orang tua” jangan sampai secara tidak sadar mendidik anak kita menjadi bocah yang gunggungan. Kita sering melakukan itu.
Kepada orang yang suka nggunggung selain Sri Susuhunan memarahi dengan mengatakan ..... nanging ana pantesipun, wong mangkono didhedheplok beliau juga memberi pitutur dalam Pupuh Gambuh bait ke 17:

Terjemahan bebasnya:
Kamu jangan begitu, kelakuan yang seperti itu akan diingat dan ditandai, oleh teman, sanak dan saudara, tidak akan ada yang percaya.

Ya, pada akhirnya orang yang suka nggunggung akan dijauhi dan dikucilkan dari pergaulan (IwMM)

Thursday, March 29, 2012

SERAT WULANGREH: JANGAN MENJADI ORANG "GUNGGUNGAN"


Orang “gunggungan” adalah orang yang suka dipuji-puji, dalam dasanama Jawa yang lain disebut orang “bombongan” atau "umpakan". Kalau sudah dipuji-puji maka lepaslah remnya. Tidak hanya lepas uangnya kalau ia orang berduit, tetapi juga lepas mulutnya sehingga rahasia pribadi bahkan rahasia negara pun bisa keluar. Orang yang suka “nggunggung” adalah orang yang suka memuji berlebihan. Obyek pujian banyak, apapun bisa dipakai untuk memuji walaupun sering tak sesuai dengan kenyataan. “Wah anda tambah cakep dengan baju ini” padahal sebenarnya bukan tambah gagah. Bajunya mahal tetapi tidak serasi.


PESAN UNTUK YANG SUDAH JADI ORANG

Dalam hal ini Sri Pakubuwana IV menngingatkan melalui Serat Wulangreh pupuh Kinanti bait ke tiga:


Terjemahannya bebasnya sebagai berikut:

Kalau sudah menjadi orang besar (tinitah wong agung), jangan gunggungan. Jangan dekat dengan orang yang tidak baik kelakuannya. Tak urung akan ajak-ajak dan akhirnya tertular kejelekannya.

Orang besar harus hati-hati karena pasti banyak jadi sasaran para penggunggung, yang mempunyai motif pribadi. Kalau ia punya sifat gunggungan, begitu dapat gunggungan ia menjadi lemah dan mudah dipengaruhi.


PESAN UNTUK KAWULA MUDA

Di atas adalah peringatan untuk seorang yang sudah jadi “orang”. Tentusaja amat bahaya kalau seorang petinggi punya sifat gunggungan. Tidak hanya kepada orang besar, Sri Sunan Pakubuwana IV justru lebih banyak berpesan tentang sifat “gunggungan” ini kepada kawula muda. Masih dalam pupuh Kinanthi, pada bait ke delapan, kemudian pada pupuh Gambuh bait ke 10 dan 11 disebutkan sebagai berikut:


Adapun Terjemahan pupuh Kinanthi bait ke delapan:

8. Dan orang-orang muda pada masa sekarang ini, sifat rendah hati  ditinggalkan, suka digunggung, sombong dan merasa hebat sendiri (kumenthus dan kumaki)

Cukup keras peringatannya. Masih dilanjutkan lagi dalam Pupuh Gambuh terkait dengan sifat Adigang Adigung Adiguna pada bait ke sebelas dan duabelas, dengan  terjemahannya sebagai berikut:

11. Ketiganya (maksudnya: Adigang Adigung Adiguna) tidak pantas, kalau ditiru akan jadi salah. Tanda-tandanya adalah anak muda yang tidak bisa simpan rahasia, suka digunggung, dan akhirnya terjerumus.

Sedangkan terjemahan bait ke 12:

12. Anak muda yang terlalu gunggungan, menjadi amat tolol (kumprung), kosong (pengung)dan bingung, akhirnya terguling. Kalau digunggung ia akan membengkak (muncu-muncu)seperti bisul yang hampir pecah.

Jelas sekali dikatakan bahwa orang yang termakan “gunggung” akan hilang akalnya. Tapi digunggung itu nikmat, jadi kita akan terlena dibuatnya. Sri Sunan menggambarkan orangnya  membengkak seperti bisul yang akan pecah.

Kita sendiri juga sering memberi gambaran hampir sama. Kalau ada orang “menggunggung”, kita katakan “wah topiku sesak”. Bila orang itu tahu diri maka ia akan menghentikan “gunggungannya” Yang jelas, kita harus hati-hati karena tidak ada orang “menggunggung” tanpa maksud. Penjelasannya pada tulisan selanjutnya, Serat Wulangreh: Orang Nggunggung tentu ada maunya. (IwMM)

Wednesday, March 28, 2012

SERAT WULANGREH: PERBUATAN BAIK MENGAWALINYA BERAT

Pada tulisan Serat Wulangreh: Anak muda jangan bergaul dengan orang jahat telah dijelaskan bahwa Panggawe ala puniki, sok weruha nuli bisa, begitu tahu langsung mampu melakukan, maka masih dalam Serat Wulangreh, Pupuh Kinanthi bait ke tujuh, Sri Pakubuwana IV mengingatkan:

Panggawe becik puniku, gampang yen wus denlakoni, angel yen durung kalakyan, aras-arasen nglakoni, tur iku den lakonana, mupangati badaneki

Terjemahan bebasnya sebagai berikut:

Perbuatan baik itu, mudah kalau sudah kita lakukan, susah kalau belum dilaksanakan, malas untuk menjalaninya, laksanakanlah hal tersebut, karena bermanfaat untuk dirimu

Tentunya kita setuju dengan pesan tersebut. memulai perbuatan baik pada awalnya memang berat. Masih anak-anak dulu kalau mau sholat Subuh pada waktu Subuh rasanya amat enggan. Kalau kita bergaul dengan orang yang enggan bangun pagi, pasti kita tidak akan pernah sholat tepat waktu. Bershodaqoh kalau tidak dididik sejak kecil rasanya sayang menyisihkan sebagian uang jajan (harta anak-anak adalah uang jajan). Kalau kemudian kita bergaul erat dengan orang yang tidak mau menyisihkan sebagian hartanya untuk kaum duafa maka kita akian menjadi pelit seumur hidup.

Masih banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari bahwa berbuat baik awalnya berat. Menjadi donor darah sifatnya sukarela, artinya bagi orang yang sukar untuk rela tidak ada masalah. Tetapi ada orang-orang yang menyumbangkan darah secara berkala sampai lebih dari seratus kali. Banyak yang awalnya ragu-ragu. Tetapi setelah dilaksanakan, banyak yang termotivasi untuk menjadi pedonor tetap.

Di dunia ini kita dihadapkan pada dua kutub perbuatan: Buruk dan yang baik. Dekat dengan orang buruk kita akan tertular buruknya. Demikian pula dekat orang baik kita akan ikut jadi baik. Itulah ang ditekankan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana IV melalui pupuh Kinanthi bait ke 6 dan 7:

Panggawe ala puniki, sok weruha nuli bisa (Pupuh Kinanthi bait ke enam) dan Panggawe becik puniku, gampang yen wus denlakoni, angel yen durung kalakyan (Pupuh Kinanthi bait ke tujuh)
 
Berarti peluang kita untuk menjadi jahat lebih besar daripada menjadi baik. Oleh sebab itu Sri Susuhunan Pakubuwana IV mengingatkan kita semua, khususnya kawula muda. Pesan ini masih termasuk rangkaian pitutur bagi kawula muda. Mumpung masih muda, bulatkan tekad: Ulat madhep ati mantep untuk berbuat kebajikan. "Madhep" dalam arti mengarahkan diri dengan sungguh-sungguh ke kiblat yang kita tuju. "Mantep"  sebagai manifestasi tekad yang kuat dan teguh yakin dan percaya pada pilihan kita. Insyaallah "Karep" kita untuk berbuat baik akan terlaksana. (IwMM)
 

Monday, March 26, 2012

SERAT WULANGREH: ANAK MUDA JANGAN BERGAUL DENGAN ORANG JAHAT


Merujuk posting “Aja Cedhak Kebo Gupak” yang arti harfiahnya kalau kita dekat-dekat kerbau (yang baru keluar dari kubangan atau baru membajak sawah) pasti akan “gupak” atau terkena lumpur yang melekat di badan kerbau.

Demikian pula kalau kita bergaul dengan orang jahat, kuranglebihnya kita akan ikut menjadi jahat. Arti yang sama terdapat dalam peribahasa “Aja cedhak celeng boloten” atau babi hutan yang penuh daki. Kita pasti akan kena bolotnya.

Sri Susuhunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh, banyak memberi pitutur kepada kawula muda, salah satunya adalah mengenai teman bergaul. Dalam Pupuh Kinanthi bait ke lima disebutkan:


Terjemahan bebasnya kurang-lebih: Kalau orang muda sudah pasti, ikut kepada yang menghadapi, kalau yang menghadap banyak bangsat, tak urung akan ikut berbuat tidak baik, kalau yang menghadap banyak durjana, tak urung jadi maling.

Catatan: (1) Juti: tidak baik, perbuatan tidak baik (2) Bangsat (orang jahat) (3) Durjana: arahnya ke pencuri

Kalau iman kita kuat apa tidak boleh dekat-dekat? Ya kalau iman kita sudah kuat dan tujuan kita mendekat adalah untuk menyadarkan mereka yang jahat, itu ceritera lain. Tetapi nasihat umum kepada kawula muda secara keseluruhan yang ketebalan imannya masih bervariasi tentusaja "jangan mendekat". Semacam “primary prevention” pada ilmu kedokteran pencegahan. Mencegah lebih mudah daripada mengobati.

Penjelasannya ada pada bait ke enam sebagai berikut:


Terjemahan bebasnya kurang-lebih:

Walaupun tidak ikut, pasti jadi tahu kelakuan maling, seperti itulah semua, perbuatan buruk itu, begitu melihat langsung bisa, itulah tuntunan iblis

Dijelaskan bahwa kalau kita bergaul dengan orang jahat, begitu tahu seperti apa, kita langsung mampu melakukannya. Ada peran iblis yang senantiasa menggoda manusia. Oleh sebab itu jangan berteman dengan orang jahat. Bukti statistik memang tidak ada, tetapi pengalaman mengatakan demikian, seperti disebut dalam bait ke sepuluh sebagai berikut:


Terjemahan bebasnya:

Ceritera yang sudah terjadi, perbuatan buruk dan baik, tindakan benar dan tidak benar, ada di dalam ceritera ini, maka disebut ceritera, semuanya untuk diketahui.

Liding dongeng, kawula muda hati-hatilah dalam memilih teman. Perbuatan jahat memulainya memang mudah, sementara perbuatan baik mengawalinya berat (IwMM)

Sunday, March 25, 2012

ANDUM AMILIH: YANG MEMBAGI MILIH DULUAN

Ungkapan yang amat sederhana ini “Andum amilih” saya dapatkan di Kalawarti “Kejawen”, terbitan Balai Pustaka, tanggal 26 April 1930. kata yang jarang kita jumpai lagi dalam tulisan jaman sekarang walau perilaku “Andum amilih” masih lestari sampai saat ini. Andum adalah membagi. Amilih sama dengan memilih. Pengertiannya: “Orang yang membagikan sesuatu, memilih duluan”.


MEMILIH YANG PALING BAGUS


Tentusaja manusia akan memilih yang paling baik untuk dirinya. Kalau  yang dibagikan adalah "benda" maka ia akan memilih yang paling bagus. Kalau yang dibagikan "pekerjaan/tugas" maka ia akan memilih yang paling ringan atau risikonya paling kecil. Demikian pula kalau yang dibagikan "makanan", ia pasti memilih yang paling enak, atau yang ukurannya paling besar.''

Watak seperti ini sudah barang tentu tidak baik. Orang yang diberi kepercayaan untuk membagi adalah orang yang dipercaya dan sudah seharusnya memiliki sifat adil. Masalahnya memang sulit untuk menjadi orang adil. Ada juga pendapat yang mengatakan hal tersebut “manusiawi”. Mana ada orang tidak tergoda, membagi sesuatu sementara dirinya juga termasuk orang yang mendapat bagian. Kalau mau adil, mestinya tugas “andum” ini diberikan kepada orang yang tidak punya kepentingan dengan barang yang harus dibagi.

Membagi sama persis memang amat sulit, demikian pula adil memang tidak harus persis sama. tapi kalau kita harus membagi katakanlah buah “Mangga” maka pasti kita akan memilih yang paling bagus lebih dahulu, baru selebihnya kita bagikan. Demikian pula kalau ada “Kain Sarung” sepuluh potong dan harus kita bagi, maka kita pasti akan pilih dulu yang motifnya paling bagus. Dalam perjalanan dinas pun demikian. Kalau kita yang membagi tugas sementara kita juga ikut supervisi, maka kita pasti pilih tempat yang paling enak

Perilaku “Andum amilih” tidak melihat gender, umur maupun kedudukan. Anak-anak, perempuan atau laki-laki, orang berpangkat atau orang rendahan setali tiga uang, hanya jenis dan bobotnya berbeda. Orang dewasa pasti punya tehnik dan taktik “Andum amilih” yang kelihatan lebih sopan. Tapi jangan dikira anak-anak tidak punya akal yang lebih licin.


KISAH TIGA ANAK

Adalah  tiga anak, sebut saja namanya Amril, Badu dan Coki, memandang pisang goreng di piring dengan perasaan harap-harap ingin. sayangnya ada masalah, bahwa  pisang hanya dua potong sementara mulut yang menunggu ada tiga. Setelah beberapa saat ke tiga pasang mata mereka saling pandang, Amril bergerak memanggil inisiatif. Satu pisang dia potong dua, kemudian ditawarkan kepada Badu untuk memilih potongan yang mana. Hal sama dilakukan untuk pisang satunya lagi, ditawarkan kepada Coki. Badu dan Coki puas karena hak pilihnya dihormati”. Sementara Amril cepat-cepat memasukkan pisang ke mulutnya sebelum Badu dan Coki sadar bahwa Amril sebenarnya memegang dua potong pisang (IwMM)


Friday, March 23, 2012

TULADHA DARI "ULER" (ULAT)

“Uler” (ulat) oleh Ki Padmasusastra ngabehi Wirapustaka dalam Serat Madubasa, 1912, dijadikan contoh makhluk angkara yang bertaubat, diterima taubatnya dan dinaikkan derajatnya oleh Allah. Lengkapnya adalah sebagai berikut:

Uler dadi amaning tetanduran, ngrikiti godhong nganti pundhes, tanpa welas marang wit kang nguripi awake, suprandene bareng tekaning mangsa tuwa eling marang panggawe becik, tobat maring Pangeran, tapa brata nyuwun pangapura: angenthung, lawas-lawas narima ambabar dadi kupu, bisa ngambah ing gegana sarta salin pakareman mung ngisep maduning kusuma, gek kepriye yen manungsa kang duwe kalakuan ala ora bisa mari nganti tumeka ing pati, apa kalah karo pakartining khewan cilik.

Terjemahannya:

Ulat menjadi hama tanaman, memakan dedaunan sampai tandas, tanpa kenal ampun kepada pohon yang menghidupi dirinya. Walau demikian, pada hari tua si ulat ingat akan perbuatan baik, ia bertaubat kepada Tuhan, bertapa memohon ampunan, berubah menjadi kepompong, lama kelamaan berubah menjadi kupu-kupu, bisa terbang dan berubah perilaku, hanya mengisap madunya bunga. Lalu bagaimana dengan manusia yang punya kelakuan tidak baik, tidak bisa berhenti sampai mati. Apa kalah dengan perbuatan binatang kecil.

Marilah kita lupakan sejenak bahwa proses metamorfose ulat menjadi kupu-kupu memang demikian. Tapi marilah kita lihat bagaimana orang dulu melihat alam dan gejalanya kemudian mengambil perumpamaan untuk manusia. Ulat yang rakus, kemudian sadar, lalu mesu sarira, dan memetik hasilnya menjadi makhluk yang indah dengan perilaku yang terpuji pula. Yang semula merusak, sekarang memperbaiki dengan membantu penyerbukan.

Bagaimana dengan manusia? Ada peribahasa yang mengatakan bila manusia sudah “ngrasakake legining gula”, tahu merasakan manisnya gula, maka ia tidak ingin kehilangan gula itu. Ia akan berupaya, apapun supaya gula yang manis tetap dapat ia kulum. Lupa bahwa ada saatnya kebanyakan gula membuat manusia sengsara, ketika ia kena sakit kencing manis.(IwMM).

Thursday, March 22, 2012

KECANDUAN: TULADHA DARI KERA, RAKSASA DAN KEONG

Masih tentang kecanduan dan masih tentang kera. Dua zat adiktif yang banyak dikonsumsi manusia adalah alkohol dan candu (opium). Sekarang lebih banyak lagi jenisnya, tetapi jaman dulu alkohol dan candu lah yang umum.

Kontribusi kera dalam mabok MIRAS dapat dibaca pada Sepuluh tahapan orang mabok miras. Di situ disebutkan bahwa posisi kera ada pada tahap ke empat. Perlambangnya “Catur Wanara Rukem” (Catur: empat; Wanara: Kera; Rukem: makanan atau buah-buahan). Pengertiannya setelah menyelesaikan sloki ke empat maka perilaku manusia digambarkan seperti kera berebut buah-buahan. Pasti heboh tentunya.

Kecanduan OPIUM digambarkan dalam tiga tahap, Sumbangsih kera ada pada posisi pertama dari tiga tahap: “Wanara, Diyu dan Kul” (Wanara: Kera; Diyu: Raksasa; Kul: Keong):


TAHAPAN WANARA, DIYU DAN KUL

(1) “WANARA” (kera) digambarkan sebagai makhluk yang banyak akalnya. Cari opium tidak gampang, liku-likunya panjang karena jalurnya pasti illegal. Harganya pun tidak murah. Orang kecanduan akan menggunakan secara tetap dan dosisnya makin lama makin meningkat. Sejalan dengan meningkatnya dosis, kebutuhan uang untuk beli candu akan meningkat pula. Harus banyak kiat dan taktik untuk mendapatkan uang. Mulai dari menipu, mencuri bahkan merampok. Korbannya tidak hanya orang luar, keluarga sendiri pun  bisa kena. Dibutuhkan akal "kera" dalam hal ini.

Setelah candu diperoleh dan manusia mulai mengisap maka tumbuhlah sifat  (2) “DIYU” (raksasa) sebagai gambaran makhluk angkara yang maunya memperoleh semua yang dimaui. Alhasil semua tercapai dalam kedamaian maboknya: :Kamukten dan kaswargan” walau sekedar dalam dunia maya.

Akhirnya manusia betul-betul mabok, maka sekarang dia menjadi (3) “KUL” (keong) yang tidur meringkuk dalam rumah keongnya. Samasekali tidak berdaya, tidak mampu melakukan apa-apa lagi.

Wanara, Diyu dan Kul tiga hal yang tidak ada manfaatnya samasekali. Diri sendiri rusak, demikian pula di masyarakat, ia tanpa guna. Pemerintah berupaya keras untuk mengatasi hal ini. Menghilangkan sumber kecanduan dan memulihkan orang kecanduan. Tetapi orang yang kecanduan sendiri juga harus punya tekad untuk berhenti, karena kecanduan merusak jasmani dan rohani.


LIDING DONGENG

Kita balik lagi ke kera dalam kondisi lain. manusia  jangan sampai kalah sama kera. Charles Darwin konon mengatakan: “An American monkey, after getting drunk on brandy, woud never touch it again, and thus is much wiser than most man”. Monyet Amerika setelah satu kali mabok brandy tak akan mau lagi menyentuh brandy. Jadi: kera lebih bijak daripada kebanyakan manusia”

Teman saya Tony mengomentari: “Iya mas, itu kan kera Amerika, disebut Amerikan monkey. Kera mas Iwan kan kera Jawa, sebutannya Wanara”. Ya lain dong. (IwMM)

Tuesday, March 20, 2012

“KERA” DALAM PARIBASAN JAWA

Kera mestinya menarik. Paling tidak kelakuannya lucu. Kadang-kadang saya berpikir kera itu meniru kelakuan manusia, manusia yang meniru kera atau keduanya sudah dari sononya begitu? Kalau Darwin memang mengatakan kita (manusia) dan kera adalah satu asal usul. Celakanya bahasa Jawa agak mendukung dalam hal ini: Kalau kita bicara nama anak binatang dalam bahasa Jawa, maka anak kera disebut “Kowe” (Kowe dalam bahasa Indonesia adalah “Kamu” atau kalau mau sedikit lebih sopan “anda).

Ada “sisi lucu”nya kera. Oleh sebab itu di Jawa Tengah ada “Ledhek Kethek”, di Jawa Timur namanya menjadi “Tandhak Bedhes” sementara di Jakarta dikenal dengan “Topeng Monyet”. Memang bedanya dengan yang di Jawa Tengah dan Jawa Timur, monyet Jakarta pakai topeng. Barangkali monyet Jakarta yang metropolis sudah lebih mengerti “malu” daripada rekannya yang di daerah sehingga perlu pakai topeng.

Menurut “Fabel Aesop” pada waktu Dewa mau mengisi bumi dengan makhluk hidup, aslinya kera ditugasi untuk menghibur manusia. Tapi kera tidak semanis itu. Hati-hati dengan kera Baboon di Afrika. Memang yang satu ini wajahnya sangar dan kelakuannya ganas. Di Jawa kera juga bisa menjadi hama yang merusak sekaligus menghabiskan tanaman Petani. Bahkan beberapa waktu yang lalu kita baca di koran tentang kasus-kasus serangan kera kepada manusia. Fabel Jawa tentang kera juga tak ada yang berceritera bahwa kera itu baik, malah sebaliknya, seperti ceritera di bawah:

Pada masa harimau belum makan daging, maka harimau dan kerbau adalah sahabat karib. Suatu saat datanglah kera yang membujuk harimau. Kenapa hanya makan serangga dan dedaunan padahal daging kerbau itu enak. Awal mulanya bujukan kera diabaikan, lama-lama masuk juga. Dimakanlah kerbau oleh harimau.

Ada juga ceritera kera yang kesulitan menyeberang sungai. Untung ada kura-kura yang mau bantu. Apesnya sampai di seberang bukan terimakasih yang diperoleh kura-kura melainkan kera mau makan hati kura-kura.

Dari tiga peribahasa tentang kera, yang pertama “Kaya Kethek Ditulup” sudah saya tulis. Yang ini tidak berceritera tentang kejelekan kera melainkan “tolah-tolehnya” kalau tidak “dhong” apa yang terjadi. Tapi yang dua di bawah ini menyebutkan bahwa kera itu “jahat”

1.    Kethek saranggon (ranggon: semacam rumah di atas tiang di hutan) menggambarkan sekumpulan orang jahat. Janganlah kita dekat-dekat sama mereka.

2.    Rampek-rampek kethek (Rampek-rampek: Dalam pengertian bahasa Jawa yang lain rampek-rampek = nyanak-nyanak, mendekati, supaya mendapat perhatian). Pengertiannya adalah: Orang jahat mendekati kita seolah-olah dia baik, padahal saat kita lengah ia akan berbuat kejahatan pada kita.

Kera kalau tidak jahat ya nakal. Waktu bertugas di pedalaman Afrika, teman Afrika saya selalu mengingatkan supaya hati-hati dengan barang-barang saya seraya menunjuk ke atas pohon. Kera juga bisa menularkan Rabies. Jadi kalau piara kera di rumah, supaya tidak lupa di vaksinasi anti Rabies.
 

LIDING DONGENG

Seorang teman protes. “Lha kamu baru saja menulis tentang profesionalisme Hanuman dalam Yen wania ing gampang wedia ing ewuh sebarang nora tumeka. Saya sudah punya jawabnya. Pertama, Hanuman berwujud kera karena kesalahan orang tuanya waktu berebut Cupu Manik Astagina. Akhirnya Ibunya (Dewi Anjani) dan kedua Oomnya (Sugriwa dan Subali) berubah menjadi kera. Kedua, ayah Hanuman adalah Batara Guru, bossnya Dewa. Jadi hanuman itu 50% Dewa, 25% Manusia dan 25% Kera.

Kesimpulannya, janganlah kita masuk dalam lingkungan “kethek saranggon”. Demikian pula kita harus senantiasa waspada dengan orang yang “rampek-rampek kethek”, karena kalau tidak dijahati ya akan ketularan jahat. (IwMM)

Monday, March 19, 2012

“GEMI DAN NASTITI” TIDAK SAMA DENGAN PELIT

Pitutur supaya “Gemi dan Nastiti” sering diberikan kepada perempuan. Mungkin karena posisi perempuan secara umum adalah “Kepala Staf” dalam Komando Rumah Tangga. “Gemi dan Nastiti” adalah satu kesatuan. Yang pertama bagaimana kita menyimpan dan yang kedua bagaimana kita menggunakan. Kadang-kadang masih diperkuat lagi sehingga menjadi “Gemi, Nastiti dan Ngati-ati”. Sebenarnya “gemi mengandung unsur “Nastiti” dan “Nastiti”mengandung unsur “Ngati-ati”.


GEMI

Orang tua dahulu mendidik anaknya agar “gemi” melalui “nyelengi” atau menabung. Celengan jaman dahulu beraneka-ragam bentuknya. Mulai yang paling sederhana dari buluh bambu yang diberi lubang pas untuk dimasuki uang krincing (coin) sampai ke celengan grabah dengan macam-macam bentuk: Kendil, Gajah, Ayam, bahkan wayang seperti Gatotkaca. Kalau pas “Sekatenan” di Yogya atau Solo celengan semacam itu masih banyak dijual dan pembelinya masih banyak. Anak-anak menabung dengan menyisihkan uang jajan. Nanti kalau sudah penuh celengan dipecah (tak ada cara lain seperti celengan jaman sekarang yang bawahnya diberi tutup yang bisa dibuka).

Gemi untuk ukuran orang dewasa adalah pandai menyimpan dengan menghindari penggunaan yang tidak perlu. Dengan demikian pengeluaran tidak berlebih-lebihan,sehingga tetap tampil “prasaja” sekaligus tidak “besar pasak daripada tiang”. Untuk itu diperlukan sifat “Nastiti”


NASTITI

Nastiti adalah kecermatan pengelolaan anggaran. Kepiawaian mengatur pos-pos pengeluaran sesuai dengan pemasukan dengan memperhitungkan hal-hal yang tidak terduga. Berarti harus cari celah supaya bisa menabung (kembali ke: gemi). Belum cukup sampai disini, masih ditambah lagi dengan satu pesan NGATI-ATI. Pertimbangkan lagi dan perhitungkan kalau terjadi “kontingensi”. Ngati-ati juga bukan perhitungan yang terlalu ndakik-ndakik yang akhirnya justru rugi seperti peribahasa cincing-cincing klebus.


BUKAN PELIT

Terobsesi dengan “Gemi dan Nastiti” memang bisa menimbulkan efek samping “Pelit”. Uang yang sudah masuk akan sulit keluar. Bahkan anak-anak yang masih perlu tumbuh kembang pun menu makannya dikurangi. Leluhur kita tidak pernah berpesan seperti ini. Tabungan manusia itu ada dua macam. Yang pertama tabungan dunia dan yang ke dua tabungan Akhirat. Salah satu tabungan Akhirat adalah menyisihkan sebagian hartabenda kita untuk fakir miskin. Oleh sebab itu eyang-eyang kita juga berpesan bahwa manusia harus “berbudi”, luber budinya, banyak “dedana”, membantu orang lain yang membutuhkan (IwMM)

Saturday, March 17, 2012

SERAT RAMA: YEN WANIA ING GAMPANG WEDIA ING EWUH SEBARANG NORA TUMEKA

Ucapan “Yen wania ing gampang wedia ing ewuh sebarang nora tumeka” dapat kita jumpai di “Serat Rama”, kisah Ramayana gubahan Pujangga Ki Yasadipura I yang hidup pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana III dan IV di Surakarta.

Terjemahannya gampang-gampang saja dan maknanya tidak perlu penjelasan panjang lebar: “Kalau kita hanya mau mengerjakan yang mudah-mudah saja dan enggan mengerjakan yang sulit maka semua tidak akan kesampaian.

Dalam “Serat Rama” ucapan itu disampaikan oleh Prabu Rama kepada Hanoman sang kera putih maha sakti. Kala itu Hanoman (Ramandayapati) merasa takjub bahwa Sri Rama berhasil mencapai puncak Gunung Reksamuka yang konon amat angker bahkan para dewa pun tidak berani ke situ. Hanoman juga pernah mencoba lewat jalur udara (terbang) tetapi gagal.  Maka bersabdalah Prabu Ramawijaya: Hai Hanoman, mudah dan susah itu kan ada yang membuat. Kalau hanya berani yang gampang dan enggan yang susah, kamu tak akan sampai kemana-mana. Mudah dan susah itu kalau diniati dengan tekad bulat, pada awalnya semua tidak ada.

Tulisan lengkapnya dalam pupuh Dhandhanggula sebagai berikut:

Kuneng lingnya Ramandayapati; Angandika Sang Ramawijaya; Heh bebakal sira kuwe; Gampang kalawan ewuh; Apan ana ingkang akardi; Yen wania ing gampang; Wedia ing ewuh; Sabarang nora tumeka; Yen antepen gampang ewuh dadi siji; Ing purwa nora nana.

Apabila kita menjadi Hanoman, mendapat wejangan Sri Rama seperti di atas, tentunya ada pikiran yang bergerak di otak dan ada rencana tindak untuk bergerak. Bisa macam-macam, antara lain:
1.    Sri Rama kan titisan Dewa Wisnu, wajar saja kalau kesaktiannya melebihi Dewa-dewa kebanyakan dan tidak ada masalah menaklukkan Gunung Reksamuka.
2.    Kalau mudah dan susah itu sama saja lha untuk apa saya melakukan sesuatu. Mau lakukan yang gampang, disalahkan. Mau mengerjakan yang susah, risikonya besar.
3.    Kalau begitu aku akan menyatukan tekad dengan penuh semangat. Mudah dan susah sama saja. Semua bisa dicapai. Buat apa mengerjakan yang mudah-mudah. “Menang ora kondhang, kalah ngisin-isini” (menang tidak tenar, kalah memalukan).
Kisah ini terjadi sebelum “Rama Tambak”. Jadi sebelum Rama menyeberang ke Alengka dalam perjuangannya merebut kembali Dewi Shinta yang diculik Rahwana, Raja Alengka. Dalam melaksanakan tugasnya, Hanoman tidak pernah mengecewakan. Hanoman selalu berhasil. Seperti iklan dalam majalah pada jaman saya masih kecil dulu "Giman selalu berhasil". (IwMM)

Friday, March 16, 2012

PIWULANG SUNAN DRAJAT DAN PENGENTASAN KEMISKINAN

Bila kita melakukan “Ziarah Wali Sanga”, salah satu tempat tujuan kita adalah makan Sunan Drajat di Kabupate Lamongan, Jawa Timur. Beliau dikenal amat cerdas, putra Sunan Ampel. Nama kecilnya adalah Raden Qasim. Nama “Drajat” diambil dari tempat beliau berkiprah di Pesantren Dalem Duwur, Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

Di Jaman dunia berupaya keras untuk mencapai Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015 yang sasaran pertama dari 8 sasarannya adalah Pengentasan Kemiskinan (Eradicate Extreme Poverty and Hunger), marilah sejenak kita kembali dari tahun 2015 ke sekitar abad 15 di bagian utara Jawa Timur.

Sunan Drajat adalah sosok pejuang pengentasan kemiskinan pada masanya. Gelar Sunan Mayang Madu dianugerahkan oleh Raden patah, Sultan Demak sebagai penghargaan atas jasa-jasa Sunan Drajat dalam penyebaran Agama Islam sekaligus mengentas kemiskinan dan menyejahterakan rakyatnya.

Filosofi Sunan Drajat terpateri dalam tujuh sap tangga kompleks Makam Sunan Drajat. Makna filosofis ke tujuh sap tangga dapat dibaca pada  wikipedia ada tujuh dan yang saya tulis di bawah ini adalah yang nomor tujuh yang menjadi bahan diskusi kami di atas bis sekeluar dari kompleks Makam Sunan Drajat. Yang nomor satu sampai enam mungkin agak sulit, atau menyangkut kewajiban kita untuk diri sendiri, sehingga kalau dibahas jangan-jangan malah menyindir diri sendiri. Tapi yang nomor tujuh ini memang operasionalisasinya, misinya, atau bantingtulangnya dalam mensejahterakan rakyat sebagai berikut:

Menehana teken marang wong kang wuta. Menehana mangan marang wong kang luwe. Menehana busana wong kang wuda. Menehana ngiyup wong kang kudanan”

TERJEMAHANNYA: Berilah tongkat kepada orang yang buta (maksudnya memberi ilmu supaya pandai sehingga bisa memanfaatkan ilmunya untuk kesejahteraan lahir dan batin).

Berilah makan orang yang lapar (maksudnya mensejahterakan kehidupan masyarakat miskin. Pengertian saya disini adalah orang kalau bisa makan pasti bisa bekerja apalagi sudah dibekali ilmu sebelumnya)

Berilah pakaian orang yang telanjang (maksudnya mengajari kesusilaan pada orang yang belum mengerti malu. Kita diskusi panjang tentang hal ini, karena pengertian susila disini pasti bukan sekedar tindakan amoral terkait dengan seks saja, pasti amoral dalam pengertian lebih luas, minimal “Ma Lima”)

Berilah tempat berteduh kepada orang yang kehujanan (Maksudnya adalah memberi perlindungan orang yang sengsara. Perlu dicatat bahwa Sunan Drajat adalah penguasa wilayah perdikan atau daerah otonomi Drajat.)

Jadi ada empat kata kunci sekaligus indikator: “Teken, mangan, busana dan ngiyup”. (IwMM)


Wednesday, March 14, 2012

GAJAH 2: TEMBANG DAN PARIBASAN

Pada posting sebelum ini telah dikenalkan “Gajah” melalui cangkriman, dolanan dan dongeng. Kita lanjutkan dengan pengenalan melalui tembang dan paribasan (peribahasa)


TEMBANG

Adalah “Tembang dolanan anak-anak” Liriknya sederhana saja tetapi memberi deskripsi lengkap tentang gajah: Judulnya “Gajah-gajah” sebagai berikut: Gajah-gajah mrene tak kandhani jah; Mripat kaya laron siyung loro kuping gedhe; kathik nganggo tlale; Buntut cilik tansah kopat-kapit; Sikil kaya bumbung; Mung mlakumu migag-migung (ada yang menyebut “igad-igud” dan “megal-megol”).

Terjemahannya: Gajah-gajah kemari saya beritahu Jah; Mata(mu) seperti laron (maksudnya kecil sekali) taring (maksudnya belalai) dua kuping besar. Kok pakai belalai; Ekor kecil selalu berkibas-kibas; kaki seperti bumbung; hanya jalanmu migag-migug (maksudnya tidak luwes).

Tembang yang lebih serius terdapat pada Serat Wulangreh dapat dibaca pada posting  Adigang Adigung Adiguna dalam Pupuh Gambuh

Saya cuplik bait ke 4 dan 10 di bawah (tidak saya terjemahkan lagi), disebutkan bahwa Sifat Adigang diwakili oleh "Kijang", Adigung oleh Gajah (esthi) dan Adiguna oleh ular.

Ana pocapanipun; Adiguna adigang adigung; Pan adigang kidang adigung pan esthi; Adiguna ula iku; Telu pisan mati sampyoh

Dene katelu iku; Si kidang suka ing patinipun; Pan si gajah alena patinireki; Si ula ing patinipun; Ngandelken upase mandos


PARIBASAN

Setidaknya ada sembilan peribahasa Jawa yang menggunakan “Gajah”. Satu diantaranya mirip dengan peribahasa yang sudah lebih dikenal dalam bahasa Indonesia:
  1. Gajah tumbuk kancil mati ing tengah. Maksudnya sama dengan “Dua ekor gajah berkelahi, pelanduk mati ditengah-tengah”. Orang besar bersengketa rakyat kecil sengsara
  2. Balung gajah (tulang gajah), artinya orang sederhana yang mulia hatinya, ada juga yang mengatakan orang perkasa yang kaya raya.
  3. Gajah alingan suket teki (gajah bersembunyi di balik rumput teki), artinya orang besar yang menyandarkan keselamatan dirinya pada orang kecil. Tentusaja kemungkinan keberhasilannya kecil.
  4. Gajah marani wantilan (marani: mendatangi; wantilan: tali pengikat gajah), artinya orang yang nekad mendatangi bahaya
  5. Gajah ngidak rapah (ngidak: menginjak; rapah: dahan dan ranting yang berserakan di tanah), artinya orang besar yang melanggar larangannya sendiri
  6. Nggajah elar (nggajah: seperti gajah; elar: sayap), artinya orang sombong merasa hebat sendiri (didukung kemampuannya untuk gampang memperoleh apa yang da inginkan)
  7. Macak gajah (macak: bersolek/berhias) menggambarkan orang yang berdandan berlebihan.
  8. Bathang gajah (Bathang: bangkai), artinya orang besar yang sudah hilang kekuasaannya
  9. Cindhil ngadu gajah atau semut ngadu gajah (Cindhil: anak tikus), artinya orang besar diadu domba orang kecil

PENUTUP

Liding dongeng, gajah mewakili sesuatu yang besar bisa dari sisi baik maupun sisi buruk. Banyak barang-barang ukuran besar meminjam nama gajah. Kuping gajah adalah tanaman berdaun lebar. Kupu gajah adalah kupu indah yang sayapnya amat besar. Gadjah Mada, mahapatih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa nya. Demikian pula Kaki Gajah atau Elephantiasis adalah penyakit disebabkan cacing Filaria yang menimbulkan pembengkakan besar di kaki (IwMM)

Mahapatih GajahMada; Kuping Gajah; Kupu Gajah: Penyakit Kaki Gajah

Tuesday, March 13, 2012

GAJAH 1: CANGKRIMAN, DOLANAN DAN DONGENG

Saya mulai berpikir untuk menulis tentang gajah beberapa waktu yang lalu ketika mau boarding di Bandara Soekarno Hatta. Rupanya pesawat parkir di “remote area” sehingga boarding tidak lewat garbarata (belalai) melainkan naik bis. Seorang ibu di belakang saya berkata pada anak yang di gandengnya: “Ayo nak turun, kita tidak lewat tlale”. Saya sampai noleh, senyum-senyum kecil sendiri. Ibu itu melihat ke saya. Wah jangan-jangan saya dikira orang tua mau usil. Langkah saya perlambat lalu saya sampaikan: “Sudah lama sekali tidak dengar kata tlale, Bu”. Ibu itu tertawa. “Lha tlale kan sama saja dengan belalai, Rama”, katanya. Tak ada komunikasi lebih lanjut. Namanya orang mau naik pesawat ya sibuk sendiri-sendiri.


Gajah memang bukan binatang asli Jawa. Rasanya agak aneh kalau badak ada di Sumatra dan Jawa tetapi Gajah hanya di Sumatra, walaupun fosil nenek moyang gajah, Mammoth, dapat kita lihat di Museum Purbakala, Sangiran, Sragen.

Bukan asli Jawa tetapi akrab dalam kehidupan orang Jawa. Mungkin karena gajah dari jaman dulu menjadi binatang piaraan raja-raja di Jawa, termasuk  jadi kendaraan kavaleri untuk perang. Ronggolawe, Bupati Tuban pada era Majapahit juga digambarkan berkendaraan gajah. Prabu Baladewa dalam pedhalangan Jawa juga dikenal sebagai raja yang tunggangannya gajah, bernama "Puspadhenta". sementara raja-raja yang lain lebih suka naik kereta.

Seberapa akrabkah gajah di hati orang Jawa? Kalau sekarang karena ada kebun binatang dan taman safari termasuk pawang gajahnya, maka pastilah manusia akrab dengan gajah. Di Alun-alun Kidul Yogyakarta pun saat ini gajah peliharaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sudah membaur dengan masyarakat termasuk anak-anak.Tetapi jejak keakraban pada jaman dulu bagaimana? Kita bisa melacaknya lewat beberapa pintu, antara lain tembang, cangkriman, dolanan, dongeng dan paribasan.



CANGKRIMAN

Cangkriman yang jawabannya “Gajah” sudah saya posting dalam Cangkriman 2b: Cangkriman dengan Tembang. Ingat kan?: Bapak pucung dudu watu dudu gunung; Sangkamu ing sabrang; Ngon-ingone sang Bupati; Yen lumaku si pucung lembehan grana (tidak saya terjemahkan lagi)

DOLANAN

Ingat Hompimpah dan Hompingsut? Dalam pingsut kita gunakan jari-jari tangan mewakili manusia, semut dan gajah. Gajah kalah sama semut. Ceritera gajah dan semut akrab di dunia anak-anak entah asli Indonesia atau bukan. Tapi kalau ada kancilnya, kira-kira banyak asli Indonesianya.


DONGENG

Yang asli Jawa mungkin dongeng Kancil dan Gajah dalam Serat Kancil Kridhamartana karya Raden Panji Natarata, dimana kancil yang terperosok dalam lobang berhasil menipu gajah. Dikatakan oleh kancil bahwa langit akan ambruk, gajah bisa tidak selamat kecuali masuk ke dalam lobang tempat kancil terperosok. Gajah pun terjun ke lobang dan kancil keluar dari lobang setelah menggunakan punggung gajah sebagai batu loncatan.


Yang ini “wisdom story” sepertinya bukan ceritera asli Indonesia, tetapi waktu SD dulu guru saya pernah berceritera tentang orang buta dan gajah. Masing-masing menggambarkan gajah berbeda-beda sesuai dengan apa yang dia raba waktu memegang gajah. Yang meraba kuping akan berbeda pendapatnya dengan yang meraba Badan, belalai, kaki dan ekor. Nyaris sama dengan penggambaran guna mengenalkan gajah pada anak-anak yang disampaikan melalui tembang dolanan pada posting setelah ini (IwMM)

Sunday, March 11, 2012

SERAT MADUBASA: ANEKA MABUK

Larangan wuru (mabuk) akibat nginum (minum miras) dapat dibaca pada Serat Wulangreh: Serat Wulangreh: jangan mabok-mabokan. Di bawah adalah aneka ragam mabuk yang dapat dibaca di Serat Madubasa, karya Ki Padmasusastra ngabehi Wirapustaka yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1912. Semuanya sebenarnya merupakan wewaler (larangan) Sri Susuhunan Pakubuwana IV yang ada dalam Serat Wulangreh, tetapi tidak disebut sebagai “mendem” (mabuk).

Mabuk dalam Serat Madubasa dapat dirinci sebagai berikut:


MABUK MINUMAN KERAS

Endeming waragang anglalekake suba sita

Wuru dawa iku anglalekake marang panggawean perlu, pakolehe mung medeni bocah dolan, mari mendem kari limprek-limprek          

TERJEMAHAN

Mabok minuman keras membuat orang lupa pada tatakrama

Sering mabok (wuru dawa) membuat lupa kepada pekerjaan penting. Hasilnya hanya menakut-nakuti anak-anak yang sedang bermain. Habis mabuknya tinggal badan yang tidak berdaya. (lihat: Sepuluh tahapan orang mabok miras dan kecanduan: Tuladha dari kera, raksasa dan keong)


MABUK CANDU

Endeming candu bisa anjara langit, nanging yen wis mari mendem, bali ketagihan maneh

TERJEMAHAN: Mabuk candu, bisa menggapai langit, kalau sudah selesai mabuknya akan ketagihah kembali


MABUK WANITA

Endeming wanodya, cumithak ing ati, liwung ora karu-karuan, paraning bendu marang kang apes parane

TERJEMAHAN: Mabuk wanita, tercetak di hati, bingung tidak karuan, mendatangkan malapetaka bagi yang apes


MABUK JUDI

Endeming wong dhemen ngabotohan, yen kalah rupak jagade, sirna katresnaning marang anak bojone, dibalejedi nganti balindis, suwe-suwe mremen angapus-apusi marang sanak-sadulure

TERJEMAHAN: Mabuknya orang suka judi, kalau kalah dunia sempit, hilang cinta pada anak isteri, ditelanjangi (perhiasannya) sampai habis, lama-lama merembet menipu sanak saudaranya



MABUK KEHORMATAN

Satemene endem patang perkara ing dhuwur mau isih kalah karo endeming kaurmatan. Wong Walonda ngarani: gila hormat. Pancen iya nyata, tembung: gila hormat mau ora beda karo wong edan, digeguyu sadina-dina ora ngrumangsani.

TERJEMAHAN: Sebenarnya empat jenis mabuk tersebutdi atas masih kalah dibandingkan dengan mabuk kehormatan. Orang "Belanda" (tulisan aslinya demikian) menyebut dengan: "gila hormat" (barangkali pada tahun 1900an awal, kata “gila hormat” adalah ungkapan bahasa Indonesia yang dipopulerkan oleh orang Belanda).

Ada lagi satu tambahan yang terlepas dari “empat mabuk” di atas, yaitu “Mabuk uang”

 
MABUK UANG

Endeming dhuwit padha karo endeming kacubung, sabarang paripolahe anganeh-anehi, wong mlarat dipadhakake walang, ora ngelingi yen wateking endem nganggo mutah: howek, la: ketok telake
 
TERJEMAHAN: Mabuk uang sama dengan mabuk kecubung (catatan: bila ingin merasakan, coba saja makan biji kecubung; Jengkerik yang akan diadu kalau dikasih makan kecubung maka ngamuknya akan hebat). Tingkahlakunya aneh. Orang miskin disamakan belalang, tidak merasa kalau mabuk itu pakai muntah: howek (suara orang muntah), la: kelihatan kerongkongannya (Mungkin yang dimaksud kita dapat melihat kerongkongan belalang kalau sedang terbuka mulutnya, demikian pula kerongkongan manusia akan kelihatan kalau ia sedang muntah).

 
KESIMPULAN

Endeming inuman keras ora sepiraa, tangi turu wis ilang, nanging endeming kawibawan lan kamukten sok anggonjingake engetan. Ora bisa mari dening sarana, marine yen wis tumiba ing tiwas, getune wis kasep, mulane aran begja wong wibawa mukti eling marang kaapesan, duwe tepa utawa welas marang sapadhaning tumitah kang tumiba ing apes, utawa kamlaratan

TERJEMAHAN: Mabuknya minuman keras masih belum seberapa, bangun tidur akan hilang. Tetapi mabuk kewibawaan dan kekuasaan sering menggoncangkan pikiran. Tidak bisa disembuhkan dengan sarana. Sembuhnya hanya setelah mati. Penyesalannya terlambat. Oleh sebab itu beruntunglah orang berwibawa dan berkuasa bila mereka ingat hal-hal yang membuat celaka, bisa mengukur diri dan belas kasih pada sesama umat yang sengsara atau miskin. (IwMM)

Saturday, March 10, 2012

SEPULUH TAHAPAN ORANG MABOK MIRAS


Minuman keras sudah ada sejak dulu kala. “Badheg”, cairan yang keluar dari tape, “Tuak”, yang disadap dari pohon aren semuanya menjadi minuman beralkohol yang bisa memabokkan. Orang pesta dengan “tayuban” juga bisa plus “miras”. Tanpa “miras” mungkin menarinya tidak seru. Serunya menari sebenarnya karena orang sudah “wuru” atau mabuk. 

Gambaran orang minum, mulai dari “sadhasar” (satu bumbung kecil atau satu sloki) sampai “10 dhasar”  (dapat dibaca pada “Majalah Kejawen”, Balai Pustaka, 14 januari 1928),  Dijelaskan dengan runtut,  oleh sesepuh kita dalam 10 tahapan sebagai berikut:

1. EKA PADMASARI

Eka: satu; Padma: Bunga (teratai); Sari: asri, indah. Orang minum kalau baru satu sloki diibaratkan bunga mekar yang indah.  Dipandang enak, di hati menyenangkan.

2. DWI MARTANI

Dwi: Dua; Martani: (Marta: sabar; Martani: menghibur). Orang minum sampai ke sloki kedua ucapannya masih jelas, ramahm dan memberikan hiburan kepada semua orang

3. TRI KAWULA BUSANA

Tri: Tiga; Kawula: Bawahan/pembantu; Busana: Pakaian. Orang minum tiga sloki ibaratnya pembantu yang berpakaian serba indah atau baru; hatinya amat gembira, merasa "pedhe" sehingga tidak minder untuk berdampingan dengan tuannya. Dikatakan bahwa sloki ke tiga ini, dengan timbulnya kehilangan rasa segan, merupakan titik awal orang mulai “wuru” atau mabok. Sayangnya setelah menghabiskan tiga sloki orang bukannya berhenti minum tetapi justru meneruskan minum.

4. CATUR WANARA RUKEM

Catur: Empat; Wanara: Kera; Rukem: Makanan atau buah-buahan. Disinilah kehilangan pengendalian diri mulai meningkat. Minum habis empat sloki diibaratkan kera berebut buah-buahan. Sudah barang tentu suasana ribut, hiruk pikuk dan cenderung terjadi kekisruhan.

5. PANCA SURA PANGGAH

Panca: Lima; Sura: Berani; Panggah: Kokoh, tidak berubah. Orang yang minum habis lima sloki selalu serba berani. Tak ada keraguan maupun ewuh-pekewuh lagi. (Catatan: “berani” dalam pengertian tidak baik, tidak ada lagi rasa malu dan takut).

6. SAD GUNA WEWEKA

Sad: Enam; Guna: pandai; Weweka: Waspada. Maksudnya, setelah minum enam sloki maka orang akan semakin waspada (dalam pengertian negatif, mudah curiga). Mendengar pembicaraan yang sama-samar, timbul salah sangka.

7. SAPTA KUKILA WARSA

Sapta: Tujuh; Kukila: Burung; Warsa: Hujan. Minum habis tujuh sloki ibaratnya burung kehujanan. Gemetaran dengan mengeluarkan suara-suara yang tak jelas.

8. ASTHA KACARA-CARA

Astha: Delapan; Kacara-cara: Bicara sembarangan. Setelah habis delapan sloki maka orang akan bicara sembarangan tidak jelas ujung-pangkalnya.

9. NAWA WAGRA LUPA

Nawa: Sembilan; Wagra: Macan; Lupa: kelelahan. Orang minum sembilan sloki ibaratnya harimau kelelahan. Tergolek tidak berdaya

10, DASA BUTA MATI

Dasa: Sepuluh; Buta: Raksasa; Mati: Mati. Akhirnya setelah sepuluh sloki ibarat bangkai raksasa galak yang tergeletak mati tanpa meninggalkan bekas-bekas kegalakannya.


KESIMPULAN

Melihat uraian di atas,  jelas bahwa “miras” itu merusak kesehatan jasmani maupun rohani.  Yang disebut “wuru dawa” adalah orang mabok yang ngelantur. Ini bisa bicara macam-macam, mulai yang biasa-biasa, yang lucu, yang saru,  sampai yang rahasia).

Dalam 10 tahapan tersebut, tanda-tanda mabok muncul pada sloki ke tiga. Jadi kalau orang mau minum alkohol harus pakai deduga dan prayoga. Pertimbangannya (deduga) bagaimana dan sebaiknya (prayoga) bagaimana. Hasilnya pasti “Prayogane aja nginum” (sebaiknya tak usah minum), daripada mabok dan kecanduan. Kita kembali ke wewaler Sri Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh: .... lawan ana waler malih, aja sok anggung kawuron ...” (IwMM)

Most Recent Post


POPULAR POST