Tuesday, March 20, 2012

“KERA” DALAM PARIBASAN JAWA

Kera mestinya menarik. Paling tidak kelakuannya lucu. Kadang-kadang saya berpikir kera itu meniru kelakuan manusia, manusia yang meniru kera atau keduanya sudah dari sononya begitu? Kalau Darwin memang mengatakan kita (manusia) dan kera adalah satu asal usul. Celakanya bahasa Jawa agak mendukung dalam hal ini: Kalau kita bicara nama anak binatang dalam bahasa Jawa, maka anak kera disebut “Kowe” (Kowe dalam bahasa Indonesia adalah “Kamu” atau kalau mau sedikit lebih sopan “anda).

Ada “sisi lucu”nya kera. Oleh sebab itu di Jawa Tengah ada “Ledhek Kethek”, di Jawa Timur namanya menjadi “Tandhak Bedhes” sementara di Jakarta dikenal dengan “Topeng Monyet”. Memang bedanya dengan yang di Jawa Tengah dan Jawa Timur, monyet Jakarta pakai topeng. Barangkali monyet Jakarta yang metropolis sudah lebih mengerti “malu” daripada rekannya yang di daerah sehingga perlu pakai topeng.

Menurut “Fabel Aesop” pada waktu Dewa mau mengisi bumi dengan makhluk hidup, aslinya kera ditugasi untuk menghibur manusia. Tapi kera tidak semanis itu. Hati-hati dengan kera Baboon di Afrika. Memang yang satu ini wajahnya sangar dan kelakuannya ganas. Di Jawa kera juga bisa menjadi hama yang merusak sekaligus menghabiskan tanaman Petani. Bahkan beberapa waktu yang lalu kita baca di koran tentang kasus-kasus serangan kera kepada manusia. Fabel Jawa tentang kera juga tak ada yang berceritera bahwa kera itu baik, malah sebaliknya, seperti ceritera di bawah:

Pada masa harimau belum makan daging, maka harimau dan kerbau adalah sahabat karib. Suatu saat datanglah kera yang membujuk harimau. Kenapa hanya makan serangga dan dedaunan padahal daging kerbau itu enak. Awal mulanya bujukan kera diabaikan, lama-lama masuk juga. Dimakanlah kerbau oleh harimau.

Ada juga ceritera kera yang kesulitan menyeberang sungai. Untung ada kura-kura yang mau bantu. Apesnya sampai di seberang bukan terimakasih yang diperoleh kura-kura melainkan kera mau makan hati kura-kura.

Dari tiga peribahasa tentang kera, yang pertama “Kaya Kethek Ditulup” sudah saya tulis. Yang ini tidak berceritera tentang kejelekan kera melainkan “tolah-tolehnya” kalau tidak “dhong” apa yang terjadi. Tapi yang dua di bawah ini menyebutkan bahwa kera itu “jahat”

1.    Kethek saranggon (ranggon: semacam rumah di atas tiang di hutan) menggambarkan sekumpulan orang jahat. Janganlah kita dekat-dekat sama mereka.

2.    Rampek-rampek kethek (Rampek-rampek: Dalam pengertian bahasa Jawa yang lain rampek-rampek = nyanak-nyanak, mendekati, supaya mendapat perhatian). Pengertiannya adalah: Orang jahat mendekati kita seolah-olah dia baik, padahal saat kita lengah ia akan berbuat kejahatan pada kita.

Kera kalau tidak jahat ya nakal. Waktu bertugas di pedalaman Afrika, teman Afrika saya selalu mengingatkan supaya hati-hati dengan barang-barang saya seraya menunjuk ke atas pohon. Kera juga bisa menularkan Rabies. Jadi kalau piara kera di rumah, supaya tidak lupa di vaksinasi anti Rabies.
 

LIDING DONGENG

Seorang teman protes. “Lha kamu baru saja menulis tentang profesionalisme Hanuman dalam Yen wania ing gampang wedia ing ewuh sebarang nora tumeka. Saya sudah punya jawabnya. Pertama, Hanuman berwujud kera karena kesalahan orang tuanya waktu berebut Cupu Manik Astagina. Akhirnya Ibunya (Dewi Anjani) dan kedua Oomnya (Sugriwa dan Subali) berubah menjadi kera. Kedua, ayah Hanuman adalah Batara Guru, bossnya Dewa. Jadi hanuman itu 50% Dewa, 25% Manusia dan 25% Kera.

Kesimpulannya, janganlah kita masuk dalam lingkungan “kethek saranggon”. Demikian pula kita harus senantiasa waspada dengan orang yang “rampek-rampek kethek”, karena kalau tidak dijahati ya akan ketularan jahat. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST