Thursday, March 29, 2012

SERAT WULANGREH: JANGAN MENJADI ORANG "GUNGGUNGAN"


Orang “gunggungan” adalah orang yang suka dipuji-puji, dalam dasanama Jawa yang lain disebut orang “bombongan” atau "umpakan". Kalau sudah dipuji-puji maka lepaslah remnya. Tidak hanya lepas uangnya kalau ia orang berduit, tetapi juga lepas mulutnya sehingga rahasia pribadi bahkan rahasia negara pun bisa keluar. Orang yang suka “nggunggung” adalah orang yang suka memuji berlebihan. Obyek pujian banyak, apapun bisa dipakai untuk memuji walaupun sering tak sesuai dengan kenyataan. “Wah anda tambah cakep dengan baju ini” padahal sebenarnya bukan tambah gagah. Bajunya mahal tetapi tidak serasi.


PESAN UNTUK YANG SUDAH JADI ORANG

Dalam hal ini Sri Pakubuwana IV menngingatkan melalui Serat Wulangreh pupuh Kinanti bait ke tiga:


Terjemahannya bebasnya sebagai berikut:

Kalau sudah menjadi orang besar (tinitah wong agung), jangan gunggungan. Jangan dekat dengan orang yang tidak baik kelakuannya. Tak urung akan ajak-ajak dan akhirnya tertular kejelekannya.

Orang besar harus hati-hati karena pasti banyak jadi sasaran para penggunggung, yang mempunyai motif pribadi. Kalau ia punya sifat gunggungan, begitu dapat gunggungan ia menjadi lemah dan mudah dipengaruhi.


PESAN UNTUK KAWULA MUDA

Di atas adalah peringatan untuk seorang yang sudah jadi “orang”. Tentusaja amat bahaya kalau seorang petinggi punya sifat gunggungan. Tidak hanya kepada orang besar, Sri Sunan Pakubuwana IV justru lebih banyak berpesan tentang sifat “gunggungan” ini kepada kawula muda. Masih dalam pupuh Kinanthi, pada bait ke delapan, kemudian pada pupuh Gambuh bait ke 10 dan 11 disebutkan sebagai berikut:


Adapun Terjemahan pupuh Kinanthi bait ke delapan:

8. Dan orang-orang muda pada masa sekarang ini, sifat rendah hati  ditinggalkan, suka digunggung, sombong dan merasa hebat sendiri (kumenthus dan kumaki)

Cukup keras peringatannya. Masih dilanjutkan lagi dalam Pupuh Gambuh terkait dengan sifat Adigang Adigung Adiguna pada bait ke sebelas dan duabelas, dengan  terjemahannya sebagai berikut:

11. Ketiganya (maksudnya: Adigang Adigung Adiguna) tidak pantas, kalau ditiru akan jadi salah. Tanda-tandanya adalah anak muda yang tidak bisa simpan rahasia, suka digunggung, dan akhirnya terjerumus.

Sedangkan terjemahan bait ke 12:

12. Anak muda yang terlalu gunggungan, menjadi amat tolol (kumprung), kosong (pengung)dan bingung, akhirnya terguling. Kalau digunggung ia akan membengkak (muncu-muncu)seperti bisul yang hampir pecah.

Jelas sekali dikatakan bahwa orang yang termakan “gunggung” akan hilang akalnya. Tapi digunggung itu nikmat, jadi kita akan terlena dibuatnya. Sri Sunan menggambarkan orangnya  membengkak seperti bisul yang akan pecah.

Kita sendiri juga sering memberi gambaran hampir sama. Kalau ada orang “menggunggung”, kita katakan “wah topiku sesak”. Bila orang itu tahu diri maka ia akan menghentikan “gunggungannya” Yang jelas, kita harus hati-hati karena tidak ada orang “menggunggung” tanpa maksud. Penjelasannya pada tulisan selanjutnya, Serat Wulangreh: Orang Nggunggung tentu ada maunya. (IwMM)

No comments:

Recent Posts

POPULAR POST