Tuesday, July 31, 2012

KESETIAAN SEORANG WANITA: SAWITRI DAN SETIAWAN

Saat Pandawa dibuang ke hutan setelah kalah main dadu, Yudistira bertemu dengan Resi Markandeya, dan bertanya adakah wanita yang kesetiaannya dapat disejajarkan dengan Draupadi, istrinya?

Resi Markandeya pun menjawab: Adalah seorang wanita, Savitri (Jawa: Sawitri), anak raja Asvapati (Jawa: Aswapati) dari Madra. Ia menikah dengan Satyavan (Jawa: Setiawan), anak raja Dyumatsena (Jawa: Jumatsena). Sang raja telah buta, terusir dari keprabon dan tinggal di hutan sebagai brahmanaraja. Sementara Satyavan pun menurut Batara Narada telah ditentukan umurnya, tinggal satu tahun. Savitri tidak mempedulikan hal ini. Ia menanggalkan busana kerajaan dan mengikuti Satyawan tinggal di tepi hutan sebagai orang sudra.

Satu tahun kemudian tiba saatnya Dewa Yama (Jawa: Yamadipati) sang pencabut nyawa datang. Apapun upaya Savitri merayu Dewa Yama nyaris tak berhasil. Hati Yama memang luluh dengan kesantunan dan kegigihan Savitri. Ia berjanji untuk mengabulkan semua permintaan Savitri, termasuk mengembalikan kerajaan mertua yang dirampas, mengembalikan penglihatan mertua yang buta, semua dikabulkan. Tetapi ketika Savitri menyebut nama Satyavan, dewa Yama cuma geleng-geleng kepala.

Savitri menguntit perjalanan dewa Yama membawa nyawa Satyavan. Dewa Yama tetap bersikukuh: “Mintalah apapun, kecuali Satyavan”. Savitri tersadar, ia harus  mengubah taktik permintaannya: “Wahai Dewa Yamadipati, aku mohon bisa punya 100 anak”. Karena tidak menyebut nama Satyavan, Yama pun OK saja. Savitri melanjutkan: “Lalu darimana aku bisa memperoleh 100 anak kalau tidak punya suami? Tidak ada laki-laki lain di hatiku”. Yama  menyerah terhadap permintaan tidak langsung yang samasekali tidak menyebut nama Satyavan. Ia pulang ke kadewatan, dan Savitri hidup bahagia dengan suaminya sampai tua sekali dengan anak yang banyak. Kerajaan dan penglihatan mertuanya pun kembali.

Versi lain: Savitri tidak minta 100 anak tetapi minta tangguh satu tahun karena merasa belum memperlakukan suaminya dengan baik, akan menjadi aib besar baginya kalau Satyavan keburu dibawa Dewa Yama. Yama pun setuju, tapi ia lupa bahwa satu tahun untuk dewa adalah 100 tahun untuk manusia. Akhirnya Savitri dan Satyavan hidup sampai tua juga dengan keturunan yang banyak.

Kisah Savitri (Sawitri) dan Satyavan (Setiawan) versi India sama dengan yang versi Jawa. Teladan yang dapat dipetik adalah “Cinta dan kesetiaan”.

LIDING DONGENG

Kalau punya “karep” maka “ulat” harus “madhep” disertai hati yang “mantep” (Syarat punya karep: Harus ulat madhep ati mantep). Supaya “karep” dapat terlaksana, jangan menoleh kanan-kiri, jangan berubah tujuannya. Kelembutan, kesantunan, kegigihan plus akal ternyata dapat mengalahkan dewa. (IwMM)

Sunday, July 29, 2012

TULADHA DARI MUSTAKAWENI, BAMBANG PRIYAMBADA DAN PETRUK

Episode Mustakaweni Bambang Priyambada ada dalam timeline antara kisah Arjunawiwaha dan lakon Petruk dadi ratu, tepatnya pada saat Pandawa sedang membangun Candi Saptarengga.

Dalam kisah “Arjunawiwaha” (Begawan Mintaraga) Raden Harjuna berhasil mengalahkan Raja Niwatakawaca  dari kerajaan Manimantika. Kemenangan Harjuna membuahkan hadiah dari Sang Hyang Girinata berupa pewiwahaan (penobatan) menjadi raja di kahyangan dengan gelar Prabu Kariti. Tidak hanya dijadikan raja tetapi sekaligus dinikahkan dengan tujuh bidadari paling top di Kahyangan. Diantaranya adalah Dewi Supraba.

BAMBANG PRIYAMBADA

Bambang Priyambada adalah anak Harjuna yang dari ibu Dewi Maheswara anak Begawan Sidik Wacana dari pertapaan Glagahwangi. Ada yang menyebut ibunya adalah Dewi Supraba. Yang jelas Bambang Priyambada mencari bapaknya di  seputar Amarta - Madukara dan memegang peran utama dalam lakon ini.

MUSTAKAWENI

Mustakaweni adalah keturunan Prabu Niwatakawaca yang dibunuh  Harjuna. (Ada yang mengatakan Mustakaweni anak  Prabu Bumintaka, pengganti Niwatakawaca, ada yang mengatakan Mustakaweni adalah adik Prabu Bumintaka. Rasanya lebih pas kalau Mustakaweni adik Bumintaka, sehingga satu generasi dengan Bambang Priyambada). Mustakaweni bertekad untuk membalas dendam kematian ayahandanya. Sebagai prajurit wanita ia amat sakti, tetapi Harjuna terlalu sakti. Sehingga ia harus punya sipat kandel, pusaka sakti yang tak lain adalah Jamus Kalimasada. Tentusaja harus dicuri lebih dahulu dari pemiliknya, yaitu Yudistira, raja Amartapura.

Dengan tambahan ilmu  dari pendeta raksasa, Begawan  Kalapujangga, Mustakaweni bisa mengubah dirinya menjadi Raden Gatutkaca. Kebetulan saat itu Amartapura sedang kosong karena para Pandawa masih sibuk di Candi Saptarengga. Menghadaplah Gatutkaca palsu ke Dewi Drupadi istri Yudistira untuk meminjam Jamus Kalimasada. Karena yang datang Gatutkaca, keponakan yang jadi agul-agul kerajaan Amartapura, Jamus Kalimasada pun diberikan.

Srikandi, prajurit putri yang selalu waspada rupanya curiga (barangkali Gatutkaca yang biasanya apek kok baunya wangi) langsung mengejar. Terjadilah perang tanding dan Srikandi kalah. Untung Bambang Priyambada muncul. Petruk juga ada di situ.  Langsung dimintai tolong dan sanggup tanpa banyak tanya. Terjadilah perang tanding Mustakaweni lawan Bambang Priyambada. Berkali-kali Jamus Kalimasada pindah tangan. Sebenarnya Mustakaweni amat sakti, tetapi melihat Bambang Priyambada yang mewarisi ketampanan dan kesaktian bapaknya, ia mulai jatuh hati. Demikian pula Bambang Priyambada, melihat maling aguna yang cantik, canthas dan prigel olah keprajuritan, hatinyapun kesengsem

Ketika akhirnya Jamus Kalimasada terpegang Bambang Priyambada, segera dia berikan kepada Petruk yang entah kenapa, dia mengikuti pertarungan dari jarak dekat.  Pikir Bambang Priyambada, Petruk adalah abdi setia dan dapat dipercaya. Tugas merebut Jamus Kalimasada selesai, artinya  semua sudah beres. Seperti dalam filem-filem James Bond,  Ia pun bersenang-senang  dengan Mustakaweni yang juga sudah lupa urusan balas dendamnya.

PETRUK

Ternyata Petruk tidak kuat memegang kramat. Kalimasada tidak dikembalikan ke Amartapura, tapi dibawa pergi dipakai menaklukkan kerajaan Ngrancangkencana dan muncul dalam lakon kocak “Petruk dadi ratu” dengan gelar Prabu Thong Thong Sot Welgedhuwelbeh. Baca Petruk: Pernah Tidak Kuat Drajat, Semat dan Kramat.



LIDING DONGENG
1.    Bambang Priyambada: Kalau diberi tugas, selesaikan tuntas dulu baru bersenang-senang. Baca: Tatag, teteg,Tangguh, Tanggon, Tanggap dan Tutug
2.    Mustakaweni: Syarat punya karep harus ulat madhep ati mantep. Wajah tampan jangan menjadi halangan.
3.    Petruk: Kalau diberi kepercayaan harus mampu memegang amanah. Sebagai abdi yang pinitaya seharusnya punya komitmen untuk mituhu dhawuhnya atasan.(IwMM)

Saturday, July 28, 2012

CACAT CACAT PERILAKU

Cacat yang dimaksud Ki Padmasusastra Ngabehi Wirapustaka, Surakarta, dalam Layang Madubasa, 1912 ini bukan cacat tubuh tetapi cacat kelakuan yang menyebabkan orang tidak disukai, disamping itu keburukannya bisa menjadi bahan pembicaraan orang, seperti contoh di bawah ini:
 
1.    Anak: Kalau tidak mencintai kedua orang tuanya
 
2.   Bapa (bapak): kalau tidak mengupayakan supaya anaknya pandai (catatan: menyekolahkan anak)
 
3.    Biyung (Ibu): kalau tidak mengurus anaknya (catatan: bandingkan dengan bapak)
 
4.    Budi: Kalau tidak tahu malu, selalu minta dihormati (krodha lumahing asta*)

5.    Damar (lampu): Kalau tidak terang (catatan: dulu ada lampu dengan minyak damar. tugas damar memberi penerangan. Analoginya, tugas manusia juga memberi "pepadhang" (penerangan) kepada sesama, harus bisa madhangi sing turu.
 
6.    Guru: Kalau dalam mengajar hanya mengandalkan hapalan (Catatan: maksudnya tanpa buku pegangan. Sepandai-pandai manusia, tidak boleh mengandalkan hapalan. Apalagi seorang guru yang tugasnya mentransfer ilmu)
 
7.    Kriya (pengrajin): Kalau sambungan-sambungan dalam garapannya tidak rapat atau tidak pas. Walaupun garapan dan ukiran halus, kalau sambungan tidak klop tetap tidak baik.

8.    Mangan (makan): Kalau terlalu lahap (Catatan: semua yang berlebihan tidak baik. Apalagi makan berlebihan. Dalam jangka pendek terjadi gangguan pencernakan. Dalam jangka panjang bisa terjadi kegemukan, kholesterol, darah tinggi dll)
 
9.    Melek (tidak tidur): Kalau semalam suntuk tidak tidur (Catatan: Tidur merupakan kebutuhan manusia, tetapi kelebihan tidur juga tidak baik)

10.  Mitra (teman): kalau tidak jujur dan tidak terbuka
 
11.  Mlarat (miskin): Kalau hidup tanpa perhitungan (Akibatnya akan semakin miskin)
 
12.  Pandita (pendeta; pemuka agama): kalau kurang ibadah

13.  Parentah (pemerintah): Kalau tidak adil. (Catatan: pemerintah harus ambeg adil paramarta)

14.  Punggawa (pegawai yang punya kedudukan bisa di pemerintahan bisa di kantor: kalau tidak utama (Catatan: Tidak punya kompetensi; punya kompetensi tetapi tidak punya komitmen; punya kompetensi tetapi korupsi, dll)
 
15. Raga: Hapus dengan kelakuan baik (Catatan: Orang-orang dengan cacat fisik tidak perlu rendah diri. Manusia tidak akan mencela cacat fisik orang lain kecuali kelakuannya tidak baik)
 
16.  Ratu (Raja): Tidak ada. Jeleknya raja masih lebih baik dari orang yang paling baik (mungkin ini sindiran)

17.  Satriya (Ksatria): Kalau tidak berbudi
 
19.  Sudagar (saudagar): Kalau bicaranya tidak jujur (Catatan: Saudagar memang hidup dari keuntungan. Tetapi kalau berkata hanya kembali modal padahal untungnya besar, namanya tidak jujur)

20.  Sugih (kaya): Kalau pelit (Catatan: Orang hidup harus berbagi)
 
21.  Tangi (bangun tidur): kalau kesiangan (Catatan: berarti tidur terlalu lama)
 
22.  Tani: Kalau tidak “temen” (rajin  dalam pekerjaannya olah tani)
 
23.  Turu (Tidur): Kalau samasekali tidak bergerak dan tidak rapat menutup aurat

24.  Urip (hidup): Kalau kehilangan budi baik. Walaupun kaya dan punya kedudukan terhormat, hilang nilainya sebagai manusia

KRODHA LUMAHING ASTA
 
Disebutkan pada angka 4 di atas: *) Krodha lumahing asta. Maksudnya kerja dengan menadahkan tangan. Yang sering disebut demikian, biasanya pengemis. Ki Padmasusastra di tempat lain menyebutkan bahwa orang kaya yang minta selalu dihormati (gila hormat) sama saja dengan pengemis yang kelakuannya “krodha lumahing asta” Sama-sama mintanya. Yang satu minta uang kecil, satunya lagi minta dihormati.

Cacad-cacad tersebut di atas menyangkut perilaku dan watak manusia. Perilaku masih dapat diperbaiki sepanjang ada kemauan kuat. Demikian pula watak yang buruk, seharusnya dapat diperbaiki walaupun ada peribahasa "Ciri wanci lelai ginawa mati" yang makna kasarnya, kalau sudah "gawan bayi" ya tidak bisa diubah.(IwMM).

Thursday, July 26, 2012

"WISA" (RACUN) YANG MENGANCAM MANUSIA



Racun (Wisa) yang dimaksud Ki Padmasusastra Ngabehi Wirapustaka, Surakarta, dalam Layang Madubasa, 1912 ini bukan hanya Wisa (Bisa)  yang mematikan atau membuat sakit fisik, tetapi  terdapat juga "wisa" yang meracuni perilaku manusia sehingga membuat orang lain  tidak suka dan perilaku tersebut bisa menjadi bahan pembicaraan orang banyak.

Cukup menarik bahwa beliau memasukkan juga beberapa “wisa” yang terkait dengan kesehatan yang pada masa sekarang ini (setelah 100 tahun) masih menjadi masalah manusia.Ternyata manusia memang sulit diubah.

Daftar di bawah adalah "wisa" dimaksud:
 

1.   Bojo (suami/istri): Kalau yang laki-laki “ngiwa” dan perempuannya “sedheng” (Keterangan: Ngiwa dan sedheng sama artinya yaitun selingkuh. Perilaku  seperti ini akan mengakibatkan rumah tangga  berantakan dan anak-anak menjadi korban)

2.    Dhuwit (uang): Kalau tidak punya uang, maka semua yang dikatakan menjadi salah, dan semua yang diinginkan tidak akan kesampaian. (Keterangan: itulah powernya uang)

3.    Kanca (teman): Kalau tidak rukun (Keterangan: Hidup ini harus guyub rukun)

4.    Kinang: kalau kebanyakan kapur sirih; membuat bibir bengkak dan lidah perih (Keterangan: Jaman dulu masih banyak orang “nginang”. Kapur sirih mengandung kalsium hidroksid yang punya daya kaustik. Kulit tangan saja bisa lepuh apalagi bibir)

5.    Laku (maksudnya "jalan"): Kalau capek (Keterangan: disarankan istirahat dulu)

6.   Lara (sakit): Kalau kemasukan rezeki sebelum sakit (Keterangan: Mungkin maksudnya karena dapat rezeki terus merasa sembuh dan tidak ingat kalau masih sakit, sehingga lupa memperhatikan kesehatannya)

7.    Masak (memasak makanan): Kalau kurang bumbu, rasanya hambar (keterangan: Ini hal yang tidak terlalu berat, karena hanya masalah bumbu. Tetapi jaman dulu kalau wanita tidak bisa memasak mungkin lain masalahnya)

8.    Ngombe (minum):  Minum air kotor bisa menimbulkan sakit. Misalnya penyakit diare. Ditambahkan pula: kalau minum minuman keras, minum yang palsu. (Keterangan: Dewasa ini banyak juga minuman keras oplosan yang campurannya bahan berbahaya).

9.    Nulis (menulis): Kalau diajak bicara (Keterangan: Orang menulis kalau diajak bicara konsentrasinya akan terganggu, padahal dulu orang menulis masih langsung di kertas, kalau salah maka kertas dibuang; bukan di atas layar LCD seperti sekarang)
 
10. Omah (rumah): Kalau fondasi dan lantai kurang tinggi. (Keterangan: Menyebabkan dingin dan lembab, penghuninya gampang sakit)

11. Pangan (makanan): Kalau tidak cepat dicerna (Keterangan Makanan yang tidak cepat dicerna akan menimbulkan gangguan perut atau saluran pencernaan).

12.  Rokok: Kalau asapnya diisap  sampai paru-paru, akan berbahaya. Sarannya, diisap sampai mulut saja lalu dikeluarkan. (Keterangan: mana ada orang merokok tidak diisap masuk paru. Ternyata 100 tahun yang lalu orang sudah tahu kalau asap rokok mengandung nikotin yang membahayakan tubuh)

13. Sembrana (canda kelewat batas): Bisa melukai hati sampai menimbulkan pertengkaran. Hati-hati kalau bicara.

14.  Waras (sehat): Kalau rakus. Gampang kena penyakit. (Keterangan: Walaupun sehat, orang tetap harus menjaga apa yang dia makan. Orang yang rakus dan menu makannya tidak seimbang, mudah kena penyakit macam-macam).

KESIMPULAN

Diantara semua itu "WISA" (racun) yang paling berbahaya adalah kelakuan buruk.  Kalau sudah dapat "label" bahwa kelakuan kita tidak baik, maka walaupun bicara kita benar, orang tetap tidak percaya atau setidak-tidaknya curiga;  apalagi kalau bicara kita tidak benar. Nama tetap rusak sekalipun manusianya sudah mati.  (IwMM)
 


Wednesday, July 25, 2012

BADAN DAN JIWA YANG REWEL: LOBA MURKA DAN ANGKARA MURKA


Saya cuplik dari Serat Kabutuhan, R Pujaarja, Surakarta, 1922. Disebutkan bahwa tubuh manusia mempunyai kebutuhan untuk sehat, mampu beraktifitas fisik, makan, berhubungan badan dan istirahat. 

Mampu tidaknya kita   melaksanakan kehendak tersebut bergantung pada hasrat hati. Misalnya bisakah kita sehat apabila hasrat untuk itu tidak ada (misalnya niat untuk berolahraga, makanan bergizi, tidak merokok, tidak minum minuman keras, cukup istirahat dll).

Demikian pula bagaimanapun besar tekad kita kalau tubuh tidak mampu melakukan ya tidak mungkin terlaksana. Oleh sebab itu antara badan dan jiwa harus sejalan. Kalau bersimpang jalan pasti tidak baik kejadiannya. Padahal yang diinginkan manusia selalu “eca dan sekeca. Enak dan kepenak. Senang dan menyenangkan.

Menyerasikan kehendak badan dan hati ini hal yang amat sulit. Disitulah bersemayam raja dan ratunya masalah. Masing-masing punya kerewelan kelas berat sendiri-sendiri.


REWELNYA BADAN: “LOBA MURKA”

Arti “Loba Murka” adalah semua harus SERBA BANYAK. Misalnya: kesehatan tubuh prima, mampu mengerjakan pekerjaan sebanyak-banyaknya, makan sekenyangnya, sanggama (maaf) sepuasnya. Istirahat selama mungkin,  entertaiment sepuas-puasnya. (Dalam hal ini pakaian, emas, berlian, mobil dianggap "aksesori” tidak termasuk kebutuhan badan).


REWELNYA JIWA/HATI: “ANGKARA MURKA”

Arti “Angkara Murka” semua kehendak harus SERBA SANGAT. Misalnya: sangat luhur, sangat kuasa, sangat disegani, sangat kaya, sangat senang, sangat bagus, sangat dihormati


OBATNYA: NERIMA DAN ELING

“Loba Murka” dan “Angkara Murka” merupakan dua nafsu yang belum tentu dapat kesampaian. Melihat hal tersebut dapat dipastikan bahwa manusia pasti selalu dirundung kesusahan. Obatnya sebenarnya hanya sikap nrima ing pandum. Oleh sebab itu manusia yang memiliki hati nerima disebut memiliki derajat  amat mulia.

Supaya bisa “nerima” manusia harus “ELING”. Pengertian “eling” adalah “ingat” kepada Allah SWT:

1.    Ingat bahwa manusia tidak maha kuasa. Manusia tidak bisa menetapkan bahwa apa yang diinginkan pasti terjadi. Jadi jangan berani-berani merasa mampu. Aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa.

2.    Ingat bahwa kehidupan selalu “owah gingsir” selalu berubah. Orang bisa kemarin di bawah sekarang di atas maupun sebaliknya. Sudah ada yang menentukan. Jadi jangan berani-berani menentukan.

3.    Dalam kehidupan bersama sesama manusia, ingat bahwa semua orang ingin senang. Jadi harus mau berbagi senang. Jangan ingin memiliki “senang” sendirian.

4.    Ingat bahwa semua yang ada di dunia ini akan hancur. Jadi jangan bertuhankan keduniawian

5.    Ingat bahwa pasti ada sesuatu yang abadi. Yaitu kehidupan akhirat. Mestinya yang ini lah yang dikejar. Harta dan kekuasaan tidak bisa digunakan untuk membeli kehidupan abadi yang bahagia. Untuk memperolehnya manusia harus berbuat keutamaan melalui amal ibadahnya selama hidup di dunia sehingga mendapat keutamaan di alam akhir nanti

Demikianlah manusia yang tidak bisa mengendalikan kehendak badan dan jiwa hidupnya akan dihantui dua penyakit “Loba Murka” dan “Angkara Murka” Badan dan jiwa tidak sehat padahal ada kata bijak: men sana in corporo sano. Jiwa yang sehat ada dalam badan yang sehat. Orang begini bisa gila sungguhan. Saya ingat seorang teman mengajarkan doa: “Yaa Allah yaa Muakhiir, akhirkanlah hidup kami dengan kesudahan yang indah, husnul khatimah” (IwMM)

Monday, July 23, 2012

ORANG BODOH YANG BELUM TENTU BODOH DALAM UNGKAPAN JAWA

Dalam tulisan  Empat hal yang tidak boleh hilang dari manusia, salah satunya adalah kewasisan. Tidak punya kewasisan atau kepandaian berarti bodoh. Bagaimana orang Jawa mengomentari manusia yang bodoh ini? Dan apakah orang bodoh benar-benar tidak tahu apa-apa? Di bawah dapat dibaca beberapa paribasan Jawa untuk dijadikan pertimbangan sebelum seseorang kita diagnosa "Bodoh" something like that.
 

1. BODHO KAYA KEBO

Saya tulis dalam Kebo (1) Bodho kaya kebo. Mengapa kerbau dianggap bodoh? Mungkin saking penurutnya, tuntutannya tidak neka-neka dan gerakannya lamban. Apakah orang yang seperti ini semuanya bisa kita katakan bodoh? Jangan-jangan mereka adalah orang yang nerima.
 

2. UTEKE LANDHEP DHENGKUL

Ini juga sudah saya tulis dalam Ungkapan bahasa Jawa dengan “Dhengkul" Lutut kalau dilipat sudutnya tumpul. Kalau kita dikatakan lutut masih lebih tajam dari otak, berarti kita ini tolol sekali. Dalam bahasa Jawa ada makian: Dhengkulmu! Maksudnya memaki atas ketololan seseorang. Tetapi sekarang banyak orang salah memaki. Mengatakan “Dhengkulmu!” padahal bukan untuk tindakan tolol yang dilakukan seseorang.

Orang yang "uteke landhep dengkul" memang bodoh secara intelektual. Tetapi orang yang menggunakan kata "dhengkulmu" sebagai makian, barangkali lebih bodoh lagi.
 

3. ORA POLO ORA UTEK
 
Polo artinya sama dengan otak. Kalau kita dikatakan “ora polo ora utek” artinya kita dianggap amat tolol dan barangkali memang betul-betul tolol.
 

4. COBOLO MANGAN TEKI

Cobolo artinya bodoh sekali. Dahulu orang merendahkan diri dengan mengatakan “kawula ingkang cobolo” Teki adalah sejenis rumput. Kalau dikatakan “cobolo mangan teki” maksudnya orang bodoh tidak layak makan nasi. Pantasnya makan rumput. Lalu siapa yang biasanya makan rumput? Kasihanilah kerbau karena jawabnya adalah “kerbau”.

Ada ceritera tentang orang pandai duduk-duduk di teras rumah pada malam hari ditemani pembantunya.  Orang pandai itu menunjuk ke langit sambil berkata: “Planet Yupiter di atas kalau saya tembak dengan meriam dengan peluru yang kecepatannya tinggi, maka peluru itu baru akan mendarat di Yupiter setelah 4000 tahun”. Pembantunya bertanya: “Lalu dosanya Yupiter apa tuan? Kok sampai ditembak dengan meriam? Kalau seperti ini, yang sebenarnya bodoh si tuan atau si pembantu?

Dalam ceritera di atas, si pembantu memang cobolo yang ora polo ora utek dan kalau punya otak barangkali landhep dhengkul. Tetapi si Tuan barangkali lebih bodoh lagi. Mengapa ia bicara tentang Planet Yupiter kepada pembantu yang tidak makan sekolahan.

 
5. BILULU TAHU, PINTER DURUNG NGLAKONI

Bilulu artinya bodoh. Maksudnya orang bodoh yang "sering melakukan" akan  lebih pandai daripada orang pandai yang "belum pernah melakukan". Jadi orang bodoh tidak usah terlalu menyesal. Asal rajin dan sering mengerjakan maka akan trampil. Kalau kita jadi pimpinan jangan meremehkan anak buah yang tidak pandai tetapi telah bertahun-tahun mengerjakan pekerjaan yang sama. Ia punya pengalaman atas pekerjaan yang dia kerjakan.

Sebagai ilustrasi, tahun 1979 saya adalah dokter Puskesmas di Maluku Utara, belum setahun lulus dokter. Adalah anak kecil yang megap-megap mulutnya karena lobang hidungnya kemasukan binatang kecil semacam lintah. Saya kesulitan menariknya dengan pinset. Pak Mantri (perawat) tua dengan tenang mengambil sebotol eter (saat itu banyak di Puskesmas), dia tuangkan di mangkuk, didekatkan ke hidung si anak. tak lama kemudian lintah pun jatuh. Senyum-senyum ia mengatakan: Ini ilmu pengalaman saja, Pak Dokter.
 

6. KENCANA KATON WINGKA

Kencana: emas; Wingka: gerabah. Maksudnya penampilan tidak seberapa padahal orang ini hebat. Bisa saja tampil seperti orang bodoh padahal amat pandai. Hati-hati kalau ketemu orang seperti ini.

Ada satu ceritera pendukung: Seorang dari desa heran melihat gedung besar yang sedang dibangun di kota. Ia bertanya kepada orang kota yang lewat didekatnya: “Nuwun sewu, rumah ini untuk apa to mas, kok besar amat”

Si orang kota menjawab, tetapi sengaja diplesetkan: “Mau dijadikan rumah sakit jiwa, untuk menampung orang-orang gila dari desa".

Si orang desa mengangguk-angguk: “Rasanya cukup mas, kalau untuk menampung orang desa yang gila. Tapi ..... kalau untuk menampung orang gila dari kota apa ya cukup?” Si orang desa tertawa, si orang kota terperangah.

Kira-kira orang desa ini termasuk golongan “cobolo mangan teki” atau “kencana katon wingka?”
 

LIDING DONGENG

Jangan suka merendahkan sesama manusia. Salah-salah kita bisa menjadi lebih rendah dari orang yang rendah itu gara-gara ucapan kita sendiri (IwMM)

TULISAN TERKAIT: ORANG-ORANG BODOH DALAM PARIBASAN JAWA

Sunday, July 22, 2012

EMPAT HAL YANG TIDAK BOLEH HILANG DARI MANUSIA: KEWASISAN, TABERI, BUDI RAHAYU, KASARASAN


Dalam Serat Madubasa, Ki Padmasusastra, Ngabehi Wirapustaka, Surakarta, 1912, menjelaskan tentang empat hal yang tidak boleh hilang salah satu, dan harus dimiliki manusia . selama manusia masih hidup. Keempat hal tersebut adalah: Kepandaian, Kerajinan, Budi baik dan Kesehatan.

Pengertian ringkas masing-masing adalah: Kepandaian sama dengan Wasis, menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi; kerajinan sama dengan temen, suka bekerja, serius, jujur; budi baik dapat diwakili sifat susila anor raga dan kesehatan adalah sehat jasmani dan rohani. Hilang salah satu akan menimbulkan kesengsaraan, utamanya kepada orang lain yang bergaul dengan dia. Jelasnya demikian:
 
1. PANDAI, BUDI BAIK, RAJIN TETAPI SAKIT-SAKITAN

Lalu apa yang bisa dia lakukan? Kinerjanya pasti rendah. Ibarat jam emas tanpa jarum penunjuk, tidak mampu menunjukkan waktu. Untuk manusia, hidupnya sia-sia. Kalau dia pegawai, sering ijin sakit. Kalau dia masuk, kerjanya tidak optimal

2. PANDAI, RAJIN, SEHAT TETAPI KELAKUAN TIDAK BAIK

Ibaratnya adalah penjahat. Dalam pergaulan tidak disukai dan kalau mencari pekerjaan, siapa yang berani menerima pegawai seperti ini? Pasti timbul masalah di kemudian hari. Susahnya sifat jahat jarang yang bisa segera diketahui, walauupun pada akhirnya yang "ala ketara"

3. PANDAI, BUDI BAIK, SEHAT TETAPI MALAS

Sama saja dengan penjahat, siapa yang suka punya teman atau pegawai yang pemalas? Orang pemalas digambarkan sebagai seorang pemimpi, tukang ngelamun, membayangkan dapat uang banyak dari menang lotere, kemudian beli rumah besar lengkap dengan perabot dan mobil. Uangnya dijalankan untuk simpan pinjam dengan bunga besar. Padahal belum beli loterenya karena uangnya belum ada. Sambil melamun tentusaja ia menghentikan kerjanya secara tidak sadar. Kaget-kaget dibentak atasannya yang kebetulan lewat.

4. RAJIN, BUDI BAIK, SEHAT TETAPI BODOH

Ibarat sebuah pedang, sarungnya dari emas, aksesorinya bagus, tapi bilah pedangnya bukan dari baja. Hanya untuk hiasan saja. Kalau dipakai berperang akan patah. Jadi sama juga tidak bermanfaat. Menghadapi orang bodoh lebih susah lagi. Mau tidak marah, hati pegal. Mau marah, kasihan. Ya memangnya bodoh, kemampuannya segitu kok dipaksa-paksa. Lalu kita hibur diri kita sendiri. Masih untung dapat orang bodoh daripada orang jahat. Setidak-tidaknya, orang bodoh itu penurut.

KESIMPULAN

Memang benar. Ada empat syarat dan tidak boleh kurang salah satu. Puyengnya sama saja, ketemu orang tidak baik, malas, sakit-sakitan atau bodoh. Yang hebat, pada tahun 1912, dengan kriteria yang hanya empat, faktor kesehatan sudah dimasukkan dalam kriteria seleksi (IwMM)

Friday, July 20, 2012

AIR (BANYU) DAN UNGKAPAN JAWA (3)

Melanjutkan “Air dan ungkapan Jawa (2) ” pada tulisan ini saya sampaikan mengenai sifat-sifat air. Dalam Asta Brata salah satu dari 8 sifat kepemimpinan adalah “laku hambeging Indra (atau Tirta) antara lain karena sifat air yang rata, selalu bergerak mengikuti wadahnya, sejuk dan menjadi pembersih yang paling utama. Air akan mengalir menuju tempat yang rendah. Kalau alirannya deras dan daya tampung terlampaui terjadilah banjir. Beberapa sifat yang digunakan dalam ungkapan Jawa antara lain:

A. ILI

“Ili” adalah alir;  Mili: mengalir; Keli: hanyut

1.    Numpal keli: Digunakan untuk menggambarkan orang bepergian yang hanya nunut  dan tidak jelas kemana tujuannya. Ikut air mengalir saja.

2.    Jurang grawah ora mili: Jurang yang lebar tidak mengalir. Sudah jelas kalau jurang tidak mengalirkan air, kecuali ada sumber airnya. Gambaran orang yang banyak omong tetapi tak ada perbuatannya alias “Kakehan gludhug kurang udan

3.    Ora ana banyu mili mendhuwur: Lihat “Air dan ungkapan Jawa (1)”

4.    Nandur wiji keli;  Menanam bibit hanyut (Wiji: Biji tanaman, benih). Maksudnya memelihara anak orang yang tidak mampu, sampai jadi orang.

B. BANJIR
Banjir mengambarkan jumlah yang besar. Ada ungkapan “Kebanjiran sagara madu” berati orang yang mendapat keberuntungan amat besar

C. KLEBUS
“Klebus” adalah basah kena air. Ada peribahasa cincing-cincing klebus yang artinya sudah berupaya hemat tetapi malah keluar uang banyak. Dalam hal ini adalah orang yang berupaya hemat karena dia pelit. Bukan hemat dalam pengertian efisien dan efektif

D. LUKAK DAN KOCAK
Lukak: Tidak penuh, untuk air dalam wadah; Air yang “lukak” dalam wadah maka akan kocak dan berbunyi kalau wadah digoncang-goncang
1.    Kocak iku tandha lukak: kocak pertanda kosong. Sama artinya dengan peribahasa dalam bahasa Indonesia “Tong kosong nyaring bunyinya”

2.    Lukak apapak: (papak: memotong supaya sama). maksudnya  orang bodoh yang gayanya mau menyamai orang pandai

3.    Wong lukak: Orang dungu

Sampai disini selesailah sudah ungkapan-ungkapan Jawa yang menggunakan kata “banyu” dan keterkaitannya. Ada beberapa yang sudah jarang kita dengar. Kiranya bisa sekedar untuk refreshment dalam rangka kita “Nguri-uri basa Jawa” (IwMM)

Thursday, July 19, 2012

AIR (BANYU) DAN UNGKAPAN JAWA (2)

Sebagai lanjutan “Air dan ungkapan Jawa (1) pada tulisan ini saya lanjutkan dengan hal-hal yang terkait dengan air yang tidak menggunakan kata “banyu”.

A. WARIH

“Warih” adalah dasanama (sinonim) dari “banyu”.

1.     Ngangsu apikulan warih”. “Ngangsu” adalah menimba. Kata menimba selalu dikaitkan dengan ilmu. Jadi kalau kita menimba sudah membawa air (warih), artinya kita menuntut ilmu (ngangsu kawruh) sudah membawa bekal dasar-dasar ilmu tersebut. Kalau sudah punya dasar-dasar ilmunya tentu tidak akan kesulitan menyerap ajaran-ajaran yang akan diberikan.

2.    Angin silem ing warih: Angin menyelam di air. Berbuat buruk dengan sembunyi-sembunyi

B. TIRTA
“Tirta” juga dasanama air. Kata “Tirta” umumnya digunakan untuk sesuatu yang yang dianggap suci
1.    Tirta perwita sari: Air yang digunakan untuk siraman calon pengantin dalam adat Jawa. Diambil dari tujuh sumber yang berbeda

2.    Tirta amreta: Air yang menyebabkan tidak bisa mati (A: Tidak; Mreta: Mati). Para dewa dalam dunia pewayangan konon tidak bisa mati karena sudah meminum tirta amreta ini. Dalam konteks sekarang mungkin air yang tidak terkontaminasi kuman adalah “tirta amreta” Sering juga disebut “amerta”. Bukannya yang minum terus tidak bisa mati tetapi terhindar dari penyakit-penyakit yang ditularkan melalui air. Seperti tifus, kolera,dll.

3.    Tirta candra geni raditya: Gambaran pengadilan yang adil, tidak berat sebelah. Tegak rata seperti “tirta” (air). Cara menanyai halus seperti “Candra” (rembulan). Menjatuhkan vonis tegas seperti “geni” (api). Memeriksanya terang terbuka seperti “Raditya” (matahari)

C. SAGARA

“Sagara” adalah lautan. Umumnya menggambarkan sesuatu yang besar atau luas

1.    Jembar sagarane: Luas lautannya. Menggambarkan seorang yang pemaaf, lapang dada

2.    Rupak sagarane: Rupak adalah sempit. Kebalikan dari “jembar sagarane” maka orang yang “rupak sagarane” adalah orang yang tidak mudah memberi maaf kesalahan orang lain

3.    Ati sagara: Hampir mirip dengan “jembar sagarane”, orang yang berhati seperti lautan, berarti daya tampungnya besar. Ia adalah orang yang pandai ”momong” perasaan orang banyak. Orang yang akomodatif.

4.    Uyah kecemplung sagara: Laut airnya sudah asin, dimasuki garam. Gambaran memberi sesuatu pada orang kaya. Ungkapan serupa adalah “Nguyahi segara”

D. SUMUR
Sumur adalah sumber air. Sehingga kata sumur digunakan untuk menggambarkan seseorang yang merupakan narasumber. Bisa ilmu, pertolongan bahkan pemberitaan.
1.    Sumur lumaku tinimba: Ini ceritera sumur yang bisa berjalan, kemudian sepanjang jalan ditimba airnya. Menggambarkan seseorang yang kemana-mana selalu ditanya untuk minta petunjuk.

2.    Sumur sinaba: Sumur yang selalu didatangi orang. Tentusaja sumur yang banyak airnya, bukan sumur kering. Gambaran seseorang yang menjadi tempat tujuan orang lain untuk dimintai pertolongan.

3.    Sumur gumuling: Kalau sumur bisa terguling, tentu airnya tumpah. Ini bukan tumpahan rejeki melainkan tumpahan omongan. Gambaran seseorang yang samasekali tidak bisa menyimpan rahasia. Sama dengan “anggenthong umos”, genthong yang rembes.

E. GUSKARA
“Guskara” adalah dasanama “sumur” dalam bahasa Kawi. Sumur (tanpa kata tambahan di belakangnya) adalah sumber air yang diam. Dalam pengertian airnya tidak mengalir. Sehingga kalau orang dikatakan “angguskara” mengibaratkan orang yang yang punya wewenang (khususnya menggugat) tetapi tidak dilakukan

F. KEDHUNG
“Kedhung” adalah bagian sungai yang dalam (palung). Sungai di Jawa betapapun besarnya tentu tidak sebesar dan sedalam airnya seperti sungai di Sumatra atau Kalimantan. Adanya kedung mempunyai arti khusus.
1.    Dhayung oleh kedhung: Kalau ketemu palung, tentunya enak untuk mendayung. Menggambarkan seseorang yang punya rencana kemudian menemukan jalan yang mudah untuk mencapainya.

2.    Kedhung jero kena dijajagi, balik atine wong sapa sing ngerti: Dalamnya palung bisa dijajagi tetapi siapa yang tahu dalamnya hati.

3.    Kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange: Kali hilang palungnya dan pasar hilang gemanya. Gambaran masyarakat yang hidupnya serba susah. Sungai kering dan pasar sepi.

G. GROJOGAN
“Grojogan” adalah air terjun. Ada ungkapan “kriwikan dadi grojogan”. Selokan kecil berubah jadi air terjun. Menggambarkan perkara kecil berubah menjadi urusan besar.Oleh sebab itu selesaikan sebelum masalah menggurita.

H. BUN
“Bun” adalah embun. Tetes-tetes lembut air yang menempel di dedaunan pada pagi hari. Gambaran sesuatu yang kecil dan belum tentu ada

1.    Adhang-adhang tetesing bun: Mengharapkan belas kasihan seadanya dan belum pasti dapat.

2.    Ngebun-bun enjang, njejawah sonten: Ini wangsalan. “Bun enjang” (embun pagi) dasanamanya adalah “awun-awun” sedangkan “njejawah sonten” (hujan sore-sore) disebut “rarabi”. Maksudnya: Nyuwun rabi (minta kawin). Mengenai “wangsalan” dapat dilihat pada Menyampaikan pitutur dengan wangsalan (1)

I. UDAN

“Udan” adalah hujan: Air yang jatuh dari langit secara merata

1.    “Udan tangis” dan “Udan mimis”: sama dengan hujan tangis dan hujan peluru

2.    Kakehan gludhug kurang udan: Omong besar tanpa isi

3.    Perilaku hujan: Orang Jawa memberi nama khusus. (a) “Udan kethek” adalah hujan tetapi matahari kelihatan sinarnya (b) “Udan sinemeni” adalah hujan yang belum turun tetapi suara hujan sudah terdengar karena hujan masih berada di tempat lain (c) “Udan woh” maksudnya hujan yang butirannya besar (woh: buah). Bisa disertai es (d) “Udan barat” adalah hujan dengan angin

Demikianlah ungkapan mengenai macam-macam air. Selanjutnya dalam Air dan ungkapan Jawa(3) akan saya sampaikan mengenai perilaku atau sifat air (IwMM)


 




Most Recent Post


POPULAR POST