Tuesday, April 9, 2013

ORANG BODOH DAN ORANG BELUM BERPENGALAMAN DALAM PARIBASAN JAWA

Salah satu sasaran dalam pembangunan milenium (Millennium Development Goals atau disingkat MDG) adalah memerangi kebodohan.

Kebodohan amat erat hubungan timbal-baliknya dengan kemiskinan. Makin miskin orang akan makin bodoh, sebaliknya makin bodoh orang akan makin miskin.
 
Dalam paribasan Jawa hal-hal mengenai orang bodoh ini juga diungkap sebagaimana beberapa contoh di bawah:


A. ORANG BODOH

1. COBOLO MANGAN TEKI

Cobolo berarti bodoh dan teki adalah rumput teki. Maksud peribahasa ini: Orang bodoh tidak sepantasnya makan nasi tetapi makan rumput teki. Siapa yang makan rumput? Dalam hal ini adalah kerbau.

2. BODHO KAYA KEBO.
 
Di atas disebutkan Cobolo mangan teki dan yang makan rumput teki adalah kerbau. Berarti orang bodoh diibaratkan seperti kerbau. Mengapa kerbau dianggap bodoh? Dapat dibaca pada posting Kebo (1): Bodho kaya kebo


3. ORA POLO ORA UTEK
 
Polo sama dengan utek, yaitu otak. Paribasan ini menggambarkan orang yang amat tolol sehingga dikatakan tidak punya otak.

4. ORA WERUH ALIP BENGKONG dan ORA WERUH PA PINCANG

Menggambarkan orang yang buta aksara Arab. Jaman dulu orang Jawa juga belajar mengaji walau tidak seintensif seperti sekarang ini.

Bahkan kala itu lebih banyak orang yang buta aksara latin daripada aksara Arab. Belajar mengaji bisa di rumah atau di pesantren dekat rumah. Sebaliknya belajar huruf latin harus masuk sekolah formal yang belum tentu ada dekat rumah. Hampir bisa dipastikan bahwa orang yang buta aksara Arab pasti juga buta aksara latin. Berarti orang ini bodoh sekali.

Sebagai catatan, untuk yang buta aksara Jawa disebut dengan ORA WERUH PA PINCANG.

5. TIMUN WUNGKUK JAGA IMBUH

Inilah salah satu gambaran nasib orang bodoh, ibarat “timun wungkuk” (timun yang kecil dan bentuknya bengkok tidak bagus; disebut juga timun “bungkik”) hanya dipakai kalau ada kekurangan, sebagai cadangan.

Semacam “imbuh” kalau kita beli sepuluh ditambah satu, tetapi dikasih yang “bungkik”. Dapat dibaca pada posting Mentimun dalam ungkapan Jawa

6. LUKAK APAPAK

Lukak berarti tidak penuh dan papak berarti mampu. Menggambarkan orang bodoh yang merasa dirinya pandai dan mampu menyelesaikan segala hal. Orang seperti ini menjadi orang bodoh yang keminter dan pasti menyebalkan.

7. JUN IKU YEN LUKAK KOCAK

Jun: tempat air; lukak: tidak penuh. Arti harfiahnya tempat air itu kalau kosong pasti kocak. Pengertiannya sama dengan “tong kosong berbunyi nyaring” yang artinya orang bodoh pada umumnya banyak omong.

8. KOCAK TANDHA LUKAK
 
Kocak: berbunyi; Lukak: tidak penuh. Arti harfiahnya sesuatu yang berbunyi (maksudnya tempat air yang kita kocak-kocak) pertanda tempat air tersebut kosong. Maknanya hampir sama dengan yang di atas, hanya dibalik. Yang pertama kalau kosong pasti banyak omong, sedangkan yang ini kalau banyak omong, pasti kosong.

9. KENDEL NGRINGKEL DHADHAG ORA GODHAG
 
Kendel: berani; ngringkel: meringkuk; dhadhag: tanggung-jawab; godhag; mengejar. Maknanya: Mengaku dirinya berani dan pandai ternyata takut dan bodoh

10. KUMENTHUS ORA PECUS.
 
Kumenthus: Merasa sok jagoan (dapat dibaca pada posting Serat Wulangreh: Kumenthus dan kumaki); Pecus: Becus. Pengertiannya: Punya banyak kesanggupan tetapi tidak mampu menyelesaikan

11. ORA GOMBAK ORA KUNCUNG AMBEGE KAYA TUMENGGUNG

Gombak dan kuncung adalah potongan rambut untuk anak-anak. Menggambarkan orang miskin dan tidak punya kemapunan apa-apa tetapi merasa dirinya amat tinggi. Dalam hal ini diibaratkan dengan Gombak dan Kuncung versus Tumenggung.


B. ORANG BELUM PENGALAMAN YANG DIANGGAP BODOH.
 
Orang baru atau orang muda umumnya memang belum punya pengalaman dan sering dianggap bodoh. Padahal tidak selalu demikian tetapi memang demikianlah yang terjadi. Ada beberapa sebutan untuk mereka yang masih muda dalam usia maupun pengalaman ini.

1. DURUNG GADUK KUPINGE menggambarkan orang yang masih dianggap kanak-kanak. Konon dulu untuk mengetes anak sudah cukup umur untuk sekolah adalah dengan menyuruh anak tersebut melingkarkan tangan kanannya di atas kepala dan mencoba meraih telinga sebelah kiri. Kalau belum sampai (durung gaduk) maka dianggap masih terlalu muda.
 
2. BOCAH WINGI SORE (anak kemarin sore) menggambarkan orang yang sudah dewasa tetapi dianggap kanak-kanak karena masih muda dan belum punya pengalaman.
 
3. DURUNG BISA SISI atau DURUNG BISA MBUWANG UMBEL. Anak kecil apalagi bayi memang belum bisa membuang ingusnya sendiri (umbel: ingus; sisi: membuang ingus). Kalau kita punya anak masih kecil dan kena pileg, dulu sebelum ada alat pengisap (ingus) maka ada ibu yang mengisap dengan mulutnya. Seorang muda yang dikatakan durung bisa sisi berarti betul-betul anak muda yang masih amat hijau dalam pengalaman.
 
4. DURUNG ILANG PUPUK LEMPUYANGE. Dulu anak kecil banyak yang diberi semacam “pupuk” (larutan padat seperti bubur) dari tumbukan lempuyang di dahinya. Kalau orang dikatakan demikian berarti masih dianggap kanak-kanak yang belum memiliki pengalaman.


LIDING DONGENG

Orang bodoh perlu dikasihani dan harus dientaskan dari kebodohannya. Dengan demikian ia akan memiliki ilmu, bisa bekerja lebih baik, mendapat penghasilan lebih baik, meningkatkan pendidikannya, dan seterusnya, berhentilah lingkaran setan kemiskinan dan kebodohan.

Tetapi ada juga orang bodoh yang tidak mau mengakui kalau dirinya bodoh bahkan merasa dirinya paling pintar. Orang seperti ini walau amat menyebalkan harus dibangunkan dari mimpi buruknya.

Disisi lain kalau kita pandai sekaligus merasa pandai, jangan segampang itu merendahkan orang-orang muda dan orang-orang tidak berpengalaman.

Belum tentu dalam kemudaan dan kemiskinan pengalaman mereka tidak mampu melakukan sesuatu yang besar. (Iwan MM)

TULISAN TERKAIT:

ORANG BODOH YANG BELUM TENTU BODOH DALAM UNGKAPAN JAWA

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST