Friday, June 8, 2012

MENTIMUN (TIMUN) DALAM UNGKAPAN JAWA

Siapa di Indonesia ini yang tidak kenal “mentimun”. Mulai orang kecil sampai yang paling besar pasti tahu dan mau melahap mentimun untuk berbagai hidangan: lalapan, campuran pecel, rujak, acar, minuman, atau dikremus begitu saja. Lalapan minimal kuliner kaki lima umumnya 3K, salah satunya adalah Ketimun disamping Kemangi dan Kubis.

Dongeng Kancil adalah fabel asli Jawa. Salah satu judulnya adalah “Kancil nyolong timun”. Kemudian dipopulerkan dalam laku anak-anak “Si kancil anak nakal suka mencuri timun ....” Begitu tenarnya mentimun, dengan berbagai nama daerah tetapi penggunaannya sama semua dimana-mana: Sebagai sayuran atau obat (TOGA: Tanaman Obat keluarga).

Dengan adanya TOGA dan Lomba TOGA maka ibu-ibu PKK di Desa pun amat hapal dengan manfaat mentimun ini. Mereka akan bawa kita keliling desa, melihat Taman Toga yang telah dilengkapi dengan papan kecil yang ada tulisannya. Salah satunya adalah: Mentimun (Cucumis sativus). Manfaat: Obat darah tinggi, obat deman, obat jerawat, pelancar kencing, pembersih kulit, obat bau mulut, dan masih ada beberapa lagi.

Dalam ungkapan Jawa, mentimun digambarkan sebagai sesuatu yang lemah. Kalau orang mengatakan: “Kulit saya ini kulit mentimun”, maksudnya kulitnya amat peka. Digigit nyamuk bentolnya besar, mudah alergi, pokoknya mudah kena ganngguan.

Demikian pula ada beberapa peribahasa Jawa yang mengambil mentimun sebagai perumpamaan yang menunjukkan betapa lemahnya buah yang dinamakan mentimun ini

1.    Masih ingat kata-kata “seperti cicak melawan buaya?” Nah disini ada ungkapan “Kaya timun mungsuh duren” Seperti mentimun melawan durian. Tentusaja menang durian. Mentimun kulit buahnya amat tipis sementara durian selain berkulit tebal juga durinya merata dan tebal pula. Peribahasa ini menggambarkan orang lemah melawan orang yang jauh lebih kuat. Kemudian teman-temannya mengomentari “Lha ya kaya timun mungsuh duren”.

2.    “Timun jinara”. “Jinara berasal dari kata “Jara” diberi sisipan in yang mengandung arti kata kerja “di”. “Jara” sendiri artinya “bor”. Jadi pengertiannya “Seperti mentimun dibor”. Mentimun kok dibor, ya tanpa energi samasekali. Menggambarkan suatu pekerjaan yang amat mudah dilakukan, ibarat tinggal membalikkan telapak tangan.

3.    Satu lagi peribahasa dengan mentimun adalah: “Timun wungkuk jaga imbuh”. Timun wungkuk adalah mentimun yang bentuknya tidak bagus. “Wungkuk” adalah bongkok. Jadi maksudnya mentimun yang bengkok, atau permukaannya tidak rata, dan kira-kira ukurannya lebih kecil dari yang biasa. “Imbuh” adalah “tambah”. Kalau kita ke pasar tradisional, beli mentimun, bisa per biji maupun kiloan, biasanya ibu-ibu akan bilang “Mbok diimbuhi”. Maka si penjual tanpa berpikir macam-macam akan menambah satu. Mereka sudah punya mentimun yang dipakai jaga-jaga untuk imbuh ini. Tapi harap maklum bahwa imbuhnya tentu bukan ketimun besar yang cakep bentuknya. Maksud peribahasa ini sudah jelas. “Timun wungkuk” menggambarkan orang yang prestasinya tidak terlalu tinggi, tetapi dimasukkan dalam tim untuk pelengkap. Waktu SD saya juga pernah jadi “timun wungkuk” ini waktu pertandingan kasti. Daripada kurang satu.

“Bapak ini jus mentimun ramuan khusus kami”, demikian ibu-ibu PKK di desa menyuguhkan dalam gelas besar, sambil menceriterakan cara membuatnya. Saya lupa campurannya apa, yang jelas mentimunnya dua biji. Kalau tidak saya minum dan habiskan mereka pasti kecewa. Apalagi waktu itu (sudah lama lampau) saya sedang supervisi karena desa tersebut masuk nominasi untuk dikunjungi tim penilai tingkat pusat. Rasanya sih enak, dingin dan segar lagi. Tapi di jalan nanti saya pasti kebelet kencing sesuai dengan salah satu manfaatnya, memperlancar kencing. Apalagi ketimunnya dua biji (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST