Sunday, June 10, 2012

API (GENI) DALAM UNGKAPAN JAWA


Kalau ada “cangkriman” (teka-teki): Kecil jadi teman besar jadi lawan, umumnya kita akan menjawab dengan cepat jawabannya “api” atau kita katakan “geni” kalau menjawabnya dalam bahasa Jawa.

Api adalah sesuatu yang menyala, panas, membakar dan bisa merambat kemana-mana kalau tidak dikendalikan.

Jaman masih jadi pramuka dulu, kalau ada acara malam maka kita bikin api unggun sambil berpuisi dan nyanyi. Sebenarnya tidak usah jadi pramuka, di desa dulu, kalau kumpul malam-malam omong klobot di luar rumah, kita biasa "bediang" yaitu menghangatkan badan dengan api, sambil membakar jagung atau ketela pohon.

Di bawah adalah beberapa ungkapan dalam bahasa Jawa yang menggunakan “geni” sebagai perumpamaan:

1.    “Nggeni”. Berperilaku seperti api dalam sifat menjalarnya. Misalnya puntung rokok menyala kita buang begitu saja di hutan, maka besar risikonya api menyala, membakar dan merambat sampai jauh. Demikian pula apabila sebuah rumah terbakar, maka satu kampung bisa ikut ludes dimakan si jago merah. Orang yang “nggeni” adalah orang yang permintaannya merambat kemana-mana. Contoh ekstrimnya, pernah saya ceriterakan  waktu saya bertugas di Somalia 20 tahun yang lalu, pemuka masyarakat di sebuah desa, karena banyak korban luka akibat perang, minta diberikan seperangkat alat bedah minor. Setelah kita setujui, dia mereka diberi sterilisator listrik, kemudian minta generator untuk menghidupkan listriknya, lalu rumah generatornya supaya aman. Batin saya waktu itu “wah nggeni ini”.

2.    “Geni pinanggang”. Ya, api sudah panas masih dipanggang. Tentunya ini adalah sesuatu yang panas, ditambahi panasnya. Apalagi kalau bukan hati manusia. Penjelasannya sederhana saja. Ada orang moodnya sedang tidak baik, lalu ada yang datang mengadukan sesuatu berita yang tidak menyenangkan. Ya sama saja dengan menuang bensin dalam api. Marah akan semakin menyala. Biasanya di kantor kalau kita mau menghadap pimpinan, cari info dulu atau tanya sekretarisnya, “mood bapak saat ini bagaimana?” Kalau sedang "geni pinanggang" kita cari waktu lain, kecuali memang "cito" pakai "banget".

3.    “Idu geni”. Idu adalah ludah. Orang kok meludahkan api, kan terbakar yang kena percikannya. Perumpamaan ini menggambarkan orang yang omongannya banyak menjadi kenyataan. Ya memang ada orang seperti ini, sehingga keder juga kalau kita berhadapan dengan orang yang paribasannya "idu geni ini". Jangan sampai dia marah dan mengumpat “mampus lu!”

4.    “Ora ana geni tanpa kukus”, tidak ada api tanpa asap, bisa juga dibalik “ora ana kukus tanpa geni” rasanya sudah jelas: Tidak ada kejadian tanpa berita dan tidak ada berita tanpa kejadian. Soal kadar kebenaran berita dan kejadiannya berapa persen, itu ceritera lain.

5.    “Duk sandhing geni”, ijuk bersanding dengan api. Maksudnya memberi pitutur supaya wanita dan pria berhati-hati dalam pergaulan. Ada risiko terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ibarat ijuk yang berdekatan dengan api. Ada angin, bisa terbakar.

Ada risiko bila kita mengabaikan “geni” ini. Ia tidak hanya membakar, tetapi juga merambat. Saya ingat pepatah bahasa Inggris yang menggunakan "api" sebagai perumpamaan: “Jump from the frying pan to the fire”, dari keadaan buruk ke kondisi yang lebih buruk lagi. Jadi api perlu dikendalikan.  Sekali lagi, hati-hati dengan api. Pada jaman pergeseran nilai seperti ini, api juga mengikuti kelakuan manusia. Kata orang-orang yang jauh lebih tua dari saya, pada jaman dulu tidak ada api makan "ban bekas", apalagi melahapnya siang bolong di jalan raya (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST