Thursday, April 11, 2013

ORANG-ORANG YANG SUKA INTERUPSI DALAM PARIBASAN JAWA

Kalau kita sedang ngomong kemudian dipotong. Hati pasti merasa tidak senang. Tetapi orang yang suka memotong pembicaraan orang bukannya sedikit. Orang lain yang ikut dalam pembicaraan bisa berkomentar dalam hati bahwa orang yang menginterupsi ini tidak tahu tepa slira.
 
Jaman sekarang “interupsi” semakin marak dan cara menginterupsinya juga semakin ngawur. Bisa jadi orang sudah semakin kehilangan sifat sabar untuk menunggu kesempatan bicara, bisa juga karena dengan menginterupsi pusat perhatian akan pindah, dan jadi pusat perhatian itu rasanya nikmat. Tapi ada wacana lain dari Mas Parmo, katanya jaman sekarang ini orang bicara tidak hanya ngalor ngidul tetapi juga tidak mau berhenti. Terapinya harus diinterupsi. “Makanya ada larangan merokok di ruangan tertutup atau ber AC, Dik”, Demikian Mas Parmo menekankan.
 
Saya sering garuk-garuk kepala kalau bersama Mas Parmo yang dalam bahasa gaul Jawa sekarang ini bisa dinamai orang koplak. “Nuwun sewu, Mas. Apa korelasinya antara larangan merokok dengan interupsi?”
 
Mas Parmo ngakak sampai terbatuk-batuk, katanya: “Di ruangan yang tidak ada larangan merokok kan disediakan asbak. Lha kalau yang ngomong tidak mau berhenti, di-interupsi juga pura-pura tidak tahu, lama-kelamaan akan ada asbak terbang. Makanya sekarang larangan merokok ada dimana-mana dan asbak pun raib entah kemana”.
 
 
INTERUPSI DAN PARIBASAN JAWA
 
Kita tinggalkan dulu Mas Parmo teman saya yang perokok ini. Kita pindah ke “paribasan Jawa”. Adalah tatakrama Jawa bahwa orang muda sebaiknya tidak menginterupsi yang lebih tua, bawahan tidak menginterupsi atasan, sebelum diberi kesempatan bicara.
 
Secara umum  orang Jawa tidak memasalahkan “interupsi” sepanjang “empan papan” dan nyambung. Yang dipersoalkan adalah interupsi yang “waton muni”. Di bawah dapat dipirsani beberapa paribasan Jawa yang terkait dengan perilaku memotong pembicaraan.
 
NYARU WUWUS
 
Kata “saru” diartikan sebagai perilaku atau pembicaraan yang tidak pantas. Wuwus berarti “bicara”. Nyaru wuwus adalah menyela, atau mengganggu orang yang sedang bicara, sehingga yang sedang bicara menjadi berhenti. Dapat kita lihat disini bahwa menyela itu tidak pantas. Jadi sebaiknya bagaimana? Tunggu sampai selesai, atau tunggu ada “pause” kemudian mohon ijin untuk bicara: ”Keparenga sumela ing atur”.
 
CATHOK GAWEL
 
Arti harfiahnya adalah dua orang yang bergandengan tangan dengan jari-jari tangan saling diselipkan selang-seling antara yang satu dengan yang lain. Dalam paribasan Jawa pengertiannya adalah orang yang suka ikut campur pembicaraan orang lain sekalipun tidak diajak bicara. Bisa menyela, bisa juga mencela.
 
CARANG CANTHEL
 
“Carang” adalah dahan kecil-kecil yang ada di batang bambu yang secara umum juga digunakan untuk menyebut dahan kecil-kecil pada pohon lainnya. Sedangkan salah satu arti “canthel” adalah semua yang melengkung dan bisa berperan seperti kait. Dengan demikian kita bisa membayangkan ada batang besar dan lurus (melambangkan orang sedang bicara) kemudian ada yang mengait di carangnya yang kecil (memotong pembicaraan).
 
MBARUNG SINANG
 
Pengertian “mBarung” adalah bersamaan (untuk suara), tetapi juga bisa diartikan “mengganggu”. Kata “sinang” mempunyai arti “sinar semu merah”. Pengertian menutupi sinar bisa diartikan dengan memotong pembicaraan.
 
NYUWUK KEMPUL
 
Kempul adalah salah satu jenis gamelan Jawa, seperti gong kecil. Adapun “nyuwuk” dalam pengertian yang terkait dengan “gamelan” berarti menghentikan. Arti harfiah “nyuwuk kempul” adalah menghentikan gamelan. Dalam peribahasa berarti mengganggu pembicaraan orang.
 
DURUNG CUNDHUK ACANDHAK
 
Salah satu pengertian “cundhuk” adalah cocok (untuk pembicaraan), sedangkan “candhak” adalah tangkap. Maksud peribahasa ini adalah orang yang belum mengerti maksud pembicaraan sudah nimbrung ikut bicara. Ya banyak tidak sambungnya.
 
DUDU BERASE DITEMPURAKE
 
Nempur: beli beras; Ditempurake: Beras dijual. Arti harfiahnya menjual beras yang bukan milik kita. Dalam paribasan Jawa diartikan sebagai orang yang ikut-ikut bicara padahal tidak sesuai dengan topik yang dibicarakan.
 
ORA NGERTI KENTHANG KIMPULE:
 
Kenthang (kentang) dan kimpul adalah sejenis umbi-umbian. Pengertiannya adalah orang yang tidak tahu asal mula masalah yang dibahas (diibaratkan sebagai umbi kentang dan kimpul yang berada di dalam tanah) tetapi ikut nimbrung bicara.
 
CALAK CANGKOL, KENDHALI BOL, CEMETHI TAI
 
Calak: Mendahului bicara; Cangkol: Gantungan; Kendhali: peralatan untuk mengatur jalannya kuda, bisa juga berarti mencegah; Bol: Ujung terbawah usus atau dubur; Cemethi: Cambuk pendek yang dipakai penunggang kuda; Tai: Tinja. Pengertiannya adalah orang yang suka menyela pembicaraan orang lain, tetapi tidak ada manfaatnya. Modal yang ia pakai sebagai kendhali dan cemethi hanyalah bol dan tai. Tentu saja calaknya akan kecangkol. Jarang ada paribasan Jawa dengan ucapan yang termasuk kasar seperti ini.
 
PENUTUP:
 
Memotong pembicaraan orang, nimbrung bicara tetapi tidak tahu topik yang dibahas, semuanya tidak baik. Jadi sebelum kita angkat tangan sekaligus angkat bicara untuk interupsi, pikirkan dua kali lebih dahulu. Bagaimanapun diam itu emas. Setidak-tidaknya dengan “diam” tolol kita tidak ketahuan (Iwan MM)
 

No comments:

Recent Posts

POPULAR POST