Saturday, April 13, 2013

NYOLONG PETHEK

Arti "pethek" (dibaca pêthèk) adalah “terka”. Kalimat “nyolong pethek” berarti sesuatu yang tidak cocok dengan terkaan kita; sesuatu yang lain samasekali dari apa yang kita duga, sehingga kita salah menilai.
 
Nyolong pethek berlaku untuk manusia. tentu saja berlaku untuk manusia, misalnya: Kelihatannya bodoh ternyata pandai, kelihatannya miskin ternyata kaya raya.
 
Peribahasa ini sering juga diucapkan NYOLONG PETHEL SASANGKAL-SANGKALE (dibaca: pêthèl). Pethel adalah kampak dan sangkal adalah tangkai kampak. Pethel sasangkal-sangkale: kampak lengkap dengan pegangannya.
 
Sebenarnya kata "nyolong pethel" tidak benar, tetapi menjadi salah kaprah. Yang benar adalah NYOLONG PETHEK, dengan pengertian seperti yang telah disebutkan di atas yaitu sesuatu yang “di luar dugaan” kita.
 
Mohon diperhatikan bahwa ungkapan “nyolong pethek” baru bisa diucapkan setelah kita tahu keadaan yang sebenarnya. Selama kita masih belum tahu, maka kita masih menganggap bahwa apa yang kita pikirkan adalah benar. 
 
Ketika akhirnya kita tahu bahwa kita salah, maka barulah kita bisa ucapkan: “Wah jan nyolong pethek, ketoke wong biasa jebul sugih banget”.
 
Di bawah adalah beberapa contoh paribasan Jawa yang terkait dengan orang yang nyolong pethek dalam konotasi baik:
 
 
BATHOK BOLU ISI MADU
 
Tempurung kelapa (bathok bolu: bathok bolong telu) jaman dulu antara lain dipakai orang untuk mengemis, tetapi tempurung kelapa yang ini sinya bukan uang receh melainkan madu. Kelihatannya hina dina tetapi ternyata banyak kelebihan. (Dapat dibaca pada posting: bathok bolu isi madu)
 
 
GIRI LUSI JANMA TAN KENA INGINA
 
Giri: gunung; Lusi: Cacing; Janma: Manusia; Tan kena ingina: Tidak boleh dihina. Walau hanya cacing tetapi bisa merayap sampai ke gunung. Apalagi manusia. Kelihatannya seperti kelas cacing, tetapi membuat kita terperangah karena ternyata pengetahuannya tinggi. Oleh sebab itu jangan menghina sesama manusia. Sering juga disebut tanpa menggunakan kata “giri lusi”. Hanya JANMA TAN KENA INGINA saja, atau JANMA TAN KENA KINIRA. (Dapat dibaca pada posting Giri lusi janma tan kena ingina)
 
 
KENCANA KATON WINGKA
 
Orang seperti ini termasuk “nyolong pethek”. Kelihatannya seperti “wingka” atau gerabah, padahal sebenarnya dia berlian (kencana). Ungkapan ini lebih menekankan penampilan fisik, dengan mengibaratkan "gerabah" yang menggambarkan sesuatu yang tampak lahirnya amat sederhana, tidak tahunya di dalam ia menyimpan kelebihan yang senilai berlian.


NGONTRAGAKE GUNUNG

Menggoncang gunung. Satu hal yang luar biasa dan di luar dugaan. Menggambarkan orang miskin bisa mengalahkan orang kaya, orang lemah mengalahkan orang kuasa, orang bodoh mengalahkan orang pandai, dll.


LIDING DONGENG
 
Walaupun paribasannya tidak ada, nyolong pethek tidak hanya berlaku untuk orang yang kelihatannya bukan siapa-siapa tetapi ternyata hebat. Pada jaman sekarang ini banyak orang yang kelihatannya baik tetapi sebenarnya tidak baik. Ibarat musang berbulu ayam, atau dalam paribasan Jawa dikatakan sebagai GAGAK NGANGGO LARING MERAK (Lar: bulu).
 
Oleh sebab itu hati-hati, janganlah kita terpesona dengan penampilan fisik. Banyak orang yang kelihatannya dapat diandalkan ternyata "nyolong pethek.  Ternyata pekerjaannya menipu. Demikian pula ada orang yang lahirnya terkesan amat sopan padahal kenyataannya amat nakal, dan pasti ada juga yang sepertinya alim padahal thuk mis (mengenai thuk mis: dapat dibaca pada posting “Bathuk” (dahi) dalam ungkapan Jawa).
 
Kalau pethek kita luput karena kita menganggap hina orang yang kelihatan “ora pakra” maka hal ini adalah peringatan bagi kita supaya tidak menganggap sepele yang kelihatan sepele. Kita masih selamat, hanya mungkin timbul rasa malu bagi yang masih punya malu.
 
Celakanya kalau yang lolos dari pethek kita kebetulan orang jahat, maka kita bisa kehilangan sampai besar-besaran.  Salah kita sendiri, bukankan sudah diingatkan untuk AJA KAGETAN AJA GUMUNAN karena orang yang gampang kaget dan gampang kagum biasanya lengah. (Iwan MM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST