Monday, April 15, 2013

MULUT YANG SUKA MENCLA-MENCLE DAN LAMIS DALAM PARIBASAN JAWA

Manusia mempunyai satu mulut, dua telinga dan dua mata, maksudnya supaya lebih banyak mendengar dan melihat daripada bicara. Anteng, meneng, jatmika adalah sikap ksatria Jawa yang ada kaitan dengan bicara adalah perak dan diam adalah emas.
 
Ajining raga dumunung ana ing busana dan ajining dhiri dumunung ana ing lati menunjukkan bahwa raga dinilai dari busana yang kita kenakan tetapi nilai dari diri kita ada pada ucapan-ucapan kita.
 
Dalam peribahasa Indonesia kita juga mengenal ungkapan berjalan peliharalah kaki, berbicara peliharalah lidah. Hati-hatilah dalam bicara karena mulut kita pun suatu saat bisa mencelakakan diri kita sesuai dengan peribahasa Mulutmu harimau kamu.
 
Di bawah dapat dipirsani beberapa peribahasa Jawa yang terkait dengan ucapan-ucapan manusia:
 
 
A. MENCLA MENCLE
 
1. CANGKEM LUNYU
 
Lunyu: licin. Sesuatu yang licin berarti sulit dipegang orang yang “cangkeme lunyu” adalah orang yang kata-katanya sulit dipegang atau orang yang tida bisa dipercaya ucapannya.
 
2. REMBUGE KAYA WELUT DILENGANI
 
Welut adalah belut, binatang yang amat licin. Tidak gampang orang menangkap belut. Walau sudah di tangan, kemungkinan untuk lepas amat besar. Lenga adalah minyak. Jadi belut yang sudah amat licin, masih diberi pelicin lagi. Tentu makin sulit dipegang. Adapun “rembug” adalah pembicaraan. Dapat dibayangkan seperti apa bicara orang yang rembuge kaya welut dilengani.
 
3. KAYA NGANDHUT GODHONG RANDHU
 
Pengertiannya sama, yaitu orang yang omongannya mencla-mencle, sulit dipegang. Mengapa kok diibaratkan seperti daun randu, ada teman yang memberi penjelasan sederhana: Cobalah pegang dauh randu yang sudah ditumbuk halus. Kalau dipegang terasa licin.
 
4. ESUK KEDHELE SORE TEMPE
 
Bicara yang tidak tetap, berubah-ubah ibarat tempe. Pagi masih berupa kedelai, sore sudah menjadi tempe. Dapat dibaca pada posting Sabda Pandita Ratu (3): Sindiran dari tempe.
 
5. IDU DIDILAT MANEH
 
Sesuatu yang sudah diludahkan, dijilat kembali. Artinya hampir sama dengan contoh-contoh di atas, bedanya adalah kalau pada contoh sebelumnya masih seputar pembicaraan orang, pada “idu didilat maneh” bukan lagi sekedar omongan tetapi sudah menjadi kesanggupan. Sudah sanggup tetapi dicabut lagi.
 
6. TINGGAL TAPAK JERO
 
Tapak: jejak; Jero: dalam. Arti harfiahnya meninggalkan jejak yang dalam. Hampir sama dengan “idu didilat maneh”, bedanya kalau pada yang pertama sudah janji lalu dicabut, yang ini juga janji tetapi tidak dicabut, hanya tidak ditepati. Mana yang lebih jelek? Mencabut kesanggupan atau tidak menepati janji. Yang satu janji mau datang jam lima lalu SMS kalau batal. Sementara satunya juga janji datang jam lima tetapi tidak pernah muncul.
 
7. MIDAK SUPATA
 
Midak: menginjak; Supata: sumpah. Arti harfiahnya menginjak-injak sumpah. Maknanya orang yang melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri.
 
 
B. LAMIS
 
1. ABANG-ABANG LAMBE
 
Abang: merah; Lambe: bibir. Ucapannya hanya seperti pemerah bibir (lipstik). Manis tetapi sekedar olesan. Digosok akan luntur.
 
Ucapan yang sekedar “lamis”, tidak tulus, hanya  untuk menyenangkan hati yang diajak bicara.
 
2. SIRAT-SIRAT MADU
 
Sirat-cirat: ciprat-ciprat (percik). Ucapannya sekedar percikan madu.
 
Seperti madu yang manis, maka ucapan manisnya juga bukan sesuatu yang tulus. Sekedar tidak mengecewakan lawan bicaranya
 
3. CATATAN: (A)MBUNTUT ARIT
 
Yang satu ini bukan lamis bukan pula mencla-mencle. Omongannya memang enak, setidak-tidaknya di depan. Tetapi kalau dituruti, ternyata tidak semudah itu. dalam istilah Jawa yang lain dikatakan sebagai MBENDHOL MBURI. Ada teman memberi contoh kasus, rasanya mudah untuk dipahami, yaitu kredit motor. Sederhana saja awalnya: Dengan 500.000 rupiah motor bisa dibawa pulang. Tetapi di belakang tidak semudah itu, karena kita harus ikuti aturan kredit. Mestinya tidak usah pakai kata-kata yang (kelihatannya) enak.
 
 
LIDING DONGENG
 
Patut disayangkan bahwa ada manusia tidak menggunakan mulutnya dengan baik untuk kebaikan sesama manusia. Masih ada manusia yang menggunakan mulutnya untuk kepentingan pribadi sekaligus menjerumuskan orang lain.
 
Kembali sebenarnya kita diingatkan untuk hati-hati kalau bicara. Jangan sampai bicara kita sekedar basa-basi tanpa dilandasi hati yang tulus, atau mencla-mencle yang berakibat pada suatu saat tidak ada lagi orang percaya kepada kita. (Iwan MM)

No comments:

Recent Posts

POPULAR POST