Wednesday, April 17, 2013

MULUT YANG SUKA MEMAKI DAN MENJELEKKAN ORANG LAIN DALAM PARIBASAN JAWA

Memaki (Jawa: misuh) bukannya tidak ada dalam khasanah bahasa Jawa. Bahkan tidak sedikit. Yang banyak digunakan sebagai makian adalah binatang (mulai dari jangkrik sampai anjing), bagian tubuh dan kondisi tubuh manusia (misalnya gundhulmu, ambumu), bahkan leluhur manusia pun bisa dipakai untuk mengumpat (mbahmu). Walau demikian sebenarnya orang Jawa dilarang memaki.
 
Demikian pula menjelek-jelekkan orang lain bukanlah merupakan sifat yang terpuji. Dalam hal ini kita berhadapan dengan perilaku “ngrasani” yang banyak dilakukan dimana-mana pada setiap kesempatan manusia bisa kumpul. Celakanya lebih banyak orang yang ngrasani jeleknya orang lain daripada kebaikaannya. Kalau ada orang ngrasani, kita diharapkan untuk tidak ikut-ikut nimbrung, bahkan disarankan menyingkir saja, seperti diungkapkan dalam peribahasa ana catur mungkur.
 
Beberapa contoh paribasan Jawa yang terkait dengan memaki dan menjelekkan orang lain dapat diwaos di bawah:
 
 
C. MEMAKI/MENGUMPAT
 
1. SABDA CANDHALA
 
Candhala dalam bahasa Kawi artinya orang nista atau orang yang buruk kelakuannya. “Sabda candhala” adalah ucapan yang banyak dikeluarkan oleh orang-orang tersebut, antara lain marah-marah dan misuh-misuh (memaki.mengumpat).
 
2. NIBANI SABDA PURUSA
 
Purus: saluran kencing laki-laki; Purusa: (orang) laki-laki; kekuasaan. Nibani sabda purusa diartikan sebagai kelakuan orang yang suka memaki-maki tanpa sebab.
 
 
D. MENJELEKKAN ORANG LAIN
 
1. MIYAK WANGKONG
 
Miyak: membuka dengan kedua tangan, seperti orang membuka gorden; Wangkong: belahan (maaf) pantat. Pengertiannya adalah sesuatu yang amat rahasia (diibaratkan belahan pantat) kok dibuka (diwiyak) dan diceriterakan ke orang lain. Benar-benar keterlaluan
 
2. NGGEPOK WANGKONG
 
Nggepok: menyentuh, menyenggol, menyinggung. Sama dengan “miyak wangkong”. Mungkin kadarnya lebih ringan karena yang pertama “membuka” dan yang ini “menyentuh”. Bicara sampai menyentuh rahasia atau kejelekan orang. Sama saja tidak pantasnya.
 
3. NAGA MANGSA TANPA CALA
 
Menggambarkan orang yang kemana-mana selalu membicarakan kejelekan orang lain. Ibarat naga yang memangsa langsung tanpa perantaraan pembawa berita (cala: juru kabar, pidato pembukaan).
 
 
LIDING DONGENG
 
Misuh sebenarnya adalah wewaler atau larangan. Orang suka misuh termasuk dalam tindak deksura yang hanya dilakukan oleh golongan orang yang tidak tahu tatakrama. Demikian pula memaki dan menjelek-jelekkan orang lain. Disamping menyakiti hati orang, membuat pitnah, salah-salah diri kita sendiri yang akhirnya kena karena kejelekan kita akhirnya ketahuan.
 
Menjelek-jelekkan orang, baik di belakang maupun di depan yang bersangkutan sama tidak baiknya. Sri Pakubuwana IV melalui Serat Wulangreh telah mengingatkan kita semua untuk tidak ngrasani dan tidak mencela. Dapat dibaca pada posting Serat Wulangreh: Aja sok angrasani dan posting Serat Wulangreh: Aja anggunggung, aja nacad lawan aja memaoni.
 
Ungkapan WIRANG MBEBARANG adalah gambaran orang yang kemana-mana menunjukkan cela dalam dirinya. Tentusaja melalui solah muna-muni (ucapan-ucapannya) yang tidak betul seperti contoh di atas. Menebar kejelekan orang pada hakekatnya juga menebar kejelekan sendiri.
 
Ada juga ungkapan lain yang lebih kasar: NGELER TAI ANA ING BATHOK (ngeler: membeber) atau NGOKER-OKER TAI ANA ING BATHOK (ngoker-oker: mengaduk-aduk). Ibarat membeber atau mengaduk-aduk tai di atas tempurung kelapa, menggambarkan orang yang suka membongkar-bongkar perkara yang pada akhirnya malah mencemarkan diri sendiri. (Iwan MM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST