Friday, April 19, 2013

PROVOKATOR DAN YANG DIPROVOKASI DALAM PARIBASAN JAWA

Provokator dari dulu sudah ada. Hasil kerja provokator pun sama: merusak ketenteraman dan menimbulkan perselisihan.
 
Kalau yang berselisih orang besar maka orang kecil yang ketiban susahnya, seperti kata peribahasa: Gajah tumbuk kancil mati ing tengah.
 
Bagi penggemar wayang, pasti kenal provokator handal dalam pedhalangan yang dapat dibaca pada posting WatakDrengki (2): Patih Sangkuni.
 
Kerja provokator bisa halus bisa kasar bergantung tingkat kelihayannya.
 
Di bawah adalah beberapa contoh paribasan Jawa yang terkait dengan ulah provokator dan respons yang diprovokasi:
 
 
DAWA ILATE
 
Dawa: panjang; Ilat: lidah. Menggambarkan orang yang dalam bahasa Jawa disebut “golek alem. Cari pujian tetapi dengan menjelek-jelekkan orang lain. Bahayanya kalau kejelekan orang lain yang diceriterakan ini menyangkut pribadi yang diberi ceritera. Ia bisa terprovokasi untuk membenci sampai menantang berkelahi. Lebih parah lagi kalau kebetulan ia boss dari yang dipitnah. Bisa terjadi ada orang dipindah tanpa tahu sebabnya.
 
 
TUMBAK CUCUKAN
 
Orang yang “dawa ilate” di atas pasti punya sifat “tumbak cucukan” (Tumbak: tombak; Cucuk: paruh burung). Mulutnya ibarat tombak yang bisa mencelakakan orang lain. Ia seorang pengadu, yang belum tentu benar apa yang diadukan. Anak kecil yang tumbak cucukan saja bisa membuat orang tua bertengkar. Misalnya si A dinakali teman sepermainan kemudian menangis lapor kepada orang tuanya, kalau habis dipukul si B. Bisa-bisa ibunya si B nglurug ke rumah orang tua si A, terjadilah adu mulut yang jadi tontonan tetangga. Ini baru anak kecil; kalau teman sekerja di kantor lapor pimpinan?
 
 
NGGUPITA SABDA
 
Nggupita: mereka-reka, mengarang; Sabda: Ucapan. Nggupita sabda: Mengarang atau mereka ucapan yang akan disampaikan. Bisa baik kalau untuk pidato. Tapi bisa gawat kalau dipakai oleh orang “dawa ilate” yang “tumbak cucukan”.
 
 
DIUYAH-ASEMI
 
Garam dan asam adalah bumbu masak. Makanan yang kurang garam dan asam rasanya hambar. Ucapan yang “diuyah-asemi” berarti ucapan yang sudah diberi bumbu penyedap. Digunakan untuk memuji maka orang yang “gunggungan” akan lupa daratan. Selanjutnya laporan ditambah bumbu pedas untuk memprovokasi. Provokasi tidak hanya untuk menjelekkan orang lain. Provokasi juga banyak digunakan untuk melakukan sesuatu. Misalnya membeli sesuatu produk atau menandatangani suatu surat yang sebenarnya tidak betul. Mengenai “nggunggung” dan “gunggungan” dapat dibaca pada Serat Wulangreh: Orang nggunggung tentu ada maunya dan Serat Wulangreh: jangan menjadi orang gunggungan.
 
 
KUNTUL DIUNEKAKE DHANDHANG, DHANDHANG DIUNEKAKE KUNTUL
 
Burung kuntul (yang berwarna putih) dikatakan burung dhandhang (gagak yang berwarna hitam) dan sebaliknya dhandhang (yang hitam) dikatakan kuntul (yang putih). Yang baik dikatakan buruk dan yang buruk dikatakan baik. Bila “sabda” sudah “digupita” dengan manis plus ditambah “uyah asem” dan disampaikan oleh orang yang “ilate dawa” sekaligus bermental “tumbak cucukan” pasti akan banyak berhasilnya. Hubungan pertemanan bisa rusak, apalagi hubungan atasan bawahan. Lebih lengkapnya dapat dibaca pada posting kuntul diunekake dhandhang, dhandhang diunekake kuntul.
 
 
ISTILAH KHUSUS UNTUK PERILAKU SUKA “WADUL-WADUL”
 
Dalam paribasan Jawa, orang besar (atasan) sering diibaratkan dengan banteng (andaka), macan atau gajah. Dalam hal ini kita kenal ungkapan NGLANCIPI SINGATING ANDAKA, NGADU SINGATING ANDAKA dan NGUDANG SINGATING ANDAKA (Singat: tanduk; Nglancipi: membuat lebih tajam; Ngudang: membuai).
 
Pengertiannya sama yaitu mengadu supaya marah. Memang ada orang yang suka mengadu-adu seperti ini. Kalau kemudian boss memarahi seseorang (karena laporan kita) maka kita akan ketawa-ketawa di belakang sambil mengatakan: “Kapokmu kapan”.
 
Catatan: Kalau yang kita provokasi agar marah bukan boss (misalnya teman kita sendiri) maka peribahasanya tidak menggunakan kata ANDAKA tetapi cukup ERI (duri): NGLANCIPI ERI.
 
Membuat pimpinan tidak nyaman dengan memprovokasi agar marah, kadang-kadang menyenangkan juga. Memprovokasi tidak harus memfitnah orang. Kalau kemudian pimpinan melampiaskan marahnya ke orang lain, itu ceritera lain. Macan berjemur (dhedhe) diibaratkan sebagai atasan yang sudah reda dari marahnya. Ia kembali santai, ibarat “macan dhedhe”. Orang yang suka  membuat marah orang yang sudah turun tensinya dikatakan sebagai NGUTHIK-UTHIK MACAN DHEDHE.
 
Agak serupa tetapi tidak sama adalah NGUTHIK-UTHIK MACAN TURU. Digunakan untuk orang yang kurang kerjaan. Harimau tidur kenapa mesti dibangunkan. Saya punya pengalaman jaman dulu pernah memberi tahu pimpinan kalau data yang beliau presentasikan ada yang salah. Mood beliau hari itu menjadi tidak baik. Saya dimarahi teman-teman. Kata mereka saya ini kurang kerjaan. Apa manfaatnya “nguthik-uthik macan turu”, kecuali kalau kamu tidak diuthik-uthik kemudian kantor kita ambruk.
 
 
CINDHIL NGADU GAJAH
 
Kalau ini memang benar-benar kejahatan. Dapat dibaca pada posting cindhil ngadu gajah. Dua orang besar bisa diadu domba oleh orang kecil (yang memang busuk kelakuannya). Tentunya orang ini amat lihay dalam “nggupita sabda” dan “nguyah asemi” sehingga kedua petinggi bisa menelan mentah-mentah kedua burung “kuntul” dan “dhandang” yang disajikan.
 
Cindhil adalah anak tikus, binatang yang memang menjadi musuh manusia. Satu hal yang perlu kita garisbawahi adalah betapa bijak nenek moyang kita. Mengapa yang dijadikan contoh adalah “cindhil”, kok bukan kancil yang memang dikenal cerdik. Dalam Kancil Kridhamartana dikisahkan bahwa secara perorangan kancil bisa menipu gajah. Tetapi kancil tidak pernah mengadu gajah. Ketika dua gajah berkelahi, justru kancil yang celaka, seperti di atas telah disebutkan: Gajah tumbuk kancil mati ing tengah.
 
 
BAGAIMANA DENGAN YANG DIPROVOKASI?
 
Laporan (wadul) bisa manis tetapi membuat kuping merah alias membuat marah: NGABANGAKE KUPING. Kalau mood yang diprovokasi sedang tidak baik (yang diibaratkan “geni” atau api) maka dalam paribasan Jawa dikatakan sebagai kaya GENI PINANGGANG (api dipanggang). Sudah panas ditambahi panasnya. Kalau ia Prabu Baladewa yang dikenal brangasan, pasti langsung meloncat dengan Nanggala nya. Sebaliknya kalau ia Prabu Yudistira dari Amartapura yang terkenal penyabar maka yang terjadi adalah NGAGAR METU KAWUL (Ngagar: membuat api dengan menggosok-gosokkan kayu; Kawul: serpihan halus kayu). Sudah digosok-gosok sekuat tenaga, yang keluar bukan api, hanya serbuk kayu. Dengan kata lain: tidak mempan di provokasi.
 
 
LIDING DONGENG
 
Hati-hati menjadi manusia jangan sampai terprovokasi untuk berbuat yang tidak betul. Baik menjadi marah, atau melakukan perbuatan salah. Yang namanya SETAN NGGAWA TING (Pekerjaan setan: Menggoda manusia; Nggawa ting: semacam lampion, menggambarkan api) ada dimana-mana. Bila kita kebetulan menjadi pemimpin harus lebih hati-hati lagi. Sang provokator tidak akan berhenti. Ia akan berupaya dengan berbagai cara, seperti kata peribahasa: DHALANG ORA KURANG LAKON (Iwan MM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST