Tuesday, August 28, 2012

WATAK DRENGKI (2): PATIH SANGKUNI

Melanjutkan “Sifat drengki (1): Serat Wulangreh” pada tulisan ini akan disampaikan tentang tokoh wayang yang kondang dengan sifat “drengki-srei”nya, yaitu Patih Sangkuni atau dikenal juga dengan nama “Harya Suman”. Dialah perencana sekaligus provokator yang menyebabkan Pandawa terlunta-lunta.


SIAPAKAH PATIH SANGKUNI?


Sangkuni , S(h)akuni, adalah versi India. Bisa menjadi Sengkuni atau Harya Suman dalam pedhalangan Jawa. Nama mudanya adalah Raden Trigantalpati. Dipanggil Suwalaputra, karena ia anak raja Suwala dari Gandara.  Dia punya adik wanita bernama Dewi Gendari (versi India: Sangkuni kakak Dewi Gandari).
Perkenalannya dengan keluarga Hastinapura terjadi  ketika ia dan Dewi Gendari berpapasan dengan Pandudewanata yang OTW pulang dari mengikuti sayembara tanding memperebutkan Dewi Kunti. Perlu dicatat bahwa Pandudewanata saat itu sudah membawa dua orang puteri. Yang pertama adalah Dewi Kunti, dan satu lagi Dewi Madrim (setelah berhasil mengalahkan Narasoma atau Salya). Sengkuni pun bertarung melawan Pandudewanata dengan kemenangan untuk Pandu, maka kini Pandu pulang membawa tiga putri (tambah satu lagi yaitu Dewi Gendari) plus Sengkuni yang ikut “ngawula” ke Hastinapura. Selanjutnya Dewi Kunti dan Madrim diperistri raja Pandudewanata dan Dewi Gendari diperistri Drestarata, kakak Pandu yang buta.
Mulailah Harya Suman menapaki kariernya di Hastinapura sampai menjadi Patih yang melayani Duryudana dan adik-adiknya.


TUMBUHNYA BIBIT KEDENGKIAN

Bisa jadi Sangkuni memang dilahirkan untuk menciptakan keonaran. Saya baca di Wikipedia, dikatakan Sangkuni adalah titisan dewa Dwapara yang tugasnya menciptakan kekacauan di dunia. Dalam pedhalangan Jawa, Dwapara ini sepertinya tidak pernah disebut-sebut. Kalau dilihat perjalanan hidupnya, maka bibit-bibit kedengkian ini kurang lebih sebagai berikut:
1.    HARAPAN TIDAK SESUAI KENYATAAN: Sangkuni ikut ngawula ke Hastinapura bukan tanpa tujuan. Hastinapura adalah kerajaan besar. Perhitungannya Gendari akan diperisteri raja Pandudewanata. Sebagai adik dari isteri raja, ia bisa berupaya untuk mendapat peran. Kenyataannya Gendari diberikan Drestarata, kakak pandu yang saat itu bukan raja dan mempunyai cacat mata, yaitu buta.

2.    DENDAM: Gendari tidak menolak diperisteri Drestarata. Bahkan ia ikut solider dengan menutup matanya sehingga tidak melihat dunia luar. Tetapi bagaimanapun ia pasti kecewa kepada Pandudewanata. Ia berdoa supaya punya anak seratus, yang merupakan manifestasi rasa irinya. Sangkuni selalu memanfaatkan situasi ini.
 
3.    PELUANG DAN TANTANGAN: Peluang timbul ketika raja Pandudewanata wafat dan Pandawa belum dewasa. Tahta diberikan Drestarata tetapi hak atas tahta tetap pada Pandawa. Inilah tantangan bagi Sengkuni, mau exist atau exit.
 
ULAH SANGKUNI
Raja Drestarata sebenarnya bukan orang jahat. Ia bertahta atas nama Pandudewanata dan samasekali tidak punya kehendak untuk memberikan tahta kepada keturunannya sendiri, Duryudana dan adik-adiknya.  Sangkuni melihat hal ini. Baginya tidak ada cara lain selain mengenyahkan Pandawa dari Hastinapura. Pandawa pasti tidak akan mengangkat orang seperti dia menjadi patih. “Exit atau Exist”. Kalau pilih “exist” ya harus ada “extra effort”. Maka mulailah ulah kedengkian Sangkuni, antara lain:
1.    Ketika Pandawa dan Kurawa piknik di hutan Wanarawata, Sangkuni berhasil merencanakan kebakaran di gedung tempat menginap Pandawa. Beruntung Pandawa dan ibunya, Dewi Kunti berhasil selamat. Kisah ini terjadi pada bagian awal Mahabharata. Dalam pedhalangan Jawa dikenal dengan lakon “Bale Sigala-gala.
 
2.    Merebut kerajaan Indraprastha dari tangan Pandawa dengan permainan dadu. Dalam pedhalangan Jawa dikenal dengan lakon “Pandhawa dadu”. Sengkuni lah yang menjadi pelempar dadu dan Pandawa kalah habis-habisan. Kerajaan diserahkan, termasuk Drupadi juga harus diserahkan. Disinilah terjadi episode Drupadi dipermalukan Dursasana. Entah karena apa, hasil permainan dibatalkan Dewi Gendari. Pandawa selamat tetapi tidak lama.
 
3.    Bukanlah Sangkuni kalau tidak bisa membujuk Drestarata untuk mengadakan pertandingan ulang. Hasilnya Pandawa kalah lagi. Pandawa dapat hukuman buang di hutan selama 12 tahun kemudian harus menyamar setahun. Kalau ketahuan maka hukuman diulang lagi. Selama masa pembuangan, banyak dilakukan upaya sembunyi-sembunyi untuk membunuh Pandawa, tetapi tidak pernah berhasil.
 
4.    Selesai masa pembuangan selama 12 tahun ternyata dengan berbagai dalih kerajaan Indraprastha tidak dikembalikan kepada Pandawa. Terjadilah perang besar Bharatayuda.
KEJAHATAN TIDAK KEKAL
Sangkuni mati secara mengerikan dengan tubuh tercabik-cabik di tangan Bima menjelang akhir perang Bharatayuda. “Sapa nandur ngunduh, sapa nggawe, nganggo” demikianlah kata dalam peribahasa Jawa. Sama artinya dengan “siiapa menabur angin akan menuai badai”. Dalam pagelaran wayang kulit seri Bharatayuda, setelah episode terakhir ada tradisi melarung wayang Sengkuni ke laut. Mungkin untuk membuang sial. Orang Jawa yang suka othak-athik sampai gathuk, mengatakan nama Sangkuni adalah akronim dari mati “sangka unine” . Celaka karena omongannya sendiri. (IwMM)

No comments:

Recent Posts

POPULAR POST