Thursday, August 30, 2012

PITUTUR YANG TERSIRAT DARI KISAH PANDAWA BELAJAR MEMANAH

Semasa remaja, Pandawa dan Kurawa bersama-sama berguru pada Pendeta Dorna. Salah satu mata ajarnya adalah “memanah”. Dulu saya baca tentang ini di komik RA Kosasih, yang sekarang dicetak ulang dan bisa kita dapatkan di toko buku dengan harga yang ternyata mahal juga.


BAGAIMANA GURU MENDIDIK MURID

Pendeta Dorna sebagai mahaguru yang kawentar kepiawaiannya tentu sudah menyusun GBPP dajn SAP nya dengan baik. Ketika pelajaran teori sudah lengkap disampaikan, tibalah saatnya pelajaran praktek. Ia membuat gambar/boneka seekor burung kemudian diletakkan tinggi di dahan pohon. Setelah semua siap membidik dengan gendewa dan anak panah masing-masing, maka sebelum mulai melepas anak panah murid-muridnya ditanyai dulu satu persatu: “Raden sasuwene sira nyipat jemparing iku apa kang katon?”

Jawabannya ternyata beraneka-ragam: Duryudana mengatakan melihat burung besar dan Dursasana bahkan sudah membayangkan makan burung panggang. Yudistira mengatakan melihat burung, saudara-saudaranya, dan gurunya. Demikianlah semua mengatakan melihat burung, dahan, ranting, ini lagi, masih tambah  ini lagi. Kepada mereka sang mahadwija hanya mengatakan: “Wis ngger aja mbok terusake, mesti lupute”

Hanya Harjuna yang diijinkan melepas anak panah dan berhasil menembus kepala burung-burungan itu. Ketika ditanya, Harjuna mengatakan bahwa ia hanya melihat kepala burung. Dipancing dengan pertanyaan warna bulunya apa, Harjuna menjawab tidak melihat warna, hanya kepala burung. Sehingga hanya kepada Harjuna, Resi Durna mengatakan: “Ya wis ngger ndang lepasna jemparingmu”. Hanya Harjuna pula yang lulus. Ia kemudian menjadi jago panah tak terkalahkan.


PIKIRAN YANG “NYAWIJI”

Kita bisa melewatkan begitu saja kisah di atas tanpa analisis. Atau mengatakan: “Ah bidik-membidik bukan urusan saya”. Atau sekedar beri komentar pendek, “memanah ternyata tidak gampang”.

Satu hal yang kita petik adalah: Memanah ternyata tidak hanya butuh kekuatan fisik supaya kuda-kuda kuat dan tangan tidak begetar. Ada yang tersirat dalam pendadaran ini bahwa kita harus bisa konsentrasi. Pikiran harus “nyawiji” kepada satu titik yang menjadi sasaran kita. Kalau yang dilihat adalah burung plus sekitarnya pasti tidak akan kena. Apalagi kalau yang dilihat burung kemudian membayangkan sedapnya burung panggang, mana akan kena.

Apakah hanya itu? Sayang kalau berhenti sampai disitu. Memanah hanyalah sebuah contoh untuk pesan utama yang lebih dalam: Kalau kita sudah punya karep untuk melakukan sesuatu, maka pikiran harus nyawiji (terpusat), dengan kata lain ulat harus madhep dengan hati yang mantep. Nyawiji, madhep dan mantepnya harus kepada satu hal. Tidak boleh terpecah-belah. Bukankah mengejar sesuatu harus satu persatu? Mampukah kita mengejar sekaligus 3 ekor ayam yang lepas dari kandang? Mampukah kita belajar karate, boxing dan pencak silat barengan dan menjadi kampiun untuk ketiganya? Kalau ada, maka yang bisa seperti itu tidak banyak. Umumnya hanya mendapat salah satu, itupun  dengan susah payah, atau malah tidak mendapatkan semuanya.


LIDING DONGENG

Dikatakan bahwa ‘wong Jawa panggonane semu” (semu: tersamar). Orang Jawa bisa mengakronimkan “Panah” menjadi “empaning manah”. Maksudnya menempatkan pikiran, menata hati, sehingga tumbuh kesadaran dalam jiwa kita bahwa bila kita ingin memperoleh sesuatu kita tidak akan mengejar yang lain sebelum yang satu itu diraih.
Dalam gaya Jawa Timuran yang humoris dan lebih mudah dipahami, orang-orang yang tidak mampu berkonsentrasi pada sasaran utama ini “disemoni” (disindir) dengan parikan: TUKU RAMBAK IMBUH KRUPUK; LOR ORA NYANDHAK KIDUL ORA GADUK. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST