Friday, August 10, 2012

SABDA PANDITA RATU (3): SINDIRAN DARI “TEMPE”

Melanjutkan Sabda Pandita Ratu (2): Kisah Wisrawa dan Dewabrata, dalam beberapa hari ini “Tempe” mencuat di pemberitaan. Harga kedelai melonjak, pengusaha tempe terancam gulung tikar. Kira-kira begitu isinya. Bicara soal tempe, saya ingat kata-kata Bung Karno: Kita bukan bangsa tempe. Kalimat ini saya kutip dari merdeka.com  “Cerita Soekarno dan bangsa tempe” sebagai berikut:

“Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita”

Pertanyaannya adalah apa ada kaitan antara “tempe” dengan kelembekan? Bagaimanapun tempe adalah sumber protein nabati yang lebih murah daripada protein hewani, dengan khasiat nyaris sama baiknya. Apakah tempe bersifat inferior? Tidak seluruhnya benar. Jaman telah membuktikan. Saat ini kita bisa menemukan tempe di Amerika. Asal tahu tempatnya saja. Tempe bukan lagi komoditas pasar tradisional. Kita bisa mendapatkan aneka tempe di supermarket. Tempe tidak hanya dimakan sebagai lauk teman nasi "Iwak tempe", istilah Jawa Timuran nya, tetapi juga sebagai camilan.

Kalau melihat proses pembuatan tempe pada jaman dulu, maka sebelum proses peragian, tempe dicuci di sungai dan diinjak-injak. Barangkali untuk melepas kulit tipis biji kedelainya. Analognya: Kita bukan bangsa yang bisa diinjak-injak seperti tempe: Kita bangsa yang berdaulat, kira-kira begitu.

Ada yang masih ingat lagu “baris terik tempe?” Dipakai untuk mengiringi baris-berbaris dan ada semangat melawan penjajah lho. Potongan liriknya sebagai berikut:

“Baris terik tempe ridong udele bodong; Bodong ditaleni omah kobong dibendheni; Pring tumpuk-tumpuk bumbung isi merang; Cilik diipuk-ipuk bareng gedhe maju perang; Perang nyang Betawi durung aman durung bali”

Saya menangkap lirik ini dari sisi semangatnya: walaupun terik tempe itu pasti lembek, plus hernia umbilicalis yang menyebabkan udel bodong, berarti dalam kondisi seadanya. Tanpa perlengkapan yang komplit. Tetapi setelah besar kita berani maju perang dan kalau belum aman tidak kembali. Perang ke Betawi tentunya melawan penjajah. Biarpun cuma "terik tempe" tapi punya komitmen.

Sudah ngalor ngidul nulisnya lalu mana sindiran tempe untuk orang-orang yang ucapannya tidak  “Sabda Pandita Ratu?” Sebentar, ini ada suguhan tempe gembus dengan lombok rawit. Kita makan dulu. Nanti yang menyuguhkan marah.

Bukankah ada peribahasa “ESUK DHELE SORE TEMPE”. Pagi-pagi masih berupa “kedelai” ketika sore sudah berubah jadi “tempe”. Maksudnya orang yang tidak bisa dipegang karena omongan atau janjinya berubah-ubah. Bukankah ini ungkapan sederhana yang amat mudah dimengerti untuk memahami orang yang tidak punya komitmen melaksanakan “Sabda Pandita Ratu?”

Makan tempe kurang nyamleng kalau tidak ditambah nyeplus “lombok”. Kita juga akrab dengan ungkapan “kapok lombok” yang artinya  jera sebentar tetapi tak lama kemudian diulangi lagi. Sudah diingatkan bahwa kalau ngomong itu mbok ya “Sabda Pandita Ratu”. Jangan mencla-mencle.  Ketika kemudian kena batunya, kapok sebentar habis itu kambuh lagi. Melalui lombok dan tempe, marilah kita hayati makna “Sabda Pandita Ratu”  (IwMM)
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST