Sunday, August 12, 2012

BUNGAH LAN SUSAH (1): BUNGAH SUSAH GUMANTUNG SING NGLAKONI


Saya tulis dalam “Badan dan jiwa yang rewel” bahwa rewelnya badan disebut “Loba Murka”, artinya semua harus serba “banyak”, sedangkan rewelnya jiwa adalah “Angkara Murka”, maksudnya semua harus serba “sangat”. Adapun obatnya adalah “nerima dan eling”.
Tulisan ini mengawali beberapa episode kisah lama tentang seorang laki-laki kaya di daerahnya, tetapi hidup tidak tenteram. Ia selalu gelisah, entah apa sebabnya. Mungkin masih merasa kurang, merasa takut kehilangan harta, merasa banyak saingan, dan pikiran-pikiran negatif lainnya. Akibatnya makan tidak pernah enak walau lauknya enak. Tidur tidak pernah nyenyak walaupun ruangannya nyaman.

PENCARI RUMPUT YANG BAHAGIA
Pada suatu hari ia ingin menenangkan pikiran dengan berperahu menyusur sungai. Saat lohor perahunya dibawa ke tepian, untuk beristirahat. Disitu ia bertemu dengan seorang laki-laki pencari rumput sedang istirahat, makan bekalnya di bawah kerindangan pohon. Entah pikiran apa yang membawanya, ia mendekat, lalu ikut duduk di sebelah laki-laki setengah umur itu, yang sedang makan dengan lahap, padahal lauknya cuma ikan asin, sambal dan kerupuk.
“Enak Pak, makannya?”
“Ya, enak. Apalagi habis kerja begini”
“Sampeyan cari rumput dari pagi?”
“Iya den, siang begini istirahat sebentar, sholat Lohor dan makan siang, lalu dilanjutkan lagi. Ashar saya pulang”.
“Rumputnya dijual? Laku berapa?”
“Saya pekathik (tukang cari rumput) pak Jayeng, Den. Dibayar seminggu sekali”, Lalu ia menyebut sejumlah uang yang tidak banyak, yang membuat si orang kaya geleng-geleng kepala.
“Segitu apa cukup untuk keluarga?”
“Cukup den”
“Hidupmu senang?”
“Senang, den.”
Laki-laki kaya itu terhenyak. Hidupnya  sudah berlebih-lebihan tetapi ia merasa belum merasakan yang namanya 'senang". “Kalahlah aku sama dia”. Ia beristigfar. Rupanya Allah menuntunku kesini untuk ketemu si pencari rumput.. “Besok pagi sampeyan merumput disini juga Pak?”
“Iya den. Kenapa?”
“Aku ingin ikut sampeyan merumput, Pak”. Jawaban yang membuat si pencari rumput heran. Apanya yang menarik dengan rumput?

MENGHAYATI PEKERJAAN ORANG KECIL
Besok paginya si laki-laki kaya menepati janjinya. Ia datang diantar dokar, dan si pencari rumput telah menunggu di bawah pohon asam tempat pertemuan kemarin. Mereka berjalan beriringan mencari tempat yang rumputnya lebat.
Ketika si pencari rumput mau mulai menyabit, si orang kaya mencegah. “Tunjukkan aku caranya, habis itu biarkan aku yang merumput. Aku ingin tahu rasanya”
Si tukang rumput kaget. “Tangan njenengan nanti luka, Den. Ini kan pekerjaan kasar”
Si orang kaya tidak mengindahkan. Ia buka baju dan lepas kainnya, menyabit dengan semangat. Kira-kira saat Lohor, si pencari rumput mengajaknya berhenti. “Panjenengan lebih rosa dari saya, Den. Cepat sekali dapat banyak. Kita istirahat dulu”.
Mereka berwudhu di sebuah belik tidak jauh dari tempat itu. Setelah sholat lalu makan siang. Si orang kaya membuka buntalan yang dibawanya. Ia berikan bekal makanannya dan meminta bekal si pencari rumput.
“Jangan, den. Yang punya saya makanan tidak enak”
“Tetapi kemarin kau bilang enak”. Tanpa banyak omong langsung ia tukar bekalnya, dan memakan punya si pencari rumput. Lahap dan enak. “Ya Allah, baru kali ini aku merasakan makanan yang enak”
Sebaliknya si pencari rumput ternganga melihat bekal si orang kaya. “Saya bawa pulang saja den. Kasihan isteri saya. Kami jarang sekali melihat makanan seperti ini”.
Si orang kaya tertawa. “Jangan khawatir Pak. Makanlah. Saya sudah siapkan untuk dibawa pulang. Ia buka buntalannya, ada besek isi makanan dan barang-barang lain. “Ini semua untuk dibawa pulang”. Kemudian ia merebahkan badan di bawah pohon, menguap dan tertidur. Melihat tidurnya yang pulas, si pencari rumput tidak berani meninggalkan jauh-jauh. Untung bahwa si orang kaya yang memang lebih muda, ahli juga mencari rumput. Didukung tenaganya yang kuat, hanya kurang sedikit saja rumput yang harus dicari.

LIDING DONGENG
Hampir tiga jam si orang kaya tertidur di bawah pohon beralaskan rumput. Tetapi ia merasakan kenyamanan ketika terbangun. Ia melihat si tukang rumput sedang mengemas karung besar isi rumput tidak jauh darinya. Serta merta ia menghampiri dan memeluk si pencari rumput. “Pak, dalam dua hari ini aku belajar banyak dari sampeyan. Pertama aku belajar artinya bahagia. Yang kedua aku bisa merasakan “enak lan kepenake mangan lan turu”.
Si pencari rumput yang sudah agak tua tampak berkaca-kaca matanya. “Den, panjenengan itu orang kaya tetapi tidak sombong. Kalau sombong pasti kemarin tidak menyapa saya. Mungkin panjenengan ini takut miskin, akibatnya jadi ngaya mencari harta. Nrima ing pandum itu bukan kata-kata untuk orang miskin den, itu untuk orang kaya juga. Demikian pula.rasa bungah juga bukan untuk orang kaya saja. Orang miskin juga boleh merasa bungah.  Bungah susah gumantung sing nglakoni (IwMM)

 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST