Tuesday, December 6, 2011

KACANG ORA NINGGAL LANJARAN dan ORA ANA BANYU MILI MENDUWUR


Lanjaran: bambu atau benda apa saja yang digunakan untuk panjatan tanaman, dalam hal ini:  kacang; Banyu: air; Mili: Mengalir; Menduwur: kearah atas.

Beberapa hari yang lalu di depan sebuah warung pecel, saya melihat anak laki-laki masih kecil, kira-kira usia kelas VI SD. Anak itu menarik perhatian saya karena ia membentak-bentak adiknya yang tentusaja lebih kecil. Betul-betul membentak keras dengan caci maki yang saya sendiri tidak habis pikir perbendaharaan katanya dapat dari mana. Untung dia tidak memukul adiknya, tetapi adiknya menangis keras-keras.

Mungkin mendengar tangis si kecil, tak lama kemudian muncul seorang laki-laki. Rupanya laki-laki itu bapaknya. Ganti si anak pembentak kini dibentak-bentak sang ayah. Wah kata-katanya lebih mengerikan, ganti anak itu yang menangis, walau bapaknya juga tidak memukul.

Sebenarnya saya ingin segera meninggalkan tempat itu karena rasanya ngeri melihat drama bentak berantai antara bapak dan anak serta antara kakak dan adik, dari bangsaku sendiri yang katanya dikenal ramah tamah dan sopan santun, tapi nasi pecelnya belum siap, masih ada dua orang yang harus dilayani sebelum saya.

Barangkali ini yang disebut “Kacang ora ninggal lanjaran”, dengan kata lain, kebiasaan anak akan meniru orang tuanya. Inilah contoh sederhana. Bapaknya tukang bentak, si anak juga ikut-ikut suka membentak. Ada istilah psikologi, “identifikasi” yang pengertiannya anak akan mengidentifikasikan diri dengan “hero” yang dia kagumi. Bisa tokoh fiktif bisa tokoh betulan di masyarakat. Misalnya anak main-main jadi polisi, karena menganggap polisi itu gagah. Tapi saya pikir ini bukan proses identifikasi. Bahkan mungkin si anak benci pada bapaknya yang suka maki-maki. Si anak tadi tidak memukul adiknya, mungkin karena sang bapak sudah cukup puas dengan mencaci-maki dan bukan tukang pukul. Saya bukan ahli psikologi, saya anggap saja hal ini proses meniru yang tidak disadari, langsung kepada sumbernya, yaitu orang tua.

Ada pitutur yang mengatakan: Hukum alam wis netepake, sapa kang nandur bakal ngundhuh. Dene apa kang diundhuh iya manut wijine kang ditandur. Yen sing ditandur winih alang-alang, ya aja ngarep-arep bisa panen pari, iku genah nyalahi kodrat. Mula mumpung isih esuk, nandura wiji cipta lan panggawe kang becik-becik. Awit elingana, yen akeh sethithik anak putu kita uga bakal katut melu ngrasakake pahit getire wong kang bibite ditandur dening wong tuwane

TERJEMAHAN: Hukum alam sudah menetapkan, siapa yang menanam akan memetik hasilnya. Apa yang akan dipetik tentusaja sesuai dengan apa yang ditanam. Kalau yang ditanam biji alang-alang ya tidak mungkin memanen padi, karena jelas menyalahi kodrat. Oleh sebab itu mumpung masih pagi, tanamlah benih pikiran dan perbuatan baik. Ingatlah sedikit banyak anak cucu kita juga akan ikut merasakan pahit getirnya orang yang benihnya ditanam oleh orang tuanya.

Kesimpulannya, bapak tadi tidak menanam benih-benih pikiran dan perbuatan baik. Pikiran dan perbuatan sang bapak yang brangasan, akan menuai anak yang brangasan pula. Anak adalah benih kacang yang ditanam orang tuanya, dan benih kacang tidak akan meninggalkan lanjarannya. Dalam pergaulan, si anak kemungkinan besar tidak disukai teman-temannya karena perilaku yang tidak menyenangkan, dan perilaku tersebut berasal dari bapaknya.

Ungkapan lain yang serupa, masih dalam bahasa Jawa adalah: “Ora ana banyu mili menduwur”, tidak ada air mengalir ke atas. Artinya sama saja, perilaku anak mengikuti orang tuanya.

Dalam pengalaman saya, manusia dewasa yang tampak santun belum tentu aslinya sopan, karena orang dewasa sudah pandai mengenakan berbagai topeng untuk mengkamuflase sifat aslinya. Guna mengetahui sifat asli seseorang, saya gunakan rumus “kacang ora ninggal lanjaran” dan “ora ana banyu mili menduwur” secara terbalik. Jelasnya,  untuk mengenal sifat asli bapaknya, lihatlah perilaku anaknya. Mengapa? Karena anak belum pandai mengenakan topeng. Anak masih jujur dan tembus pandang seperti air yang jernih. Jadi kalau melihat anak membentak-bentak adiknya, kira-kira bapaknya juga suka membentak.Itu baru perilaku suka membentak.perilaku lain masih banyak. (IwMM).

1 comment:

Muhammad Rosyid said...

Sipp.. pepatah jawa.. :)

Most Recent Post

POPULAR POST