Thursday, December 8, 2011

TEMBANG GUNDHUL-GUNDHUL PACUL

Gundhul: Bisa berarti kepala, bisa pula berarti kepala yang dicukur plonthos. Pacul: Alat untuk mencangkul. Lalu apa maksud “Gundhul-gundhul pacul?”. Secara harfiah tidak berarti apa-apa kecuali adanya padanan kata yang pas. Saya punya rumus, bila diterjemahkan tidak pas tetapi padanan katanya pas, pasti ada makna filosofisnya. Ternyata maknanya amat dalam dan ceritera saya juga agak panjang. Mohon tidak bosan.
 
 
SEBAGAI TEMBANG DOLANAN

Lirik lagu “Gundhul-gundhul pacul” adalah sebagai berikut:

Gundhul-gundhul pacul (cul), gembelengan; nyunggi-nyunggi wakul (kul), gembelengan; wakul ngglimpang segane dadi sak ratan; wakul ngglimpang  segane dadi sak ratan.

Uniknya lagu “Gundhul-gundhul pacul”, kalau kita nyanyi sendirian, tambahan kata “cul” tidak pernah ada. Tetapi begitu kita nyanyi rame-rame, maka kata “cul” pasti keluar bahkan dikeraskan pengucapannya. Benar-benar tampak lahirnya adalah “lagu dolanan”. Tapi mari kita lihat lebih lanjut.

Gembelengan: berjalan sambil kepalanya bergoyang-goyang, melambangkan orang yang sombong; Nyunggi: membawa barang dengan meletakkan di atas kepala; Wakul: bakul tempat nasi; Ngglimpang: terguling; Sega: nasi, segane: nasinya; Latar: halaman rumah, sak latar: memenuhi halaman. Saya kira artinya sudah jelas sekali, membawa bakul nasi di atas kepala sambil jalan gembelengan, akibatnya bakul terguling dan nasinya tumpah memenuhi halaman rumah. Ya, begitu saja tetapi tidak sekedar itu.
 
 
PITUTURNYA MENDALAM: PAPAT UCUL

Mohon maaf, kita harus  kembali lagi ke “gundhul” dan “pacul”. Ada yang mengatakan “gundhul pacul” adalah anak kecil. Rambut kepalanya digundhul tetapi gundhulnya tidak licin, pitak seperti bekas dipacul. Pengertian lain yang lebih mendalam adalah, Gundhul: kepala; kepala melambangkan kehormatan. Pacul: di atas telah disebutkan sebagai alat untuk mencangkul. Pengguna setia pacul adalah rakyat kecil. Jadi: kehormatan kita (sebagai pemimpin) terletak pada kemampuan kita mengayomi rakyat kecil. Pacul yang berbentuk segi empat juga merupakan ringkasan dari “Papat ucul” (papat: empat; ucul: lepas), empat hal yang lepas. Dengan demikian apabila si Gundhul ingin menjaga kehormatannya dengan ngayomi kawula alit, dia harus betul-betul mampu menjaga “empat hal”,yaitu mata, telinga, hidung dan mulut  jangan sampai terlepas.

(1) MATA digunakan untuk melihat kondisi kawulanya. Melihat dengan mata milik kepala sendiri. Dengan demikian bisa melihat langsung keadaan rakyat seperti apa. Bukan berarti pimpinan tidak percaya kepada bawahan, tetapi rekonfirmasi itu perlu.

(2) TELINGA sebagai organ pendengar digunakan untuk mendengar suara rakyat. Suara rakyat yang masih asli. Suara yang belum diperindah melalui sentuhan studio.
(3) HIDUNG,  tentusaja digunakan untuk mencium bau. Bau dalam arti sesungguhnya maupun dalam arti kiasan. Kita masuk ke suatu tempat kalau tercium bau tidak sedap pasti disitu lingkungan tidak baik. Lingkungan yang tidak baik tidak sehat untuk rakyat. Bau dalam arti kiasan adalah hasil reaksi dari melihat plus mendengar. Dengan melihat dan mendengar pemimpin akan mencium bau semerbak kebahagiaan atau bau busuk dukanestapa.
(4) MULUT. Setelah melihat, mendengar dan membaui sendiri, maka mulut tidak akan salah ucap. Ingat bahwa “ajining diri dumunung ana ing lati” Alangkah kasihan seorang pemimpin kalau ia salah ucap karena salah informasi. Tetapi kalau sudah melihat, mendengar dan mencium baunya dari mata, telinga dan hidung yang berada di kepala (gundhul) dia sendiri, maka mulut yang tempatnya satu lokasi pasti mampu bersuara dengan bijak, adil dan benar.
Ini baru “gundhul-gundhul pacul”nya. Ditinjau dari dua sisi, yang pertama adalah anak kecil dan yang kedua orang dewasa termasuk pemimpin. Semua orang pada hakekatnya adalah pemimpin. Kepala keluarga, Penyuluh pertanian, Lurah, kepala Puskesmas, Guru, dan seterusnya sampai yang paling tinggi.


GEMBELENGAN DAN NYUNGGI WAKUL
Saya lanjut ke “gembelengan” dan “nyunggi wakul”. Orang gembelengan yang jalan dengan kepala bergoyang-goyang, gela-gelo dan tolah-toleh, kadang tengadah, menggambarkan kesombongan dan semaunya sendiri. Bayangkan orang berjalan seperti itu kok “nyunggi wakul”. Kan rawan numplek. Ini baru bakul nasi yang tidak terlalu besar dan tinggi. Kita lihat sejenak wanita Bali yang “nyunggi sesaji” di atas kepalanya. Sampai tinggi segitu, tidak jatuh. Tapi lihat jalannya. Tegak dan anggun.
Dalam pengertian gundhul yang masih bocah, gembelengan  bisa dimaafkan. Anak kecil kan belum punya beban dan tanggung jawab. Kepalanya masih ringan seperti balon gas. Tapi kalau sudah dewasa dan jadi orang, dilarang keras gembelengan. Dalam hal ini pengertian “wakul” sebagai wadah nasi, adalah tanggungjawab atas kesejahteraan rakyat. Bagaimana seseorang mampu menjaga amanah itu kalau kelakuannya “gembelengan”.
Risiko “gembelengan” adalah “wakul ngglimpang” dan “segane dadi sak latar”. Jelas sekali makna pitutur para sesepuh. Nasi yang tumpah di halaman, pasti kotor dan peluang terkontaminasi bibit penyakit besar sekali. Tercerai-berai tidak dalam satu bakul lagi, kemudian ayam pun berdatangan. Tidak hanya mematuki butir-butir nasi yang berserak, tetapi juga mengais-ngais dengan cakarnya yang kuat. Semua menjadi kacau balau. Gagallah kita mengemban amanat rakyat.

KESIMPULAN
Itulah “Gundul-gundul pacul”. Lagu yang sudah lama sekali ada, sederhana tapi sarat makna. Konon diciptakan pada jaman para Wali, kemungkinan diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Ada juga yang mengatakan diciptakan oleh RC Hardjosubroto. Waktu kecil saya juga menyanyi itu tanpa tahu maknanya. Bu guru yang mengajarkan juga tidak memberi makna sedalam itu. Walaupun ada sesuatu yang beliau ucapkan tetapi sebagai bocah cilik tidak kita resapi, kecuali membayangkan bocah gundhul yang gembelengan. Ibu guru mengatakan: “Hati-hati kalau membawa sesuatu, apalagi nasi. Kalau numplek (tumpah) nanti didukani (dimarahi) ibu, dan "Dewi Sri" menangis.
Lagu “Gundul-gundul pacul”, yang dinyanyikan anak-anak kecil dengan gembira, bahkan kadang-kadang sambil menari-nari dengan pura-pura menyunggi sesuatu sambil gembelengan,  ternyata mengandung pitutur yang dalam sekaligus bagi anak kecil dan orang dewasa (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST