Saturday, November 5, 2011

PETRUK: Pernah tidak kuat “drajat, semat dan kramat"

Pada episode Gareng: Jalma Tan kena Ingina telah diceriterakan bahwa Petruk pada masa mudanya juga Ksatria sakti di daerahnya dan merantau untuk menjajal kesaktian ksatria-ksatria lainnya. Yang beda dari Petruk, ia suka berseloroh, bersenda gurau. Mengambil ciri khas Petruk yang suka banyolan ini maka ki Dhalang banyak memanfaatkan Petruk dalam lakon-lakon carangan yang penuh kekocakan. Penuh canda dalam pedhalangan bukan berarti tanpa pitutur, baik tersirat maupun terucap.Justru pitutur dalam canda lebih meresap maknanya.

Petruk mempunyai tubuh yang tinggi, serba panjang dengan ciri khas hidungnya. Pada wayang kulit jelas sekali hidung Petruk begitu panjang seperti hidung Pinokio. Dalam wayang orang tentu saja tidak mungkin mencari orang hidung panjang seperti itu kecuali pakai topeng. Bagaimanapun sosok Petruk dalam wayang orang pasti dicarikan yang tinggi. dalam mata kuliah Fisiologi dulu di Jogja, dosen saya menanyakan, di dunia pewayangan siapa yang menderita Gigantisme? Ada yang menjawab Rahwana. Tentusaja salah, sudah jelas Rahwana adalah raksasa pasti besar. Jawaban yang benar adalah Petruk. Sayangnya orang Jawa kehilangan kreatifitas untuk memberi asosiasi antara gigantisme Petruk dengan watak manusia, tidak seperti Gareng yang kecacatan dan penyakitnya bisa dihubungkan dengan sifat manusia. 

Tadi sudah saya sebut banyak lakon carangan tentang petruk. Ada lakon Petruk kelangan pethel (Petruk kehilangan kampak; kampak adalah senjata yang selalu dibawa-bawa Petruk). Yang paling terkenal adalah lakon “Petruk dadi ratu”.

Lain dengan Gareng yang waktu menjadi raja misinya adalah mengingatkan tuan-tuannya, maka Petruk menjadi raja justru karena ia tidak kuat iman. Petruk "Raja" berjejuluk Prabu Welgedhuwelbeh. Dengan segala kekocakan dan kekoplakannya ia memimpin kerajaan Lojitengara. Tertusaja Kerajaan Lojitengara menjadi Dhedel-dhuwel. Ki dhalang dengan lincah dan kocak menceriterakan kelakuan Petruk yang mendapat kesempatan menjadi ratu ini. Antara lain rokoknya cerutu, hidungnya pakai cincin, duduknya jegang (kaki diangkat) dan lain-lain disesuaikan dengan perkembangan jaman. Banyak orang yang mendadak kaya kelakuannya seperti “Petruk dadi ratu ini” yang dalam peribahasa Jawa disebut “Kere munggah bale”. Bale adalah ambin. (Baca: Dua peribahasa dengan "kere")

Mengapa Petruk bisa jadi ratu, karena ia dititipi Jimat Kalimasada yang dicuri Mustakaweni (baca: Tuladha dari Mustakaweni, Bambang Priyambada dan Petruk). Jimat atau Jamus Kalimasada adalah pusaka Yudistira sebagai sipat kandel. Dalam perang tanding antara Mustakaweni dan Bambang Priyambada (anak Harjuna) yang sama saktinya, berkali-kali Jamus Kalimasada pindah tangan, sampai ketika terakhir bisa dibawa Bambang Priyambada segera dititipkan Petruk (Bambang Priyambada masih harus melanjutkan pertarungannya melawan Mustakaweni). Perhitungannya, Petruk pasti dapat dipercaya.

Ternyata Petruk moodnya sedang beda. Dia malah melarikan Jamus Kalimasada. Dengan Azimat itu dia berhasil menguasai kerajaan Lojitengara. Melebarkan sayapnya, mengalahkan semua termasuk ksatria Pandawa dan Korawa, akhirnya dikalahkan oleh Bagong. Insyaflah petruk.

Apa yang dapat kita petik dari kisah Petruk? Tidak usah jauh-jauh sampai ke orang tidak punya kompetensi memegang kedudukan tinggi. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa seorang yang bisa dipercaya pun sekali waktu bisa lalai. Hidup harus saling mengingatkan untuk hal-hal yang baik. Mungkin tidak pernah ada yang mengingatkan Petruk. Satu hal lagi karena adanya peluang, yaitu membawa Jamus Kalimasada yang selama ini tidak ada yang pernah pegang kecuali Yudistira raja Amarta. Lupa plus peluang maka jadilah “Petruk dadi ratu”. Mungkin petruk sebagai orang kecil sudah memperoleh sandang, pangan dan papan. Ternyata ia ingin lebih tinggi lagi pada saat itu, ingin drajat, semat dan kramat (kedudukan, harta dan kewibawaan). Kalau pada tulisan terdahulu Gareng mengingatkan pimpinannya, sekarang Petruk yang diingatkan pimpinannya dengan perantaraan Bagong. Dengan meneladani Gareng dan Petruk, pimpinan dan bawahan bisa sama-sama belajar (IwM).

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST